Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - NAMA YANG DIUCAPKAN IBU
Suara di luar rumah datang sebelum langkah kaki.
“Paman Wu! Apa Feng sudah sadar?”
Lin Feng menegang. Perempuan yang memanggil itu terdengar terengah-engah, seperti berlari dari kejauhan. Saat ia menoleh ke pintu, ingatan yang bukan miliknya bergerak lagi: sepasang tangan kasar membetulkan kerah bajunya, suara yang sama menyuruhnya makan sebelum berangkat, lalu dirinya menjawab bahwa ia sudah terlalu besar untuk diperlakukan seperti anak kecil.
Gambaran itu membuat dadanya sesak dengan cara yang berbeda dari cedera rusuknya.
Lelaki tua yang menolongnya—yang kini ia tahu dipanggil Paman Wu—mengangkat tangan agar Lin Feng tidak mencoba berdiri. “Sudah sadar. Tapi jangan buat dia bicara terlalu banyak dulu.”
Seorang perempuan masuk. Rambutnya disanggul sederhana dan beberapa helai telah lepas menempel di pelipis. Ia berhenti di ambang pintu, seolah takut kabar baik itu berubah jika ia bergerak terlalu cepat. Ketika Lin Feng menatapnya, matanya berkaca-kaca.
“Feng’er.”
Satu kata. Tubuhnya mengenali suara itu sebelum pikirannya menemukan nama.
“Ibu,” jawabnya pelan.
Perempuan itu merapat ke dipan, namun tidak langsung menyentuhnya. Ia memperhatikan wajah Lin Feng, lalu tangannya yang tergores. “Kau membuatku mencari sampai ke jalan bukit. Apa yang kau pikirkan? Kau tahu hujan bisa membuat jalan longsor.”
Lin Feng menunduk. Ia tak tahu apa yang dilakukan pemuda ini sebelum terjatuh. Potongan ingatan muncul: perjalanan ke kota, sekeranjang pakaian, rasa malu karena pulang tanpa uang. Lalu suara hujan menelan sisanya.
“Aku tersesat,” katanya. Itu bukan jawaban lengkap, tetapi mungkin cukup dekat dengan kebenaran tubuh ini.
Ibunya menarik napas tajam. “Kau berangkat sebelum matahari terbit dan tak membawa mantel. Paman Wu menemukanmu di jalan. Apa kau ingin membuatku kehilangan akal?”
“Maaf.”
Ia mengucapkannya tanpa berpikir. Perempuan itu menatapnya lama, lalu mengusap rambut di dahinya dengan gerakan yang begitu akrab bagi tubuh muda itu hingga Lin Feng nyaris memejamkan mata. Ada kehangatan yang tidak pernah bisa diberikan permainan. Ia tahu itu bukan ibunya sendiri. Pengetahuan tersebut terasa dingin, tetapi sentuhan itu tetap nyata.
Ia tak bisa mendorongnya menjauh.
“Tabib bilang kau terbentur batu,” kata Paman Wu. “Tidak ada tulang yang patah, tapi kau perlu istirahat. Bawa dia pulang kalau sudah sanggup berjalan. Aku bisa memanggil gerobak.”
“Terima kasih, Paman Wu.” Ibunya menoleh kepada lelaki itu. “Aku akan mengingat pertolongan ini.”
Wu Shun—nama itu datang dari ingatan tubuh, disertai bayangan seorang pria membawa kayu bakar melewati halaman—mengibaskan tangan. “Jangan bayar aku dengan ucapan. Pastikan anakmu tidak pergi ke bukit sendirian lagi.”
Lin Feng menyimpan nama itu. Ia tidak tahu apakah ingatan tersebut benar atau sekadar asosiasi yang lahir dari suara dan wajah yang sama. Tetapi ibunya memanggil lelaki itu Paman Wu, dan cara mereka berbicara menunjukkan hubungan lama yang tidak perlu dijelaskan.
Setelah beberapa saat, ia mencoba berdiri. Ibunya hendak memegang lengannya, namun ia memberi isyarat bahwa ia ingin mencoba sendiri. Kakinya gemetar ketika menapak lantai tanah. Rasa sakit di rusuk membuatnya membungkuk, tetapi tubuhnya tetap menopang beratnya.
Langkah pertama hampir membuatnya jatuh. Wu Shun menangkap bahunya.
“Pelan-pelan,” katanya. “Kau bukan sedang berlomba.”
Lin Feng mengangguk. Ia membenci betapa kecil kekuatan yang ia miliki, tetapi tubuh ini baru saja melewati malam di jalan dalam hujan. Memaksa diri hanya akan membuatnya terbaring lebih lama. Ia mengatur napas, lalu mencoba lagi. Kali ini ia berhasil mencapai pintu.
Di luar, cahaya siang membuat matanya menyipit. Halaman itu lebih luas daripada yang tampak dari dipan. Tanahnya lembek dan penuh jejak sandal. Rumput urat perak tumbuh dekat pagar, bercampur dengan gulma biasa. Ia jongkok perlahan, mengabaikan protes rusuknya, dan memeriksa salah satu daun tanpa mencabutnya.
Permukaan daun terasa dingin. Garis perak di bawahnya bukan cat atau kilau sihir; ia tampak seperti serat tipis yang mengalir di dalam jaringan daun. Ketika Lin Feng menggosok ujungnya, aroma getir tertinggal di jarinya.
“Jangan dipetik,” kata ibunya. “Paman Wu menanam beberapa rumpun untuk dijual ke tabib desa. Kalau rusak, kita harus menggantinya.”
Lin Feng segera menarik tangan. “Aku hanya melihat.”
“Aneh sekali kau tertarik pada tanaman sekarang.”
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Dalam ingatan tubuh, ia tak pernah peduli dengan rumput obat. Ia ingin mencari kerja di kota karena keluarga mereka tak punya cukup uang. Pengetahuan tentang pil hanya milik Lin Feng yang lain—pemain yang mengenal resep dari layar.
“Kau pernah melihatnya di mana?” tanya ibunya.
“Entahlah. Mungkin aku pernah membaca tentangnya.”
Paman Wu mengamatinya dari serambi. “Kalau kau berniat jadi tabib, mulailah dengan belajar membedakan daun yang bisa dimakan dari yang beracun.”
“Aku tidak bilang mau jadi tabib.”
“Bagus. Tabib dibayar dengan ucapan terima kasih lebih sering daripada uang.”
Nada datar lelaki itu membuat Lin Feng tersenyum tipis. Ada humor kering di sana, sesuatu yang tidak ditujukan untuk menghiburnya, melainkan memang bagian dari cara lelaki itu memandang hidup. Percakapan mereka tak terasa seperti dialog yang muncul untuk memberi petunjuk. Wu Shun punya kebiasaan, pendapat, dan alasan sendiri untuk tidak menyukai tabib.
Ibunya menopang Lin Feng ketika mereka mulai berjalan pulang. Rumah keluarganya berada di ujung dusun, sebuah bangunan kayu sederhana dengan atap genting yang beberapa bagiannya ditambal. Di dekat pintu tergantung keranjang kosong. Ada sepatu tua, alat pertanian, dan setumpuk kayu yang belum dibelah. Semuanya memberi kesan hidup yang berjalan tanpa menunggu seorang pemain memulai quest.
Beberapa tetangga melihat mereka lewat. Seorang anak kecil melambaikan tangan. Seorang perempuan yang membawa ember bertanya apakah Lin Feng sudah lebih baik. Ibunya menjawab singkat, lalu membimbingnya masuk sebelum ia kelelahan.
Di ruang utama, Lin Feng duduk di bangku rendah. Ibunya mengambil kain bersih dan membersihkan goresan di telapak tangannya. Ia menahan perih. Di sela gerakannya, ia merasakan sesuatu yang samar: tubuh ini terbiasa dengan sentuhan tersebut. Ia tak tahu apakah anak muda yang dahulu tinggal di sini mencintai ibunya dengan kata-kata, tetapi kebiasaan tubuh mereka menunjukkan tahun-tahun yang tak bisa diringkas menjadi satu dialog.
“Aku membuat bubur,” kata ibunya. “Kau harus makan sebelum tidur lagi.”
Perutnya menjawab lebih dulu dengan bunyi pelan.
Untuk pertama kalinya sejak terbangun, ia merasa lapar tanpa memandang bilah status atau angka kebutuhan. Ia merasa lapar karena tubuhnya membutuhkan makanan.
“Baik,” katanya. “Aku akan makan.”
Ketika ibunya pergi ke dapur, Lin Feng memandangi ruangan kecil itu. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa berada di sini, siapa pemilik tubuh yang sekarang ia gunakan, atau apakah ia berhak menerima kasih sayang keluarga ini. Namun ia tahu satu hal: orang-orang ini tidak tercipta untuk menjadi latar bagi petualangannya. Mereka telah hidup sebelum ia membuka mata, dan akan terus memiliki kehidupan sendiri setelahnya.
Di luar, Wu Shun berpamitan. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh. “Istirahatlah, Feng. Jalan ke Azure Cloud City tidak akan pindah.”
Kota itu tetap menjadi tujuan dalam ingatan pemuda ini. Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya, Lin Feng tidak berpikir tentang peta, harga, atau lokasi bahan. Ia memikirkan berapa lama ibunya telah menunggu di tengah hujan.
Ia menunduk pada kain di tangannya. Goresan di telapak terasa perih ketika dibersihkan. Bukan rasa sakit besar, tetapi cukup nyata untuk membuatnya diam.
Malam sebelumnya, ia mati di depan layar karena mengira selalu ada waktu untuk satu hal lagi.
Pagi ini, seseorang memanggilnya anak dan tidak meminta apa pun selain ia tetap hidup.