Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: NOTA UTANG
#
Dua puluh tiga jam empat puluh menit.
Jack Lowtake menghitungnya dari jam dinding di atas pintu. Menghitung bunyi mesin di samping ranjang sudah ia coba, tapi angkanya hilang dari kepala sejak lewat tengah malam. Lelaki dua meter itu duduk di kursi plastik yang terlalu kecil untuk badannya, kedua telapaknya membungkus satu tangan Jeky yang dingin dan penuh selang, seperti memegang burung yang takut terbang.
Kemejanya masih kaku oleh darah kering. Dua perawat sudah menyerah menyuruhnya ganti baju.
"Jek," katanya pelan. Ini bukan kali pertama. "Tinggal dua puluh menit. Dokter bilang dua puluh empat jam. Kamu nggak boleh curang."
*Tit... tit... tit...*
"Kalau kamu bangun, aku janji nggak bilang ke siapa-siapa kamu takut gelap. Ke Bos nggak. Ke Vito juga nggak." Ia menelan ludah. "Ke Vito sih udah kelepasan, tapi dia janji nggak bilang-bilang."
Mesin itu berhenti sepersekian detik. Jack berhenti bernapas.
*Tit... tit.*
"Jek?"
Kelopak mata di ranjang bergerak, pelan, seperti orang menyingkirkan selimut yang sangat berat. Bibir pucat yang pecah-pecah terbuka, dan suara yang keluar lebih mirip desis karet kering.
"...Bau."
"Hah?"
"Kamu bau, Jack."
Jack tertawa. Atau mulai tertawa, lalu tawa itu berubah jadi sesuatu yang lebih basah dan lebih keras, dan lelaki sebesar lemari itu menunduk sampai dahinya menempel di punggung tangan saudaranya. "Dua hari aku nggak mandi, Jek. Dua hari! Kamu hidup... kamu hidup, bodoh..."
"Pintunya... aman?"
"Aman. Semua aman. Anak-anak udah keluar."
"Bagus." Jeky mengerjap lambat. "Kamu... nangis?"
"Nggak!"
"Bohong."
"Aku lihat tikus di terowongan kemarin, Jek. Gede banget." Jack mengusap hidung dengan lengan kemejanya yang kotor. "Aku nggak teriak. Sumpah. Tanya Bos."
"Bos nggak... bakal bohong." Sudut bibir Jeky naik setengah senti. "Jadi... beneran?"
"Beneran."
"Berarti aku... salah satu... yang bangga." Matanya mulai terpejam lagi. "Jack."
"Iya?"
"Jangan matiin lampu."
Jack membeku. Ia menatap saudaranya, lalu menatap lampu neon di langit-langit, lalu menatap tangannya sendiri yang sedang menggenggam.
"Aku... nggak akan matiin lagi," katanya serak. "Nggak akan pernah."
"Aku tahu... kamu yang matiin dulu... waktu kecil."
"Kamu *tahu*?"
"Pura-pura nggak tahu." Napas Jeky mulai teratur, dan senyum kecilnya belum hilang. "Biar kamu... merasa jago."
Di ambang pintu, Kenzo menunduk dan menekan kedua matanya dengan ibu jari. Di sebelahnya Axel bersandar di kusen dengan tablet di dada. Tidak ada suara mesin kali ini. Hanya bahunya yang naik turun, pelan sekali.
---
"Pelurunya tetap di tempat," kata Dokter Wening di lorong, setengah jam kemudian, sambil menandatangani papan catatannya. "Yang ketiga itu kita biarkan dulu. Mengambilnya sekarang lebih berbahaya daripada membiarkannya. Dua minggu istirahat total, obat-obatan, dan tidak boleh ada satu pun yang membuatnya kaget."
"Termasuk tikus," gumam Aceng dari kursi, dan Jack melotot padanya.
"Dia akan hidup." Dokter Wening menatap Kenzo. Mata perempuan itu merah, tapi suaranya mantap. "Dan Pak, soal biaya, sudah lunas."
"Lunas?"
"Operasi, darah, ruang intensif, obat. Tiga ratus empat puluh juta, belum termasuk kamar pemulihan dua minggu, itu juga sudah dibayar di muka." Ia mengangkat bahu. "Nyonya yang mengurus semuanya. Dia tidak meninggalkan pesan."
Kenzo tidak menjawab. Rahangnya mengeras sedikit.
*Kamu berutang sama orang yang kemarin ngancam kita,* tangan Axel bergerak di sampingnya.
"Aku tahu."
*Dia ngancam pakai fotoku.*
"Aku tahu, Xel."
*Terus?*
"Terus aku nggak suka berutang." Kenzo berdiri. "Dan utang paling berbahaya itu yang nggak ditagih."
---
Warung Mak Sum persis di seberang klinik. Atapnya seng, bangkunya panjang, dan dindingnya penuh kalender bekas dan poster calon legislatif yang sudah luntur. Di rak sudut, televisi tabung kecil menyala keras-keras. Kenzo masuk sebagai Danu Prasetyo, pencatat gudang, kacamata tebal dan jaket lusuh, lalu duduk di ujung bangku sambil memesan nasi bungkus dua belas.
"Dua belas?" Mak Sum, perempuan gemuk bersanggul miring, mengangkat alis. "Mau kenduri, Le?"
"Teman lagi sakit, Mak. Yang jaga banyak."
"Oh, yang di klinik gigi itu? Kasihan." Ia membungkus cekatan. "Kemarin malam ramai sekali. Mobil-mobil bagus, orang-orang gagah. Kupikir ada yang cabut gigi geraham, kok sampai tengah malam."
Di televisi, pembawa berita berjas gelap membaca dengan nada khidmat. "...prosesi pemakaman kenegaraan almarhum Hendra Gunawan, adik dari pengusaha dermawan Alexander Gunawan, yang gugur dalam serangan teroris bertopeng di dermaga selatan. Hadir Menteri Dalam Negeri, Panglima Daerah, serta ribuan pelayat..."
"Ribuan," dengus seorang bapak berkopiah di bangku depan. "Ribuan yang dipaksa."
"Pak Karim, pelan-pelan," bisik istri Mak Sum dari balik meja.
"Pelan apanya? RT kita dikasih surat edaran. Sumbangan duka wajib, dua puluh ribu per KK. Yang nggak bayar, listriknya dicabut." Pak Karim menyeruput kopi. "Orang yang mati belum sehari, uangnya udah ditagih ke kita. Padahal waktu anak saya demam, nggak ada satu pun yang peduli."
"Pemerintah menyatakan sosok bertopeng yang dijuluki Sang Bayangan sebagai penjahat berbahaya nomor satu," lanjut televisi. "Hadiah sebesar satu miliar rupiah ditawarkan bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai identitasnya..."
Seisi warung diam sebentar. Kenzo mengaduk tehnya, menjaga wajah tetap kosong.
"Satu miliar," ulang seorang ibu muda di sudut, menggendong bayi. "Cuma buat nunjuk orang."
"Buat nunjuk *dia*," koreksi Mak Sum sambil menyodorkan bungkusan. "Aku sih ya, Mbak. Kalau satu miliar itu ditawarkan sama orang yang kemarin ngembaliin anaknya Bu Tuti, aku nggak bakal nunjuk. Aku mau nutup mulut seumur hidup."
"Anaknya Bu Tuti pulang?"
"Semalam! Jam tiga pagi! Ditaruh di depan pintu, diselimutin, sehat, cuma kurus. Ada uang seratus ribu di sakunya. Sampai sekarang Bu Tuti sujud di teras nggak mau berdiri." Mak Sum menurunkan suara, tapi matanya berbinar. "Katanya yang nganter orang berseragam hitam, tapi bukan polisi. Ada yang ngelihat, sekilas, di ujung gang, wajah putih... kayak topeng."
"Hush, Mak..."
"Biarin. Aku mau bikin tumpeng, aku bilang. Kalau pejabat-pejabat itu mati satu-satu, aku bikin tumpeng tiap Jumat."
Bapak berkopiah tertawa pendek, lalu terbatuk. Ibu muda itu menunduk menutupi senyumnya di rambut bayinya. Tidak ada yang bilang apa-apa lagi, tapi sesuatu di warung kecil itu terasa lebih hangat daripada tadi, seperti orang-orang yang diam-diam saling mengakui bahwa mereka sedang berpikir hal yang sama.
Kenzo membayar. Mak Sum menyelipkan satu telur rebus ke dalam kantong tanpa bilang apa-apa.
"Makan yang banyak, Le. Mukamu kayak orang nggak tidur seminggu."
"Iya, Mak. Makasih."
Di tengah jalan menuju klinik, ia berhenti sebentar di bawah pohon trembesi. Sejak malam di rumah Budiawan, tidak ada satu orang pun yang memanggilnya *Le* dengan nada seperti itu, dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dadanya.
---
"Nyonya belum makan sejak kemarin pagi," kata Bram di kaki tangga.
Lelaki berjas hitam itu berdiri tegak seperti biasa, tangan terlipat di depan, wajah tanpa ekspresi. "Saya sudah coba dua kali. Dia bilang saya terlalu banyak bicara."
"Dia di mana?"
"Ruang kerja dokter. Lantai dua." Bram menatap kantong plastik di tangan Kenzo, lalu ke wajahnya. Ada jeda tipis di sana yang tidak sempat Kenzo baca. "Jangan terlalu lama, Pak Danu. Nyonya tidak suka diganggu."
"Aku nggak ganggu. Aku bayar utang."
Kenzo naik. Pintu ruang kerja itu setengah terbuka. Silva duduk di balik meja kecil yang penuh berkas, mantel abu arang tersampir di sandaran kursi, lengan blus putihnya digulung sampai siku. Rambutnya masih disanggul rapi, tapi plester di pelipisnya sudah setengah terkelupas dan di bawahnya darah kering menempel gelap.
"Masuk atau pergi," katanya tanpa mengangkat mata. "Jangan berdiri di situ seperti penagih utang."
"Aku memang penagih. Tapi buat utangku sendiri."
Silva mengangkat kepala. Sepersekian detik, hanya sepersekian detik, ekspresinya kosong. Lalu wajahnya kembali tertata. "Kamu tidak pakai topeng."
"Kamu juga nggak pakai pelindung."
Kenzo meletakkan kantong nasi bungkus di atas berkas-berkasnya. Bau sambal dan tempe goreng langsung mengisi ruangan sempit itu. "Makan."
"Aku tidak lapar."
"Bram bilang kamu belum makan sejak kemarin pagi."
"Bram terlalu banyak bicara."
"Itu yang dia bilang soal kamu juga." Kenzo berjalan ke lemari kaca di dinding, membukanya tanpa minta izin, dan mengeluarkan botol cairan antiseptik, kapas, serta plester baru. "Duduk yang benar. Hadap sini."
"Kamu pikir kamu siapa..."
"Orang yang berutang." Kenzo menatapnya lurus. "Hadap sini."
Ada hening yang ganjil. Silva membuka mulut, menutupnya, lalu, entah kenapa, tubuhnya berputar menghadap Kenzo. Punggungnya tegak seperti prajurit yang sedang diperiksa.
Kenzo menarik kursi lain dan duduk di depannya, begitu dekat sampai lutut mereka hampir bersentuhan. Ia mengupas plester lama pelan-pelan. Silva mendesis sedikit, hanya sedikit.
"Sakit?"
"Tidak."
"Bohong."
"Aku tidak pernah..."
"Kamu mendesis."
Silva diam. Kapas basah itu menyentuh luka, dingin dan perih, dan jari-jari Kenzo yang kasar dan retak-retak di buku-bukunya bergerak dengan hati-hati yang terlalu terlatih untuk tangan seorang pembunuh. Ia membersihkan darah kering itu dari pelipis ke tulang pipi dengan satu usapan lambat, lalu satu lagi.
"Dulu ada orang yang selalu bilang," kata Kenzo, matanya tetap di luka itu, "luka kecil yang dicuekin itu yang bikin orang mati. Bukan yang gede. Yang gede ada yang nolongin. Yang kecil nggak ada yang peduli."
"Pradana."
"Iya."
Silva tidak menyahut lagi. Dari jarak sedekat itu ia bisa melihat bulu mata pendek Kenzo, bekas luka tipis di alis kirinya, dan guratan lelah di sudut matanya yang tidak cocok dengan umur dua puluh dua. Ia sudah menyiapkan tiga kalimat dingin dan tajam untuk memotong momen ini. Tidak satu pun yang keluar.
Telinganya mulai panas. Itu tidak masuk akal. Ia sudah menginterogasi jenderal tanpa berkeringat.
"Kamu lakukan ini pada semua orang?" tanyanya akhirnya, datar, nyaris terlalu datar.
"Pada Axel. Pada Jack." Kenzo menempelkan plester baru dan menekannya dengan ibu jari, hati-hati. "Pada siapa pun yang berdarah di depan aku."
"Jadi aku... salah satu dari mereka."
"Iya."
Jawaban itu begitu lugas, begitu tanpa beban, sampai Silva tidak tahu apakah ia lega atau tersinggung. Ia menunduk, memeriksa plester itu dengan ujung jari yang sedikit gemetar, dan memutuskan bahwa itu hanya lelah.
"Bagus," katanya. "Itu... bagus."
Kenzo berdiri, merobek bungkus nasi, lalu membelah isinya jadi dua dengan tangan kosong. Nasi, tempe, telur rebus, sambal, semuanya terbagi. Ia mendorong separuh ke depan Silva di atas selembar kertas minyak.
"Makan separuh."
"Aku bilang aku tidak..."
"Separuh. Atau aku suapi."
Silva menatapnya, tidak percaya. Kenzo menatap balik tanpa kedip. Ia tidak sedang bercanda, tidak sedang merayu. Wajahnya sama datarnya dengan waktu menyuruh Jack menggeser peti.
Dengan gerak kaku, Silva mengambil sendok plastik dan makan. Tempe goreng itu asin dan agak keras. Ia mengunyahnya lama, dan di kepalanya satu pikiran terus berputar tanpa bisa dihentikan: *sudah berapa tahun tidak ada yang menyuruhku makan.*
Mereka makan dalam diam. Kenzo menghabiskan separuhnya dalam lima menit, lalu merobek secarik dari bungkus kertas minyak dan mengeluarkan pulpen dari saku.
"Apa itu?"
"Nota."
Ia menulis dengan tangan kiri, goresannya miring dan tidak rapi, lalu menyodorkannya. Silva membacanya dua kali.
*Utang: Rp 340.000.000 + kamar 2 minggu. Dibayar: nanti. Kenzo (bukan nama sebenarnya, itu tugasmu).*
"Aku tidak membutuhkan ini."
"Aku nggak tanya."
"Kenzo, ini bukan..."
"Aku nggak mau punya utang sama orang yang masih bisa ngancam orang-orangku." Ia berdiri, merapikan jaketnya. "Aku bayar. Mungkin nggak hari ini. Tapi aku bayar."
Silva memegang secarik kertas lusuh itu seperti memegang benda yang bisa pecah. Tulisan tangan kiri yang buruk, tinta yang meresap di kertas minyak, dan di pojoknya noda sambal. Ia ingin mengatakan sesuatu yang tegas dan berwibawa. Yang keluar malah:
"Kenapa tangan kiri?"
"Biar nggak ada yang kenal tulisanku."
"Aku..." Ia berhenti. *Aku sudah hafal.* Ia menutup mulutnya, mengambil napas. "Ada yang lain."
Dari laci, ia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam kecil dan meletakkannya di meja. "Separuh isi brankas Benteng Selatan. Buku besar kedua, daftar penerima, kode pembayaran. Orangku membawanya keluar sebelum kamu datang. Itu milikmu."
"Dan syaratnya?"
"Tidak ada." Matanya naik, dingin lagi, tapi bukan dingin yang sama. "Bukan bagian dari tawaran. Anggap itu pembayaran karena kamu menutup pintu untuk enam orangku."
Kenzo mengambilnya. Ia menimbang flashdisk itu di telapak tangan, lalu menatap Silva lama.
"Satu hari lagi," katanya.
"Satu hari."
"Aku belum berubah pikiran."
"Aku tahu. Kamu mengatakannya setiap kali aku melihatmu." Sudut bibir Silva bergerak, hampir senyum. "Tapi bawa saja."
Kenzo mengangguk, berbalik, dan pergi. Pintu menutup pelan.
Silva duduk diam di ruangan yang tiba-tiba terlalu sunyi. Ia menatap separuh nasi di depannya, secarik nota di tangannya, lalu perlahan melipat kertas itu kecil-kecil dan memasukkannya ke saku dalam blusnya, di dekat dada. Ia baru sadar telapak tangannya masih hangat di tempat tadi ibu jari Kenzo menekan plester.
"Jangan konyol," gumamnya pada diri sendiri.
Dari balik pintu, Bram, yang berdiri di lorong dengan wajah tanpa ekspresi, mendengar kalimat itu dengan sangat jelas.
---
*Telinganya merah,* tangan Axel bergerak begitu Kenzo muncul di kaki tangga.
"Siapa?"
*Silva.*
"Mungkin demam. Dia kurang tidur." Kenzo menyerahkan flashdisk pada Aceng. "Buka. Semua. Ini dari dia."
*Kamu bodoh.*
"Kenapa?"
*Nggak apa-apa.*
Kenzo mengerutkan dahi, tapi Aceng sudah menyambar flashdisk itu dengan dua tangan seperti menerima emas.
Di ruang belakang klinik yang disulap jadi markas dadakan, layar laptop Aceng memantulkan cahaya biru ke wajah semua orang. Dante membuka peta. Tony menyandarkan punggung ke dinding dengan perban baru. Rocco menyesap kopi hitam. Di layar, daftar panjang pembayaran, nama kapal, rekening perusahaan cangkang, dan satu kolom yang hampir tidak terbaca.
"Hendra bilang 'Tuanku'," gumam Kenzo. "Alexander punya atasan."
"Kak!" Aceng menggulir, matanya membesar. "Setiap bulan, tiga puluh persen keuntungan dikirim ke satu rekening lewat sebelas perusahaan bayangan. Sebelas, Kak. Bertingkat. Kalau satu ketahuan, sepuluh lain tidak ikut jatuh. Orang yang bikin ini jenius atau gila."
"Atau dua-duanya," kata Dante.
"Nama penerimanya?"
Aceng memperbesar satu baris. Hanya dua kata, kecil, di kolom paling ujung.
*MENARA SUNYI.*
Ruangan itu hening. Rocco menurunkan cangkirnya perlahan.
Axel mengetik, dan suara mesin datar itu terdengar lebih pelan dari biasanya. "Aku belum pernah lihat nama ini di arsip mana pun. Padahal aku sudah menggali dua puluh tahun."
"Berarti nama itu sengaja dihapus dari semua tempat." Kenzo menatap layar. "Orang di atas Alexander."
"Dan orang itu kenal kamu," kata Tony. "Kalau Silva benar."
Tidak ada yang menjawab. Kenzo menatap dua kata itu sampai hurufnya terasa seperti dipahat di retinanya. Di bawah meja, tangannya mengepal, dan di kepalanya berputar sebuah kalimat yang pernah ia dengar di gudang es, dengan suara perempuan yang tenang: *seorang lelaki di kursi roda yang tidak pernah turun gunung.*
Axel menyenggol lengannya. Tangannya bergerak pelan dan hati-hati, seperti menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia simpan.
*Kamu bilang kamu mau cari tahu siapa dirimu sendiri. Bukan dari hadiah Silva.*
"Iya."
*Kaleng itu.*
Kenzo tidak bergerak.
*Ayahmu menyimpannya buat satu orang. Kamu. Bukan Silva, bukan Raden. Aku yang taruh di brankas lama. Aku yang tahu kodenya.* Jari Axel berhenti sebentar. *Besok kita buka. Berdua.*
"Besok."
*Aku ambil sekarang. Dari rumah Victor. Cuma satu jam.*
"Aku ikut."
*Kamu nggak tidur empat puluh jam. Kamu berdiri aja goyang.* Axel menarik lengan baju Kenzo, kuat, seperti dulu. *Aku bawa kaleng. Kamu tidur. Nggak boleh lihat itu pertama kali dalam keadaan kayak begini. Ayahmu pantas dilihat pakai mata yang segar.*
Kenzo menatapnya lama. Ia mau membantah. Ia sudah menyiapkan alasan, tapi sesuatu di wajah Axel, mata merah, rahang keras kepala, kehangatan yang disembunyikan di balik cemberut, membuat semua alasan itu goyah.
"Satu jam."
*Satu jam.*
"Kalau telat lima menit, aku susul."
*Aku tahu.*
Axel menepuk bahunya sekali, lalu mengambil jaket dan tabletnya. Kenzo hanya sempat menahan satu kalimat sebelum lelaki itu keluar pintu.
"Xel."
Axel menoleh.
"Jangan mati duluan."
Sudut bibir Axel naik. *Aku baru baikan sama kamu.*
Lalu ia pergi. Dua puluh menit kemudian Kenzo masih duduk di bangku lorong, menatap pintu operasi tempat Jeky tidur dengan lampu menyala terang. Ia hanya ingin memejamkan mata sebentar saja. Dalam tiga menit, kepalanya terkulai ke dinding. Tidak ada mimpi.
---
Rumah kontrakan di pinggir Kota Tua itu gelap dan berbau debu.
Axel masuk lewat pintu belakang, kunci cadangan yang tersembunyi di bawah pot kaktus. Dapur sempit itu sama seperti saat terakhir ia melihatnya. Kompor yang gosong di satu sisi. Lemari bawah yang sedikit terbuka. Dan di rak dinding, tiga piring berdiri berjejer rapi, bukan ditumpuk, seperti seseorang yang tiap malam masih mengeluarkan tiga lalu menyimpan dua.
Ia berdiri di depan rak itu sangat lama.
Lalu ia naik ke ruang server. Hoodie hitamnya menyatu dengan bayangan tangga, langkahnya nyaris tanpa bunyi. Di ujung ruangan, brankas kecil itu menempel di dinding seperti dulu.
Pintunya terbuka.
Axel berhenti.
Di sekeliling engselnya ada bekas pengeboran, gores logam yang masih bersih, serbuk besi di lantai. Brankas itu kosong. Ia merogoh earpiece di telinganya, menekan tombol, tidak ada suara. Mati. Tablet di tangannya, sinyal nol.
Ada kursi rotan di tengah ruangan yang tadi tidak ia lihat. Ada seseorang duduk di sana.
"Tujuh lapis kode, ya." Suara itu tenang, sopan, hampir ramah. "Saya tidak mau membuang waktu. Pengebor industri lebih cepat dari ingatan."
Lampu meja menyala satu. Bram duduk dengan kaki bersilang, jas hitam rapi, dan di pangkuannya, dengan kedua tangan bersarung kulit, sebuah kaleng pipih sebesar telapak tangan, berinisial *A.W.* di tutup logamnya.
Axel tidak bergerak. Tangannya turun perlahan ke arah tablet. Ia mengetik satu kata dengan satu jari, tanpa melepas tatapan:
*Bram.*
Suara mesin itu bergema di ruangan sempit, datar dan dingin.
"Anda tahu nama saya. Bagus." Bram tersenyum tipis. Di bawah kursi, ujung peredam pistol berkilat di bawah lampu. "Dua orang saya menjaga pintu bawah. Jangan coba lari, Arsenio. Saya tidak ingin menyakiti Anda. Belum."
*Silva tahu?*
"Nyonya sedang makan separuh nasi bungkus di klinik, dan tidak tahu apa-apa." Senyum itu tidak berubah. "Dan Dokter Wening bekerja sendirian dengan satu pasien yang tidak bisa dipindahkan. Saya hanya menyebutkan itu supaya kita saling mengerti."
Jari Axel mulai bergetar di atas layar.
*Mau apa?*
"Saya hanya kurir." Bram berdiri perlahan, kaleng itu terselip di bawah lengan. "Ada seseorang yang sudah lama ingin bertemu dengan Anda. Seseorang yang tahu siapa yang menyayat tenggorokan Anda waktu umur lima tahun."
Napas Axel berhenti.
"Dan kenapa."
Hening. Lampu meja berkedip. Dua puluh enam tahun, dan ia tidak pernah sekali pun bertanya kenapa. Ia hanya belajar hidup dengan pertanyaan itu, seperti hidup dengan bekas luka yang tidak pernah berhenti terasa.
Jarinya bergerak lambat di layar tablet.
*Kenapa?*
"Karena Anda tidak sendirian, Arsenio." Bram melangkah mendekat, dan suaranya merendah menjadi sesuatu yang hampir lembut. "Anda pikir tidak ada yang mencari Anda? Anda salah. Ada yang sudah mencari Anda selama dua puluh enam tahun, dan dia hampir kehabisan waktu."
Di klinik gigi Jalan Kenari, dua puluh kilometer dari rumah itu, Kenzo masih tidur di bangku lorong dengan kepala bersandar ke dinding. Alarm di sakunya baru akan berbunyi empat puluh menit lagi.
---
*Bersambung ke Bab 24*