Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di Balik Pintu
Beberapa hari berlalu sejak kejadian di kantin. Laras menyadari sesuatu yang berubah di antara dirinya dan Arka. Mereka tidak lagi harus selalu punya alasan untuk berbicara. Kadang hanya sekadar menyapa, bertanya waktu pulang, atau sekadar berbagi catatan pelajaran yang tertinggal. Semua terasa sederhana namun berarti.
Suatu sore hujan turun sangat deras. Laras terpaksa berteduh di teras gerbang sekolah sambil menunggu hujan reda. Jam menunjukkan pukul lima sore dan suasana sudah mulai sepi. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, kaca jendela terbuka dan wajah Arka muncul dari dalam.
"Masuk, gue antar pulang. Hujannya nggak akan reda sebentar lagi," ajak Arka sambil membuka pintu penumpang depan.
Laras ragu sebentar. "Nggak usah repot, gue tunggu aja sampai reda. Rumah gue nggak jauh kok."
"Jauh atau dekat, lu bakal basah kuyup kalau jalan sekarang. Ayo cepat, gue nggak suka nunggu," kata Arka dengan nada yang tetap tegas tapi tidak kasar.
Laras akhirnya masuk ke dalam mobil. Di dalam terasa hangat dan nyaman. Di kursi belakang terlihat ada tumpukan buku medis dan selembar foto keluarga yang tergeletak di lantai. Laras buru-buru membuang muka agar tidak terlihat sedang memperhatikan barang pribadi Arka.
"Terima kasih ya," ucap Laras pelan setelah mobil berjalan meninggalkan area sekolah.
Arka hanya mengangguk sambil fokus menyetir. Sepanjang jalan mereka lebih banyak diam, tapi bukan keheningan yang canggung. Justru seakan kata-kata tidak perlu diucapkan untuk saling mengerti.
Sesampainya di depan rumah Laras, Laras membuka pintu mobil sambil tersenyum tulus. "Makasih banyak ya, Ka. Hati-hati di jalan."
"Sama-sama. Masuk dulu, tunggu sampai pintu tertutup baru gue jalan," jawab Arka sambil menatapnya sampai Laras masuk ke dalam pagar rumahnya.
Laras melambaikan tangan dari teras, dan mobil itu perlahan melaju pergi. Dia tidak tahu bahwa mobil itu tidak langsung pergi jauh. Arka berhenti di pinggir jalan tak jauh dari sana, menatap jendela kamar Laras yang baru saja menyala lampunya, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya sendiri.
Sesampainya di rumah, Arka tidak langsung masuk ke kamarnya. Dia berdiri di ruang tengah yang luas namun terasa sepi. Di dinding tergantung foto ayahnya yang merupakan seorang dokter terkenal. Suara ibunya terdengar dari ruang kerja sedang berbicara di telepon tentang urusan bisnis.
"Arka, sudah pulang? Kenapa tidak langsung masuk kamar?" tanya ibunya tanpa menoleh saat Arka melintas di depan ruang kerjanya.
"Sekolah sudah selesai, Bu. Aku ke atas dulu," jawab Arka pelan.
Di dalam kamarnya yang besar dan rapi, Arka duduk di tepi tempat tidur sambil menatap langit-langit. Orang-orang mengira dia memiliki segalanya, keluarga berada, pintar, dan populer. Tapi tidak ada yang tahu bahwa dia sering merasa kesepian di tengah kemewahan itu. Ayahnya sibuk di rumah sakit, ibunya sibuk mengelola bisnis. Makan malam bersama adalah hal yang sangat jarang terjadi di rumah ini.
Dan entah kenapa, saat dia merasa sepi seperti ini, wajah Laras muncul di pikirannya. Senyum sederhananya, cara dia menenangkan diri saat marah, dan tatapan matanya yang seakan selalu mengerti tanpa perlu banyak bicara.
Arka tersenyum sendiri sambil memegang kemudi mobil tadi di imajinasinya. Mungkin Laras bukan sekadar teman sekelompok tugas baginya sekarang. Mungkin dia sudah menjadi sesuatu yang lebih penting dari itu.