[JANGAN LUPA LIKE SETIAP MEMBACA]
Setelah bertahun-tahun hancur akibat dicampakkan tanpa alasan oleh sang istri, akhirnya Nevandra Ardiona kembali menemukan keberanian untuk membuka lembaran baru.
Namun, rupanya takdir masih belum bosan bercanda dengannya karena sang masa lalu justru kembali menyapa dan membuat perasaan yang susah payah ditata Nevan kembali jungkir balik.
Gantari Dihyan Irawan, seorang gadis manis yang pernah mati-matian dicintai Nevan hadir kembali dengan sikap berbeda. Begitu dingin dan ... galak.
Akankah Nevan kembali dengan kisah lamanya? Atau tetap melanjutkan kisah yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jika Laudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sweet Story (2)
Ada masa depan yang sedang Nevan perjuangkan, tapi ketika alasan perjuangan itu diusik, rasanya ia jengah juga. Kuliah di Monash University, Australia adalah salah satu bentuk perjuangan super berat yang ia lakukan demi masa depan cerah bersama mataharinya, Dihyan.
"Dia itu cuma kasir. Kamu sudahin, dong, cinta monyet kamu."
Gantari memutuskan menunda melanjutkan kuliah selama setahun demi mengumpulkan dana. Melihat sang ibu pontang-panting mencari nafkah saja sudah membuatnya tak tega, apalagi menambah beban dengan biaya pendidikan. Dia akhirnya bekerja sebagai kasir di Indomama setelah mencoba melamar kesana dan kemari. Gantari adalah Gantari dan menjadi kasir sama sekali tidak mengurangi pesonanya. Mungkin itu juga yang membuat Nevan uring-uringan dan sering tak sabar menunggu liburan untuk segera pulang menemui Gantari.
"Kamu sadar, dong. Dihyan itu tipe cewek yang gampang tergoda sama cowok berduit."
Seperti hari ini. Nevan sudah nangkring di depan tempat kerja Gantari. Sorotnya tampak tak bersahabat ketika melihat teman kerja Gantari cengengesan pada gadis pujaan. Gantari yang memang sudah menunggu kedatangan Nevan, membulatkan matanya ketika menyadari keberadaan si pemuda yang berdiri di luar, kemudian melambaikan tangan kearahnya. Gantari tampak berbicara sebentar pada teman kerja cengengesannya tadi, lantas keluar toko dengan sedikit berlari.
"Bahagia banget," goda Nevan ketika Gantari sudah berada di depannya.
Gantari tersenyum sumringah, lalu menarik lengan Nevan agar duduk di kursi depan toko. "Nggak capek emang baru nyampe langsung ke sini?"
Nevan balas tersenyum, kemudian menggeleng. Tatapan hangat sekali.
"Capek hati aja sih, lihat kamu cekikikan sama cowok lain," ucap Nevan sambil mengedikkan dagunya ke dalam toko yang langsung dibalas kekehan Gantari.
Suasana hati Nevan yang menghangat ketika mendengar tawa Gantari langsung memudar karena kedatangan Putra, si rekan cengengesan, dan menarik perhatian Gantari.
"Pesan makan nggak, Tar? Biar sekalian?"
Gantari memutar tubuhnya dan mengganguk. "Iya. Kayak biasa, ya."
"Sip," balas Putra, lalu melucur pergi dengan sepeda motor matic-nya.
Obrolan sederhana itu berlalu begitu saja dan mereka tidak tahu kalau Nevan sudah mau meledak.
"Emang kayak biasanya itu gimana?" tanya Nevan sengit.
Gantari memutar tubuhnya lagi, lalu mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum geli. Sebenarnya Nevan benar-benar kesal karena dia memang tidak tau makanan kesukaan Gantari. Dia juga tidak pernah dititipi untuk membelikan makanan Gantari selama ini.
Dia sudah tertinggal jauh dan dia takut untuk itu.
"Kamu dengar Dion? Sampai kapan pun Mama nggak sudi kalau kamu sampai nikah sama Dihyan. Perempuan gembel!"
Ucapan yang dicekoki ibunya hampir setiap hari itu membuat Nevan kesal setengah mati.
"Ayo kita menikah, Dihyan."
Gantari melotot. "Jangan mulai lagi. Kamu udah janji bakal ngejar mimpi kamu."
"Mimpi aku, ya, kamu," balas Nevan ringan.
Gantari tersedak. Ia menepuk dadanya sebentar, kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku baju seragam. Dia memperlihatkan ponselnya pada Nevan dan ada sederet foto artis disana sebagai hasil pencarian di laman salah satu browser yang membuat Nevan mengerutkan kening.
"Mereka akhirnya cerai," terang Gantari.
Jarinya kembali mengetik beberapa keyword dan memperhatikan ponselnya lagi pada Nevan. Kali ini aktris Korea.
"Si suami awalnya tergila-gila sama dia," jari Gantari menunjuk gambar wajah si wanita, lalu melanjutkan, "Tapi setelah menikah dia justru bosan dan meninggalkan si wanita yang sudah terlanjur cinta mati dengan dia."
Kening Nevan masih setia dengan kerutannya, dia paham, tapi tak mengerti hubungan kisah para artis itu dengan kisah mereka.
"Apa laki-laki emang kayak gitu? Setelah rasa penasarannya hilang, terus seenaknya aja mencampakkan." Gantari mendengus pelan, lantas memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
"Aku nggak tau dengan mereka, tapi aku nggak akan begitu," ucap Nevan sungguh-sungguh.
Gantari tampak menimbang. Ia termenung beberapa saat.
"Kamu ragu?"
Gantari menggeleng. "Aku ragu dengan diriku sendiri." Ia memainkan jarinya, kemudian melanjutkan, "Aku terbiasa dengan kamu yang selalu menganggap aku berharga, gimana kalau nanti kamu nggak lagi begitu?"
Ucapan Gantari membuat Nevan tergelak, lalu ia mengusap sayang rambut Gantari. "Kalau kamu nggak percaya dengan diri kamu sendiri, berarti kamu harus percaya sama aku." Ia melanjutkan ketika Gantari balas menatapnya, "Percaya sama aku, kalau selamanya kamu berharga dihidupku. Aku pastikan akan selalu tergila-gila sama kamu dan nggak akan ada capeknya untuk nunjukin itu."
Remaja kalau digituin, bakalan merona dong, ya. Begitu pula Gantari. Wajahnya terasa panas, hingga rona merah menyebar ke kulit wajahnya. Ia memukul lengan Nevan, hingga si pemuda tergelak.
"Tapi kenapa aku?" Gantari memastikan lagi. Seperti yang sudah ia bilang, dia masih tagu.
"Kenapa harus bukan kamu?"
Gantari melotot. "Tinggi banget pasti nilai Bahasa Indonesia nih anak."
"Emang dipelajaran Bahasa Indonesia ada materi gombal?" Goda Nevan.
Gantari melebarkan matanya lagi. Ia sudah berdiri dan bersiap akan pergi ketika Nevan menahan tanggannya agar duduk kembali. "Bercanda, sayang."
Ketika Gantari masih cemberut, Nevan mengeluarkan ponselnya dan merekam dirinya sendiri.
"Hai! Aku, Nevandra Ardiona. Orang yang paling aku sayang adalah Gantari Dihyan Irawan dan selamanya akan begitu. Kalau sampai suatu saat aku mengingkarinya, siapa saja diantara kalian boleh memukuliku sampai babak belur dan kupastiakan aku tidak akan menuntut."
Tangan Nevan langsung ditarik Gantari ketika mendengar hal konyol yang barusan diucapkan Nevan. Kekerasan adalah hal yang selalu terdengar ngeri ditelinganya. Ia membelalak dan memasang ekspresi tidak suka pada sang pemuda. Sedangkan yang dipelototi justru cengengesan. Sambil mengetik sesuatu diponselnya, ia berujar, "Sudah aku kirim ke nomormu, ya. Jadikan itu jaminannya kalau suatu saat hal yang kamu takutkan terjadi."
Nevan meraih tangan Gantari dan menggenggamnya, "Tapi, aku pastikan itu nggak akan pernah terjadi."
***
Nevan gelisah dalam tidurnya. Bulir keringat mulai bermunculan meski mesin pendingin tidak ada matinya. Dahinya berkerut, rautnya tampak tersiksa. Ia akhirnya bangun dengan napas tersengal, disusul batuk hebat.
Ia menghempaskan selimut yang membungkus tubuhnya dan berlari ke kamar mandi. Kemudian mencuci muka mencoba menyadarkan diri. Dia benci dia yang begini. Dengan langkah lebar, Nevan menuju nakas dan membuka laci paling bawah. Kemudian ia menemukan botol berwarna putih disana. Ia membiarkan dirinya terduduk di lantai, lalu dengan cepat membuka tutup botol dan mengeluarkan dua butir isinya. Nevan ingin mengenggak dua butir obat tersebut, namun ia urungkan ketika alarm ponsel tiba-tiba berbunyi tanda subuh telah tiba.
Nevan menggeram frustasi, lantas melempar kasar obat yang tadi digenggamnya ke lantai. Berkali-kali ia membenturkan kepalanya ke atas ranjang. Sekali lagi, dia benci dirinya yang seperti ini.
lanjutttt bau bau Clbk ini sih 🤭
menarik nihh
lanjut baca deh
cerita loe ga ke detack...😎