Seratus ribu tahun setelah Perang Senja yang memusnahkan para Dewa Asli dan Iblis Primordial, para "Penguasa Abadi" di Sembilan Langit menjadikan dunia fana sebagai ladang ternak spiritual yang dipanen setiap sepuluh ribu tahun. Lin Xuan, seorang murid yatim piatu dari Sekte Pedang Awan Biru yang dikhianati dan diambil Akar Spiritualnya demi menghidupkan putra mahkota sekte, dibuang ke dasar Jurang Tulang Iblis. Di ambang kematian, darahnya menyalakan Lentera Abu Senja—pusaka terlarang peninggalan Dewa Senja terakhir—yang membentuk kembali tubuhnya dengan Meridian Kembar Dewa-Iblis. Dengan menggenggam pedang di satu tangan dan api senja di tangan lain, Lin Xuan merangkak naik dari dasar jurang untuk menumbangkan sekte-sekte munafik, menyatukan ras Iblis dan Manusia, serta meruntuhkan takhta palsu di Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Penghinaan di Jalanan & Patahnya Lengan Klan Liu
Sore harinya, setelah mengantongi uang muka sebesar tiga ribu keping Batu Spiritual Tingkat Rendah dan gulungan informasi rahasia tentang Klan Liu dari Su Wan'er, Lin Xuan berjalan keluar dari Paviliun Bulan Bintang menuju Pasar Gelap Jalanan Utara untuk membeli sebuah kotak kayu khusus dan beberapa jimat penyegel.
Dari gulungan informasi Paviliun Bulan Bintang, Lin Xuan telah mengetahui struktur kekuatan Klan Liu di Kota Kabut Hitam:
Klan Liu sejatinya berasal dari kota ini. Sejak putri sulung mereka, Liu Ruyan, diterima sebagai murid dalam Sekte Pedang Awan Biru dan bertunangan dengan putra Ketua Sekte Gu Changge, kedudukan Klan Liu di Kota Kabut Hitam meroket tajam. Kediaman cabang utama mereka di kota ini dipimpin oleh paman kandung Liu Ruyan yang bernama Liu Zhen (kultivator Ranah Pembangunan Fondasi Awal), dibantu oleh adik laki-laki Liu Ruyan yang terkenal arogan dan kejam, Liu Haoran (Pemurnian Qi Lapisan Kedelapan).
Yang membuat mata Lin Xuan memancarkan niat membunuh sedingin es adalah satu baris catatan rahasia di gulungan milik Paviliun Bulan Bintang:
"Setengah bulan yang lalu, Liu Zhen membeli satu porsi racun terlarang Bubuk Pelumpuh Jiwa Sembilan Hari dari pasar gelap dan mengirimkannya secara rahasia kepada keponakannya, Liu Ruyan, di Sekte Pedang Awan Biru."
Jadi racun di dalam sup teratai yang menghancurkan hidupku malam itu... berasal dari tangan Liu Zhen di kota ini," bisik Lin Xuan di balik topeng perunggunya.
Tepat saat Lin Xuan melintasi alun-alun Pasar Gelap Jalanan Utara, kerumunan kultivator di depannya tiba-tiba membuka jalan dengan wajah ketakutan.
PRAAANG!
Sebuah meja kayu milik seorang tabib tua penjual tanaman obat ditendang hingga hancur berantakan! Seorang kakek tabib berambut putih bersama cucu perempuannya yang baru berusia dua belas tahun tersungkur ke tanah berdebu.
Di hadapan mereka, berdiri seorang pemuda berpakaian sutra brokat hijau zamrud dengan kipas lipat di tangannya, dikawal oleh empat pengawal berbadan tegap dari Klan Liu (masing-masing berada di Pemurnian Qi Lapisan Ketujuh).
Pemuda sombong itu tidak lain adalah adik kandung Liu Ruyan, Liu Haoran.
Kakek tua tak tahu diri!" Liu Haoran menginjak tangan kakek tabib itu dengan sepatu bot sutranya sambil tertawa menghina. "Tuan Muda ini mau mengambil Akar Ginseng Seratus Tahun di lapakmu dengan harga sepuluh Batu Spiritual itu sudah merupakan berkah bagi hidupmu! Kakak perempuanku, Liu Ruyan, sebentar lagi akan menjadi pendamping Putra Suci Sekte Pedang Awan Biru, Gu Changge! Di Kota Kabut Hitam ini, apa pun yang diinginkan Klan Liu adalah milik Klan Liu!"
"Tuan Muda Liu, ampuni kakek saya!" gadis kecil cucu sang tabib menangis sambil memeluk kaki Liu Haoran. "Ginseng itu adalah warisan keluarga kami untuk membeli obat bagi ibu saya yang sakit keras!"
"Pergi kau pengemis kecil yang kotor! Pengawal, patahkan kaki kakek tua ini dan bawa cucunya ke kediaman kita untuk dijadikan pelayan cuci kaki!" perintah Liu Haoran sambil mengibaskan kipasnya dengan jijik.
Dua pengawal Klan Liu melangkah maju sambil menyeringai dan menghunus golok mereka untuk menebas kaki sang tabib tua. Para kultivator di sekeliling jalanan hanya berani menonton dari jauh sambil menahan napas—tidak ada yang berani menentang nama besar Klan Liu dan Sekte Pedang Awan Biru.
Namun tepat saat golok pengawal itu terayun turun—
TAP!
Sebuah tangan yang terbungkus sarung tangan hitam mencengkeram pergelangan tangan pengawal Klan Liu tersebut dari samping bagaikan capit besi!
Sosok berjubah hitam dengan Topeng Perunggu Rubah Malam telah berdiri tenang di antara para pengawal Klan Liu dan kakek tabib tersebut.
"Barang orang lain belum dibayar sesuai harganya, tapi kalian sudah berani mematahkan kaki penjualnya?" suara berat Lin Xuan terdengar dingin di tengah keheningan alun-alun pasar. "Ternyata anjing-anjing dari Klan Liu memang sama busuknya dari atas sampai bawah."
Wajah Liu Haoran langsung berubah merah padam mendengar kata-kata itu! Di seluruh Kota Kabut Hitam, sudah setahun terakhir ini tidak ada seorang pun yang berani memaki Klan Liu di depan umum!
"Bajingan bertopeng dari mana kau?! Berani menyebut Klan Liu sebagai anjing?!" teriak Liu Haoran murka. "Pengawal, robek topengnya dan patahkan kedua lengannya sekarang juga!"
"Mati kau!" keempat pengawal Pemurnian Qi Lapisan Ketujuh milik Klan Liu itu langsung mengerahkan Qi mereka secara bersamaan, menebaskan empat bilah golok ke arah leher, bahu, dan pinggang Lin Xuan!
"Kalian ingin mematahkan lengan? Baik, akan kutunjukkan bagaimana cara mematahkan lengan yang benar."
Mata Lin Xuan di balik topeng perunggu berkilat dingin. Tanpa mencabut pedang di punggungnya, ia hanya memutar pergelangan tangannya dan menyapu keempat pengawal itu dengan satu ayunan telapak tangan yang mengandung kekuatan fisik Sumsum Naga Hitam!
KRAAAK! KRAAAK! KRAAAK! KRAAAK!
Suara patahnya tulang lengan yang mengerikan terdengar empat kali berturut-turut!
Keempat pengawal Lapisan Ketujuh itu menjerit melolong saat golok mereka hancur dan tulang lengan kanan mereka semua patah mencuat menembus kulit, sebelum tubuh mereka terlempar sepuluh tombak menabrak dinding toko di seberang jalan!
Belum sempat Liu Haoran bereaksi karena saking terkejutnya, sosok Lin Xuan telah muncul tepat di hadapannya bagaikan hantu!
PLAK—KRAAAK!
Satu tamparan punggung tangan Lin Xuan menghantam pipi Liu Haoran hingga separuh giginya rontok bercampur darah, lalu kaki Lin Xuan menginjak pergelangan tangan kanan Liu Haoran yang tadi menginjak sang tabib tua, meremukkan tulangnya hingga hancur!
"AAAAAKHHHH! Tanganku! Tanganku!" Liu Haoran berguling-guling di tanah berdebu sambil memegangi pergelangan tangannya yang remuk dengan wajah pucat pasi penuh air mata dan ingus. "Kau... kau berani melukaiku?! Pamanku adalah Liu Zhen, kultivator Ranah Pembangunan Fondasi! Dan kakakku adalah Liu Ruyan dari Sekte Pedang Awan Biru! Kau pasti akan dicincang menjadi sepuluh ribu bagian malam ini juga!"
Lin Xuan menatap pemuda yang menjerit-jerit di bawah kakinya itu dengan tatapan datar, lalu melemparkan sekantong kecil berisi lima puluh Batu Spiritual kepada kakek tabib tua tadi dan berbisik: "Bawa cucumu pergi dari kota ini sekarang juga."
Setelah kakek tabib dan cucunya pergi sambil berterima kasih dengan air mata berlinang, Lin Xuan menunduk menatap Liu Haoran dan sengaja berkata dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh kerumunan di pasar:
"Pulang dan sampaikan pada pamanmu, Liu Zhen. Tidak perlu repot-repot mencariku... karena malam ini, saat bulan berada di puncak langit, aku sendiri yang akan datang ke kediaman Klan Liu untuk mengambil kepalanya!"
kalo bisa alur ceritax dibuat liku2 jgn baru 100 chapter sudah sampai di alam atas...buat panjang ceritax....