Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Suasana meja makan perlahan kembali tenang. Meski kursi Elang kosong, meski bayam di lantai baru saja dibersihkan. Dan meski Theo serta Alya masih memasang wajah tidak rela. Arabelle tetap makan dengan santai, sesekali mengambil ikan. Sesekali meminum jus jambu yang tadi ia minta.
Beberapa menit kemudian, Ara meletakkan sendoknya. Lalu melirik ke arah Theo dan Alya. Keningnya langsung berkerut, piring keduanya hampir sama.
Hanya nasi, tidak ada ikan dan tidak ada sayur. Bahkan, bayam di mangkuk mereka masih utuh. Theo memperhatikan meja makan.
Lalu bertanya kepada pelayan. "Apa nggak ada daging?"
Salah satu pelayan baru membuka mulut. Namun, Ara sudah lebih dulu menjawab.
"Nggak ada,"
Theo menoleh. "Kenapa?"
Ara menghela napas panjang. "Saat mau dipotong sapinya keburu kabur."
Nathan yang baru saja minum air langsung hampir tersedak. Mohan buru-buru menunduk, bahunya mulai bergetar.
Theo berkedip. "Hah?"
Ara mengangguk serius. "Iya, sapinya udah lari."
Theo masih berusaha mencerna jawaban itu. Sementara Alya ikut bertanya.
"Kalau ayam goreng ada?"
Ara langsung menjawab tanpa berpikir.
"Udah diborong."
"Oleh siapa?" Tanya Alya bingung.
"Sama Upin, Ipin,"
Alya melotot. "Hah?!"
"Mail hari ini nggak jualan jadi makan ikan saja." Lanjut Ara dengan wajah serius.
Nathan langsung menutup mulutnya. Takut tertawa dan Mohan memilih fokus pada gelasnya. Sedangkan, Alya kini menatap Ara dengan kesal. Jelas-jelas wanita itu sedang mempermainkan mereka. Dan lebih menyebalkan lagi, wajahnya terlihat sangat serius.
Ara kemudian berdiri, mengambil beberapa potong ikan. Lalu meletakkannya ke piring Theo. Kemudian ke piring Alya.
"Kalian makan ini."
Theo langsung mengernyit. "Aku nggak terlalu suka ikan."
Ara mengangguk. "Lalu?"
Theo tidak menjawab, Ara menunjuk ikan itu.
"Daging ikan juga daging." Kemudian ia melanjutkan, "Kalau kalian nggak suka..." Ara mengangkat salah satu alisnya.
"Yang salah bukan ikannya,"
Theo dan Alya menunggu.
"Tapi yang masaknya nggak enak."
Beberapa pelayan yang berdiri di dekat meja langsung menunduk. Salah satu bahkan menggigit bibirnya sendiri dengan kesal.
Nathan memejamkan mata sesaat, Mohan pura-pura batuk. Ara sama sekali tidak merasa bersalah. Lalu ia mengambil sendok sayur. Dan menuangkan bayam bening ke mangkuk Theo dan Alya.
"Nah, makan ini." Katanya.
Theo langsung tampak ingin menangis. Alya bahkan lebih parah.
"Malam-malam itu bagus makan sayur begini." Ucap Ara santai.
"Aku nggak suka bayam." Keluh Alya.
Ara tersenyum. "Bayam juga nggak suka kamu, gampang kan?"
Alya langsung terdiam, Nathan hampir tersenyum. Ara kembali duduk. Kemudian mulai mengoceh panjang.
Theo mulai kehilangan harapan.
"Waktu makan malam hanya sampai jam delapan." Lanjut Ara. "Setelah itu lambung bekerja mencerna makanan. Kalau hidup sehat, badan sehat. Kalau badan sehat, otak sehat. Kalau otak sehat..."
Ara menatap Theo. "Nilai sekolah juga pasti sehat."
Theo langsung tersedak. "Itu nyindir!"
"Terserah." Jawab Ara santai.
Kemudian ia mengambil jus jambunya. Lalu tanpa sengaja melirik ke arah Nathan. Pria itu terlihat diam sejak tadi. Hanya memperhatikan dirinya, Ara mengangkat alis.
"Tuan Nathan..."
Nathan tersadar. "Hm?"
"Kenapa bengong?"
Nathan berdehem. "Tidak."
Ara menyipitkan mata. Lalu bertanya santai,
"Mau disuapi?"
"Pffft!" Theo langsung menyemburkan air minumnya, Alya membelalak. Mohan menunduk sangat cepat. Sementara Nathan sendiri tampak benar-benar terkejut. Batuk kecil keluar dari tenggorokannya.
"Ahem."
Ara tampak polos. "Aku cuma nanya apa yang salah?"
Nathan memijat pelipisnya. Theo dan Alya saling pandang. Lalu diam-diam mencapai kesimpulan yang sama. Ibu tiri mereka memang aneh. Tetapi satu hal sudah pasti, wanita itu sama sekali bukan tipe orang yang mudah ditindas.
Setelah beberapa saat memperhatikan Theo dan Alya yang akhirnya mulai memakan makan malam mereka dengan wajah terpaksa, Arabelle tiba-tiba berdiri dari kursinya.
Semua orang langsung menoleh Ara mengambil sebuah nampan kosong. Lalu mulai menata beberapa makanan di atasnya.
Sepiring kecil ikan, semangkuk bayam bening, segelas jus jambu dan segelas air mineral. Dan satu set piring beserta sendok.
Theo yang melihat itu langsung mendengus.
"Pasti buat dirinya sendiri."
Ara tidak menjawab. Ia justru sibuk memperbaiki letak mangkuk agar tidak tumpah. Kemudian menoleh ke arah pelayan.
"Boleh minta mangga yang sudah dikupas?"
Pelayan itu berkedip.
"Lho?"
"Mangga..." Pelayan berpikir.
"Oh, ada Nyonya."
"Tolong ambilkan."
"Baik." Pelayan itu segera bergegas ke dapur.
Nathan yang sejak tadi memperhatikan hanya diam. Sementara Alya mengernyit penasaran.
"Mau buat apa dia?" Bisiknya pada Theo.
Ara menjawab santai. "Buat dimakan."
"Ya kami juga tahu." Ketus Alya kesal.
Theo langsung menyela. "Lalu buat siapa?"
Ara melirik ke arah lantai atas.
"Buat Elang."
Seketika suasana meja makan sedikit berubah, Theo berkedip dan Alya juga. Bahkan, beberapa pelayan ikut menoleh. Ara melanjutkan sambil tetap merapikan nampan.
"Dia pasti lagi di kamar. Mungkin sambil ngerjain tugas kuliah. Mungkin juga lagi pura-pura marah."
Theo langsung tersedak. "Pura-pura marah apanya?"
Ara mengangkat bahu.
"Pokoknya begitulah..."
Tak lama kemudian pelayan datang membawa sepiring potongan mangga yang sudah dikupas rapi.
Ara langsung mengambilnya.
"Nah, cakep." Potongan mangga itu ia letakkan di atas nampan.
Nathan memperhatikan semua itu dalam diam. Tatapannya jatuh pada wanita yang sejak sore terus bertengkar dengan anak-anaknya. Yang menyuruh mereka membersihkan rumah. Yang memaksa mereka makan sayur. Yang tidak segan membalas ucapan mereka. Namun, sekarang, diam-diam menyiapkan makanan untuk Elang. Nathan tanpa sadar tersenyum tipis, ia akhirnya mengerti satu hal Arabelle memang galak. Tetapi wanita itu tidak benar-benar membenci anak-anaknya. Sebaliknya dia justru memperhatikan mereka.
Ara mengangkat nampan itu, Lalu berkata santai.
"Aku ke atas dulu, kalian habiskan makan ... kalau nggak siap-siap cuci piring,"
Theo langsung menatapnya curiga.
"Mau ngapain?"
"Menyuapi Sumala," cibir Ara, karena dia tadi mendengar semua ucapan mereka.
Theo langsung melotot, Alya menutup mulutnya agar tidak tertawa. Sementara Nathan hanya menggeleng kecil.
Alya masih menatap ke arah tangga yang baru saja dilalui Arabelle. Entah kenapa ia mulai merasa khawatir.
"Kak Elang bakal ngamuk." Gumamnya pelan.
Nathan yang sedang minum air menoleh.
"Ayah..."
"Hm?"
Alya menggigit bibirnya. "Ayah nggak mau menghentikannya?"
Nathan mengangkat alis. "Menghentikan siapa?"
"Wanita it—" Alya langsung berhenti.
Nathan menatap putrinya datar.
"Ibu..."
Alya langsung mengernyit. "Nggak mau."
"Alya." Nathan memanggil namanya sekali.
Membuat gadis itu langsung menghela napas pasrah.
"Ya, ya."
Kemudian dengan sangat terpaksa ia melanjutkan, "Ibu tiri."
Nathan baru kembali makan. Alya melanjutkan,
"Mungkin beliau akan dilempar dari lantai dua."
Theo langsung mengangguk cepat. "Setuju."
"Kak Elang lagi marah."
Nathan tetap tenang. "Biarkan saja..."
Seketika Alya dan Theo menoleh bersamaan.
"Hah?!"
Nathan mengambil jusnya. Lalu berkata santai,
"Kalau Elang bisa mengatasi Dosen yang marah, dia bisa mengatasi Arabelle."
Theo menggeleng. "Ayah salah."
Nathan mengangkat alis. "Kenapa?"
"Karena wanita itu lebih mengerikan dari Dosen yang menolak skripsinya."
Mohan yang masih berada di sana langsung menunduk menahan tawa. Sedangkan Nathan hanya tersenyum tipis.
Di lantai dua.
Arabelle berdiri di depan sebuah pintu besar. Sebuah nampan masih berada di tangannya. Ara mengetuk pintu tetapi tak ada jawaban. Kemudian terdengar suara Elang dari dalam.
"Aku nggak lapar!"
Ara menghela napas. "Lalu?"
"Pergi!"
"Nggak, mau."
Kemudian suara Elang terdengar lagi.
"Aku nggak mau buka pintu."
Ara mengetuk lagi.
"Kamu menyebalkan." Teriak Elang.
"Kamu juga." Jawab Ara santai.
Lima menit berlalu, pintu tetap tertutup. Ara mulai kehilangan kesabaran.
Tangannya mengetuk pintu lebih keras.
"Elang!"
"Tidak!"
"Buka pintunya!"
"Tidak!"
Ara memejamkan mata, menarik napas panjang. Lalu berkata dengan nada datar,
"Kalau kamu nggak buka..."
Elang mendengarkan dari balik pintu.
"Aku bakar kamar ini." Ara melanjutkan. "Biar sekalian kamu hangus."
Di dalam kamar, Elang membuka mata. Lalu menatap pintunya.
"Aku nggak percaya." Teriaknya.
Ara langsung menjawab. "Aku hitung sampai tiga."
Elang memejat pelipis.
"Astaga..."
"Satu."
Elang tetap berbaring.
"Dua."
Elang mulai kesal.
"Dua setengah."
"Apa ada angka itu?!" Teriak Elang.
"Dua koma tujuh lima."
Elang langsung bangkit dari tempat tidurnya.
"Ya Tuhan..."
"Dua koma sembilan."
Pintu akhirnya terbuka. Elang berdiri di sana dengan wajah paling kesal yang bisa dibuatnya. Rambutnya masih sedikit berantakan. Kaos rumahnya kusut, dan ekspresinya jelas menunjukkan ia tidak senang.
Ia mendapati Arabelle berdiri santai sambil membawa nampan makanan.
Ara mengangkat alis. "Oh."
Elang menyilangkan tangan. "Apa?"
Ara menunjuk wajahnya. "Kamu ternyata masih hidup."
Elang hampir menutup pintu lagi. Namun, Ara sudah lebih dulu mengganjalnya dengan kaki. Kemudian mengangkat nampan yang dibawanya.
"Nih."
Elang menatap nampan itu, lalu menatap Ara. Lalu kembali menatap nampan.
"Aku bilang aku nggak lapar."
Ara mengangguk. "Dan aku bilang aku nggak peduli."
Dengan santai ia mendorong tubuh Elang masuk ke dalam kamar. Membuat pemuda itu terpaksa mundur beberapa langkah.
"Apa sih—"
Belum selesai Elang mengomel, Ara sudah mendekat. Nampan masih berada di tangannya. Lalu dengan suara pelan yang hanya bisa didengar mereka berdua, Ara berbisik,
"Mau makan?"
Elang menyipitkan mata.
"Atau..." Ara tersenyum tipis.
"Aku lapor sama ayah kamu kalau kalian bertiga baru saja menyambut ibu tiri tercinta kalian dengan ember air dan tepung."
Wajah Elang langsung berubah. Ara melanjutkan tanpa dosa.
"Terus aku bilang juga kalau kalian menindasku."
"Kami tidak menindas—"
"Ssst." Ara mengangkat satu jari.
"Biarkan aku selesai dulu berbicara."
Elang menggertakkan giginya.
"Kalau ayah kalian tahu..." Ara mulai menghitung dengan jari.
"Motor." Satu jari terangkat. "Mobil." Dua jari.
"Uang jajan." Tiga jari. "Kartu kredit." Empat jari. "Mungkin semuanya dicabut."
Elang membeku.
Ara tersenyum manis. "Jadi gembel itu mudah banget."
Elang menatapnya tidak percaya.
"Sekarang pilih." Ara mengangkat nampan.
"Tinggal nolak makan. Dalam hitungan detik kamu jadi gembel."
"Mana ada hubungan—"
"Sangat ada ... mau coba?" Potong Ara cepat.
Elang mengepalkan tangannya. Akhirnya dengan gerakan cepat ia merebut nampan dari tangan Ara.
Ara langsung tersenyum puas.
"Nah, begitu dong! Anak baik."
Elang ingin melempar nampan itu sekalian ke luar jendela. Namun, ia menahan diri Ara menunjuk isi nampan.
"Habiskan!"
"Tidak."
"Habiskan!"
"Tidak."
Ara mengangkat alis.
"Kamu mau aku panggil ayahmu sekarang?"
Elang langsung diam. Ara mengangguk puas. Kemudian menunjuk mangkuk bayam.
"Oh iya... jangan sampai kamu buang sayurnya ke toilet."
Elang langsung melotot. Ara tersenyum lebih lebar.
"Kalau ketahuan..." Ia mencondongkan tubuh sedikit.
"Aku suruh kamu mungut lagi."
"Mana bisa!"
"Bisa..."
"Tidak bisa!"
"Aku cari caranya."
Elang benar-benar ingin berteriak tetapi Ara tampak santai. Seolah sedang membicarakan cuaca sore hari. Ara lalu menepuk bahu Elang.
"Otak kamu butuh asupan. Selamat makan..."
Pintu kamar langsung ditutup tepat di depan wajahnya, lebih tepatnya dibanting. Ara terdiam beberapa detik. Lalu berteriak dari luar.
"Dasar tidak sopan! Aku belum selesai bicara!" Ara mendengus. Kemudian berbalik dan berjalan santai meninggalkan koridor.
Di dalam kamar, Elang berdiri mematung. Nampan masih berada di tangannya. Beberapa detik kemudian ia berjalan menuju meja dekat sofa. Lalu meletakkan nampan itu
Tatapannya langsung jatuh pada musuh utama malam ini sayur bayam bening.
Elang yakin ayahnya akan lebih percaya kepada istri barunya dibanding dirinya. Elang duduk di sofa. Lalu menatap mangkuk bayam itu seolah sedang menatap lawan hidupnya.
"Ini gila..." Gumamnya. Ia mengambil sendok, menusuk sehelai bayam. Lalu mengangkatnya dengan wajah menderita.
"Benar-benar gila..." Elang akhirnya memasukkannya ke mulut. Dengan ekspresi seperti seseorang yang sedang menerima hukuman negara. Sementara itu satu pikiran terus berputar di kepalanya.
"Aku harus membuat perhitungan dengan wanita itu." Tatapannya mengeras.
"Secepatnya, dia harus angkat kaki dari rumah ini!"
Elang membuang sendok ke lantai dengan kesal.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣