Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 19
Marco bersiap untuk menjenguk Naina ke rumah sakit. Laki-laki itu memandangi istrinya yang masih menangis, sedangkan yang paling dikecewakan dalam hal ini adalah dirinya.
“Aku belum selesai sama kamu, jangan ke mana-mana dan di rumah aja!” ucap Marco sembari memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam tas kecil miliknya.
“Aku mau ikut!” balas Ellena, mengabaikan ucapan sang suami yang lebih mirip dengan perintah.
“Ikut?! Kamu mau apa di sana? Mau bikin orang tuaku sama orang tua Naina lebih sedih lagi? Kamu udah bohongin aku, El. Aku tuh kecewa banget sama kamu! Kalau kamu masih menghargai aku sebagai suami, kamu di rumah aja! Jangan banyak protes!”
Marco bergegas memakai sepatu miliknya dan melangkah menuju motor matic yang akan membawanya ke rumah sakit tempat Naina dirawat. Tanpa memedulikan sang istri yang saat ini tengah menatapnya dengan pilu, Marco meninggalkan tempat tinggal yang disewanya itu.
Sementara itu, Ellena yang ditinggal begitu saja, lebih khawatir jika sang suami pergi dalam keadaan marah. Dia menyusul Marco dengan mobil, padahal jelas-jelas laki-laki itu sudah mengatakan bahwa Ellena harus menunggu di rumah saja dan tidak boleh ke mana-mana.
Saat Ellena menyusul suaminya, secara kebetulan Tuan Aland sedang ingin berkunjung ke rumah Sang Putri. Namun karena melihat Elena pergi, Tuan Alan memutuskan untuk mengikuti putrinya dari belakang.
“Itu mobil Elena kan? Kenapa dia menyetir sendiri, padahal Marco kan sedang libur. Mau ke mana anak bandel itu sebenarnya?” gumam Tuan Aland.
Sementara itu, Ellena sedang di mobilnya dan mendapat panggilan telepon dari Sendy. Ingin rasanya Ellena memaki karena secara tidak langsung semua ini terjadi karena sahabatnya itu.
“Kenapa?” tanya Ellena dengan ketus.
“Ih, biasa aja dong! Gimana tadi malam? Udah goal kan?” tebak Sendy yang ingin memastikan bahwa sahabatnya itu sudah memberikan kesuciannya pada sang suami.
“Gara-gara kamu aku sama Kak Marco berantem. Dia kecewa karena aku udah bohong!” balas Ellena dengan kesal.
Terdengar suara helaan napas yang keluar dari mulut Sendy di balik ponsel Ellena. “Kenapa Kang Mas Marco marah? Bukannya bagus kalau kalian melakukan hubungan itu? Kamu melayaninya dengan baik kan?”
“Tau ah, malas ngomong sama kamu, Sen. Aku pusing!” Ellena memutuskan panggilan secara sepihak. Dia benar-benar kesal dengan sahabatnya itu.
Elena terus melajukan mobil, sampai akhirnya dia tiba di rumah sakit. Beruntung, Marco sempat menyebut nama rumah sakit tempat Naina dirawat meskipun tidak menyebutkan kamarnya. Namun, Ellena tetap berusaha mencari satu per satu kamar yang mungkin berisi Naina di dalamnya.
Sementara itu, Marco sudah bertemu dengan Naina di ruang perawatannya. Gadis itu sedang tidak sadarkan diri sekarang. Keadaannya sangat buruk karena penyakit kanker yang dideritanya.
“Naina maafkan aku, aku baru tahu sekarang kalau kamu sakit. Maafkan aku, Naina!”
“Naina sangat mencintai kamu, Marco! Dia bertahan demi kamu, sekarang dia nggak punya semangat hidup lagi,” ungkap ibu Naina sembari manatap sang putri yang masih terbaring lemah.
Saat Marco masih menyesali dan merasa bersalah atas apa yang terjadi, tiba-tiba Ellena muncul. Napasnya tersengal-sengal karena berlarian mencari kamar rawat inap Naina.
“Kak Marco!”
Sontak saja Marco terkejut dengan kehadiran sang istri yang secara tiba-tiba. Ellena sudah melanggar perintahnya untuk tetap diam di rumah.
“Ellena!”
“Marco, tolong suruh istrimu pergi dulu! Jangan sampai kehadirannya membuat kondisi Naina kian bertambah parah!” ucap ibu Marco.
Marco mengangguk lalu menemui sang istri dan mengajaknya bicara di luar.
“Bukankah aku sudah bilang agar kamu diam di rumah? Kenapa kamu ke sini?” tanya Marco setengah membentak.
“Aku cuma pengen minta maaf aja, aku tahu aku salah!”
“Nggak ada gunanya kita bicara sekarang, El. Mendingan kamu pergi dari sini, aku nggak mau ada keributan!” usir Marco yang masih sangat marah dan kecewa pada sang istri.
“Kak, maafin aku dulu!” Ellena berusaha meraih tangan sang suami tapi Marco dengan sigap menepisnya.
“Aku bilang pergi dari sini, El!” Sekali lagi Marco membentak Ellena karena tidak mau membahas masalah ini sekarang. “Aku udah terlanjur kecewa. Kamu udah merencanakan kejahatan yang memaksa kita untuk menikah. Aku benar-benar nggak habis pikir sama kamu, El. Lebih baik kamu pulang dan jangan datang ke tempat ini lagi! Naina butuh istirahat, dia belum sadarkan diri!”
Pengusiran Marco membuat hatu Ellena terluka parah. Sebagai istri, bukankah pengusiran suaminya itu sangat menyakitkan?
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋
sana sama Otor aja... pasti mau dia...