NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:55.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Tujuh

Reatha tidak bergerak dari tempatnya. Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di ruang makan yang mendadak terasa berkali-kali lebih luas—dan lebih sunyi.

Ia memandangi sisa nasi goreng di piringnya. Asap tipisnya sudah lama lenyap, menyisakan butiran-butiran minyak yang mulai mendingin. Ironis, pikirnya. Baru sepuluh menit lalu, udara di ruangan ini dihangatkan oleh tawa renyah Azka, oleh pujian kecil yang sempat membuat dada Reatha berdesir lancang.

Pengantin pengganti.

Kata itu berkelebat di kepalanya, tajam dan dingin, seperti pisau bedah yang menyayat ilusi indah yang baru saja ia bangun secara sadar. Pernikahan ini bukan tentang cinta. Ini tentang pelarian, tentang sebuah kontrak satu tahun, tentang nama besar dan rahasia keluarga yang harus disembunyikan. Azka tidak pulang karena merindukannya. Azka pergi karena Vania menangis—karena Vania adalah bayangan masa lalu yang tidak akan pernah bisa Reatha kalahkan.

Reatha menegakkan punggungnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menelan kelat yang tiba-tiba memenuhi tenggorokannya, lalu membawa piring itu ke sink dapur.

Air keran mengalir deras, membasuh sisa makanan. Suaranya gemuruh, menyamarkan isak kecil yang hampir saja lolos dari bibirnya.

"Bodoh," bisiknya pelan pada pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela dapur yang buram oleh uap air. "Kamu tahu batasanmu sejak hari pertama, Reatha. Jangan biarkan kenyamanan semu ini merusak akal sehatmu."

Namun, di sudut hatinya yang paling sunyi, ada keraguan kecil yang merayap. Jika pernikahan ini benar-benar hambar dan tak berarti, mengapa dada kirinya terasa begitu sesak saat melihat punggung Azka berlalu begitu saja tanpa menoleh? Mengapa kepergian pria itu meninggalkan kekosongan yang terasa begitu nyata di rumah ini?

"Tenang Reatha, bukankah kamu telah terbiasa diabaikan. Hal ini juga menguntungkan untukmu. Saat kamu pergi tak ada ikatan apapun antara kalian. Jangan sampai kau lengah dan lupa kalau kau hanya pengantin pengganti," ucap Reatha pada dirinya sendiri.

Dalam hatinya, Reatha sudah berjanji tak akan pernah bermain perasaan. Ia akan pergi meninggalkan semuanya. Pergi jauh, dimana kehadiranmya dihargai.

Di luar, mobil Azka melesat membelah jalanan pagi yang mulai padat.

Pikirannya berkecamuk. Bayangan wajah Reatha yang tertunduk di meja makan tadi sempat berkelebat di benaknya sebelum ia membanting pintu rumah. Ada rasa bersalah yang mencubit nuraninya—kesadaran bahwa ia telah meninggalkan istri sahnya seorang diri tepat di tengah sarapan pagi mereka. Namun, dering telepon Vania yang penuh dengan isak tangis ketakutan berhasil merubuhkan pertahanannya.

Beni.

Nama itu adalah rantai tak kasat mata yang mengikat Azka seumur hidup. Janji di atas ranjang rumah sakit tiga tahun lalu bukan sekadar kata-kata kosong; itu adalah nyawa yang ditebus dengan nyawa. Vania adalah tanggung jawab mutlaknya.

Sepuluh menit kemudian, mobilnya berhenti di depan apartemen Vania.

Begitu pintu unit apartemen terbuka, Vania langsung menerjang ke pelukannya. Tubuh wanita itu bergetar hebat, wajahnya basah oleh air mata, dan isakannya langsung memecah kesunyian ruangan.

"Kamu datang ...," isak Vania, membenamkan wajah di dada Azka, mencengkeram erat kemeja pria itu. "Aku takut banget, Azka. Aku pikir kamu benar-benar mau ninggalin aku demi perempuan itu ...."

Azka mematung sejenak. Tangannya yang tadinya terangkat ragu-ragu akhirnya menepuk punggung Vania perlahan, meski gerakannya terasa kaku. Ada rasa lelah yang mendadak menghantam kepalanya.

"Aku sudah bilang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Vania," suara Azka terdengar datar, nyaris tanpa emosi. "Tenangkan dirimu."

Vania mendongak, matanya yang sembab menatap Azka dengan penuh tuntutan. "Tapi kenapa kamu tidak mengangkat teleponku semalam? Kenapa kamu baru datang sekarang?"

"Aku sibuk, Vania. Hidupku tidak hanya berputar di ponsel," jawab Azka, nada suaranya mulai meninggi karena frustrasi.

"Sibuk? Atau sibuk menghabiskan waktu dengan istrimu itu?!" Suara Vania kembali melengking tinggi, penuh rasa curiga yang membakar. "Kamu mulai berubah, Azka! Kamu mulai nyaman tinggal di rumah itu, kan? Kamu mulai melupakan janjimu pada Abang Beni!"

Mendengar nama Beni disebut, rahang Azka mengeras seketika. Bayangan janji tiga tahun lalu kembali berkelebat, menampar kesadarannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam amarah yang hampir meledak di dadanya.

"Jangan bawa-bawa nama Beni dalam masalah ini," ucap Azka dingin, matanya menatap tajam ke arah wanita di hadapannya. "Aku di sini sekarang, kan? Aku sudah menepati janjiku untuk datang dan membawakan apa yang kamu mau. Apa lagi yang kamu inginkan?"

Vania tertegun melihat kilatan amarah di mata Azka. Isakannya mereda, digantikan oleh rasa takut kehilangan yang mendadak mencengkeram hatinya. Ia kembali merosot, memeluk pinggang Azka erat-erat sambil menggeleng lemah.

"Maaf ... aku cuma takut, Azka," bisik Vania lirih, suaranya bergetar hebat. "Aku sendirian di dunia ini. Kalau aku kehilangan kamu juga, aku nggak tahu harus hidup sama siapa lagi."

Azka menghela napas panjang. Kemarahannya mendadak menguap, menyisakan rasa iba dan beban moral yang teramat berat. Ia menunduk, menatap puncak kepala Vania dengan tatapan kosong.

Namun, di balik pintu apartemen itu, bayangan mata Reatha yang jernih dan kesunyian meja makan pagi tadi tiba-tiba kembali terlintas di benaknya. Untuk pertama kalinya, pelukan Vania tidak lagi terasa seperti tempat perlindungan yang menenangkan, melainkan sebuah sangkar emas yang perlahan-lahan mencekiknya.

Dalam hatinya Azka berkata, "Maafkan aku, Raisa. Kamu pasti marah dan kecewa denganku. Berpamitan saja aku tak ada tadi."

1
Aysah Meta
Mantep ree,sekali kali..manusia model gini di kasih paham.
biar gak seenaknya nginjak² dirimu.
dapat 2M..keluar dr rumah dan biarkan keluargamu terima karmanya.
Nna Nna 💖
nnt juga azka tau kalo kamu bukan reatha, nnt ke bongkar gantian kamu raisa yg diusir azka, semoga azka cari tau knp reatha pergi, jgn cm menduga2 yg ujung2nya salah paham. males bgt kalo smp kyk gitu
@alfaton🤴
Azka Azka.....kamu ga tau kamu ga merasa kalau kamu itu jadi kacungnya Vania...... semangat reatha.....kamu wanita tangguh
Aysah Meta
ikutin ajj permainan Raisa ya ree!!Biar dia kena batunya.
Khan lucu tho,kalau tiba² azkaaa!!Aku hamil anak kamu??
🤣🤣🤣🤣

baru Azka jawab,sejak kapan km hamil..aku dan kamu ajj gak pernah berhubungan badan..apa ndk jeduarrrr😅🤣🤣
Lusi Hariyani
kluarga y aska kog bodoh ya g di selidiki dl pnya ank brp papa y raetha
ken darsihk
Azka bukan lelaki bodoh dia pasti bisa membedakan perempuan yng menjadi istri nya , dan perempuan yng datang dengan aib nya yng minta di akui sebagai istri 🤣🤣🤣😠😠😠
Aisyah Ranni
😭😭😭😭😭 Reatha sini peluk dulu
aisyah
dan Raisa nggak tau, kalo Rea dan Azka nggak pernah nina ninu, 🤭🤣
Raisa dan emak bapak nya lagi menggali kuburan sendiri😏
Mah_snd
mantap Rea
Sugiharti Rusli
meski mahal harga yang harus kamu bayar Tha, kamu harus percaya kalo ketulusan kamu kepada si Azka ga akan pernah Raisa berikan dan Azka pasti tahu itu nanti,,,
Apriyanti
semogaaxka cepat tau gmn buruk nya keluarga reatha
Sugiharti Rusli
mereka ga sadar apa kalo darah mereka juga mengalir dalam tubuh Reatha dan dengan mudahnya mereka melepaskan hanya karena anak kesayangan mereka memintanya,,,
Sugiharti Rusli
sebegitu disayanginya secara brutal si Raisa itu sama kedua ortunya yah selama ini😔😔😔
Lia Kiftia Usman
😭😭 sedih aku u reatha, anak penurut mandiri kuat ... kedepan nya berakhir bahagia...🤲 (🙏 ya thor)
Enny Suhartini
semangat Rea
ken darsihk
Good Reatha jangan mau kamu di injak injak terus oleh keluarga mu , terutama oleh Raisa kembaran mu 😠😠😠
Oma Gavin
semoga secepatnya azka tau kebohongan raisa dan mencari reatha
Naufal Affiq
sabar ya rea,orang tua mu gkj tau,masalah besar sudah menanti di depan mata,sebentar lagi mau meledak,jadi kamu azka,jangan sentuh istrimu yang di rumah,karena itu bukan rea,melainkan raisa yang lagi hamil,tunggu aja om,kalian akan menyesal membuang anak mu
Afsa
Semoga saja Azka peka,dan bisa mengenali yg mana Istrinya nanti.
Afsa
ealah bantuan seperti apa dulu Raisa,kamu itu egois&tak berhati nurani.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!