Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemotretan pertama
Di sisi lain kota, Danti duduk di meja makan kecil rumahnya, dengan lampu belajar menyala dan map kontrak terbuka di hadapannya.
Bu Sekar duduk di seberangnya, kacamata bertengger di hidung, pulpen merah di tangan. Beberapa halaman sudah penuh coretan dan catatan kecil. Nadia duduk di samping dengan mata mengantuk tapi menolak menyerah, sebuah cangkir kopi besar di depannya.
"Pasal tujuh perlu diubah," ujar Bu Sekar, menunjuk satu paragraf. "Masa eksklusivitas mereka tulis dua tahun. Terlalu lama untuk kontrak percobaan. Kita minta satu tahun, dan hanya untuk bidang yang disepakati."
"Dicatat," sahut Nadia, menulis di buku catatan.
"Pasal sebelas, soal hak penggunaan foto. Pastikan Danti tetap memiliki hak atas karya yang dibuat di luar kerja sama. Pasal tiga belas, persentase. Saya sarankan kita minta penyesuaian setelah tiga bulan kalau penghasilan melampaui target." Bu Sekar membuka halaman berikutnya. "Sisanya cukup bersih. Mereka profesional, saya akui."
Danti mendengarkan sambil mengangguk. Dulu, ia akan merasa asing dengan kata-kata seperti ini. Sekarang ia memahaminya, mencatatnya, bahkan mengajukan pertanyaan.
"Bu," katanya, "kalau saya menerima, ada risiko yang harus saya waspadai?"
Bu Sekar melepas kacamatanya dan menatapnya lekat. "Risiko pasti ada, Danti. Perhatian publik bisa menyenangkan, tapi juga melelahkan. Orang akan menilai, mengomentari, kadang kejam. Kamu harus siap menjaga dirimu, tubuhmu, dan batas-batasmu."
"Saya sudah belajar itu dengan cara yang keras."
"Itu yang membuatku percaya kamu bisa." Bu Sekar tersenyum. "Kalau kamu setuju dengan revisi ini dan agensinya menyetujui, saya tidak melihat alasan untuk menolak."
Danti menatap map itu, lalu Nadia, lalu cahaya lampu belajar yang hangat di atas meja.
"Kalau begitu," katanya, "kita ajukan revisinya."
Seminggu kemudian, setelah negosiasi singkat dan beberapa perubahan kecil yang disetujui kedua pihak, Danti menandatangani kontrak itu dengan tangan yang mantap.
Pemotretan pertama berlangsung di sebuah studio luas di lantai tiga sebuah gedung tua yang dialihfungsikan, dengan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya pagi tumpah ke lantai kayu. Lampu-lampu, reflektor, dan kain latar berserakan di setiap sudut. Aroma kopi dan hair spray memenuhi udara.
Danti duduk di depan cermin besar dengan lampu bulat di sekelilingnya, dikelilingi tim penata rias, penata rambut, penata busana. Mereka bekerja sambil bersenandung, saling melempar candaan, sesekali berhenti untuk memuji.
"Kulit Kakak bagus banget," ujar penata rias muda sambil menepuk bedak ke pipinya. "Aku hampir nggak perlu kerja."
"Tulang pipinya juga," timpal penata rambut. "Garis rahangnya tegas. Aku bakal sanggul sedikit, biar leher dan bahunya kelihatan."
Danti tersenyum canggung. Dulu, setiap pujian terasa seperti jebakan. Kini ia mencoba menerima mereka apa adanya, satu per satu, seperti menerima hujan di musim kemarau.
Di sudut ruangan, berdiri seorang perempuan dengan blus rapi, buku catatan di satu tangan dan ponsel di tangan lain, menggenggam secangkir kopi dengan kantung mata yang tak lagi bisa ditutupi.
Nadia mondar-mandir sambil memeriksa jadwal, menjawab pesan, memastikan semua perlengkapan lengkap, dan sesekali berhenti untuk menatap sahabatnya dengan mata berbinar.
Dua minggu sebelumnya, ia datang ke kantor dengan sebuah amplop putih di tangan.
"Resign?" Bosnya, seorang pria paruh baya berkepala botak, sempat tersedak teh. "Nadia, kamu serius? Kamu karyawan terbaik kami!"
"Saya sudah dua tahun menunggu alasan untuk keluar, Pak," jawab Nadia dengan senyum paling puas seumur hidupnya. "Dan sekarang saya punya alasan yang sangat bagus."
"Alasan apa?"
"Seseorang yang pantas saya perjuangkan."
Ia tak menjelaskan lebih lanjut. Ia hanya membungkuk sopan, meletakkan amplop itu di meja, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Keesokan harinya, ia mengetuk pintu rumah Danti dengan laptop di tas dan kertas di tangan.
"Aku mau jadi manajermu," katanya tanpa basa-basi. "Sekaligus asisten pribadi. Kamu butuh seseorang yang mengurus jadwal, kontrak, tawaran, dan semua urusan yang bikin pusing. Dan aku butuh pekerjaan yang bikin aku bangun pagi dengan semangat."
"Nad, kamu yakin?" Danti memegang tangannya, cemas. "Itu karier kamu. Gajimu stabil. Kalau ini gagal..."
"Kalau gagal, kita gagal bareng." Nadia mengangkat bahu dengan senyum nakal. "Tapi aku nggak akan gagal. Aku punya firasat."
"Firasatmu selalu gila."
"Dan firasatku selalu benar."
Mereka tertawa. Dan Danti, yang sudah belajar mempercayai orang lagi, akhirnya ia mengangguk setuju.
Kini, di sudut studio, Nadia berdiri sebagai manajer pertama sekaligus penggemar terbesar Danti, menatap sahabatnya dengan bangga yang tak ia sembunyikan.
"Siap, Kak Danti?" Fotografer, seorang laki-laki ramah berusia tiga puluhan bernama Bayu, mengangkat kameranya. "Kita mulai dengan pose santai dulu, ya. Nggak usah gugup."
Danti berdiri di depan latar putih, mengenakan gaun sederhana berwarna biru laut yang jatuh lembut di tubuhnya. Rambutnya digelung longgar, sebagian terurai di sisi wajah, riasan tipis membuat matanya tampak berkilau.
Lampu menyala. Jantungnya berdegup.
"Satu, dua, tiga..."
Klik.
Awalnya ia kaku. Tangannya tak tahu harus diletakkan di mana, senyumnya terasa dibuat-buat. Tapi Bayu bersabar, memberi arahan lembut, dan Nadia, dari balik tripod mengacungkan jempol dan menirukan wajah-wajah lucu.
Lalu perlahan, Danti memejamkan mata sejenak, menarik napas, dan membayangkan dirinya di tepi pantai, di bawah matahari sore, dengan angin yang membelai rambutnya.
Ketika ia membuka mata, sesuatu telah berubah.
Posturnya meluruh menjadi anggun. Tatapannya jernih dan penuh kehadiran. Senyum kecilnya tidak lagi dibuat-buat, melainkan lahir dari tempat yang jauh lebih dalam.
Klik. Klik. Klik.
Bayu menurunkan kamera sejenak, matanya melebar. "Kak Danti," katanya dengan suara serak. "Anda tahu tidak, apa yang Anda lakukan barusan?"
"Apa?"
"Anda baru saja membuat saya lupa bernapas." katanya.
Seisi studio hening, lalu pecah dalam tawa dan tepuk tangan. Danti tersipu, menutup wajah dengan telapak tangan, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
Di sudut ruangan, Nadia menutup mulut dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca, bahunya bergetar menahan isak bahagia.
Dan di tengah sorot lampu yang terang benderang, Danti berdiri tegak, menatap kamera tanpa takut, tanpa malu, tanpa minta maaf.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak sedang diperlihatkan. Ia sedang menampakkan diri, menjadi sosok Danti yang baru.
Sosok Danti yang lebih percaya diri, lebih bebas, dan tahu kemana arah tujuan hidupnya saat ini.
"Good job Danti!" kata Nadia, menyodorkan sebotol air untuk membasahi tenggorokan sahabatnya. "kamu hebat banget!"
"Terimakasih Nad!" Danti menerima botol air mineral itu.
Bayu membawa kameranya menghampiri Danti. "Mbak Dangi mau lihat hasilnya gak?" tawar Bayu.
Danti mengangguk cepat. Nadia juga ikut penasaran.
"Cantik banget Dan! mata kamu terlihat hidup!" kata Nadia.
Danti terdiam, bibirnya tak mengeluarkan sepatah katapun. Tetapi hatinya berbicara. Hatinya bertanya-tanya, benarkah ini dia? Benarkah wanita cantik dengan tubuh langsing dan senyum cerah itu dirinya?
Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍