“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Kado di Tong Sampah
Sore itu, aku pulang membawa sebuah kantong kertas cokelat.
Isinya sederhana. Sebuah vas keramik putih kecil dengan lukisan bunga matahari di sisinya, ditemani dua tangkai bunga matahari sungguhan yang kubeli dari penjual bunga di pinggir jalan.
Harganya lima puluh ribu rupiah.
Bukan hadiah mahal. Bukan sesuatu yang bisa membuat orang terkejut atau memamerkannya kepada teman-teman. Aku tahu itu. Namun, ketika melihat lukisan bunga matahari di permukaan vas tadi, aku langsung teringat pada ucapan Laras beberapa tahun lalu.
Kalau punya rumah sendiri, aku mau ada bunga matahari di jendela.
Waktu itu kami belum memiliki banyak hal. Rumah yang kami tempati pun masih sederhana. Laras mengucapkannya sambil menunjuk jendela kecil di ruang tengah, membayangkan suatu hari nanti rumah kami akan terlihat lebih cerah.
Aku masih mengingat wajahnya ketika mengatakan itu.
Karena itulah aku membeli vas tersebut.
Aku tidak berharap Laras akan memelukku atau mengucapkan terima kasih berkali-kali. Aku hanya ingin memberinya sesuatu yang pernah dia inginkan. Sesuatu yang mungkin sudah dilupakannya, tetapi masih kusimpan dalam ingatan.
Saat memasuki rumah, aku meletakkan kantong itu di meja makan. Aku mengeluarkan vas dan memasukkan dua tangkai bunga matahari ke dalamnya. Warnanya kuning cerah, kontras dengan dinding rumah yang pucat.
Aku menggeser vas itu sedikit ke tengah meja.
Sederhana, tetapi cukup membuat meja makan terlihat berbeda.
Aku baru hendak merapikan daun bunga yang terlipat ketika suara Ibu Retno terdengar dari arah ruang tengah.
“Apa itu?”
Aku menoleh. Ibu Retno berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Pandangannya tertuju pada vas kecil di atas meja.
“Vas bunga, Bu.”
“Memangnya Ibu tidak bisa melihat?”
Aku tidak menjawab.
Beliau mendekat, lalu memandangi vas itu dari berbagai sisi. Tatapannya berhenti pada lukisan bunga matahari yang tidak terlalu besar.
“Beli beginian?”
“Iya, Bu.”
“Berapa harganya?”
“Lima puluh ribu.”
Ibu Retno langsung mengangkat alis.
“Hadiah lima puluh ribu? Orang kasih hadiah perhiasan, tas bagus.”
Aku menunduk sebentar, merapikan ujung kantong kertas yang terlipat.
“Ini cuma vas, Bu,” lanjutnya. “Bukan barang yang pantas dijadikan hadiah untuk istri sendiri.”
Aku tahu apa yang ingin beliau katakan. Bagiku, harga bukan satu-satunya ukuran sebuah pemberian. Namun, menjelaskan itu kepada Ibu Retno hanya akan membuat percakapan semakin panjang.
“Kalau Laras suka, sudah cukup buat saya,” jawabku pelan.
Ibu Retno tertawa pendek.
“Kamu selalu punya alasan untuk membenarkan barang murah.”
Beliau berbalik dan meninggalkanku di meja makan.
Aku kembali memandang vas itu.
Ada sedikit goresan pada bagian bawahnya. Aku baru menyadarinya ketika mengangkat vas untuk memindahkannya ke dekat jendela. Goresan itu tidak terlalu terlihat, jadi aku membiarkannya.
Aku mengambil selembar kartu kecil yang sudah kusiapkan sejak dari rumah. Dengan pulpen hitam, kutulis satu kalimat.
Dulu kamu mau bunga matahari di jendela.
Aku menyelipkan kartu itu di bawah vas.
Setelah itu, aku menunggu Laras pulang.
Jam dinding bergerak melewati pukul tujuh malam ketika suara mobil terdengar dari depan rumah.
Aku sedang berada di dapur, mencuci gelas yang baru kugunakan. Begitu mendengar pintu depan dibuka, aku mengeringkan tangan dengan kain lap.
Laras masuk sambil membawa tas kerja. Wajahnya terlihat lelah. Ia meletakkan tas di sofa, melepas sepatu, lalu berjalan ke ruang makan tanpa menyapaku.
Pandangan Laras jatuh pada vas bunga matahari.
Ia berhenti.
Aku berdiri beberapa langkah darinya, menunggu reaksinya.
Laras mendekat, memandangi vas itu, lalu mengangkatnya. Matanya sempat melihat dua tangkai bunga yang mulai sedikit menunduk setelah beberapa jam berada di dalam rumah.
“Apa ini?” tanyanya.
“Aku membelikanmu bunga.”
“Bunga?”
“Vasnya juga.”
Laras membalik vas itu, melihat bagian bawahnya, lalu mengembalikannya ke meja dengan gerakan kasar.
“Ini yang kamu anggap hadiah?”
Aku terdiam.
“Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang pernah kamu bilang kamu suka.”
“Kapan aku bilang suka benda seperti ini?”
Aku menatapnya. Ada banyak jawaban yang ingin kusampaikan, tetapi kalimat itu tertahan di tenggorokan.
Aku ingat kapan Laras mengatakannya. Aku ingat jendela kecil di rumah kontrakan kami. Aku bahkan masih ingat bagaimana ia tersenyum ketika membayangkan bunga matahari di sana.
Namun, Laras menatapku seolah aku baru saja mengarang cerita untuk membenarkan hadiah murah.
“Sudahlah, Laras. Kalau kamu tidak suka, tidak apa-apa.”
“Bukan soal suka atau tidak suka.” Ia mengembuskan napas kesal. “Kamu benar-benar tidak mengerti, ya?”
Aku tidak menyela.
Laras mengambil vas itu lagi. Kali ini, ia membawa vas beserta dua tangkai bunga menuju teras depan.
Aku mengikutinya dengan langkah tertahan.
“Laras, hati-hati. Itu keramik.”
Ia tidak menoleh.
Di depan rumah, terdapat tong sampah yang diletakkan dekat pagar. Laras berhenti di sampingnya, lalu mengangkat tangan.
Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, vas itu sudah melayang masuk ke dalam tong sampah.
Prang!
Suara keramik pecah terdengar jelas.
Aku berhenti di ambang pintu.
Dua tangkai bunga matahari terlempar di antara sampah rumah tangga. Pecahan putih vas menyebar di dasar tong. Lukisan bunga matahari pada permukaannya terbelah menjadi beberapa bagian.
Laras menepuk kedua telapak tangannya seolah baru saja membuang sesuatu yang mengganggu.
“Lain kali, jangan beli barang seperti ini lagi.”
Aku menatap tong sampah tanpa menjawab.
Sesuatu yang kubawa pulang dengan hati-hati kini sudah hancur. Bukan karena terjatuh. Bukan karena tersenggol. Laras sendiri yang melemparkannya.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Ketika hendak berbalik masuk, mataku menangkap selembar kartu kecil yang terlepas dari bawah vas. Kartu itu jatuh di antara pecahan keramik, tetapi bagian yang bertuliskan tinta hitam masih terlihat.
Dulu kamu mau bunga matahari di jendela.
Aku menatap tulisan itu beberapa saat.
Laras sudah berjalan lebih dulu ke dalam rumah. Ia tidak melihat ke belakang, tidak menanyakan apakah aku baik-baik saja, dan tidak mengatakan apa pun tentang kartu tersebut.
Aku masih berdiri di teras ketika suaranya terdengar dari ruang tengah.
“Sudah, jangan dibahas lagi. Aku capek.”
Aku akhirnya masuk.
“Baik,” jawabku.
Hanya itu.
Aku tidak meminta Laras mengambil kembali vas tersebut. Aku juga tidak memaksanya membaca kartu yang kutulis. Kalau sebuah pemberian harus dijelaskan berkali-kali agar dianggap berarti, mungkin memang tidak ada lagi yang bisa kujelaskan.
Malam itu, kami makan tanpa banyak bicara.
Laras sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia membalas pesan, lalu kembali menatap layar. Aku duduk di seberangnya, menghabiskan makanan yang sudah dingin.
Aku tidak menyinggung bunga matahari lagi.
Setelah makan, aku membersihkan meja dan mencuci piring. Ketika melewati teras, aku melihat tong sampah itu masih berada di tempatnya. Aku sempat berhenti, tetapi tidak membukanya.
Belum sekarang.
Rumah mulai sunyi ketika malam semakin larut.
Laras sudah tidur di kamar. Lampu ruang tengah dimatikan, menyisakan cahaya kecil dari dapur. Aku duduk di tepi ranjang beberapa menit, memastikan napas Laras teratur dan matanya benar-benar terpejam.
Lalu aku bangkit perlahan.
Aku mengambil sandal dan berjalan keluar tanpa menyalakan lampu teras. Udara malam terasa lembap. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas.
Tong sampah itu masih berada di dekat pagar.
Aku mengangkat tutupnya.
Bau sisa makanan bercampur dengan aroma sampah yang mulai mengendap. Aku menahan napas, lalu mencari kartu kecil yang kulihat sebelumnya.
Aku tidak mengambil vas yang sudah pecah. Pecahan keramik itu tidak akan bisa kembali utuh hanya karena kubawa masuk. Dua tangkai bunga matahari pun sudah terjepit di antara sampah.
Yang kucari hanya kartu itu.
Setelah menemukannya, aku mengangkatnya dengan hati-hati. Ada noda pada salah satu sudutnya, tetapi tulisan di tengah masih terbaca. Aku mengusap permukaannya dengan ibu jari, kemudian membersihkan sisa kotoran menggunakan kain kecil yang kubawa.
Aku berdiri beberapa saat di dekat tong sampah.
Dulu, ketika Laras mengatakan ingin memiliki bunga matahari di jendela, aku percaya bahwa kebahagiaan kami tidak harus mahal. Rumah sederhana, meja makan kecil, dan dua orang yang saling mengingat keinginan masing-masing sudah terasa cukup.
Sekarang, vas seharga lima puluh ribu rupiah saja dianggap tidak pantas berada di rumah ini.
Aku memasukkan kartu itu ke saku, menutup kembali tong sampah, lalu masuk.
Di kamar, aku membuka laci meja yang berada di samping ranjang. Di dalamnya tersimpan beberapa barang lama yang belum pernah kubuang. Aku mengeluarkan foto pernikahan kami, memandangnya sebentar, lalu menyelipkan kartu bunga matahari di belakang bingkainya.
Aku tidak ingin kartu itu ikut hilang.
Setidaknya, aku masih bisa menyimpan sesuatu yang pernah berarti bagiku.
Setelah mengembalikan foto ke tempatnya, aku menutup laci perlahan.
Aku kembali ke pojok dapur untuk mengambil segelas air sebelum tidur. Di sana, sebuah bangku plastik berdiri miring dekat dinding. Salah satu kakinya tidak lagi seimbang, membuat duduk di atasnya harus dilakukan dengan hati-hati.
Aku menatap bangku itu cukup lama.
Sudah berulang kali aku melihat Laras memperlakukan barang-barang sederhana seolah semuanya hanya pantas berada di tempat yang tidak terlihat. Bangku itu, vas bunga matahari, dan mungkin juga aku.
Aku duduk di kursi dekat meja dapur, membiarkan kesunyian memenuhi ruangan.
Tidak ada yang perlu kubela malam ini. Tidak ada yang perlu kupaksa untuk mengerti.
Namun, satu pertanyaan terus muncul dalam pikiranku.
Apakah Laras benar-benar sudah melupakan keinginannya tentang bunga matahari di jendela, atau ia hanya memilih menganggap bahwa keinginan itu tidak pernah berarti apa-apa?
Aku menatap laci yang menyimpan kartu kecil tersebut.
Untuk malam ini, aku tidak punya jawabannya.
Yang kutahu, aku tidak lagi ingin memohon agar kenangan yang kusimpan dihargai oleh orang yang sama-sama pernah mengalaminya.
Aku mematikan lampu dapur dan berjalan kembali ke kamar.
Di balik pintu yang tertutup, Laras masih tidur dengan tenang. Ia mungkin sudah melupakan vas yang dibuangnya. Mungkin besok pagi, kejadian itu bahkan tidak akan terlintas lagi dalam pikirannya.
Bagiku, suara keramik pecah tadi masih tertinggal.
Bukan semata-mata karena sebuah vas murah telah hancur, melainkan karena untuk pertama kalinya aku merasa bahwa hal-hal kecil yang kulakukan demi Laras tidak lagi memiliki tempat di hatinya.
Aku berbaring membelakangi Laras.
Ponselku bergetar pelan di atas meja.
Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Pak Surya.
Pak, dokumen sudah di meja.
Aku membaca pesan itu sekali, lalu mengetik balasan singkat.
Besok pagi.
Ponsel kembali sunyi.
Aku meletakkannya, memejamkan mata, dan membiarkan malam berlalu tanpa menambahkan satu kata pun lagi.