NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Di sisi lain, Sonya masih menunggu gilirannya untuk mempresentasikan proposal guna memenangkan rekrutmen katering ini. Tak heran banyak yang berebut untuk bekerja sama dengan Yandex Corp, karena penawarannya sangat menguntungkan.

"Huhff... Ternyata ada sampah yang mencoba bersaing," sindir seorang wanita yang baru datang.

Sonya tahu sindiran itu ditujukan padanya. Ia tidak heran, karena dalam industri ini, persaingan selalu ketat. Fitnah, cacian, dan banyak hal lain sudah biasa ia dengar.

"Bukankah sampah ini terakhir kali mengalahkan Manisa Catering?" balas Sonya santai.

Mendengar jawaban Sonya yang kini terdengar oleh banyak orang dan menjadi bahan lelucon, wajah wanita bernama Manisa itu merah padam. Niat hati ingin menjelekkan Sonya justru kini berbalik padanya.

"Tapi aku yakin menu kamu itu tidak akan pernah menang. Jangankan dilihat oleh manajer, pembantu di sini pun juga tak akan sudi," gertak Manisa, tidak ingin kalah.

Sonya menahan tawa, merasa kalimat Manisa terlalu lucu untuk dianggap serius. "Kenapa aku merasa kamu sudah yakin akan lolos? Jangan-jangan kamu main belakang?"

"Sonya!" Manisa yang kehilangan kesabaran mendorong tubuh Sonya untuk melampiaskan kekesalannya.

Serangan dadakan itu membuat Sonya tidak sempat menghindar. Saat ia hampir pasrah tubuhnya akan menyentuh ubin dingin, seorang anak lelaki kecil berusaha menopang tubuhnya. Sayangnya, tubuh sekecil itu tidak mungkin bisa menahan berat badan Sonya. Tak ingin membuat anak itu tertindih, Sonya memutar badannya hingga keduanya terjatuh dengan posisi anak lelaki itu berada di atasnya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sonya panik sambil memeriksa tubuh anak itu tanpa memedulikan punggungnya yang terasa sakit setelah beradu dengan lantai.

"Tidak apa-apa, Tante," jawabnya lembut.

Anak itu kemudian melirik ke arah Manisa dan berkata, "Heh, nenek sihir. Tidak pantas kau berada di sini."

Manisa masih bersikap pongah tanpa rasa bersalah. "Siapa kamu, berani berkata seperti itu padaku? Harusnya kamu berada di sekolah dan di ketiak ibumu untuk belajar sopan santun lagi."

Melihat wajah anak kecil itu memerah karena emosi, Sonya segera membelanya. "Manisa, sepertinya yang tidak punya sopan santun itu kamu. Bukankah kamu berhutang maaf padaku?"

"Sonya, Sonya. Aku harus minta maaf? Apa kesalahanku?" tanya Manisa dengan sombong.

"Semua orang juga melihat kamu mendorongku tadi!"

"Oh ya?" Manisa menatap satu per satu orang yang berada dalam ruangan itu. Sorot matanya mengisyaratkan ancaman. Setelah melihat semua orang tertunduk, ia bertanya, "Hai, semua yang ada di sini. Apa kalian melihat aku mendorongnya?" pertanyaan itu ditunjukan pada semua orang yang berada di ruangan itu dan langsung mendapatkan jawabaan gelengan kepala.

Sonya tidak menyangka penindasan seperti ini masih saja terjadi hanya demi keselamatan diri sendiri. Ia sadar, Manisa Catering sudah terkenal dalam industri ini dan bisa saja dengan sekali ucapannya, catering pemula seperti miliknya akan gulung tikar.

"Kamu diam? Aku sarankan agar kamu minta maaf dan mengelap sepatuku, atau kalau tidak, nama Soin Nusantara tidak akan pernah ada lagi," ancam Manisa.

"Kau begitu sombong, nenek sihir. Asal kau tahu, bukan Tante baik hati ini yang akan gulung tikar, tapi kau!" tandas sang anak dengan tegas.

"Lancang!" Manisa mengangkat tangannya, bersiap menampar anak kecil itu.

Namun, sebelum tangannya mendarat sempurna di pipi sang anak, suara bariton seorang lelaki menghentikannya.

"Berhenti!"

Semua mata kini tertuju pada sumber suara, termasuk Sonya. Ketika ia melihat lelaki itu, jantungnya berdegup kencang. Bibirnya bergetar, nyaris tak mampu menyebutkan nama yang sudah lima tahun tidak ia ucapkan.

"Yudha Anggara," gumamnya pelan.

Secercah harapan tumbuh di hati Sonya. Pertemuan ini mungkin sebuah takdir untuk kesembuhan Sasa, meskipun ia harus bermuka tebal demi menyapa lelaki yang telah ia lukai di masa lalu. Baru saja Sonya ingin membuka mulut, anak lelaki yang tadi di sampingnya berlari ke arah Yudha.

"Ayah," teriak anak itu, membuat Sonya terpaku.

Usia anak itu seumuran dengan Sasa. Apakah setelah Yudha pergi dari hidupnya, lelaki itu langsung menemukan dambaan hati? Jadi, cinta yang mereka rajut selama tiga tahun tidak berarti apa-apa baginya? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak Sonya, membuatnya merasa seperti orang bodoh.

"Arya, apa yang terjadi?" tanya Yudha lembut, membuyarkan lamunan Sonya.

"Ayah, nenek sihir ini menindasku," Arya mengadu sambil menunjuk Manisa.

Namun, arah pandangan Yudha tak tertuju pada Manisa, melainkan pada Sonya yang kini tertunduk lesu. Perasaan Yudha campur aduk, antara benci dan senang. Bayang-bayang masa lalu yang masih membekas kembali menghantui pikirannya.

"Maaf, Pak Yudha. Saya tidak tahu jika anak ini milik Anda. Saya salah," Manisa buru-buru mengiba, berharap bisa menyelamatkan dirinya dan peluang kerjasamanya dengan Yandex Corp.

Yudha menatap tajam. "Hal yang paling saya benci adalah wanita yang merasa dirinya paling berkuasa dan bertindak semena-mena!"

Sonya yang semula menunduk kini mengangkat kepala. Tatapannya bertemu dengan Yudha. Kata-kata Yudha seperti tamparan baginya tanpa sadar menghidupkan kembali kebencian yang pernah ia terima.

"Maaf, Pak Yudha," Manisa mencoba lagi memohon ampun.

"Pergi!" Yudha mengusirnya dengan dingin.

"Tapi, Pak... Saya—"

"Satpam!" teriak Bayu, memanggil petugas keamanan. Tanpa membuang waktu, Manisa langsung diseret keluar tanpa belas kasihan.

Keributan itu menarik perhatian semua orang. Bayu berusaha menenangkan situasi, sementara perhatian Yudha kini tertuju pada Arya.

"Sayang, kenapa kamu di sini?" Yudha berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan sang anak.

"Aku merindukan Ayah. Ini salah Ayah juga, kenapa baru datang langsung bekerja? Kenapa tidak menemuiku dulu?" protes Arya sambil memeluk Yudha erat.

Pemandangan itu membuat hati Sonya teriris. Ia tahu betapa pentingnya kasih sayang seorang ayah bagi anaknya, Sasa. Namun Yudha bahkan tidak tahu bahwa ia memiliki seorang anak perempuan yang merindukan kehadiran serta bantuannya.

Sonya menghela napas, memutuskan untuk tidak mengganggu momen antara ayah dan anak itu. Ia berbalik untuk pergi, tapi langkahnya terhenti ketika Arya menarik ujung bajunya.

"Tante, tunggu!"

Mau tak mau, Sonya berhenti.

"Ayah, Tante ini tadi ditindas nenek sihir. Jadi, sebagai superhero, aku menyelamatkannya!" seru Arya bangga.

Sonya tersenyum. "Em... Namamu Arya, ya? Kalau begitu, terima kasih sudah menyelamatkan Tante. Lain kali Tante belikan es krim, ya."

"Tidak perlu. Aku masih sanggup membelikannya es krim," Yudha menukas tajam.

Sonya mendongak, menatap Yudha yang kini berdiri di hadapannya. Dalam hati, ia berkata, "Iya, aku tahu kamu sanggup, bahkan bisa membeli pabrik es krimnya. Sementara aku? Harus berhemat bahkan untuk satu cup es krim demi anak kita bertahan hidup."

Meski hatinya kesal, matanya tak bisa lepas dari Yudha. Pria itu tampak sama seperti lima tahun lalu, tampan dan mempesona. Tubuhnya yang tegap dibalut jas mahal menegaskan perbedaan mencolok antara mereka.

"Ayah, ini tidak patut. Kata Ayah, Arya tidak boleh sombong," tegur Arya polos, membuat Sonya hampir tertawa.

Sonya menutup mulutnya, menahan tawa. Sifat Arya yang bar-bar tapi punya sisi baik mengingatkannya pada Yudha di masa muda.

Yudha menangkap senyumnya. Ada perasaan kesal yang menggelitik hatinya, tapi belum sempat ia bereaksi, suara seseorang memanggil nama Sonya dari belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!