NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:718
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

"Mama dengar kamu punya simpanan?" Satu kalimat yang sukses membuat Ryan tak berkutik.

"Jawab!!!" Bu Yeti, selaku Ibunya Ryan membentak anaknya. "Apa wanita itu ada di apartemen mu?" Satu pertanyaan itu membuat Ryan membulatkan matanya.

"Dari mana Mama mengetahuinya?" Ryan balik bertanya.

"Maeta yang memberi tahu Mama. Benar kamu punya simpanan?"

Ryan terdiam kembali. Ia tak bisa berkata apa-apa. Jika ia berucap, ia takut orang tuannya akan berbuat macam-macam dan membuat putrinya sengsara.

"Semua itu fitnah." Tegas Ryan.

"Apa kamu bisa memberikan bukti bahwa kamu tak bersalah? Kalau benar kamu melakukan hal buruk yang merusak nama baik keluarga, maka Mama tidak akan segan-segan untuk membunuhnya." Ancam Ibunya.

"Terserah!" Ryan pergi begitu saja meninggalkan kediaman Varatanu.

"Ryan!!! Kembali kamu, Mama belum selesai bicara. Ryan!!!" Bu Yeti terus berteriak namun Ryan tak menanggapinya.

Ryan buru-buru pergi ke apartemennya. Ia harus segera memindahkan Naina dan juga Nayla sebelum orangtuanya bertindak yang tidak-tidak.

Sesampainya di apartemen, Ryan mencari-cari keberadaan Naina dan putrinya. Namun sayang, mereka tak ada di tempat.

"Apa mereka pergi keluar?" Gumam Ryan menerka-nerka.

" Sekarang Naina jadi sering pergi keluar, atau dia memiliki pria lain?" Tebaknya menjadi gila.

Lama Ryan menunggu, sampai sore tiba Naina tak juga pulang. Ryan semakin tak enak perasaannya. Atau emang Naina telah di temukan oleh Mamanya? Tapi gak mungkin. Baik Maeta dan Mama tidak tahu Naina.

"Gak mungkin, Mama gak mungkin menemukannya. Mama belum tahu tentang Naina." Ryan berbicara seorang diri.

Hati Ryan semakin gundah. Meski Ryan ingin bercerai dengan Naina, tapi untuk kehilangannya secara tiba-tiba Ryan tak sanggup.

Perceraian yang Ryan inginkan, Naina tetap tinggal di apartemennya. Agar Ryan dapat bertemu dengan putrinya dengan mudah.

"Surat cerai." Ryan teringat akan sesuatu.

Ryan buru-buru masuk ke ruang kerjanya. Ternyata benar, surat cerai yang ia simpan dalam tumpukan buku itu menghilang.

"Apa Naina membakarnya? Atau ia serahkan ke pengadilan? Tapi kenapa, sampai saat ini belum ada keputusan dari pengadilan?"

Ryan semakin bingung. Ia frustasi dengan kondisinya saat ini. Rindunya semakin menjadi.

Ryan putuskan untuk menunggu Naina. Siapa tahu Naina pulang malam nanti.

Saat malam datang, waktu terus berjalan, Naina tak juga datang. Hawa sepi dan sunyi semakin terasa. Ryan menatap sekeliling. Ia membayangkan sosok Naina yang selalu tersenyum manis dan menawarkan sesuatu padanya.

"Naina," lirihnya seraya meneteskan air mata.

Ryan buru-buru menyeka air matanya. Ia tak ingin jika air matanya jatuh dan Naina melihatnya.

Hari berganti hari, bulan terus bergulir. Entah untuk ke berapa kalinya Ryan mencari Naina. Bahkan Ryan bertanya pada Chandra dan Cecilia. Mereka pun syok karena mengetahui Naina kabur.

Cecilia panik karena sepertinya kabur bukanlah sifat Naina. Pasti ada hal buruk yang memaksa melakukan hal seperti itu.

Cecilia segera meminta pertolongan pada Kakaknya yang seorang polisi untuk bantu mencari Naina. Karena Cecilia tak ingin hal buruk terjadi pada adik angkatnya dan putrinya angkatnya itu.

"Kenapa kamu tak lapor polisi?" Pertanyaan Cecilia itu tak bisa Ryan jawab.

Ryan tak ingin melakukannya. Jika hal itu terjadi orang tuanya pasti akan mengetahui hal tersebut. Ryan tak ingin memperkeruh suasana.

"Kalau ada kabar mengenai Naina dan Nay, segera hubungi saya." Ryan pamit begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Cecilia.

"Kurang ajar!!" Gumam Cecilia kesal.

...****************...

Terhitung 4 bulan sudah Ryan mencari keberadaan Naina, namun hasilnya selalu nihil.

Malam itu Ryan duduk di kursi kerjanya, tanpa sadar, dan entah dorongan apa, ia ingin membuka laci mejanya. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui ponsel yang biasa Naina pakai ada di sana, serta beberapa barang milik Naina.

Ryan mengeluarkannya satu persatu. Kalung dengan liontin berlian berwarna hijau yang dulu ia berikan pada Naina, ponsel miliknya yang sempat di pakai Naina, kartu kredit, sepucuk surat, beberapa perhiasan milik Naina dulu, serta surat cerai.

Ryan tak mengerti semua ini, Ryan yang enggan masuk kamar Naina itu segera berlari masuk kamar Naina dan melihat isi lemarinya. Naina kabur! Begitulah batin Ryan berkata.

Ryan yang menggenggam surat cerai itu kembali melihat isinya, ternyata sudah di tandatangani oleh Naina. Ia setuju untuk bercerai.

"Apa dia kembali ke Desa dimana ia tinggal?"

" Pantas saja, saat aku pergi tidak pernah ada lagi notifikasi keluar dari kartu kredit. Ternyata dia kabur. Harusnya aku mengetahui ini dari awal. Kenapa aku jadi lamban!!" Ryan mengacak-acak rambutnya kesal.

"Surat, apa isi surat itu." Ryan berlari menuju ruang kerjanya. Sebuah tulisan tangan yang rapih berisi pamitan.

Untuk Pak Ryan.

Saat anda mengetahui surat ini, mungkin saya sudah tidak ada di sana. Maaf selama ini saya selalu membuat anda kecewa. Saya hanya bisa mendoakan kebahagiaan anda. Selamat atas pernikahan anda dengan orang yang anda cintai. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan dan di beri kebahagiaan. Saya mundur Pak. Karena saya sadar, saya hanya pengganti saat orang yang anda cintai tak hadir.

Saya tak pernah menyesal pernah mencintai anda. Saya tak menyesal pernah membangun rumah tangga dengan anda.

Yang saya sesali, mengapa saya menjadi pihak ketiga dalam hubungan anda. Saya sungguh minta maaf.

Anda tak perlu mengkhawatirkan Nay, dia aman bersamaku. Anda tak perlu merasa terbebani tentang nafkah. Saya ikhlas di talak tanpa nafkah sepeserpun. Saya sudah menandatangani surat cerai itu, mari kita berpisah dan saling melupakan. Terimakasih untuk semuanya, berbahagia selalu, Pak Ryan.

Ryan mengamuk, ia tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya di tinggalkan oleh seorang wanita yang bahkan statusnya lebih rendah dari siapapun, seperti itu lah ucapan yang keluar dari mulut Ryan.

Namun sejatinya ia tak ingin kehilangan Naina. Ryan sangat membutuhkan Naina. Namun Ryan tak bisa berkata apa-apa. Egonya lebih tinggi dari segalanya.

"Baik, aku kabulkan keinginanmu."

Ryan buru-buru menghubungi temannya dan segera untuk memproses perceraiannya.

...****************...

Naina mulai aktif berjualan, warungnya selalu ramai oleh karyawan pabrik tekstil itu. Setiap jam istirahat tiba Naina dan 2 orang tetangga yang ikut membantunya selalu kewalahan.

Hari itu, Naina merasakan hal aneh dalam dirinya. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam perutnya. Naina tak menghiraukannya ia melayani pembelian di kasir. Badannya lemes dan tak kuat berdiri.

"Nay diam, ya. Jangan rewel." Ucap Naina pada Nayla yang tengah bermain di sampingnya.

"Iya, Ibu."

Naina menghitung bayaran yang harus mereka bayar selepas makan. Dengan bantuan kalkulator Naina menghitung cepat dengan sesekali mengelus perutnya.

Naina merasa ia selama ini selalu menstruasi, meski hanya flek saja. Namun Naina tak ingin masalahnya menjadi panjang, ia ingin memeriksanya ke dokter.

"Mbak Tin, aku tinggal dulu, ya. Aku gak kuat ingin istirahat dulu." Ucap Naina Pada salah satu teman yang membantunya.

"Iya, Na. Istirahat saja. Muka kamu juga pucat banget."

Naina mengajak Nayla untuk masuk ke dalam rumah. Warung nasi yang di bangun di depan rumah kontrakan Naina, memudahkan dirinya untuk membawa masakan ke dalam warung.

Naina baringkan tubuhnya, dan mengelus perutnya yang terus saja bergerak. Naina mengingat kembali rasa yang sama saat ia mengandung Nayla dulu. Perutnya selalu bergerak oleh tendangan Nayla.

Tapi ini tidak mungkin karena selama satu tahun lebih Naina bersama Ryan, dan melakukan hubungan intim tanpa pengaman pun tak membuahkan hasil.

"Rasanya tidak mungkin. Tapi jika benar aku hamil ㅡ" Naina menatap putrinya.

Apakah Naina akan sanggup merawat kedua anaknya nanti? Ekonominya belum stabil saat ini, terlebih harus membagi hasil pada orang yang membantunya.

Naina mengelus kembali perutnya, dan berpikir tak mungkin juga ia menggugurkan kandungannya yang sudah bernyawa ini.

Bagaimana bisa si jabang bayi tak memberikan pertanda kehamilan. Naina tak pernah merasa mual dan ngidam apapun. Baru kali ini Naina merasakan hal aneh, yaitu tendangan dalam perutnya.

1
Android Tv
Sakit banget aslinya kalo jadi Naina.
Mifhara Dewi: terimakasih sudah mampir kak
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army
aku mampir nih💜
Mifhara Dewi: makasih Kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!