NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Tiga Sahabat

Warung bakso itu tidak banyak berubah. Meja aluminiumnya masih ringan dan sedikit goyah. Uap kaldu naik dari panci besar di dekat pintu, membawa aroma yang terlalu sederhana untuk ukuran Ravindra, tapi justru membuat Tafana berhenti melangkah sejenak.

“Di sini?” Ravindra bertanya, ragu, menatap bangunan kecil dengan spanduk pudar.

Flores sudah lebih dulu melangkah masuk. “Iya. Dulu kita sering ke sini.”

Tafana tersenyum kecil. Tanpa sadar, langkahnya lebih ringan begitu melewati ambang pintu. Ada bunyi sendok beradu, suara kipas tua berderit, dan ingatan yang menyelinap tanpa izin.

Mereka duduk. Tafana otomatis memilih bangku pojok, yang menghadap jendela. Flores menyebutkan pesanan tanpa membuka menu.

Ravindra menatap papan harga agak lama, lalu berdehem. “Baksonya… yang kayak biasa aja.”

Flores menahan senyum.

Saat mangkuk datang, Tafana meniup pelan, seperti kebiasaan lama. “Dulu kita selalu ribut soal sambal,” katanya, lebih ke dirinya sendiri.

Flores tertawa kecil. “Kalo lo kebanyakan makan pedes, Sierra protes.”

Nama itu melayang di udara, ringan tapi terasa.

Tafana mengaduk kuah, memandangi pantulan wajahnya sendiri. Ada versi dirinya yang tertinggal di tempat ini. Dirinya yang lebih muda, lebih naif, dan lebih ceroboh.

Ravindra mengamati dari seberang meja. Ia tidak masuk ke percakapan, tidak sepenuhnya mengerti lelucon yang saling dilempar. Tapi untuk pertama kalinya, ia melihat Tafana tertawa tanpa beban.

Bukan tertawa sopan. Bukan tertawa yang disiapkan. Dan entah kenapa, itu membuat dadanya terasa sesak.

Ia baru sadar: ada begitu banyak kehidupan Tafana yang tidak pernah ia kenal.

Flores berbicara pelan, nyaris seperti mengulang sesuatu yang sudah terlalu sering ia simpan sendiri. Tentang foto yang diambil di mall saat ramai, bahunya yang dipinjam sebentar saat Tafana ke toilet. Tentang saat mereka bertiga ke taman, tangannya digenggam tiba-tiba oleh Sierra, lalu dilepaskan begitu ia sadar. Ia tidak bercerita dengan emosi, hanya urutan kejadian. Bagaimana ia sempat protes, meminta foto dihapus, dan memilih percaya.

Tafana mendengarkan tanpa menyela.

Sendok Tafana beradu pelan dengan mangkuk, bunyinya nyaris tak terdengar. Tangannya tidak gemetar—justru terlalu tenang, seperti sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh di tempat yang salah. Tidak ada amarah, juga tidak ada pembelaan. Hanya hening yang bekerja di dalam kepalanya.

"Maaf, Flo. Gue udah terlalu lama salah paham tentang lo," Tafana menunduk, menyesal tak memberi kesempatan menjelaskan sebelumnya.

Flores mengacak pangkal rambutnya dengan ringan. Senyumnya lega. Setidaknya namanya bersih di mata perempuan ini.

Ravindra duduk diam, menatap kuah bakso yang sudah dingin. Untuk pertama kalinya, ia melihat betapa keputusan bisa terasa benar dan tetap melukai.

...-oOo-...

Gerbang SMA itu masih sama, besinya dicat hijau tua, sedikit terkelupas di sudut-sudut, dengan papan nama sekolah yang catnya memudar. Ravindra berjalan beberapa langkah di belakang Tafana dan Flores, membiarkan mereka bergerak lebih dulu, seolah ruang itu memang bukan miliknya.

“Eh, ini masih ada,” kata Tafana sambil menunjuk pohon flamboyan di dekat lapangan. “Dulu kita sering duduk di situ nunggu jam kosong.”

Flores terkekeh. “Lo duduk, gue tidur. Terus ketauan guru BK.”

“Karena lo ngorok,” Tafana membalas cepat.

Tawa mereka ringan, tidak dibuat-buat. Flores menunjuk gedung kelas dua lantai di sisi kiri.

“Kelas gue dulu di atas. Yang jendelanya suka bocor kalau hujan.”

“Makanya nilai fisika lo bocor juga,” Tafana menyambar.

Ravindra memperlambat langkah. Ia melihat cara Tafana berjalan sedikit condong ke depan, tangannya bergerak bebas saat bicara. Tidak kaku, tidak hati-hati. Versi Tafana yang ini terasa muda, hidup.

“Di situ,” Tafana menunjuk ke arah papan pengumuman. “Gue pernah dipanggil ke depan karena lomba desain poster tingkat kota.”

Flores menoleh, nada suaranya berubah bangga. “Lo juara satu, Fan. Jangan merendah.”

Tafana mengangkat bahu. “Ya lumayan.”

Ravindra berhenti sebentar. Berprestasi. Kata itu mengendap di kepalanya. Tafana yang ia kenal setelah menikah adalah Tafana yang rapi, menyesuaikan, mengalah. Ia tidak pernah membayangkan Tafana punya dunia sendiri—dengan prestasi, dengan tawa seperti ini, dengan cerita yang tidak berputar di sekitar rumah.

Kenapa dulu aku nggak pernah nanya? pikirnya. Bukan dengan rasa marah, lebih seperti heran pada dirinya sendiri.

Mereka berjalan menyusuri halaman. Flores menceritakan kejadian receh: dihukum lari keliling lapangan, bolos setengah jam cuma untuk jajan es. Tafana menimpali dengan detail kecil: jam dinding yang selalu mati, guru seni yang bau cat minyak.

Ravindra mendengar semuanya seperti orang yang baru datang ke cerita di tengah-tengah bab.

Ia sadar sesuatu dengan pelan, tidak menghantam: ia kehilangan Tafana jauh sebelum perceraian. Kehilangan kesempatan mengenal perempuan ini—yang pernah ceria, yang punya teman, yang punya sejarah—karena ia terlalu sibuk mengira sudah cukup tahu.

Langkah Tafana melambat. Ia menatap lapangan, lalu berkata tanpa nada khusus, “Sierra dulu paling sering duduk di situ.”

Nama itu jatuh begitu saja. Tapi hening langsung menyusul.

Flores mengusap tengkuk, pandangannya ikut tertambat ke satu titik. Tidak ada yang tertawa sekarang. Tidak ada yang menimpali.

Tafana menghela napas kecil. “Kayaknya… ini belum benar-benar selesai.”

Flores mengangguk pelan. “Iya. Kalau mau maju, harus diberesin.”

Ravindra melihat keduanya, dua orang dengan masa lalu yang kusut tapi jujur. Ada keinginan aneh di dadanya: bukan untuk menguasai, bukan untuk menang, tapi untuk memperbaiki sesuatu yang rusak terlalu lama.

Ia melangkah maju, suaranya tenang, tidak memaksa. “Aku bisa bantu,” katanya. “Kalau kalian mau.”

Tafana menoleh. Untuk pertama kalinya sejak tiba di halaman itu, ia benar-benar menatap Ravindra. Tidak defensif, tidak canggung.

“Bantu gimana?” tanyanya.

Ravindra tersenyum tipis. “Kita mulai dari orang yang paling menghindar.”

Di bawah matahari sore yang merendah, tiga orang berdiri di halaman sekolah lama—bukan sebagai pasangan, bukan sebagai musuh. Hanya manusia-manusia yang akhirnya memilih menghadapi apa yang tertinggal.

-oOo-

Butik itu wangi kain baru dan parfum elegan. Ravindra melangkah masuk dengan sikap netral, tangan di saku, mata menyapu rak tanpa tergesa.

Sierra yang sedang berbicara dengan staf langsung menoleh—rautnya mengeras.

“Ngapain kamu di sini?” tanyanya, datar, nyaris mengusir.

Ravindra tersenyum tipis. “Mau membeli pakaian untuk pasangan saya.” Ia menggeser pandangannya ke rak. “Tenang. Saya pelanggan, pisahkan urusan pribadi.”

Sierra mendengus, tapi tetap mendekat. Profesionalisme dipaksakan. Ravindra mengambil satu gaun, menimbang sebentar. “Ngomong-ngomong,” katanya santai, “kamu masih kenal Flores?”

Gerakan Sierra berhenti sepersekian detik. “Kenal. Kenapa?”

“Saya kepikiran mau menjodohkan dia dengan Tafana,” nada Ravindra tetap rata. “Bagaimana menurut kamu?”

Warna wajah Sierra berubah, cepat ia tutupi. “Itu masa lalunya.”

“Hmm.” Ravindra mengangguk. “Dulu putusnya… karena kamu, ya?”

Sunyi. Sierra menelan ludah. “Kita nggak bahas ini di sini.”

“Baik,” Ravindra setuju mudah. “Mau minum kopi di seberang?”

Ravindra sadar, ini bukan tentang Tafana memilih siapa. Ini tentang berhenti membiarkan kebohongan menentukan hidup orang lain.

-oOo-

Di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari situ, Tafana memegang ponselnya yang terhubung dengan suara Ravindra. Ia duduk terlalu dekat dengan Flores, bahu mereka hampir bersentuhan. Wanita itu bisa mencium aroma parfum dari kemeja Flores. Ia menahan napas, berpura-pura fokus mendengar.

Flores melirik sekilas, lalu cepat-cepat memalingkan wajah. Degup di dada Tafana tidak teratur. Ia ingin tahu, tapi juga takut untuk mengetahuinya.

-oOo-

Coffee shop itu tenang. Sierra duduk dengan kedua tangan menggenggam cangkir.

Ia menceritakan mengenai apa yang terjadi di masa lalu mereka, tanpa ditutupi. Bahwa benar, ia melakukan semuanya, untuk menjauhkan Tafana dari Flores. Karena ia sangat berharap Flores bisa bersamanya. Tapi sampai akhir pun, Flores tidak pernah memilihnya. Mau bagaimanapun juga, perasaan manusia memang tidak bisa dipaksa.

Kali ini sorot matanya menyinarkan kejujuran.

“Itu karena aku iri,” katanya akhirnya. Suaranya pecah. “Aku selalu di pinggir. Aku… pengin jadi Tafana.”

Ravindra tidak memotong.

“Aku bucin. Kekanak-kanakan,” Sierra mengusap mata. “Aku malu. Mau minta maaf pun nggak berani, takut Tafana membenci aku kalau tahu.”

Pintu terbuka. Tafana masuk lebih dulu. “Gue udah maafin kok,” katanya ringan.

Sierra terkesiap.

“Serius!" Tafana menoleh ke Flores. “Kalau gue tahu lo suka Flores, gue kasih aja si kampret ini buat lo.”

Sierra tertawa kecil di antara air mata. “Ogah. Udah ilfeel.”

Flores mengangkat tangan. “Eh. Kampret dari mana? Emang kita cocoknya sahabatan aja terus begini."

Mereka tertawa, lalu berpelukan bertiga, canggung, tapi utuh. Tiga sahabat dengan satu luka yang akhirnya diakui.

Di luar, Ravindra berdiri menunggu. Ia tidak ikut mendekat. Ia hanya tersenyum kecil, puas dengan cara yang sunyi.

Beberapa orang memang tidak ditakdirkan tinggal, tapi ditakdirkan membereskan yang tertinggal, pikirnya lega.

1
falea sezi
jangan buat balik ya g rela q dpet laki bekas jalang.. wong perjaka aja banyak
nuraeinieni
akhirnya tafana hamil,,,,,semoga ravindra selamat dan cepat sembuh,spy dengar khbar bahagia.
amilia amel
terus bersinar ya tafana
Serenarara: Iya kaka. Ehh..🤭
total 1 replies
amilia amel
semangat tafana
amilia amel
akhirnya sadar juga kamu
falea sezi
lahh nikmati aja sampah yg kau pungut emas kau buang hehehe.. jangan buat balik Thor gk rela lah q dpet laki bekas kaya ravindra yg bekas jalang ihh jijikkk/Puke/
amilia amel
permata berlian kau lepas
batu kali kau dapatkan
falea sezi
hahaha nunggu ravindra nangess nyesel dan uda buang berlian demi sampah gmna tuh rasanya vindra
Serenarara: Yoi! Biar impas.
total 1 replies
Arin
Biar Ravindra rasakan apa yang namanya di khianati orang yang dia cintai.... Ternyata Yunika ada main sama mantan adik ipar🤣🤣🤣🤣
Serenarara: Biar ngaca dia.
total 1 replies
falea sezi
cpet cerai resmi g rela q balikan ma bekas jalang tafana berhak dpet yg setia thor
amilia amel
masih berhubungan dengan orang-orang di masa lalu Tafana
Arin
Tafana jadinya seperti lagi nostalgia🤭🤭Yang jadi kandidat calon Tafana orang-orang di masalalu, masa masih sekolah😁😁😁
falea sezi
hmmm penyesalan mu bakal g guna raf kehilangannya berlian demi sampah bau
amilia amel
akhirnya 2 sahabat sudah berbaikan dan iru berkat Ravindra
nuraeinieni
baru rasa kehilangan tafana,makanya kejar tafana,tinggalkan yunika.
amilia amel
kapokmu kapan vin....
yang kamu pilih malah obralan, padahal ada yang eksklusif
Frida Fairull Azmii
boleh gak sih thor jodohnya tafa sama flores aja,kaya nya dia tipe setia.. jgn sma ravin lg aah msa iya kakak ipar sama adik ipar udah tau rasa terumbu karang si nika..iyuuuuhh..tp bingung jg sih tafa hamilapa ngga ya,soalnya hadiah aniv nyawktu itu kecil kemungkinan tespek kali yah..
amilia amel
apa bener Sierra sejahat itu?
yang katanya sahabat tapi menusuk s
dari belakang 😓😓
Frida Fairull Azmii
waahh..jdi curiga d balik semua masalah tafana si siera ini nih sumber nya.. soalnya komunikasi antara tafa sma rivan jg gara" d bikin sibuk sma butiknya,kacau sih
nuraeinieni
aduh kenapa sierra jahat sama tafana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!