Arjuna atau yang biasa dipanggil Juna karena kegemarannya bermain dan mendaki gunung membuat ARJ Adventure.
Juna tidak mau bekerja di Dewa Corp Company atau DCC perusahaan milik sang kakek. Dia lebih suka menekuni hobinya, karena hal itu dia dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Namun berbeda dengan sang ayah, Dharma membebaskan apa saja yang akan Juna lakukan selama itu positif. Mendapat dukungan ayah dan ibunya membuat Juna bersemangat walau selalu diremehkan oleh sepupunya Dante Dewantara yang begitu obesi menjadi pemilik DCC.
Gendis seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di negeri ini DIS Dewantara International School yang mempunyai cita cita keliling Indonesia selalu mendapat perlakuan buruk dari Maylin, teman SMA nya yang sekarang menjadi kepala HRD di DIS.
Bagaimana Juna dan Gendis menghadapi masalah mereka, dan bagaimana mereka saling berhubungan?
Ikutin terus kisah Juna dan Gendis ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTMGT 19
Yok bisa yook like dan vote nya. Bunga nya juga boleh loh dikasih heheh.. Happy reading readers…
Di kediaman Darma tengah makan malam bersama. Saat ini Juna juga kebetulan ada di rumah, lebih tepatnya diminta sang ayah untuk pulang ke rumah karena mau membahas tentang kegiatan hari jadi DCC dan tentang pengumuman pewaris DCC. Darma ingin tahu rencana putranya itu.
"Jun, apa kamu sudah punya rencana." Dharma memulai percakapan.
"Tidak… Juna tidak ada rencana apapun."
"Hah… terserah kau lah bocah. Aku capek menghadapi mu juga kakekmu."
"Kalau ayah capek ayah istirahat. Sudah tua, nanti encoknya kumat."
"Dasar bocah sialan." Dharma mengumpat kesal.
"Sudah jangan ribut di depan makanan. Tidak baik." Anjeli melerai.
"Bund. Bu guru bagaimana keadaanya ya. Apa masih belum sadar." Tiba-tiba Alina teringat akan Gendis, ia masih merasa tidak enak.
"Pasti sudah nak, tadi kan ibu dan adiknya sudah datang. Sudah ada yang merawat kamu tidak perlu cemas." Ucap Anjeli menenangkan Gendis.
"Siapa yang tidak sadar Alina." Tanya Darma penasaran.
"Itu yah, guru Alina. Bu Gendis namanya."
"Burrrrr…. Uhuk uhuk uhuk…." Juna menyemburkan nasi yang baru saja ia kunyah.
"Juna… kamu kenapa." Kesal Darma karena terkena semburan nasi dari anaknya itu.
"Jun, pelan-pelan makannya." Anjeli ikut menimpali.
"Dek, siapa tadi yang tidak sadar, memang dia kenapa, sakit apa kok bisa tidak sadar." Pertanyaan Juna membuat semua orang di meja makan tersebut menatap aneh.
"Bu gurunya Alina. Bu gendis namanya." Mendengar jawaban Alina, Juna pun segera bangkit dari tempat duduknya menyambar kunci motor serta berlari keluar. Semua orang menatap bengong, baru berapa langkah ia berlari kembali ke meja makan,"dek di RS mana terus ruang apa?" Tanya Juna tidak sabar.
"RS Mitra Harapan, ruang anggrek nomor 25 B." Jawab Alina masih dalam mode bingung melihat tingkah kakak sepupunya itu, tak terkecuali Darma dan Anjeli.
"Bund, abang kenapa, kok aneh. Apa Bang Juna kenal dengan Bu Gendis." Tanya Alina.
"Entah Bunda juga tidak mengerti, tapi tadi pas bunda buka kontak whatsapp guru kamu ada nama Juna di sana. Tapi bunda tidak terlalu memperhatikan." Jawab Anjeli mengingat-ingat kejadian sore tadi.
"Bund, jangan-jangan itu perempuan yang diceritakan Juna tempo hari." Terka Darma.
"Bisa jadi yah, kan abang bilang mau bawa calon menantu begitu. Apa mungkin Bu Gendis pacar Bang Juna ya." Alina berspekulasi.
"Hush… Anak kecil tau apa pacar-pacaran, nanti kita tunggu penjelasan dari abang mu saja." Sergah Anjeli yang diikuti tawa Alina.
Juna berlari di koridor rumah sakit mencari ruangan Gendis di rawat, entah apa yang dipikirkan pemuda itu mendengar Gendis di rumah sakit membuatnya cemas, khawatir, dan takut.
Akhirnya ia menemukan ruangan Gendis. Juna mengatur nafasnya yang terengah-engah mengubah ekspresi nya menjadi tenang. Ia kemudian mengetuk pintu dan masuk ke ruang rawat Gendis.
"Selamat malam semuanya." Ucap Juna sambil tersenyum.
"Malam nak Juna, mari silahkan masuk tapi maaf Gendisnya baru saja minum obat dan tidur." Ucap Budi.
Bagus dan Asri hanya melongo melihat Juna, dan tambah melongo saat Budi kelihatan mengenal pemuda yang baru saja masuk ke ruang Gendis itu. Bagus dan Asri kompak melihat ke arah Budi meminta penjelasan.
"Oh iya nak Juna perkenalkan ini Asri ibunya Gendis dan ini Bagus adiknya Gendis."
Juna pun mengulurkan tangannya menyalami Asri dan Bagus sambil menyebutkan namanya.
"Tidak apa-apa om, mungkin besok saja saya menjenguk Gendis. Syukurlah kalau dia sudah sadar. Saya hanya ingin tahu kronologinya seperti apa. Kenapa Gendia bisa dibawa ke rumah sakit." Ucap Juna.
"Sebenarnya yang tau jelas adalah nak Alina nak Juna, karen nak Alina lah yang membawa Gendis." Jawab Asri.
"Baik tante, nanti saya coba tanya Alina. Ya sudah om tante saya permisi dulu. Salam saja untuk Gendis kalau sudah bangun nanti. Selamat istirahat om, tante, dan Bagus. Mari.." Pamit Juna sopan.
"Terimakasih nak Juna, hati-hati." Budi mengantar Juna sampai depan pintu ruang rawat. Kemudian ia masuk kembali.
"Yah.. Siapa emang dia." Tanya bagus.
"Anak itu pernah mengantar kakakmu pulang saat malam hujan tempo hari. Katanya dia adalah pemilik jasa open trip yang pernah diikuti kakakmu."
"Tapi kok seperti akrab. Apa dia pacar kakak." Bagus curiga.
"Entahlah." Jawab Budi singkat.
Juna mengendarai motornya dengan cepat, ia ingin cepat-cepat sampai rumah agar bisa bertanya dengan Alina. Benar saja, setelah menepikan motornya Juna berlari mencari Alina, untung yang dicari masih di ruang keluarga dan belum tidur pastinya.
"Dek, Gendis kenapa memangnya, katanya kamu yang bawa Gendis ke rs?" Tanya Juna tidak sabar.
"Jun, duduk dulu. Nih minum." Ucap Anjeli menyodorkan segelas air mineral.
Juna duduk patuh dan meminum airnya sampai tandas.
"Iya aku yang bawa bu guru ke rs. Ceritanya begini……" Alina menjelaskan secara rinci kejadian sore tadi.
"Huft… syukurlah." Namun Juna masih punya pemikiran lain, ia merasa akan ada kejadian lain lagi yang membahayakan Gendis. Setelah mendengar cerita Alina Juna pun pergi memasuki kamarnya di lantai dua. Ia kemudian menghubungi Teo.
"Te… selidiki kejadian sore hari ini di DIS, dan tempatkan orang di sekitar Gendis untuk menjaganya."
"Oke Bos. Eh bos kok bos peduli sekali sama cewek itu?"
"Sudah diam tidak usah banyak tanya. Orang yang banyak tanya biasanya hidupnya singkat."
"Iya iya bos. Begitu saja marah, nanti cepat tua dan jauh jodoh lho."
"Teo kamu mau potong gaji dan hilang bonusmu bulan ini?"
"Jangan bos iya diam bos. siap laksanakan"
Juna pun menutup teleponnya dan merebahkan tubuhnya. Juna memejamkan matanya, menaruh tangannya di keningnya. Ia memikirkan Gendis, kejadian yang menimpa Gendis terasa janggal untuknya. Apa ada yang mau mencelakai Gendis ya, apa ada yang tidak suka dengannya. Tapi dilihat dari laporan yang diberikan Teo Gendis tidak pernah punya musuh, dia anak yang baik dan ramah ke semua orang. Aku harus menyelidikinya, lebih tepatnya Teo yang menyelidiki, monolog Juna.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya Ratih sudah berada di ruangan Gendis. Ia membawa beberapa buah-buahan. I sangat terkejut mendengar sahabatnya itu masuk rumah sakit.
"Dis, kamu kenapa sih. Kok bisa?" Tanya Ratih dibalut perasaan cemas.
"Hehehe aku baik-baik saja. Namanya juga kecelakaan ya bisa-bisa aja. Siapa yang tau. Mungkin peringatan dari Tuhan agar aku lebih rajin ibadah lagi. Hehehe, oh ya siapa yang kasih tau kamu Tih aku di sini." Jawab Gendis santai.
"Bagus yang telpon aku semalam. Dis, apa ini ada kaitannya dengan Maylin lagi."
"Entah tapi kembali lagi aku tidak menuduh tanpa bukti."
"Dis, apa sebaiknya kamu resign saja dari DIS. Aku takut kamu kenapa-napa."
"Tenang saja. Aku yakin aku baik-baik saja. Udah ah… jangan parno an."
Ratib dan Gendis mengobrol santai, tak lama terdengar suara pintu ruangan Gendis diketuk.
Tok… tok… Tok…
Ratih berdiri untuk membukakan pintu, ternyata ada beberapa orang dari pihak sekolah yang datang diantaranya kepsek, komite sekolah, perwakilan guru dan Maylin. Ya, Maylin ikut menjenguk Gendis namun sorot matanya menunjukkan kebencian dan itu bisa dirasakan oleh Gendis ataupun Ratih. Ratih mempersilahkan masuk, dia mengambil jarak untuk mundur memberi tepat untuk para rekan Gendis dari sekolah tersebut.
"Bagaimana keadaan Bu Gendis?" Kepala sekolah membuka percakapan.
"Sudah lebih baik pak, maaf kegiatan belajar mengajar di kelas yang saya ampu jadi terganggu." Ucap Gendis menyesal.
"Tidak apa-apa bu, nanti bisa diserahkan kepada guru yang lain. Apalagi senin besok udah mau Ujian Semester. Jadi bu Gendis juga sudah tidak ada beban mengajar lagi. Lebih baik fokus untuk pemulihan."
"Baik pak terimakasih banyak."
"Oh ya bu kami juga minta maaf, pihak DIS sangat menyayangkan kejadian ini. Kami akan usut tuntas. Apakah ini hanya kecelakaan atau ada faktor kesengajaan." Imbuh komite sekolah.
"Baik pak, saya pasrahkan ini kepada pihak sekolah saja bagaimana baiknya."
Maylin yang mendengar penuturan komite itu pun tiba-tiba pucat, namun ia berhasil menyembunyikan raut wajahnya itu, tenang Maylin orang suruhan itu sudah pergi jauh dan cctv nya juga sudah mati semua kamu tidak akan ketahuan, batin Maylin menenangkan dirinya sendiri.
Akhirnya semuanya pun pamit, Gendis mengucapkan terimakasih dan meminta maaf karena orangtuanya tidak dapat menemui pihak sekolah. Ayah Gendis harus pergi mengajar, dan ibunya tengah pulang ke rumah sebentar. Semuanya memahami dan mereka pun undur diri.
Gendis menatap aneh kepada Maylin, biasanya gadis itu akan bicara banyak namun kali ini hanya diam seribu bahasa. Ekspresinya juga sangat aneh.
"Tih kamu lihat Maylin tidak tadi?" Tanya Gendis.
"Iya lihat."
"Kok aneh ya, tidak seperti biasa. Dia diam saja."
"Iya, aku pikir dia akan nyap-nyap. Tapi dia beneran diam begitu.
" Ah sudahlah, biarkan saja."
Gendis kembali merebahkan tubuhnya, tadi dia terpaksa duduk bersandar karena merasa tidak nyaman kalau menemui para kepala sekolahnya dengan berbaring. Oh iya kata ibu semalam mas Juna ke sini, tapi kok sekarang belum kemari juga ya, eeh apaan sih Dis kok jadi Ngarep mas Juna besuk kamu, monolog Gendis dalam hati.
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak 🙏💐🥰
kepercayaan dmn jadinya🙏