Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apanya Yang Kurang Pantas?
"Arlan! Kamu nggak apa-apa, kan? Nggak ada yang luka, kan?" tanya Ayara panik.
"Aku nggak apa-apa, Mbak...," jawab Arlan cepat, berusaha menenangkan sang kakak yang telanjur panik.
"Syukurlah," Ayara menghela napas panjang, lalu memeluk Arlan erat-erat.
Air mata yang sejak tadi Ayara tahan di sepanjang perjalanan akhirnya tumpah juga. Bagi Ayara, Arlan adalah segalanya. Kehilangan Arlan dengan tuduhan kriminal seperti ini adalah mimpi buruk terbesar dalam hidupnya.
Namun, di tengah rasa haru dan isak tangis tertahan itu, kesadaran Ayara mendadak ditarik kembali ke kenyataan saat ia merasakan kehadiran sosok lain yang berdiri tepat di samping adiknya.
Ayara perlahan melepaskan pelukannya, lalu mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang yang berdiri di sana.
Deg!
Jantung Ayara seolah berhenti berdetak seketika. Di hadapannya kini, berdiri Althaf dengan balutan setelan jas hitam rapi yang melekat sempurna di tubuhnya, menatap Ayara dengan sorot mata teduh namun menyimpan ketegasan yang luar biasa.
"Mas... Mas Althaf?" cicit Ayara terbata-bata, matanya mengerjap beberapa kali seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Althaf menyunggingkan senyum tipis, tatapannya menyapu wajah Ayara yang tampak pucat dan kelelahan karena panik. "Kamu tidak perlu khawatir lagi, Ayara. Masalah ini, aku akan bantu."
"Ma-maksudnya?" tanya Ayara.
"Jadi, Bu Merlin nuduh aku ngambil uang dan barang-barang bengkel. Katanya, dia juga bakal laporin aku, terus aku juga dipecat," jawab Arlan.
"Astaga, kok bisa gitu?" Ayara panik bukan main, ia tidak ingin Arlan dipenjara.
"Kamu tenang aja, Ra. Aku akan bantu, aku akan pastikan Arlan nggak akan dipenjara," ucap Althaf.
Ayara menatap pria di samping adiknya itu, dengan tatapan bingung. "Tapi, gimana caranya, Mas?" tanyanya.
"Mbak nggak perlu khawatir, Bang Althaf ini ternyata pengacara loh," jawab Arlan.
"Pe-pengacara," gumam Ayara.
Mendengar perkataan adiknya itu, Ayara semakin terpaku di tempatnya. Netranya menatap sosok Althaf dari ujung kepala hingga kaki, mulai dari setelan jas mahalnya yang berpotongan rapi, jam tangan berkelas di pergelangan tangan, hingga aura wibawa yang menguar kuat.
'Jadi, Mas Althaf itu pengacara,' batin Ayara.
"Kalian tenang saja, nanti aku akan cari bukti. Dan Arlan, nanti kamu bantu Abang ya," ucap Althaf.
"Siap, Bang," balas Arlan.
"Terima kasih, Mas. Aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada Mas Althaf," ucap Ayara.
"Sama-sama, aku senang bisa bantu Arlan. Oh ya, ini kamu ketik nomor kamu, biar kalau ada apa-apa aku mudah ngabarin kamu," ucap Althaf, memberikan ponselnya pada Ayara.
Kali ini, tidak ada alasan bagi Ayara intuk menolak memberikan nomornya pada Althaf. Ia pun mengetik nomor ponselnya, lalu mengembalikan ponsel tersebut pada Althaf.
Tak lama kemudian, ponsel Ayara berdering. Ayara segera melihatnya dan nomor tidak dikenal pun tertera disama.
"Itu nomorku, disimpan ya," ucap Althaf.
Ayara mengangguk pelan, "Iya, Mas. Kalau begitu... aku sama Arlan pulang dulu Mas," pamit Ayara.
"Ayo, aku antar kalian pulang," ajak Althaf.
"Nggak usah, Mas. Aku bawa motor," tolak Ayara.
"Mana kunci motonya?" pinta Althaf, mengulurkan tangannya.
"Buat apa?" tanya Ayara.
"Mana?" tanya Althaf.
Ayara mengeluarkan kunci motornya, dan Althaf mengambilnya. "Ren, saya minta tolong kamu bawa motor ini ke alamat yang nanti saya kirim, setelah itu kamu kembali ke kantor dengan taksi."
"Baik, Pak," balas Rendy, mengambil kunci motor tersebut dan meninggalkan kantor polisi.
"Ayo," ajak Althaf, berjalan terlebih dahulu.
"Ayo, Mbak," ajak Arlan, menarik lengan Ayara untuk mengikuti Althaf.
Mobil sedan hitam mewah milik Althaf membelah jalanan kota yang cukup lengang di siang hari menjelang sore. Di dalam kabin, suasana terasa agak canggung bagi Ayara dan Arlan, sementara Althaf tetap tenang di balik kemudi.
Arlan yang duduk di kursi belakang menatap sekeliling interior mobil mewah itu dengan mata berbinar-binar. Sesekali ia melirik ke arah kaca spion tengah, memerhatikan profil wajah Althaf yang tampak begitu fokus dan berwibawa. Pemuda itu benar-benar tidak menyangka pria yang menolongnya di kantor polisi tadi adalah seorang pengacara hebat yang kebetulan dekat dengan sang kakak.
Di kursi depan, Ayara duduk dengan jemari saling meremas di atas pangkuan. Pikirannya masih dipenuhi rasa cemas memikirkan tuduhan yang menimpa adiknya, sekaligus rasa tidak enak karena kembali merepotkan Althaf.
"Mas Althaf, terima kasih banyak ya. Aku benar-benar nggak enak karena sudah bikin Mas repot seharian ini," ucap Ayara pelan tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke luar jendela mobil.
Althaf melirik sekilas ke arah Ayara, lalu kembali fokus ke jalan raya. "Kamu tidak merepotkan sama sekali, Ayara. Ini juga bukan apa-apa," jawabnya dengan nada suara yang begitu menenangkan.
Beberapa saat kemudian, laju mobil Althaf mulai melambat. Bukan mengarah ke jalur pulang menuju perkampungan sempit tempat tinggal Ayara, mobil itu justru berbelok memasuki area parkir sebuah restoran mewah berdesain kontemporer dengan kaca-kaca besar yang memperlihatkan interior elegan di dalamnya.
Ayara yang menyadari perubahan arah tersebut langsung menoleh dengan mata membelalak kaget.
"Loh, Mas? Kita mau ke mana? Kenapa belok ke sini?" tanya Ayara spontan.
"Makan siang," jawab Althaf singkat, mematikan mesin mobilnya.
"Makan siang? Tapi, Mas... aku sama Arlan langsung pulang saja. Kayaknya aku sama Arlan juga kurang pantas masuk ke tempat mewah kayak ini," protes Ayara, merasa minder dengan penampilannya yang hanya mengenakan seragam pabrik semi kasual dan Arlan dengan kaos oblong bernoda olinya.
Arlan yang mendengarnya justru menelan ludah, perutnya memang sudah keroncongan sejak pagi akibat kepanikan di kantor polisi. Namun, ia juga setuju dengan apa yang dikatakan kakaknya.
Althaf membuka sabuk pengamannya, lalu menoleh ke belakang menatap Arlan dengan senyum tipis, kemudian beralih menatap Ayara.
"Apanya yang kurang pantas? Lagi pula, kalian belum makan siang gara-gara mengurus masalah ini di kantor polisi. Sudah, ikut saja," ucap Althaf, tidak menerima penolakan.
Sebelum Ayara sempat melayangkan protes lagi, Althaf sudah lebih dulu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ayara, lalu menunggu dengan sabar hingga kakak beradik itu keluar.
Mau tidak mau, Ayara akhirnya melangkah turun dengan perasaan serba salah. Ia merapikan bajunya sekilas, sementara Arlan mengekor di belakang dengan langkah kikuk, terkagum-kagum melihat pelayan restoran berpakaian rapi membukakan pintu utama dengan senyuman ramah.
Begitu mereka melangkah masuk, AC dingin langsung menyambut, berpadu dengan aroma makanan lezat dan interior ruangan yang didominasi warna kayu hangat serta lampu gantung artistik. Beberapa pengunjung berpenampilan mewah sempat menoleh sekilas ke arah mereka, namun Althaf dengan auranya yang kuat membuat siapa pun mengalihkan pandangan kembali.
Althaf memesan sebuah meja privat di sudut ruangan dekat jendela besar yang langsung menghadap ke taman hijau di luar.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita