NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:169.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat Reatha diam-diam pergi. Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Tujuh

Reatha tidak bergerak dari tempatnya. Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di ruang makan yang mendadak terasa berkali-kali lebih luas—dan lebih sunyi.

Ia memandangi sisa nasi goreng di piringnya. Asap tipisnya sudah lama lenyap, menyisakan butiran-butiran minyak yang mulai mendingin. Ironis, pikirnya. Baru sepuluh menit lalu, udara di ruangan ini dihangatkan oleh tawa renyah Azka, oleh pujian kecil yang sempat membuat dada Reatha berdesir lancang.

Pengantin pengganti.

Kata itu berkelebat di kepalanya, tajam dan dingin, seperti pisau bedah yang menyayat ilusi indah yang baru saja ia bangun secara sadar. Pernikahan ini bukan tentang cinta. Ini tentang pelarian, tentang sebuah kontrak satu tahun, tentang nama besar dan rahasia keluarga yang harus disembunyikan. Azka tidak pulang karena merindukannya. Azka pergi karena Vania menangis—karena Vania adalah bayangan masa lalu yang tidak akan pernah bisa Reatha kalahkan.

Reatha menegakkan punggungnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menelan kelat yang tiba-tiba memenuhi tenggorokannya, lalu membawa piring itu ke sink dapur.

Air keran mengalir deras, membasuh sisa makanan. Suaranya gemuruh, menyamarkan isak kecil yang hampir saja lolos dari bibirnya.

"Bodoh," bisiknya pelan pada pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela dapur yang buram oleh uap air. "Kamu tahu batasanmu sejak hari pertama, Reatha. Jangan biarkan kenyamanan semu ini merusak akal sehatmu."

Namun, di sudut hatinya yang paling sunyi, ada keraguan kecil yang merayap. Jika pernikahan ini benar-benar hambar dan tak berarti, mengapa dada kirinya terasa begitu sesak saat melihat punggung Azka berlalu begitu saja tanpa menoleh? Mengapa kepergian pria itu meninggalkan kekosongan yang terasa begitu nyata di rumah ini?

"Tenang Reatha, bukankah kamu telah terbiasa diabaikan. Hal ini juga menguntungkan untukmu. Saat kamu pergi tak ada ikatan apapun antara kalian. Jangan sampai kau lengah dan lupa kalau kau hanya pengantin pengganti," ucap Reatha pada dirinya sendiri.

Dalam hatinya, Reatha sudah berjanji tak akan pernah bermain perasaan. Ia akan pergi meninggalkan semuanya. Pergi jauh, dimana kehadiranmya dihargai.

Di luar, mobil Azka melesat membelah jalanan pagi yang mulai padat.

Pikirannya berkecamuk. Bayangan wajah Reatha yang tertunduk di meja makan tadi sempat berkelebat di benaknya sebelum ia membanting pintu rumah. Ada rasa bersalah yang mencubit nuraninya—kesadaran bahwa ia telah meninggalkan istri sahnya seorang diri tepat di tengah sarapan pagi mereka. Namun, dering telepon Vania yang penuh dengan isak tangis ketakutan berhasil merubuhkan pertahanannya.

Beni.

Nama itu adalah rantai tak kasat mata yang mengikat Azka seumur hidup. Janji di atas ranjang rumah sakit tiga tahun lalu bukan sekadar kata-kata kosong; itu adalah nyawa yang ditebus dengan nyawa. Vania adalah tanggung jawab mutlaknya.

Sepuluh menit kemudian, mobilnya berhenti di depan apartemen Vania.

Begitu pintu unit apartemen terbuka, Vania langsung menerjang ke pelukannya. Tubuh wanita itu bergetar hebat, wajahnya basah oleh air mata, dan isakannya langsung memecah kesunyian ruangan.

"Kamu datang ...," isak Vania, membenamkan wajah di dada Azka, mencengkeram erat kemeja pria itu. "Aku takut banget, Azka. Aku pikir kamu benar-benar mau ninggalin aku demi perempuan itu ...."

Azka mematung sejenak. Tangannya yang tadinya terangkat ragu-ragu akhirnya menepuk punggung Vania perlahan, meski gerakannya terasa kaku. Ada rasa lelah yang mendadak menghantam kepalanya.

"Aku sudah bilang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Vania," suara Azka terdengar datar, nyaris tanpa emosi. "Tenangkan dirimu."

Vania mendongak, matanya yang sembab menatap Azka dengan penuh tuntutan. "Tapi kenapa kamu tidak mengangkat teleponku semalam? Kenapa kamu baru datang sekarang?"

"Aku sibuk, Vania. Hidupku tidak hanya berputar di ponsel," jawab Azka, nada suaranya mulai meninggi karena frustrasi.

"Sibuk? Atau sibuk menghabiskan waktu dengan istrimu itu?!" Suara Vania kembali melengking tinggi, penuh rasa curiga yang membakar. "Kamu mulai berubah, Azka! Kamu mulai nyaman tinggal di rumah itu, kan? Kamu mulai melupakan janjimu pada Abang Beni!"

Mendengar nama Beni disebut, rahang Azka mengeras seketika. Bayangan janji tiga tahun lalu kembali berkelebat, menampar kesadarannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam amarah yang hampir meledak di dadanya.

"Jangan bawa-bawa nama Beni dalam masalah ini," ucap Azka dingin, matanya menatap tajam ke arah wanita di hadapannya. "Aku di sini sekarang, kan? Aku sudah menepati janjiku untuk datang dan membawakan apa yang kamu mau. Apa lagi yang kamu inginkan?"

Vania tertegun melihat kilatan amarah di mata Azka. Isakannya mereda, digantikan oleh rasa takut kehilangan yang mendadak mencengkeram hatinya. Ia kembali merosot, memeluk pinggang Azka erat-erat sambil menggeleng lemah.

"Maaf ... aku cuma takut, Azka," bisik Vania lirih, suaranya bergetar hebat. "Aku sendirian di dunia ini. Kalau aku kehilangan kamu juga, aku nggak tahu harus hidup sama siapa lagi."

Azka menghela napas panjang. Kemarahannya mendadak menguap, menyisakan rasa iba dan beban moral yang teramat berat. Ia menunduk, menatap puncak kepala Vania dengan tatapan kosong.

Namun, di balik pintu apartemen itu, bayangan mata Reatha yang jernih dan kesunyian meja makan pagi tadi tiba-tiba kembali terlintas di benaknya. Untuk pertama kalinya, pelukan Vania tidak lagi terasa seperti tempat perlindungan yang menenangkan, melainkan sebuah sangkar emas yang perlahan-lahan mencekiknya.

Dalam hatinya Azka berkata, "Maafkan aku, Raisa. Kamu pasti marah dan kecewa denganku. Berpamitan saja aku tak ada tadi."

1
ken darsihk
Waktu nya memberi pembuktian Azka , dan apa yng kamu ucapkan perlu pembuktian bukan bualan semata
Akasia Rembulan
ayo azka perjuangkan Reatha
Cicih Sophiana
ayo buktikan Azka klo cinta itu ada... bukan cuma kata kata bualan tp dgn pembuktian... yg pantas di percaya
daffakhafidz
semangat💪💪💪
Naufal Affiq
buktikan azka,biar rea percaya jangan asal ngomong aja,aku mendukungmu azka untuk bersatu dengan rea lagi
Naufal Affiq
bilang azka,aku mau hidup bersama istri ku yang duduk di samping ku,sewaktu aku ijab kabul
Cicih Sophiana
ayo Azka perjuangan mu banyak sandungan nya... kamu harus semangat harus kuat memperjuangkan Reatha💪💪💪 jgn hanya kata kata tp bukti kan dgn ketulusan hati mu Azka...
Sugiharti Rusli
yah sepertinya kamu memang harus kerja keras membuktikan kalo kamu bisa membuat Reatha percaya lagi pada ketulusan cinta Ka, semoga kamu berhasil yah🤲💪💪
Sugiharti Rusli
apalagi saat itu pun ternyata si Azka juga hanya menjadikan pernikahannya sebagai perjanjian karena dia sudah memiliki pilhan sendiri,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya, apa yang selama ini Reatha alami dari keluarganya memang memberikan trauma tersendiri yah di hatinya bahkan sampai saat disuruh jadi pengantin pengganti kembarannya,,,
Sri Supriatin
Berjuanglah Azka, semangat ortumu sdh meluluhkan hati Reatha🙏🙏🙏🙏👍👍👍
@alfaton🤴
Reatha pasti takut meneycintamu Ka.....dia tau dibelakang Azka ada perempuan yang dulu dia bela dengan tak tau waktu dan situasi......dia Vania .....ada juga perempuan yang Reatha tahu luar dalam yang selalu menganggapnya rendah bahkan mungkin sampah .....dia adalah Raisha saudara kembarnya sendiri.....juga ibunya yang harusnya bisa berbagi kasih sayang......mampukah kamu jadi pelindung jadi sandaran buat Reatha kelak Azka......💪💪💪semoga kalian bersatu dalam ikatan pasutri dalam suka dan duka selamanya ya😊😊😊
@alfaton🤴
jangan hanya janji ya Azka......tapi bukti......bukti kalau kehadiran Reatha dibutuhkan kehadiran Reatha dinantikan setiap saat bukan hanya sebagai pendamping tapi bener bener sebagai istri yang kamu nomer satukan kamu ratukan karena hanya ada Reatha yang dihatimu cinta pertama mu......ah terlalu berlebihan ya Thor......ayo Azka terus berjuang dapatkan cintanya Reatha 😊😊😊
Lilis Ilham
sehat dan sukses selalu dalam segala kebaikan💪💪 ditunggu
Mama Reni: Aamiin 🙏🙏
total 1 replies
Linda Ayu Tong-Tong
selesaikan alu semuanya aska dg kluarga raisa.urus perceraimanmu dilu dg sah secara negara dlu.perjelas setatusmu dlu .
Adinda
perjelas dulu statusmu arka
Lela Angraini
perjuangkan jika memang kamu benar benar menginginkannya azka,krn reatha sdah terlalu banyak menanggung rasa sakit. ntah dri kelg,orang lain maupun darimu
Adinda
perjelas dulu statusmu azka pembatalan pernikahan atau perceraian dengan raisa jangan membawa raisa kasihan dia sudah diperlakukan kejam sama keluarganya
Adinda
aku tim david
Adinda
kamu gak berhak azka kamu bukan siapa siapa reatha🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!