NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIRENE DI TENGAH MALAM

Sirene itu menjerit dari tiga arah sekaligus.

Cahaya biru dan merah menyapu dinding seng gudang, berputar liar di antara celah-celah atap yang bocor. Para penjaga saling berpandangan, wajah mereka berubah dalam sekejap dari angkuh menjadi panik. Si botak yang menempelkan pisau ke leher Dimas menoleh ke arah pintu, genggamannya mengendur setengah inci.

Setengah inci itu cukup.

Dimas menghentakkan kepalanya ke belakang, menghantam hidung si botak dengan bunyi retak yang basah. Pria besar itu meraung dan terhuyung, pisau terlepas dari tangannya dan berdenting di lantai beton. Dimas, yang tangannya masih terikat di sandaran kursi, menjatuhkan seluruh tubuhnya ke samping. Kursi itu terbalik dengan dentum keras, membawa si botak jatuh bersamanya.

"Ras! Lari!"

Laras tidak lari. Ia menyambar pisau yang berputar di lantai dan, dengan tangan yang tak ia kira sanggup sekuat itu, menyayat tali di pergelangan Dimas. Serat tali putus satu demi satu.

"Tangkap perempuan itu!" bentak Rudi.

Dua pria menerjang. Laras berbalik dengan pisau terangkat, bukan karena ia tahu cara bertarung, tapi karena tak ada pilihan lain. Pria pertama menepis tangannya dengan keras. Pisau itu terlempar, meluncur di lantai dan lenyap di bawah peti kayu. Pria kedua mencengkeram rambutnya dari belakang dan menariknya sampai ia menjerit.

"Lepaskan istriku!"

Dimas bangkit dengan tangan yang akhirnya terbebas, wajahnya berlumur darah. Ia menghantam pria yang menarik rambut Laras dengan seluruh bobot tubuhnya, dan keduanya jatuh bergulingan di lantai. Genggaman di rambut Laras terlepas. Ia tersungkur berlutut, napas tersengal, kulit kepalanya terbakar.

Dari pintu depan terdengar suara pengeras suara, jernih dan berwibawa.

*"Polisi! Letakkan senjata kalian! Gudang ini sudah dikepung!"*

Para penjaga membeku. Seseorang berteriak, "Bos, kita keluar lewat belakang!" Dua dari mereka langsung berlari ke arah pintu samping, melempar senjata mereka sambil menerobos. Si botak, yang hidungnya berdarah deras, merangkak berdiri dan ikut kabur.

Rudi tidak bergerak.

Ia berdiri di tengah gudang yang kacau, jasnya rapi, wajahnya tenang. Hanya matanya yang berubah, sedingin air di dasar sumur. Ia menatap Laras, lalu Dimas, lalu dengan gerakan tiba-tiba yang nyaris terlalu cepat untuk diikuti, ia merogoh balik jasnya.

Pistol kecil berkilat di tangannya.

"Tidak ada yang meninggalkan ruangan ini," katanya pelan, "sebelum saya selesai."

Moncong pistol itu bergeser ke arah Laras.

Dimas bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ia menerjang ke depan, menempatkan tubuhnya di antara pistol dan istrinya, dan di detik yang sama, letusan memecah gudang.

Bunyinya membelah telinga. Laras menjerit tanpa suara. Tubuh Dimas tersentak ke belakang, menabraknya, dan keduanya jatuh ke lantai dengan keras.

"Mas! MAS!"

Tangan Laras basah. Hangat. Ia menarik tangannya dan melihat merah pekat di telapaknya. Darah mengalir dari sisi tubuh Dimas, merembes cepat ke kemejanya yang sudah robek.

Dimas menatapnya. Napasnya pendek dan basah, tapi ada senyum kecil di bibirnya yang pecah.

"Nggak apa-apa..." bisiknya. "Cuma... di samping... nggak kena yang penting..."

"Jangan bicara! Jangan bicara!"

Dari balik bahu Dimas, Laras melihat Rudi mengangkat pistolnya sekali lagi.

Tapi pintu depan meledak masuk.

Puluhan petugas berseragam hitam membanjiri gudang dengan senjata terarah. "Jatuhkan senjata! Sekarang!" Teriakan itu bergema memenuhi ruangan. Cahaya senter menyilaukan.

Rudi berhenti. Matanya bergerak cepat ke pintu, ke jendela, ke pintu samping yang menganga. Ia menurunkan pistolnya perlahan, seolah menyerah, lalu, dalam satu gerakan licin, melempar sesuatu ke lantai.

Bola kecil berwarna abu-abu berguling dan meledak menjadi asap putih tebal.

Gudang seketika lenyap dalam kabut pekat. Batuk dan teriakan bercampur dengan perintah-perintah yang saling menimpa. Laras merunduk melindungi Dimas, matanya perih, napasnya terbakar.

Ketika asap akhirnya menipis, beberapa menit atau beberapa jam kemudian, ia tak bisa memastikan, kursi tempat Rudi berdiri sudah kosong. Pintu samping bergoyang pelan tertiup angin dari dermaga.

"Dia kabur!" seseorang berteriak. "Pintu belakang! Kejar!"

Langkah-langkah berat berhamburan keluar. Sebuah mesin perahu menderu dari arah air, menjauh dengan kecepatan tinggi, menghilang ke dalam gelap.

---

"Ibu Laras?"

Seorang petugas berlutut di sampingnya, mengenakan rompi bertuliskan KEJAKSAAN. Wajahnya keras tapi matanya menenangkan. "Saya Jaksa Hendarto. Ibu terluka?"

"Bukan saya," suara Laras pecah. "Suami saya. Tolong, dia tertembak."

"Paramedis!" teriak Hendarto. "Cepat ke sini!"

Dua petugas medis datang berlari dengan tandu. Mereka mendorong Laras dengan lembut ke samping, memotong kemeja Dimas, menekan luka dengan kain tebal. Dimas mengerang, matanya terpejam.

"Peluru tembus di pinggang," kata salah satunya cepat. "Tidak kena organ vital, tapi dia kehilangan banyak darah. Siapkan transfusi. Angkat sekarang."

Mereka mengangkatnya ke tandu. Laras mengikuti di samping, tangannya menggenggam tangan Dimas yang dingin dan lengket. "Mas, dengar aku. Jangan tidur. Kamu dengar? Jangan tidur."

Mata Dimas terbuka perlahan, hampir tak fokus. "Ras..."

"Aku di sini."

"Maaf..." Suaranya hanya hembusan napas. "Soal semuanya... aku... aku pantas dihukum... tapi Kenzo... jangan biarkan dia benci aku..."

"Kamu bisa bilang sendiri padanya. Kamu akan hidup. Aku nggak akan biarkan kamu mati sebelum kamu menebus semuanya."

Sesuatu yang mirip tawa pendek keluar dari bibir Dimas, lalu berubah jadi batuk. Ia menggenggam tangan Laras dengan sisa tenaga.

"Ada... satu hal lagi..." bisiknya. "Rudi... bukan yang paling atas..."

"Apa?"

"Ada orang... di belakangnya. Yang menyuruhku... menyembunyikan wasiat itu... pertama kali..." Kelopak matanya bergetar. "Dia... dekat denganmu, Ras... dekat sekali..."

"Siapa?"

Tapi mata Dimas sudah terpejam. Paramedis memasukkan tandu ke ambulans dan pintu ditutup, memisahkan mereka.

Laras berdiri di tepi jalan yang basah, tangannya merah, wajahnya beku. Sirene ambulans melengking dan menjauh, meninggalkan kata-kata terakhir itu menggantung di udara malam seperti asap yang tak mau hilang.

*Dekat denganmu. Dekat sekali.*

---

"Ras!"

Ia menoleh. Mira berjalan terhuyung dari arah mobil, dipapah seorang petugas wanita. Ada darah kering di pelipisnya dan satu sisi wajahnya bengkak, tapi ia hidup, ia berjalan, dan matanya mencari Laras dengan cemas.

Laras berlari memeluknya. Mereka berdiri berpelukan di antara kontainer dan cahaya sirene, dua perempuan yang gemetar dan lelah.

"Kamu baik-baik saja?" bisik Laras.

"Aku... pukulannya kuat tapi nggak parah." Mira meringis. "Tapi Ras, aku sempat menyalakan telepon ke Pak Hendarto sebelum mereka menarikku keluar dari mobil. Aku biarkan terhubung. Dia mendengar semuanya. Itu sebabnya mereka datang secepat ini."

Laras mengencangkan pelukannya, air matanya jatuh ke bahu sahabatnya. "Terima kasih. Terima kasih, Mir."

"Dimas?"

"Tertembak. Dia dibawa ke rumah sakit. Dia... menyelamatkanku."

Mira terdiam. Ia menatap Laras dengan mata yang sulit dibaca.

"Ras, ada satu hal lagi."

Wajahnya berubah. Ketegangan baru menyelinap di antara kelegaan.

"Apa?"

"Map cokelat itu." Mira menelan ludah. "Waktu mereka menyeretku keluar, aku masih memegangnya. Tapi sekarang..." Ia menunjuk ke mobil yang pintunya terbuka lebar, jok-joknya berantakan. "Aku periksa. Tidak ada."

Laras merasakan dunia berhenti sekali lagi.

"Wasiat itu hilang?"

"Rekamannya, dokumen-dokumen lain, semuanya." Mira menggeleng pelan. "Dan menurutku, bukan Rudi yang mengambilnya. Dia sedang di dalam gudang bersamamu sepanjang waktu."

Laras menatapnya. Hembusan angin dari dermaga membawa bau garam dan asap, dan di kejauhan, suara mesin perahu itu sudah benar-benar hilang.

"Berarti ada orang lain di sana malam ini," bisiknya. "Orang yang kita nggak tahu."

Di balik deretan kontainer, di kegelapan yang tak terjangkau cahaya sirene, sesuatu bergerak pelan, sosok bayangan yang mengamati mereka, menggenggam sebuah map cokelat di tangannya.

Laras tidak melihatnya. Tapi bulu kuduknya berdiri.

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!