Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Jadi, hidangan ini bisa masuk ke daftar menu baru restoran kita?" tanya Rizal bersemangat setelah menghabiskan suapan terakhir mi cumi racikan Aira.
Lucas menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya yang semula tegang kini berganti dengan raut kepuasan yang tegas. Ia menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya, menu ini sangat unik dan berkualitas tinggi. Kita akan memasukkannya ke dalam daftar Executive Specialty Menu mulai minggu depan," jawab Lucas dengan suara baritonnya yang mantap.
"Wah, mantap! Berarti Chef Aira bakal makin sibuk nih masak menu viral baru!" ucap Rizal.
"Tapi bukan Aira yang akan memasaknya sehari-hari," potong Lucas cepat, membuat Rizal dan Arum terkejut.
Lucas menatap tajam ke arah Rizal dan staf dapur lainnya.
"Saya ingin Rizal dan semua koki yang ada di sini belajar langsung tekniknya dari Aira. Kalian harus menguasai standar resep ini sampai sempurna. Aira adalah Head Chef, tugas utamanya adalah memimpin, mengawasi, dan memastikan standar mutu, bukan menghabiskan seluruh tenaganya di depan kompor setiap saat."
Lucas melakukan ini bukan tanpa alasan. Ia sangat tahu kondisi Aira yang sedang mengandung anak kembar tiga mereka.
Ia tidak ingin calon istrinya terlalu lelah dan membusur tenaga di dapur.
Tepat saat itu, Aira melangkah masuk kembali ke area dapur setelah menyapa beberapa staf di luar.
Langkahnya terhenti saat melihat Lucas, Arum, dan Rizal sedang berkumpul mengelilingi meja plating dengan ekspresi serius.
"Ada apa ini?" tanya Aira heran, menatap mereka bergantian.
Rizal langsung menyeringai lebar sambil menunjuk ke arah piring mi cumi yang sudah bersih licin.
"Chef! Pak Lucas baru saja meresmikan hidangan racikan Chef tadi sebagai Executive Specialty Menu baru di hotel kita!" seru Rizal dengan mata berbinar-binar.
"Tapi, kata Pak Lucas, kita semua staf dapur yang harus belajar resep dan teknik pembuatannya dari Chef Aira. Jadi Chef nggak perlu turun tangan terus-terusan!"
Aira menoleh ke arah Lucas dengan tatapan bertanya-tanya.
Di balik aura dingin sang CEO, Aira tahu betul alasan sebenarnya di balik keputusan Lucas: pria itu hanya ingin menjaga kesehatannya agar tidak terlalu lelah mengurus dapur, apalagi di tengah kondisi kehamilannya.
Lucas menatap Aira lembut, lalu berdehem formal di hadapan staf lainnya.
"Kualitas dan inovasi kulinermu sangat luar biasa, Chef Aira. Namun, sebagai Head Chef, peran utamanya adalah membimbing tim agar memiliki standar yang setara. Jadi mulai besok, adakan sesi pelatihan singkat untuk Rizal dan yang lainnya."
Aira menyunggingkan senyum hangat saat mendengar perkataan dari calon suaminya.
"Baik, Pak Lucas. Terima kasih atas kepercayaannya. Saya akan pastikan seluruh tim menguasai resep mi cumi ini dengan sempurna."
"Siap, Chef! Saya janji bakal belajar sampai jago!" sahut Rizal penuh semangat.
Jam operasional restoran akhirnya resmi ditutup untuk malam itu.
Seluruh staf dapur mulai membereskan station kerja masing-masing dan bersiap untuk pulang.
Setelah memastikan semua peralatan dan bahan makanan aman, Aira melangkah ke ruang ganti untuk melepas seragam kebanggaannya.
Saat ia keluar dari area khusus karyawan, suasana lorong hotel sudah sangat sepi.
Di sudut lorong dekat pintu basement khusus, Lucas sudah menunggu di dalam mobil mewahnya yang terparkir rapi.
Begitu Aira masuk dan menutup pintu mobil, Lucas langsung menarik napas lega, menggenggam erat jemari Aira lalu mengusap punggung tangannya dengan lembut.
"Hari ini kamu luar biasa sekali, sayang," bisik Lucas penuh kekaguman.
"Tapi, melihat kamu berdiri lama dan menghadapi para preman tadi benar-benar membuat jantungku mau copot."
Aira tertawa pelan, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Lucas.
"Bukankah aku sudah bilang, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagi pula, bayinya juga kuat kok di dalam sini."
Lucas tersenyum manis, membalas dengan usapan penuh kasih di perut Aira yang masih rata.
Ia lalu melajukan mobilnya membelah malam menuju penthouse, meninggalkan kekacauan hari ini dengan kemenangan manis di tangan mereka.
Sementara itu, di kamar atas Mila sedang menunggu dengan gelisah sambil menggebu-gebu membayangkan Aira yang hancur dan dipecat malam ini.
Telepon genggamnya berdering. Nama sang ketua preman tertera di layar.
Dengan senyum penuh kemenangan, Mila cepat-cepat mengangkatnya.
"Bagaimana?! Kalian berhasil mengacak-acak restoran dan bikin koki sialan itu menangis, kan?!" cercah Mila tanpa sabar.
Suara kekehan geli terdengar dari seberang telepon.
"Walah, Mbak. Koki pilihanmu itu bukan cuma jago, tapi jenius! Pesanan konyol dari mbaknya berhasil dia bikin dengan sempurna dan rasanya enak banget! Kami malah dapat makan gratis dan kenyang!"
"APA?!" pekik Mila histeris, sampai-sampai beberapa pengunjung warung menoleh kaget.
"Uang mukanya sudah kami tinggalkan di meja hotel. Lain kali kalau mau ngerjain orang, cari musuh yang selevel ya, Mbak. Jangan koki hebat kayak gitu!"
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon dimatikan sepihak. Mila mengepalkan tangannya rapat-rapat, memukulkan ponselnya ke meja dengan wajah merah padam penuh amarah dan dendam yang kian membakar.
Ia tidak terima jika rencananya berantakan seperti itu.
Radit yang sedang duduk di sofa ruang tamu sembari mengompres bibirnya yang bengkak langsung terkejut ketika mendengar teriakan Mila fi kamar.
Mila membanting gelasnya ke atas meja glass top hingga menimbulkan suara dentangan nyaring.
"Mila! Kamu kenapa?! Bagaimana preman yang kamu sewa? Apakah berhasil?" tanya Radit
Wajah Mila memerah padam karena menahan malu dan emosi.
"Gagal! Preman-preman bodoh itu malah memuji masakan Aira dan mengembalikan uang mukanya!" jerit Mila histeris.
"APA?!" Ibu Radit menepuk dadanya kaget, matanya melotot tidak percaya.
"Kenapa wanita mandul itu selalu beruntung?! Sebenarnya apa hebatnya dia sampai-sampai preman pun tidak bisa menyentuhnya?!"
"Aku tidak akan tinggal diam!" sela Mila dengan napas memburu dan mata menyipit tajam penuh kedengkian.
"Kalau cara kasar di hotel tidak berhasil, kita pakai cara lain! Aku akan bikin reputasi dia hancur di media sosial dan mengadu langsung ke pemilik jaringan hotel itu supaya dia dipecat secara tidak hormat!"
Radit dan ibunya saling pandang, lalu menyunggingkan senyum licik.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang ingin diajak Mila bekerja sama untuk memecat Aira tak lain adalah Lucas.
Pria yang siap menghancurkan siapa saja yang berani menyentuh sehelai rambut pun dari Aira.
Di sisi lain, mobil mewah Lucas akhirnya berhenti dengan mulus di area parkir pribadi penthouse.
Keheningan malam yang tenang menyambut kedatangan mereka setelah melewati hari yang penuh kejutan dan ketegangan di hotel.
Lucas turun terlebih dahulu, melangkah cepat untuk membukakan pintu mobil bagi Aira.
Dengan penuh kehati-hatian, ia menggandeng tangan calon istrinya, menuntun langkah wanita itu menuju lift pribadi yang membawa mereka langsung ke lantai teratas.
Begitu pintu penthouse terbuka, suasana hangat dan harum aroma terapi langsung menyapa indra penciuman.
Lucas melepaskan jas mewahnya, lalu berbalik menatap Aira dengan sorot mata penuh perhatian.
"Ayo kamu mandi dulu, sayang. Aku sudah menyiapkan air hangat di dalam," ujar Lucas lembut, rupanya sudah menginstruksikan asisten rumah tangga untuk mengatur suhu air bath-tub sebelum mereka tiba.
Aira menganggukkan kepalanya pelan. Namun, saat hendak melangkah menuju kamar mandi, jemarinya menahan ujung kemeja Lucas.
"Lucas," panggil Aira pelan.
Lucas menoleh, menatap wajah Aira dengan dahi sedikit bertaut.
"Ya, ada apa, sayang? Ada yang sakit?"
"Terima kasih." bisik Aira tulus, mengutarakan rasa syukurnya atas segala perlindungan, kepercayaan, dan perhatian manis yang selalu pria itu curahkan tanpa henti.
Cupp!
Sebelum Lucas sempat membalas ucapannya, Aira berjinjit sedikit dan mendaratkan ciuman manis di pipi Lucas.
Tanpa menunggu reaksi pria itu, Aira langsung berbalik cepat dan berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi dengan rona merah padam membanjiri kedua pipinya yang menggemaskan.
Lucas yang berdiri terpaku di tempatnya memegangi pipi yang baru saja dicium.
Sudut bibirnya terangkat tinggi, membentuk senyuman lebar yang sangat tampan.
Tertawa kebahagiaan terdengar dari tenggorokannya.
"Dasar, bikin gemas saja," gumam Lucas pelan dengan dada berdesir hangat, tak sabar menyambut masa depan indah bersama Aira dan buah hati mereka.
Setengah jam berlalu, Aira keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian tidur longgar yang nyaman.
Rambutnya yang sedikit basah terurai indah, memancarkan aroma harum bunga melati dan vanila yang menenangkan.
Begitu melangkah ke ruang tengah, Aira melihat Lucas sudah memakai kaos hitam polos dan celana kain panjang.
Lucas sedang berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gemerlap lampu kota malam hari.
Mendengar langkah kaki Aira, Lucas membalikkan badan.
Sorot matanya seketika melembut saat menangkap sosok wanita yang sangat dicintainya itu.
"Sudah mandinya? Sini." panggil Lucas seraya merentangkan kedua tangannya.
Aira tersenyum manis lalu berjalan mendekat, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan hangat dada tegap Lucas.
Lucas mengecup puncak kepala Aira berulang kali, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu yang selalu berhasil meluruhkan seluruh rasa lelahnya setelah seharian bekerja.
"Masih pegal badannya?" bisik Lucas lembut, jemari tangannya mengusap punggung Aira penuh kehati-hatian.
"Sedikit, tapi sudah jauh lebih mendingan setelah berendam air hangat," jawab Aira jujur, menyandarkan dagunya di dada Lucas.
"Terima kasih ya, Lucas. Untuk semuanya."
Lucas menunduk dan menatap dalam mata jernih Aira.
"Aku yang harusnya berterima kasih, Aira. Kamu sudah sangat kuat menghadapi mereka semua hari ini. Tapi ingat janji kita ya, jangan pernah memendam atau menghadapi masalah sendirian kalau situasi sudah mulai membahayakan kamu dan calon anak-anak kita."
"Iya, aku janji." ucap Aira.
Lucas lalu membimbing Aira berjalan perlahan menuju tempat tidur king size mereka.
Setelah memastikan Aira berbaring dengan nyaman dan menyelimutinya hingga dada, Lucas menyusul berbaring di sampingnya.
Tangannya merengkuh pinggang Aira, sementara tangan yang lain mengusap lembut perut Aira yang masih terasa rata.
"Selamat tidur, calon ibunya anak-anakku," bisik Lucas mesra, mengecup bibir Aira singkat namun manis.
"Selamat tidur juga, Pak CEO," balas Aira tertawa pelan sebelum memejamkan matanya dengan perasaan tenang, damai, dan dilindungi sepenuhnya.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu