Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 4
Suara dering dari ponsel milik Arsyi membangunkan Zahra dari lamunannya.
“Halo, Bang.” Arsyi menjawab panggilan itu.
“...”
“Masih di tempat tadi. Di tempatnya Zahra.”
“...”
“Perempuan yang Abang bawa tadi. Aci lagi dibiliknya sekarang.”
“...”
“Iya.” Aci menutup ponselnya, dan menyimpannya lagi ke dalam saku jas putihnya.
“Bang Zaidan sudah di parkiran,” ucap Arsyi pelan.
Zahra tidak langsung menanggapi. Tatapannya kosong, seolah pikirannya tertinggal jauh di tempat lain. Masa depan yang buram berputar-putar di kepalanya, tentang hukuman yang mungkin menantinya, tentang ibunya yang mungkin akan kembali jatuh sakit karena kabar buruk darinya.
Ia hanya hidup berdua dengan sang ibu sejak ayahnya pergi meninggalkan mereka. Bosan hidup miskin, begitu alasan pria itu dulu. Sejak kejadian kelam yang menimpa Zahra, kondisi ibunya tak pernah benar-benar pulih. Sering sakit, sering murung. Dan Zahra tak punya pilihan selain bangkit, meski kerap merasa lelah dan hancur.
Ada ibu yang harus ia jaga.
Selama ini, ketika Zahra bekerja, tetangga-tetangga mereka bergantian menemani sang ibu. Itulah satu-satunya keuntungan tinggal di kawasan padat penduduk dengan rasa kebersamaan tinggi yang masih hidup. Namun… bagaimana jika Zahra harus mendekam di penjara? Siapa yang akan menjaga ibunya? Berapa lama ia harus menjalani hukuman?
Lamunannya buyar ketika sebuah suara berat dan tegas terdengar mendekat.
“Sudah bangun?”
Pertanyaan itu terdengar datar, entah ditujukan untuk Zahra atau Arsyi.
“Sudah hampir setengah jam, Bang,” jawab Arsyi mewakili.
Zaidan mengangguk singkat.
“Atas kejadian tadi, Mbak harus ikut dengan saya ke kantor polisi,” ucapnya pelan namun tegas.
Kalimat itu membuat jantung Zahra mencelos.
Pandangan Zaidan kemudian tertuju pada piring di atas meja.
“Ini makanan siapa?”
Arsyi mengangguk ke arah Zahra yang masih tertunduk.
“Nggak usah mikirin yang nanti dulu, Mbak,” ucap Arsyi lembut. “Yang penting sekarang. Mbak butuh tenaga buat jawab pertanyaan-pertanyaan nanti.”
Zahra menarik napas dalam. Dengan gerakan pelan, ia menerima piring itu. Tangannya sedikit bergetar saat menyuap nasi dan ikan. Rasanya hambar, bahkan terasa keras seperti batu, namun ia tetap memaksakan diri menelan.
“Saya tunggu di luar,” ujar Zaidan, lalu melangkah keluar dari bilik.
Di luar, ponselnya kembali berdering.
“Siap, Ndan,” jawabnya singkat sebelum menutup telepon. Ia menghela napas, lalu kembali masuk ke bilik IGD.
Zaidan mendapati Zahra dan Arsyi sudah bersiap. Piring di meja hanya tersentuh sedikit. Ia tak berkomentar apa pun sebab ia paham, tak semua orang mampu makan dalam kondisi seperti itu.
“Ayo. Kita ke kantor sekarang,” ucapnya tenang.
“Maaf, Pak…” suara pelan Zahra menahannya.
Zaidan menoleh.
“Biaya rumah sakit…” cicit Zahra. Wajahnya cemas. Asuransi pemerintah yang ia miliki belum tentu berlaku di rumah sakit ini.
“Tenang, Mbak,” sela Arsyi sambil menggenggam tangan Zahra. “Nanti kantor polisi yang urus.”
Zaidan menimpali dengan nada mantap, “Masalah di sini sudah saya bereskan. Jangan dipikirkan.”
Zahra mengangguk pelan. Ia kemudian melangkah mengikuti Zaidan, sementara Arsyi masih mendampinginya hingga pintu depan IGD.
“Mbak yang kuat, ya,” ucap Arsyi tulus. “Saya yakin hukumannya nggak akan memberatkan Mbak.”
“Terima kasih, Dok,” jawab Zahra dengan senyum tipis yang nyaris tak terbentuk.
“Kamu masuk lagi aja, Ci,” ujar Zaidan.
“Iya, Bang.” Arsyi menunggu hingga mereka menjauh, lalu kembali ke dalam.
Di perjalanan menuju kantor polisi, Zahra terus menunduk. Jari-jarinya memilin ujung bajunya, menyalurkan kegelisahan yang tak kunjung reda. Ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.
Dari ibunya.
Isinya sederhana. Mengingatkan Zahra untuk makan dan jangan lupa istirahat.
Air mata Zahra menggenang. Dadanya terasa sesak.
Zaidan melirik sekilas. Ia meraih beberapa lembar tisu dari dashboard dan menyodorkannya.
Zahra terkejut, namun menerimanya.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya lirih.
“Nanti Mbak cukup jawab pertanyaan petugas dengan jujur,” kata Zaidan sambil terus menjalankan mobil. “Mbak kooperatif, tidak ada korban jiwa. Itu hal penting.”
Ia berhenti sejenak.
“Yang kena imbas malah anggota saya yang senjatanya diambil. Saya harus bikin laporan panjang, dan dia mungkin kena teguran atau sanksi disiplin.”
Zahra menunduk semakin dalam.
“Maaf, Pak…”
Zaidan terkekeh pelan.
“Nggak usah. Semua sudah lewat.”
Mobil melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit.
“Terima kasih ya, Mbak,” ucap Zaidan tiba-tiba.
Zahra menoleh kaget.
“Terima kasih karena Mbak masih bertahan sampai hari ini.”
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa, terasa menohok tepat ke dada Zahra. Tenggorokannya tercekat. Ia menatap ke depan, berusaha menahan air mata yang kembali ingin jatuh.
Itu adalah kalimat penyemangat pertama yang ia dengar setelah sekian lama.
Dan kalimat itu datangnya… dari seseorang yang baru ia kenal hari ini.
*
*
*
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka tiba di kantor polisi, tempat dimana Zaidan bertugas. Zaidan yang pertama turun dari mobil lalu diikuti oleh Zahra yang turun perlahannya. Langkahnya semakin pelan dan goyang, namun ia tetap berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang.
Zahra di antar ke sebuah ruangan oleh Zaidan.
“Tunggu disini sebentar ya, Mbak.”
Zahra mengangguk. Ia masuk ke dalam ruangan itu lalu Zaidan meninggalkannya seorang diri.
Lampu neon di ruang pemeriksaan menyala terang, terasa menyilaukan bagi mata Zahra yang masih sembab. Ruangan itu tidak besar. Hanya ada meja logam, tiga kursi, dan sebuah kamera kecil di sudut atas dinding. Dingin. Sunyi, dan menekan.
Zahra duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya terlipat di atas meja. Jarinya saling mengait erat, seolah jika dilepaskan, ia akan runtuh.
Pintu terbuka.
Zaidan masuk, diikuti seorang anggota polisi lainnya. Wajahnya datar, profesional. Tak ada sisa ketegangan di rumah sakit tadi, seolah pria itu kini mengenakan lapisan lain dari dirinya.
“Silakan duduk, Mbak Zahra,” ucap Zaidan sambil menarik kursi di seberangnya.
Zahra mengangguk pelan.
Klik.
Alat perekam dinyalakan.
“Sebutkan nama lengkap, umur, dan alamat,” ucap petugas itu formal.
“Zahra Azzahra. Dua puluh enam tahun. Jalan Melati Dalam, gang tiga,” jawab Zahra lirih namun jelas.
Zaidan meliriknya sekilas. Ada kekaguman kecil di matanya. Di tengah ketakutan, gadis itu tetap berusaha tenang.
“Zahra,” Zaidan mengambil alih, suaranya kini lebih lembut namun tetap resmi, “kami akan bertanya sesuai kejadian di lapangan. Jawab jujur. Tidak perlu ditambah, tidak perlu dikurangi. Mengerti?”
“Iya, Pak.”
“Apa alasan Mbak merebut senjata petugas saat operasi berlangsung?”
Napas Zahra tertahan. Dadanya naik turun beberapa kali sebelum akhirnya ia bicara.
“Karena… saya lihat dia,” suaranya bergetar, “orang itu… ada di sana.”
Tangannya mulai gemetar.
“Dia yang—” Zahra terdiam. Kata-kata itu seperti duri yang menusuk tenggorokannya. “Dia yang menghancurkan hidup saya.”
Ruangan kembali hening.
Zaidan tidak memotong. Ia membiarkan Zahra mengambil waktunya.
“Dia memperkosa saya, Pak,” ucap Zahra akhirnya. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya tegas. “Bertahun-tahun lalu. Saya lapor… tapi kasusnya hilang. Dia bebas. Bahkan hidupnya makin enak.”
Petugas di sebelah Zaidan menunduk, menuliskan sesuatu dengan cepat.
“Kenapa Mbak tidak melapor ulang?” tanya Zaidan pelan.
“Saya capek, Pak,” Zahra tersenyum pahit. “Setiap kali saya cerita, rasanya saya yang diadili. Saya yang disalahkan. Saya cuma punya ibu. Saya nggak mau ibu saya makin sakit.”
Zaidan mengepalkan tangannya di bawah meja.
“Lalu saat itu… Mbak berniat menembaknya?”
Zahra menutup mata. Setetes air mata jatuh ke punggung tangannya.
“Iya,” jawabnya jujur. “Saya ingin dia mati. Saya ingin semua rasa sakit ini berhenti.”
Suara Zahra pecah.
“Tapi saya ingat ibu saya. Dan… Bapak.”
Zaidan terdiam.
“Kata-kata Bapak soal ibu saya… itu yang bikin saya berhenti.”
Ruangan itu terasa semakin sempit.
Zaidan mengangguk perlahan. “Terima kasih atas kejujurannya.”
Ia mematikan alat perekam.
Klik.
“Untuk sementara, Mbak Zahra akan ditempatkan di ruang tahanan wanita,” ucap petugas di sebelahnya. “Hanya sementara, sampai pemeriksaan lanjutan.”
Wajah Zahra memucat, namun ia mengangguk.
“Hubungi saja dulu ibunya Mbak. Mungkin Mbak bisa beralasan menginap di rumah teman, biar beliau tidak khawatir. Setelah keluar dari ruangan ini, ponsel Mbak akan kami sita,” ujar Zaidan.
Zahra kembali mengangguk. Ia mengikuti perintah Zaidan, mengirim pesan kepada sang ibu dan mengatakan akan menginap di rumah temannya nanti malam yang memang dekat dengan tempatnya bekerja. Selanjutnya ia mengirim pesan ke kepala toko tempatnya bekerja, meminta izin untuk tidak bekerja malam nanti. Beruntung besok memang jadwal bekerjanya libur. Dalam hatinya ia berharap, ia tidak perlu sampai menginap atau harus ditahan terlalu lama di sini.
“Ini, Pak.” Zahra memberikan ponselnya pada Zaidan setelah urusannya selesai.
Saat ia berdiri, lututnya hampir goyah. Zaidan refleks bangkit.
“Pelan-pelan,” ucapnya.
Untuk sesaat, tangan mereka hampir bersentuhan. Namun Zaidan segera menarik diri. Batas itu masih harus dijaga.
Saat Zahra dibawa keluar, Zaidan menatap punggungnya lama.
Bukan tatapan seorang polisi pada tersangka.
Melainkan tatapan seorang pria pada luka yang terlalu lama dibiarkan terbuka.
Zaidan menarik napas dalam-dalam.
“Kasus ini,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri, “nggak boleh berakhir setengah-setengah.”
Gumamnya itu rupanya terdengar oleh rekannya.
“Kasus pemerkosaan itu, sepertinya harus kita buka lagi, Ndan.”
Zaidan mengangguk. “Pasti. Dia harus mendapatkan keadilan itu!”
“Siap, Ndan.”
“Konsultasikan dengan unit PPA setelah ini.”
“Siap, Ndan.”
Luka Zahra belum benar-benar sembuh, Zaidan tahu itu. Dan… ia ingin menyembuhkan, walau sedikit.
******
Jangan lupa tinggalkan jempolnya ya 🥰🥰