"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan mimpi (18+)
"Icha tertidur?"
Queen yang sedang menunggu kepulangan Alex mendekati sang anak. Ia melihat Icha yang berada dalam gendongan Arnold.
"hm."
Arnold hanya berdehem. Ia tidak ingin membuat Icha terusik jika bersuara.
"Ia pasti kelelahan di rumah sakit. Bawa ia ke kamar cepat. Biarkan ia istirahat lebih nyaman." Queen juga menyampaikan.
"Oke."
Arnold melanjutkan langkahnya dengan membawa Icha yang masih tertidur. Memasuki lift, ia membawa Icha langsung ke kamar mereka.
"Ughhhh."
Icha bergerak dan mulai tersadar. Ia merasa terbangun saat badannya di letakkan dengan perlahan.
"Terbangun ya?" Arnold mengusap rambut Icha perlahan. Memandangi Icha yang terbangun.
"Kak Ar sudah pulang ya?"
Icha tersenyum dan kembali memejamkan mata. Ia juga mengalungkan kedua tangannya ke leher Arnold.
Ia merasa bermimpi, melihat Arnold sudah ada di depan wajahnya. Meski tidak cukup dekat dengan Arnold. Tapi ia merindukan lelaki itu.
"Aku sangat merindukan kak Ar." Icha bergumam. Merasa dalam mimpi ini, Arnold menjadi lembut.
Sedangkan Arnold yang merasa bingung dengan ucapan Icha. Mulai mengerti. Sepertinya wanita ini bermimpi. Dan masih belum percaya jika ia sudah kembali.
"Jangan pergi lagi. Aku tidak suka di tinggal terlalu lama." Icha kembali bergumam.
Ia tersenyum dan memberanikan diri mengecup leher Arnold. Merasa lega karena ini hanya mimpi. Tidak ada yang perlu ia cemaskan.
'Cup!'
Tangan Arnold yang berada di pinggang Icha mengepal erat. Kecupan itu membuat tubuhnya tegang dan kaku.
"Jawab aku." Icha sedikit manja.
"Jangan tinggalkan aku sangat lama seperti itu. Aku tidak suka." Icha bahkan sedikit merengek semakin manja.
Dengan berani, ia kembali mengecup leher Arnold. Berulang kali. Hingga ia merasa puas, dan terlihat senyuman lebar sebelum ia kembali diam dengan mata terpejam.
Tidak menyadari jika perbuatannya telah membuat Arnold mengumpati diri dalam hati. Jika saja ia tidak harus menunggu kesiapan Icha, sudah pasti ia akan menerkam wanita ini.
Tapi sepertinya, bermain - main sebentar juga bukanlah ide yang buruk. Ia tersenyum smirk merasakan Icha yang kembali tertidur.
Oh, Tidak!
Tentu saja ia tidak akan membuat Icha merasa jika ini hanyalah mimpi. Wanita ini harus tahu jika semua bukan hanya mimpinya.
"Ichaku."
Arnold menunduk menuju leher Icha. Sedikit mendorong tubuh wanita itu. Agar ia memiliki akses.
'Cup!'
Sebuah kecupan dan sedikit hisapan kecil ia labuhkan di leher itu. Berulang kali, hingga semua sisi leher Icha, tidak luput dari cumbuan bibirnya.
"Aaahhh Arnoldhhh."
Icha mendesah dalam mimpinya. Ia merasa Arnold menciumi lehernya. Ia tersenyum dalam mimpinya.
Menyukai kecupan bertubi - tubi yang ia rasakan di lehernya. Ia menikmati itu.
Icha sungguh tidak menyangka, jika kakak sepupunya yang cukup dingin ini. Ternyata bisa bersikap panas seperti itu.
Karena merasa ini masih mimpi. Icha tidak menahan desahannya. Tidak tahu, jika lelaki itu semakin liar mencumbu lehernya.
"Arhhnoldhhh aahhh."
Desahan kembali lolos dari bibirnya, beserta sebuah hisapan di lehernya.
Arnold yang semula ingin bermain dengan Icha mengumpat, saat alunan namanya keluar di sertai desahan dari mulut Icha. Ini berbalik menyerangnya.
Arnold sedikit menjauh. Memperhatikan Icha yang masih memejamkan mata. Sedikit geram karena Icha masih menganggap semua itu mimpi.
Matanya berkilat pada leher Icha yang memerah. Beberapa tanda telah ia buat di leher indah Icha. Dengan begitu besok siapapun yang melihatnya akan paham, bahwa Icha telah menjadi milik seseorang.
Arnold semakin posesif mengingat semut yang mencoba mengerumuni sang istri. Ia menatap Icha dengan tatapan tajam.
Pandangannya tertuju pada bibir Icha yang sedikit terbuka. Mengundangnya untuk mencicipi bibir itu.
Icha adalah istrinya!
Jadi hal yang wajar jika ia memiliki wanita ini seutuhnya. Dan mencium bibir Icha tidak akan menjadi masalah buatnya.
'Cup!'
Arnold menunduk dan melabuhkan bibirnya pada bibir mungil itu. Bibir yang sering membuat ia tidak bisa membalas ucapan Icha.
Lidahnya langsung menyerbu masuk ke dalam mulut Icha. Bibir Icha yang sedikit terbuka, memudahkan lidahnya menyusup masuk.
Dengan lihai lidahnya menyentuh dan membelai bagian dalam mulut Icha. Menahan belakang kepala Icha agar tidak menjauh.
"Hmpht."
Arnold memuaskan dahaganya dengan bibir lembut Icha. Menyukai rasa yang ia temukan dari mulut Icha.
Tangannya juga tidak ketinggalan. Dengan sebelah tangannya yang bebas, ia mengelus pinggang Icha dengan intens.
Lidahnya membelit lidah Icha dengan cepat. Tubuh tegang wanita itu tidak membuatnya berhenti. Ia semakin berani dengan membelai lidah milik Icha.
"Hmpht!"
Pukulan di pundaknya, tidak menghentikan gerakan Arnold. Ia memperdalam cumbuannya di bibir Icha. Tidak menghiraukan wanita itu yang tersadar sepenuhnya.
Tangannya meluncur turun. Mengelus paha Icha dengan panas. Dress yang di kenakan Icha, telah tersingkap ke atas. Tangannya semakin intens membelai paha mulus dan lembut itu.
Semakin menekan Icha ke tempat tidur. Arnold juga ikut mengungkung tubuh Icha. Menarik kaki Icha dan melingkarkan di pinggangnya.
Arnold dengan cepat menekan tubuh Icha. Dengan ia yang berada di antara kedua kaki wanita itu. Arnold melepaskan bibir Icha. Hanya untuk kembali mencumbui leher Icha.
"Kak Arhhh ini aahhh."
Icha mendesah kuat saat lehernya di hisap kuat dan di gigit kecil. Ia memejamkan mata, saat mulut Arnold mengecup lehernya.
Ia kira ia bermimpi saat dengan berani mengecup leher Arnold. Dan ia kira masih bermimpi saat mendapat cumbuan di lehernya.
Tapi ciuman lelaki di mulutnya. Dengan lidah Arnold di lidahnya, membuat Icha tersadar. Ia membuka mata dan melihat Arnold yang mencumbu sisi dalam mulutnya.
Icha memukuli pundak Arnold. Berharap lelaki itu berhenti. Tapi ia semakin terhenyak, saat tubuhnya di baringkan di ranjang. Dengan lelaki itu yang menindihnya.
Icha semakin melotot, saat belaian panas tangan Arnold semakin terasa di pahanya. Ia juga terkejut saat lelaki itu membawa kakinya untuk melingkari pinggangnya.
"Aaahhhh."
Icha mendesah kuat saat lehernya kembali di hisap kuat. Itu akan meninggalkan tanda. Ia yakin itu.
"Udah kak Ar, aaahhh."
Usaha Icha untuk menghentikan lelaki itu, semakin berat. Ia mendesah saat cumbuan bibir Arnold beralih dan semakin turun.
Tidak. Icha belum siap untuk ini. Tapi, apa ia ingin menghentikan lelaki ini?
Arnold adalah suaminya. Dan ia istri lelaki itu. Jika Arnold menginginkan haknya. Ia jiga tidak kuasa menolak itu.
Tubuhnya semakin lemah saat bibir Arnold semakin turun ke bawah. Menuju bagian dadanya yang sensitif.
Apakah ia harus menyerahkan dirinya pada Arnold?
Bagaimana jika lelaki itu belum mencintainya?
Sanggupkah ia untuk bertahan, seandainya lelaki ini menemukan wanita lain nanti? Icha masih ragu dengan itu semua.
Tapi semua kembali pada kepercayaannya pada Arnold.
Lelaki ini adalah kakak sepupunya. Tidak ada lelaki yang bersikap kejam dengan mempermainkan wanita dalam keluarga mereka.
Ia juga yakin dengan Arnold. Bahkan ia tidak pernah mendengar Arnold mempermainkan seorang wanita.
Jadi bisakah ia berharap, jika pernikahan mereka akan berjalan normal. Seperti pernikahan umum biasanya?
"Aahhhh."
Icha mendesah kuat ketika mulut Arnold memberi tanda merah di atas dadanya.
.........................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik