NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Sistem / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
​Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
​Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
​Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
​Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Bayang-Bayang dari Singgasana

Istana Kerajaan Vance tidak pernah terasa sedingin ini. Meskipun perapian di setiap sudut koridor menyala terang, hawa mencekam seolah merayap dari dinding-dinding marmer kuno yang telah menjadi saksi bisu sejarah panjang benua Xyloseria.

​Di puncak tertinggi menara barat, seorang pemuda duduk mematung di kursi kebesarannya. Cahaya rembulan yang pucat menembus kaca jendela tinggi, menyapu rambutnya yang berwarna perak-keemasan. Sepasang mata berwarna Olive menatap tajam ke arah peta wilayah Xyloseria yang terbentang di atas meja mahoni. Ia mengenakan jubah kebesaran yang berat dengan sulaman benang emas berbentuk lambang kerajaan di bagian bahunya.

​Jemarinya yang panjang bergerak perlahan, mengetuk permukaan meja dengan ritme yang lambat. Tok. Tok. Tok. Ia seolah sedang menghitung detik demi detik yang berlalu.

Jauh di bawah tanah istana—di sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi di balik dinding batu—lima anggota Night-Claw Shadows (Catkin) berlutut dengan kepala menunduk dalam.

​"Lapor. Jembatan Lembah Kabut Abadi telah hancur total. Target terjatuh bersama Archduke ke dasar jurang terdalam," suara pemimpin Catkin itu terdengar seperti desisan tajam yang memecah keheningan.

​Pria di balik bayang-bayang itu terdiam sejenak. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit berkualitas tinggi terangkat, menyesuaikan posisi kerah jubahnya yang kaku.

​"Ketinggiannya lebih dari lima ratus meter, Yang Mulia," lanjut si pembunuh bayaran itu saat tidak mendapat jawaban segera. "Mustahil ada jantung yang masih berdetak setelah jatuh dari sana."

​Pria itu terkekeh rendah—sebuah tawa kering yang menggema dingin di dinding-dinding batu. Ia melangkah perlahan mengelilingi para pembunuh itu.

​"Aku tidak butuh asumsi 'mustahil'. Aku butuh kepastian jasad. Garis keturunan itu memiliki daya tahan yang merepotkan jika tidak dipastikan hingga menjadi debu."

​Ia berhenti tepat di depan pemimpin Catkin, lalu menjatuhkan sebuah gulungan yang tersegel dengan lilin merah berlogo resmi mahkota.

​"Ini adalah perintah untuk Tim Pembersih Kedua. Masuk melalui jalur rahasia wilayah bawah tanah kaum Dwarf. Cari jejak mereka. Jika kau menemukan sisa-sisa tubuhnya—bahkan jika itu hanya sepotong tulang atau sisa d4rahnya—bakar semuanya. Jangan biarkan ada satu pun yang bisa membawa namanya kembali ke istana ini."

​"Baik, Yang Mulia. Perintah segera dilaksanakan."

​Setelah para pembunuh itu menghilang ke dalam kegelapan, pria itu melangkah menuju celah jendela kecil di dinding batu. Ia menatap ke arah utara dengan tatapan yang sangat dingin.

Pemuda berambut Silver-Gold itu menarik napas panjang, menatap bayangannya sendiri yang terpantul di jendela gelap. Seulas senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya saat ia menatap ke arah di mana kabut lembah menyelimuti segalanya.

​Ia kemudian meraih gelas kristal berisi wine merah pekat di atas mejanya. Cairan itu berkilau menyerupai d4rah di bawah cahaya bulan. Dengan gerakan perlahan, ia menyesap wine itu, membiarkan rasa pahit dan manisnya tertinggal di lidah, sementara matanya yang berwarna Olive tetap terpaku pada kegelapan di luar sana.

Sementara itu, jauh di bawah sana, di sebuah ruangan yang dipenuhi deru mesin uap dan dentingan logam yang memekakkan telinga, kesadaran Aruna perlahan kembali. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya seperti baru saja dihantam oleh wajan raksasa miliknya sendiri.

​"Ugh..."

​Pandangannya yang kabur mulai menangkap sosok pria berambut emas yang duduk tak jauh darinya. Asher tampak sedang bersandar pada sebuah pilar mesin yang dingin. Kondisinya jauh dari kata baik; hampir seluruh tubuhnya dibalut oleh kain kasa yang mulai merembeskan warna merah, menunjukkan betapa parahnya luka yang ia terima demi melindungi Aruna saat terjatuh tadi. Meskipun terluka parah, tatapan mata birunya tetap tajam, menyapu setiap sudut ruangan asing itu dengan waspada.

​"Kamu sudah bangun, Putri?" suara berat Asher memecah kesunyian, terdengar jauh lebih serak dari biasanya.

​Aruna mencoba duduk tegak, namun perutnya justru memberikan respons lebih dulu. Kruyuuukk! Bunyi nyaring itu menggema di ruangan sempit tersebut, mengalahkan suara desis pipa uap sejenak. Wajah Aruna seketika memerah sampai ke telinga.

​Ding!

[Terdeteksi host tersadar dari kondisi pingsan.

Host membutuhkan asupan energi segera untuk memulihkan mana yang terkuras.

Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Mengaktifkan sub skill magi catering.

Memanggil item: Ayam Goreng Tepung Spesial.]"

​Syuuuut!

​Sebuah paha ayam goreng yang masih mengepul panas dengan aroma gurih yang menggoda muncul begitu saja di depan wajah Aruna. Tanpa memedulikan apapun, Aruna langsung menyambar dan menggigitnya dengan rakus. "Yumm... Enakkk..." gumamnya dengan mulut penuh.

​Asher hanya bisa tertegun melihat pemandangan itu. "Putri... bagaimana Anda bisa... di kondisi seperti ini..."

​"Oi! Sudah kubilang, jangan banyak bergerak dulu!" Verdy muncul dari balik mesin besar sambil membawa baskom air dan gulungan kain baru. Ia menatap Aruna yang sedang lahap makan dengan pandangan lega bercampur gemas. "kamu juga, Auristela! Kau membuatku hampir jantungan saat melihat kondisi kalian tadi yang mengenaskan!"

​Aruna menelan makanannya dengan susah payah. "Verdy! Maaf... tapi kalau bukan karena bengkelmu, kami pasti sudah m4ti."

​Aruna menoleh kembali ke arah Asher yang masih terbalut banyak perban. Matanya yang hijau menatap pria itu dengan rasa bersalah yang dalam.

​Ding!

 [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland : 80 %. (Bonus/catatan) : Target merasa sangat lega melihat Anda selamat. Meski terluka parah, ia merasa pengorbanannya tidak sia-sia setelah melihat Anda bisa makan dengan lahap.]

​Asher... terima kasih sudah melindungiku," bisik Aruna tulus. "Karena kamu menahan hantaman itu, aku bisa bangun lagi."

​Asher memalingkan wajahnya sedikit, namun ada kelembutan tipis di matanya. "Itu sudah menjadi tugas saya, Putri Auristela."

Aruna terdiam sejenak, menatap sisa ayam goreng di tangannya lalu kembali menatap Asher. Ia bisa melihat butiran keringat dingin di dahi pria itu akibat menahan perih. Tanpa sadar, Aruna mengulurkan tangannya, hendak menyentuh perban di lengan Asher, namun ia ragu. "Maafkan aku... karena aku tidak berguna, kamu jadi harus menderita seperti ini. Aku benar-benar putri yang merepotkan, ya?"

​Asher menoleh, mengunci pandangan Aruna dengan intens yang membuat jantung Aruna berdegup lebih kencang. "Jangan katakan itu. Melihatmu bisa mengeluh lapar dan makan dengan berisik... itu jauh lebih baik daripada melihat kamu tidak bernapas."

​Wajah Aruna memanas. Ia segera membuang muka, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya dengan kembali menggigit ayam gorengnya.

"Shhiizzz!!!"​

Tiba-tiba, si Oyen melompat bangun dan mendesis tajam ke arah pintu. Verdy langsung menyambar palu godamnya. "Ada tamu tak diundang! Bau kucing liar Catkin!"

​Asher berusaha bangkit meski tubuhnya dibalut kasa, mencengkeram Solis-Aeterna. Aruna segera berdiri, mana di tubuhnya mulai bergejolak liar karena bahaya yang mendekat.

​"Ding!

[Terdeteksi host dalam bahaya.

Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item...]"

​"Bersiaplah," bisik Aruna. "Waktunya membalas sambutan mereka."

1
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!