NovelToon NovelToon
DIA DARI MASA LALUKU

DIA DARI MASA LALUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Selingkuh / Obsesi
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.

Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.

Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir...

...#••...

“Merinding, gue, cok,” lirih Jay setelah ditinggalkan pendeta itu.

Ia duduk di sofa ruang tamu yang hanya diterangi lampu temaram. Suasana di dalam rumah ini terasa jauh lebih mencekam dibandingkan saat berada di luar tadi.

Bulu kuduk Jay meremang. Rasanya seperti menjadi tokoh dalam film horror yang biasa ia tonton bersama sahabatnya. Meskipun ia pecinta horror, bukan berarti dirinya kebal terhadap rasa takut, apalagi dalam situasi seperti ini.

Bukan hantunya yang ia khawatirkan, melainkan manusianya sendiri. Bagaimana kalau ternyata ia salah alamat? Bagaimana kalau ternyata rumah ini adalah tempat penjagalan? Bagaimana kalau dirinya akan dimutilasi?

“Jay…”

“AAAAAA!”

Teriakan Jay sontak menggema di ruang tamu.

“Heh! Berisik!”

Orang itu tiba-tiba membekap mulut Jay hingga Jay sontak meronta.

“Jay! Ini gue!”

Pemuda itu buru-buru menoleh ke belakang. Matanya membulat saat mendapati perempuannya berdiri tepat di belakangnya.

Jay langsung berdiri dan memeluk perempuan itu erat-erat. Saking kencangnya, tubuh perempuan itu sampai terdorong mundur beberapa langkah.

“Kenapa, sih?” tanyanya, begitu mendengar tangisan Jay yang memeluknya.

“Tega lo! Ngagetin gue!” suara Jay terendam di leher Perempuan itu. Tangannya semakin merengkuh kuat punggung dan pinggang perempuan itu.

Perempuan itu memukul-mukul punggung pemuda di hadapannya. “Nafas gue sesek! Lepas!”

Perlahan Jay melepaskan pelukan itu dan dengan cepat pula ia menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan.

“Kenapa nangis sih? Kayak bocil,” gerutu perempuan itu.

Jay tak merespon. Wajahnya masih memerah, matanya sembap, sementara bibirnya melengkung ke bawah.

Tanpa banyak bicara, perempuan itu menarik tangan Jay untuk mengikuti langkahnya menuju kamar.

Jay tak tahu mereka berada di bagian mana dari rumah itu. Sepanjang perjalanan, kepalanya terus tertunduk, dengan tatapan yang hanya mengikuti gerakan kakinya sendiri.

“Udah, duduk di situ.”

Jay menurut. Namun saat perempuan itu hendak beranjak pergi, tangannya buru-buru mencengkeram lengan perempuan itu.

“Mau ke mana?”

“Tunggu dulu,” tegas perempuan itu seraya melepaskan pegangan Jay, lalu berjalan ke luar dan kembali menutup pintu kamar.

“Anjir! Bisa-bisanya gue nangis?” lirih Jay. Ia kembali mengusap wajahnya, seolah baru menyadari betapa berantakannya dirinya saat ini.

Setelah itu pandangannya berkeliling mengamati kamar perempuan itu. Ruangannya memang tidak terlalu besar, tetapi terasa nyaman. Cahaya lampunya pun terang benderang, kontras dengan suasana ruang tamu yang tadi membuat bulu kuduknya meremang.

“Gue janji, Kak, bakal bikin hidup lo bahagia suatu hari nanti,” gumam Jay pelan.

Entah kenapa, dadanya terasa sesak setiap kali memikirkan kehidupan perempuan itu. Ia sedih membayangkan perempuan yang dicintainya harus menjalani hidup seperti ini. Bukan karena ia menganggap pekerjaan perempuan itu rendah, melainkan karena ada begitu banyak hal yang ingin ia berikan kepadanya, sementara saat ini ia belum bisa melakukan apa-apa.

Tak lama kemudian, Perempuan itu kembali ke kamar sembari membawa nampan berisi air putih dan sepiring nasi beserta lauk pauknya.

“Minum dulu,” titah perempuan itu menyodorkan segelas air putih setelah duduk di samping Jay.

“Tenang aja, nggak dikasih racun,” katanya lagi begitu Jay tak mengambil gelas itu.

Jay pun langsung meneguknya hingga tandas tak bersisa.

“Makasih,” katanya sambil cengengesan.

Perempuan itu tak menjawab, ia menyodorkan piring itu ke hadapan Jay. “Makan.”

“Jangan galak-galak, dong,” rengek Jay ketika melihat ekspresi perempuan itu. “Kenapa sih?”

“Kok bisa sih, lo nekat nyamperin gue ke sini?”

“Ya emang kenapa?” Heran Jay. “Gue kan mau nemuin orang yang gue cintai.”

Perempuan itu menghela napas panjang sembari merotasikan bola matanya malas.

“Nekat banget jadi bocah,” katanya lirih.

Tak menghiraukan perkataan perempuan di hadapannya, Jay membuka mulutnya.

“Aaa~”

“Makan sendiri.”

Jay menggeleng, kembali membuka mulutnya lebar-lebar.

“Jay!”

“Sekali-kali lahh…” rengeknya. “Gue habis menempuh per—”

Hap.

Perempuan itu akhirnya menyuapkan sesendok makanan ke mulut Jay.

Pemuda bermata elang itu langsung tersenyum lebar. “Enak,” katanya setelah menelan suapan pertamanya. “Lo yang masak?”

Perempuan itu hanya mengangguk, lalu kembali menyuapkan sesendok makanan kepada pemuda yang lebih muda darinya.

Untuk beberapa saat, tak ada percakapan di antara mereka. Hanya sesekali terdengar bunyi sendok yang beradu dengan piring.

“Lo baik-baik aja, kan, Kak?” tanya Jay di sela-sela kunyahannya.

Sejak tadi, tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari wajah perempuan itu. Ia bisa menangkap raut lelah yang tak mampu disembunyikan, juga tatapan sayu yang membuat binar di mata perempuan itu tampak meredup. Persis seperti pertama kali Jay bertemu dengannya.

“Namanya hidup, ya pasti ada aja cobaannya. Kecuali kalau kaya raya,” jawab perempuan itu enteng, sebelum menyuapkan sesendok makanan terakhir ke mulut Jay.

“Ya makannya nikah sama gue,” jawab Jay cepat setelah disuapi. “Gue anak tunggal kaya raya yang baik hati dan tidak sombong.” katanya dengan bangga sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.

“Yang kaya bapak lo, lah. Apa gue nikah aja ya sama bokap lo—”

“Heh!” Jay buru-buru memotong. “Omongannya dijaga, ya!”

“Ya memang faktanya begitu, kan? Lo selalu ngajak gue jalan-jalan dan traktir makan, ya itu duit bapak lo,” kata perempuan itu santai sembari meletakkan piring kosong kembali ke atas nampan.

“Bisa nggak sih jangan nggak ngomong gitu mulu?” gerutu Jay kesal. “3 bulan lagi gue lulus SMA. Nanti gue kuliah—”

Perempuan itu kembali menyodorkan segelas air putih ke bibir Jay, setelah tadi mengisinya dari botol minumnya.

“Minum dulu.”

Jay menurut dan meneguk air itu sampai habis. Setelah mengembalikan gelasnya, ia kembali melanjutkan perkataannya dengan penuh semangat.

“Pokoknya, kalau gue udah kuliah, gue bakal sambil kerja. Biar lo tinggal sama gue dan gak usah mikirin apa-apa selain gue,” kekehnya di akhir kalimat.

“Emang nggak takut sama gue?”

“Enggak!” jawab Jay lantang. “Alasan gue datang, ya, itu. Gue nggak takut sama lo, Kak. Cuma…” Jay berhenti sejenak, kali ini suaranya sedikit melunak. “Gue pengen tahu alasan sebenarnya apa. Nggak mungkin, kan, lo ngelakuin itu tiba-tiba?”

Perempuan itu tersenyum lebar sebelum beranjak dari duduknya. Ia berdiri di antara kedua kaki Jay yang memang terbuka lebar.

Kedua tangannya terangkat, menyentuh sisi kepala Jay sebelum perlahan turun ke pipinya. Dengan lembut, ia mengangkat dagu pemuda itu, membuat tatapan mereka bertemu.

Perempuan itu kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajah hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.

Senyumnya melebar saat melihat Jay perlahan memejamkan mata, seolah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun, alih-alih menciumnya, perempuan itu justru memiringkan kepala dan mendekatkan bibirnya ke telinga Jay.

“Gue suka sama keberanian lo, Jay,” bisiknya pelan.

Tepukan ringan di bahu membuat Jay membuka matanya kembali.

“Sekarang lo pulang.”

Senyum yang tadi sempat menghiasi wajah Jay perlahan memudar, berganti dengan tatapan kecewa. “Kenapa?” tanyanya dengan suara serak.

Kedua tangannya sudah lebih dulu melingkar di pinggang perempuan itu, menarik tubuhnya agar semakin rapat ke arahnya.

Perempuan itu hanya tersenyum tipis. Jemarinya meremas lembut kedua pundak Jay sebelum ia perlahan melepaskan diri dari pelukan pemuda itu. “Kamis nanti kita ketemu di tempat biasa.”

...[...]...

#•• masa lalu

••• masa sekarang

1
tak tahu
jadi laki emang harus gentle
tak tahu
baju hitam gak buat cuma berduka aja kali🙄
Yavarnie: nahh bener tuh
total 1 replies
tak tahu
keren2 kak
Yavarnie: makasih banyakkk
total 1 replies
Yavarnie
INI ADA YANG BACA NGGAK SIH?
SAY HI, DONGGG
Yavarnie: huhu thank you udah bacaa
total 2 replies
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga ya di novel baruku😁
senjani jingga: terimakasihhh❤️❤️
total 2 replies
Yavarnie
aneh, ya, datang ke gereja bukannya ibadah, malah buat nemuin seseorang wkwk
tak tahu: si jay emang aneh2 ja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!