NovelToon NovelToon
Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Jika ini hasil analisis pasar yang kalian kerjakan selama tiga malam berturut-turut, aku lebih baik menyewa sekumpulan monyet sirkus untuk menghitung anggaran perusahaan kita!"

Suara bariton Marco Maverick menggelegar, membekukan udara di dalam ruang rapat petinggi Wiliam Group. Pria bersetelan jas mahal itu melempar draf proposal ke tengah meja kaca. Bunyi bantingan map tebal tersebut membuat belasan manajer senior di depannya tersentak kaget di kursi masing-masing.

Mata tajam Marco menyapu satu per satu wajah pucat bawahannya. Tidak ada senyum konyol yang biasanya menghiasi wajah tampan itu. Rahangnya mengeras, menampilkan garis wajah yang tegas, dingin, dan sangat mengintimidasi.

"Kalian pikir aku duduk di kursi ini untuk menerima laporan sampah?" desis Marco dengan nada rendah yang justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada teriakan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja.

"Aku beri waktu dua puluh empat jam. Jika besok pagi proposal ini belum direvisi dengan data lapangan yang akurat, kalian semua bisa mengambil kardus dan mengemasi barang-barang kalian dari meja kerja. Rapat selesai."

Tanpa menunggu tanggapan, Marco menegakkan tubuhnya, membenarkan letak dasinya dengan gerakan elegan, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah panjang yang penuh otoritas.

Namun, keajaiban terjadi hanya dalam hitungan detik.

Begitu pintu kayu ek tebal ruang rapat itu tertutup di belakangnya, postur tubuh Marco yang tegang dan kaku langsung melunak seolah tulang-tulangnya baru saja dicabut. Bahunya turun drastis, dan ia menghembuskan napas panjang dengan bibir dimajukan, persis seperti anak kecil yang baru selesai dihukum berdiri di depan kelas.

Ia menoleh ke samping, menatap wanita paruh baya bersetelan abu-abu rapi yang berdiri menunggunya dengan sebuah tablet di tangan.

"Bagaimana penampilanku tadi, Nyonya Brenda?" tanya Marco antusias. Ia menyisir rambut depannya ke belakang dengan jari, memamerkan cengiran lebar yang konyol. "Luar biasa, kan? Aku terlihat sangat kejam, berwibawa, dan karismatik bak penguasa dunia, bukan? Direktur Keuangan bahkan sampai menahan napas saat aku menatap matanya."

Nyonya Brenda, sekretaris pribadinya yang sudah sepuh dan terkenal dengan sifat galaknya, hanya membenarkan letak kacamata bacanya yang turun di pangkal hidung. Wajahnya yang mulai berkerut sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kagum.

"Sangat luar biasa, Tuan Maverick," puji Nyonya Brenda dengan nada yang luar biasa datar, nyaris seperti robot. "Mengingat Anda nyaris membuat Direktur Pemasaran kita pingsan di tempat. Tolong kurangi sedikit unsur dramatisnya jika Anda tidak ingin dituduh sebagai bos paling tiran abad ini."

Marco tertawa terbahak-bahak, sama sekali tidak tersinggung. "Ah, mereka saja yang mentalnya kerupuk! Bos tampan seperti diriku ini harus sesekali menunjukkan taringnya, Nyonya Brenda. Nah, sekarang, karena aku sudah bekerja sangat keras memarahi orang, apa jadwalku selanjutnya? Apakah ada jadwal tidur siang?"

Nyonya Brenda mengetuk layar tabletnya tanpa mengalihkan pandangan. "Pukul dua siang, Anda memiliki jadwal makan siang bisnis dengan perwakilan dari Direksi Utama Grup Sanjaya. Pukul empat sore, inspeksi ke lokasi proyek pembangunan mal di distrik selatan. Dan pukul tujuh malam, Anda harus menghadiri jamuan makan malam amal atas nama Wiliam Group."

Seketika, tubuh Marco langsung lemas. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding lorong dengan gaya dramatis, seolah baru saja divonis hukuman mati. Kepalanya terkulai lesu.

"Nyonya Brenda yang baik hati... Nyonya yang paling cantik di seluruh penjuru Wiliam Group," rengek Marco dengan nada memelas yang sangat bertolak belakang dengan citra CEO kejamnya di ruang rapat tadi. "Bisakah aku meminta cuti? Satu jam saja! Aku cuma mau merebahkan punggungku. Otot-ototku bisa meledak kalau disuruh bekerja non-stop seperti mesin giling."

"Tidak ada cuti, Tuan Maverick," tolak Nyonya Brenda tanpa ampun, nadanya tegas dan tak terbantahkan. "Anda dibayar puluhan miliar bukan untuk tidur siang di jam kerja."

Marco mengerang frustrasi, mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan. "Kau benar-benar kejam, Nyonya Brenda!"

"Papi Macco!"

Sebuah suara nyaring dan cadel tiba-tiba menggema di ujung lorong, memotong penderitaan Marco. Mendengar panggilan itu, Marco langsung menegakkan tubuh. Wajahnya yang tadi cemberut seketika berubah cerah benderang.

Dari arah lift khusus eksekutif, tampak Noah Elian Alexander—sahabat sekaligus atasannya yang sah—berjalan santai. Di samping Noah, seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun berlari tergopoh-gopoh dengan kaki-kaki kecilnya yang montok, merentangkan tangan ke arah Marco.

"Jagoanku datang!" seru Marco girang. Ia segera berjongkok, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, dan menangkap tubuh mungil Leo ke dalam pelukannya. Marco langsung mengangkat anak itu tinggi-tinggi, berputar satu kali, lalu mencium pipi gembil Leo bertubi-tubi hingga anak itu memekik kegelian.

"Papi Macco, kumisnya geli!" protes Leo sambil tertawa renyah, berusaha mendorong wajah Marco dengan tangan kecilnya.

Noah yang baru saja tiba di depan mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya. Pria tampan itu menghela napas pasrah. "Dia terus merengek mencarimu sejak pagi. Aku sampai pusing mendengarnya menangis di rumah, jadi aku membawanya kemari. Sepertinya dia benar-benar merindukanmu."

Marco tersenyum penuh kemenangan. Sambil menggendong Leo di lengan kirinya yang kekar, ia menatap Noah dengan sebelah alis terangkat arogan yang menyebalkan.

"Sudah kubilang berkali-kali, Noah. Mengaku sajalah, pesona dan auraku ini memang jauh lebih unggul dibandingkan dirimu," sindir Marco dengan gaya congkak yang dibuat-buat, sambil mencolek hidung Leo. "Lihat? Anak kandungmu sendiri bahkan menyadarinya. Wajar saja kalau Leo jauh lebih lengket padaku. Aku ini tampan, menyenangkan, dan tidak se-membosankan dirimu. Benar kan, Leo? Papi Marco lebih keren dari Papa Noah, kan?"

"Iya! Papi Macco kelen!" sahut Leo polos, langsung memeluk leher Marco dengan erat.

Noah mendengus pelan, nyaris tertawa. "Terserah kau saja, Marco. Asal kau mau menjaganya selama aku mengurus berkas di ruanganku."

Di tengah suasana hangat dan konyol itu, Nyonya Brenda tiba-tiba berdeham pelan. Suaranya yang berat dan serius membuat Marco dan Noah serempak menoleh ke arah wanita tua tersebut.

Nyonya Brenda merapikan tumpukan dokumen di dekapannya, lalu menatap Noah dengan sorot mata yang penuh perhitungan.

"Tuan Alexander, kebetulan Anda ada di sini," ucap Nyonya Brenda dengan nada formal. "Ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Anda dan Tuan Maverick secara langsung."

Marco menaikkan alisnya, mencium puncak kepala Leo sekilas. "Ada apa, Nyonya Brenda? Mau minta naik gaji? Berapa pun akan kuberi asal kau memberiku waktu tidur siang."

Nyonya Brenda mengabaikan candaan Marco. "Saya mau mengundurkan diri, Tuan."

Keheningan seketika menyelimuti lorong itu. Senyum konyol di wajah Marco langsung luntur tak berbekas, digantikan oleh raut terkejut yang luar biasa. Noah pun tampak sama terkejutnya.

"Saya sudah cukup tua, dan kesehatan saya mulai menurun. Lagipula," Nyonya Brenda melirik Marco dari balik kacamata tebalnya, "Tuan Marco sudah lebih dewasa sekarang. Beliau sudah bisa memimpin jalannya perusahaan dengan sangat baik, terlepas dari tingkah kekanak-kanakannya di luar ruang rapat. Tugas saya di sini sudah selesai. Saya pamit mundur, Tuan Alexander."

"Tunggu dulu, Nyonya Brenda," potong Noah cepat, keningnya berkerut tidak setuju. "Marco? Dewasa? Dia baru saja menyombongkan ketampanannya pada balita berumur tiga tahun beberapa detik yang lalu. Pria ini masih sangat butuh bimbingan Anda. Saya tidak setuju Anda mengundurkan diri secepat ini."

"Apa-apaan ini?!" Marco akhirnya bersuara, nada paniknya tidak bisa disembunyikan. Ia merengkuh Leo lebih erat seolah anak itu adalah tamengnya.

"Tidak! Aku menolak! Aku tidak mau sekretaris lain!"

Nyonya Brenda menatap Marco dengan lembut—sebuah pemandangan yang sangat langka. "Anda butuh seseorang yang lebih muda dan lebih cekatan, Tuan Maverick."

"Aku tidak peduli!" bantah Marco keras kepala, bersikap persis seperti anak remaja yang sedang merajuk. "Walaupun Nyonya itu tua, galak, cerewet, dan tidak pernah memberiku izin cuti, aku sangat senang bekerja dengan Nyonya! Aku sudah hafal omelan Nyonya, dan Nyonya adalah satu-satunya orang di kantor ini yang tidak pernah terpesona pada ketampananku. Aku tidak mau ganti sekretaris!"

Mendengar penolakan keras Marco yang blak-blakan namun jujur itu, sudut bibir Nyonya Brenda sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

"Keputusan saya sudah bulat, Tuan Maverick," ucap Nyonya Brenda tegas, kembali ke mode profesionalnya. "Tapi Anda tidak perlu khawatir. Saya tidak akan pergi begitu saja meninggalkan meja Anda dalam keadaan berantakan. Sebelum saya resmi mengundurkan diri bulan depan, saya sendiri yang akan mencari sekretaris baru untuk mendampingi Anda. Saya akan melatihnya langsung."

Marco memanyunkan bibirnya, tampak sangat tidak rela. Namun, ia tahu tak ada gunanya berdebat jika wanita tua ini sudah mengambil keputusan.

"Baiklah kalau Nyonya memaksa," gerutu Marco dengan nada lemas. Ia menghela napas panjang, menatap Nyonya Brenda dengan tatapan memelas.

"Tapi aku punya syarat mutlak. Tolong carikan sekretaris yang sifatnya sama persis sepertimu! Dia harus teliti, tegas, dan tidak mempan digoda oleh pria mana pun! Aku tidak mau sekretaris centil yang hanya sibuk memoles lipstik di mejanya."

Marco menjeda kalimatnya, lalu bergumam dengan suara lebih pelan sambil mengusap dadanya. "Tapi tolong... jangan cari yang suka marah-marah sepertimu, Nyonya. Tolong carikan yang sedikit lebih penakut. Jantungku bisa benar-benar lepas kalau harus dimarahi oleh dua wanita galak di masa mudaku."

Nyonya Brenda menundukkan kepalanya dengan hormat, menyembunyikan kilat penuh arti di matanya. "Tentu, Tuan Maverick. Saya pastikan, kandidat yang saya bawa nanti... adalah seseorang yang akan sangat mengejutkan Anda."

1
ryuka
🤣🤣😍🤣🤣 bagussss marco pecat aja itu ceewe parasittt itu
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Muft Smoker
mau jdi kutu rambut di hidup Marco yx Alana ,,
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
ryuka
lanjuuutttt thoooooerr
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
ryuka
eeeaaaa.. eeaaaaa...
Dew666
🩵
Muft Smoker
dag dig dug nyeesss yx kalian 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😅😅😅
ryuka
ayooo semangattt marco & liiaaaaaa 🔥🔥🔥🔥🔥
Muft Smoker
si Marco mau di tinggal Mak kedua ny ,,
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
Sastri Dalila
😅💪💪
Sastri Dalila
🥺🥺🥺
Sastri Dalila
😅😅🤣🤣
Sastri Dalila
🤭💪💪👍👍🤗😅
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣 siapa yg kalah duluan ya tjoorrr
aisyah
se trauma itu ya Mar😔
kejam banget sih itu memang cewek 😡
Muft Smoker
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣pelayan d resto sebelah konon🤭🤭 ,,

jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,
Sastri Dalila
👍👍👍👍👍 bagusssssss
ryuka
duuhhhh semangat marcoooo 👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!