Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Dalam Pusaran Memori Kelam
Rumah Iptu Farhan terletak di pinggiran kota, sebuah bangunan tua berarsitektur era delapan puluhan dengan halaman samping yang ditumbuhi pohon mangga rindang. Suasananya jauh dari kebisingan pusat kota maupun koridor dingin rumah sakit.
Sejak sore hari, Farhan membiarkan Arya beristirahat di kamar tamu belakang, sebuah ruangan sederhana berlantai ubin tua dengan satu ranjang besi dan jendela kayu yang menghadap ke kebun.
Farhan duduk di meja makan kayu di ruang tengah, ditemani satu cangkir kopi hitam yang sudah dingin dan laptopnya yang terbuka. Ia tidak sedang memeriksa berkas perkara, melainkan mencari literatur lama, jurnal psikologi anonim, hingga artikel-artikel sejarah lokal mengenai fenomena post-mortem empatik atau tradisi metafisika Nusantara.
"Pikiran yang menampung terlalu banyak sisa trauma," gumam Farhan seraya membaca sebuah artikel tua di layar monitornya. "Jika tidak memiliki saluran pembuangan emosional, subjek akan mengalami perpecahan kepribadian atau kemunduran fungsi Saraf Pusat..."
Farhan mendesah berat. Ia mengusap wajahnya yang lelah. Jam sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB. Hujan gerimis mulai menetes di atas atap seng dapur belakang, menciptakan suara ketukan teratur yang menenangkan.
PRANG!
Suara kaca pecah yang mendadak disertai jeritan parau dari kamar belakang membuat Farhan melonjak kaget dari kursinya!
"ARYA!"
Farhan berlari cepat menuju koridor belakang, dan mendorong pintu kamar tamu hingga terbuka lebar.
Pemandangan di dalam kamar membuat darah Farhan terasa berhenti mengalir.
Lampu kamar dalam keadaan mati. Di bawah temaram cahaya lampu jalan yang menerobos jendela, Arya sedang berlutut di sudut lantai. Gelas air putih yang tadi diletakkan di atas meja samping ranjang telah hancur berkeping-keping di lantai semen.
Tubuh Arya kejang-kejang pelan. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri dengan kuku-kuku yang menancap di kulit kepala hingga berdarah.
Matanya membelalak lebar, memancarkan kepanikan yang luar biasa hebat, namun seluruh otot leher dan wajahnya kaku, ia sedang berada di dalam cengkeraman sleep paralysis tingkat ekstrem!
"Arya! Bangun, Arya!" jerit Farhan seraya berlutut di samping pemuda itu.
Farhan mencoba menarik tangan Arya dari kepalanya, namun otot-otot Arya mengeras bagaikan baja kaku. Napas Arya terdengar seperti rintihan seseorang yang sedang tercekik di dasar air.
"Nggak... jangan... lepas..." bisik Arya dengan suara bergetar yang sama sekali tidak menyerupai suara aslinya. Suara itu berganti-ganti intonasi, kadang melengking seperti wanita, kadang berat dan serak seperti pria tua! "Dingin... airnya dingin sekali... tolong... leherku..."
"Arya, ini aku! Farhan! Kamu ada di rumahku, kamu aman!" Farhan mencengkeram kedua bahu Arya dan mengguncang tubuhnya kuat-kuat!
Tiba-tiba, mata Arya melirik patah ke arah Farhan. Pupil matanya membesar penuh. Dengan gerakan refleks yang tak masuk akal, tangan kanan Arya yang bebas meledak maju dan mencengkeram pergelangan tangan kiri Farhan!
SZZZZT!
Sengatan arus balik!
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bukan Arya yang menerima memori dari orang lain, melainkan Farhan yang terlempar masuk ke dalam kekacauan persepsi mental Arya!
Sensasi itu meluncur bagaikan hantaman gelombang laut malam yang membekukan.
Farhan merasakan pandangannya berputar hebat. Dinding kamar kayu rumahnya runtuh berganti menjadi kegelapan ruang hampa yang dipenuhi oleh serpihan-serpihan ingatan yang hancur.
Farhan tidak lagi berada di rumahnya. Ia berdiri di tengah-tengah lorong tak berujung yang berdinding air raksa.
Di sepanjang lorong itu, puluhan wajah berkeleteran lewat dengan kecepatan tinggi!
Ada wajah Pak Bambang yang terbakar dengan mata memohon keadilan!
Ada wajah Maya Kartika dengan luka ukiran simpul berdarah di lengan yang terus menjerit tanpa suara!
Ada wajah Victor Tanujaya yang pucat pasi dalam racun!
Dan ada belasan wajah anonim lainnya, pria tua yang serangan jantung, anak kecil yang tenggelam di sungai, wanita korban tabrak lari, semua korban yang pernah dimandikan oleh Arya selama berbulan-bulan!
Mereka tidak menyerang, mereka hanya berdiri mengelilingi Arya yang sedang meringkuk di tengah lorong tersebut. Mereka memegang bahu Arya, menarik pakaiannya, dan berbisik bersamaan dalam ribuan frekuensi suara:
"Sampaikan pesanku..."
"Katakan pada istriku aku tidak bersalah..."
"Sakit... dingin sekali di bawah sana..."
"Kenapa kamu meninggalkanku, Pemulasara?"
Di tengah lingkaran jiwa-jiwa yang haus akan penyelesaian itu, Arya yang asli terlihat begitu kecil dan rapuh. Tubuhnya dikelilingi oleh benang-benang hitam imajiner yang mengikat leher, tangan, dan kakinya, menyerap warna kehidupannya perlahan-lahan.
Farhan menyadari kebenaran yang mengerikan, jika Arya tidak hanya sekadar 'melihat' masa lalu mereka saat menyentuh jenazah.
Tanpa disadari, kepekaan batin Arya yang terlalu tinggi membuat sebagian dari sisa rasa sakit, dendam, dan kesedihan para almarhum tertinggal dan mengendap di dalam jiwa Arya sendiri!
Setiap kali Arya memandikan jenazah tanpa 'membersihkan' batinnya sendiri, residu emosional itu menumpuk... hingga malam ini, bendungan mentalnya pecah sepenuhnya!
"ARYA!" teriak Farhan di dalam dimensi mental yang kacau itu.
Farhan menerobos kerumunan bayangan-bayangan kaku tersebut. Ia tidak takut pada wajah-wajah menakutkan itu, karena sebagai penyidik, ia tahu mereka hanyalah manifestasi dari rasa sakit yang ditinggalkan.
Farhan merangkul tubuh Arya yang gemetaran di lantai lorong air raksa itu.
"Arya! Dengarkan aku!" seru Farhan tepat di telinga pemuda itu. "Mereka sudah mati! Kamu sudah menyelesaikan tugasmu untuk mereka! Kamu sudah memberi mereka keadilan!"
"Saya tidak bisa keluar, Pak..." tangis Arya pecah di dalam penglihatan itu, suaranya seperti anak kecil yang tersesat di kegelapan. "Mereka terlalu banyak... mereka tarik saya ke bawah..."
"Kamu tidak sendiri!" tegas Farhan dengan kehangatan dan ketegasan seorang figur pelindung. "Aku ada di sini! Lepaskan mereka! Kamu bukan tempat penampungan rasa sakit mereka, Arya! Kamu adalah penuntun mereka pulang!"
Farhan memegang erat kedua tangan Arya, dan memutus benang-benang hitam imajiner yang melilit tubuh pemuda itu dengan tekad bulatnya sendiri!
GASSSHP!
Arya dan Farhan bersamaan menarik napas panjang secara mendadak, seolah-olah baru saja muncul dari dalam air kedalaman seratus meter!
Pikiran mereka terlempar kembali ke realitas!
Lampu kamar tamu yang temaram kembali terlihat. Udara dingin gerimis merayuk masuk dari sela-sela jendela. Kaca gelas yang pecah masih berserakan di lantai.
Cengkeraman tangan Arya di pergelangan tangan Farhan terlepas. Arya tersungkur ke depan, lalu mengirup udara malam banyak-banyak dengan dada yang kempas-kempis hebat. Keringat dingin membasahi seluruh kaus dan wajahnya hingga leher.
Farhan juga terduduk di lantai semen, memegangi dadanya sendiri yang berdetak tak beraturan. Pengalaman singkat masuk ke dalam ruang mental Arya tadi membuat kepalanya serasa dihantam palu godam.
"Pak... Pak Farhan..." bisik Arya, suaranya kembali menjadi suara aslinya, suara pemuda yang lelah namun kini memiliki kejernihan fokus.
Farhan mengusap dadanya, menatap Arya. "Kamu... kamu sadar sekarang?"
Arya menatap kedua telapak tangannya sendiri. Getaran hebat yang tadi menguasainya perlahan-lahan mereda. Sensasi bising bisikan puluhan suara di dalam kepalanya kini surut, berganti menjadi keheningan yang asing namun sangat menenangkan.
"Tadi itu... Bapak masuk ke dalam..." Arya menatap Farhan dengan mata membelalak tak percaya.
Farhan menyunggingkan senyum lelahnya, seraya menyapu keringat di dahinya. "Ya Tuhan... kepalaku serasa mau pecah. Jadi seperti itu rasanya berada di dalam otakmu setiap hari?"
Arya menunduk, air mata haru dan lega menetes dari pipinya menuju lantai semen. "Maafkan saya, Pak... saya malah menyeret Bapak ke dalam kegilaan saya..."
"Jangan minta maaf, Bodoh," potong Farhan tegas seraya merayap mendekat dan menepuk bahu Arya keras-keras. "Justru aku yang harus minta maaf. Selama ini aku cuma memanfaatkan petunjuk yang kamu dapat tanpa pernah peduli beban apa yang kamu tanggung setelahnya."
Farhan membantu Arya duduk bersandar di kaki ranjang besi. Ia mengambil selimut tebal dan membebatkannya ke tubuh Arya yang masih menggigil.
"Apa yang terjadi tadi, Pak Farhan?" tanya Arya pelan. "Kenapa... kenapa suara-suara itu mendadak hilang?"
Farhan menyandarkan punggungnya ke dinding di samping Arya, dan menatap langit-langit kamar.
"Karena selama ini kamu menahan semuanya sendirian, Arya," jawab Farhan dengan nada analisis yang dalam. "Kamu menganggap kemampuanmu sebagai kutukan dan beban rahasia yang harus kamu sembunyikan dari semua orang. Setiap kali kamu dapat ingatan dari jenazah, kamu tidak pernah melepaskannya secara emosional. Kamu menyimpannya di dalam hatimu karena rasa kasihan dan bersalah."
Farhan menoleh menatap Arya. "Jiwa-jiwa itu tidak berniat merusakmu. Tapi rasa sakit yang mereka tinggalkan tertahan di tubuhmu karena kamu tidak punya batasan mental yang jelas. Saat aku masuk tadi... aku membantu otakmu menyadari bahwa tugasmu sudah selesai begitu kamu menyampaikan kebenarannya pada hukum."
Arya terdiam, dan merenungkan kata-kata Farhan. Kebenarannya mulai terurai di dalam benaknya. Selama ini, ketakutannya akan dianggap gila atau aneh telah membuat dirinya mengisolasi batinnya sendiri, menciptakan tekanan emosional yang akhirnya meluap menjadi ketindihan dan ilusi gila.
Bersambung...