Alur cerita ringan...
Dan novel ini berisi beberapa cerita dengan karakter yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arran Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pukul 3 sore – Kediaman Keluarga Anna
Angin sore berhembus pelan melewati halaman rumah keluarga Anna, membawa aroma bunga kamboja yang mekar di sisi pagar. Mobil hitam dengan bagasi terbuka terparkir di depan, koper-koper sudah rapi diatur, menandakan perjalanan jauh yang akan segera dimulai.
Jason menatap adik perempuannya sebentar sebelum mendekat pada sosok tinggi yang berdiri di dekat pintu mobil. Dengan suara rendah, hampir seperti ancaman, ia berbisik di telinga pria itu.
"Jaga adik gue baik-baik. Awas aja lo kalau macem-macem," ucap Jason sambil menyipitkan matanya penuh peringatan.
Nicholas hanya berdehem singkat, tak membalas panjang.
Di sisi lain, Anna berusaha menenangkan ibunya yang tampak murung. "Mami jangan sedih, Anna cuma sepuluh hari kok di sana," katanya sambil meraih tangan sang ibu.
"Sepuluh hari itu lama, Nak. Ini pertama kalinya kamu jauh dari Mami. Berat banget rasanya," lirih Mami Tania, memeluk putrinya erat seolah tak ingin melepas.
"Tante tenang aja," sela Nicholas sambil melirik ke arah Mami Tania. "Kalau pekerjaannya cepat selesai, kami pun akan cepat kembali. Dan Anna akan aman selama perginya bersama saya." Senyumnya tipis namun meyakinkan.
Mami Tania mengangguk pelan. "Tidak perlu terburu-buru, Tante percaya kamu bisa menjaga Anna dengan baik."
Pak Aditama, yang sejak tadi memperhatikan, ikut menambahkan. "Kalian baik-baik ya selama di sana. Jangan terlalu keras bekerja, takutnya nanti malah jatuh sakit."
"Iya, Tante, Om. Tenang aja," jawab Nicholas sambil tersenyum sopan.
Jason menepuk bahu adiknya. "Dek, jangan nyusahin Nicho di sana ya."
Anna langsung memutar bola mata. "Apa sih, Bang? Kapan aku nyusahin orang?" jawabnya ketus.
"Sudah-sudah," potong ayah Anna, suaranya tegas namun hangat. "Sebaiknya kalian berangkat. Satu jam lagi pesawat kalian akan lepas landas."
Tak ada waktu lagi untuk berlama-lama. Setelah berpamitan, Nicho dan Anna pun menuju bandara.
********
Bandara Internasional Vancouver, Kanada
Lampu-lampu bandara memantulkan cahaya ke kaca-kaca besar yang menghadap landasan. Setelah sembilan belas jam penerbangan yang melelahkan, akhirnya pesawat mereka mendarat di Kanada. Udara dingin langsung menyambut ketika mereka melangkah keluar.
Dari kejauhan, seorang pria berjas hitam melambaikan tangan dan berjalan cepat ke arah mereka.
"Selamat datang, Pak dan Nona. Silakan ikut saya, saya akan mengantar kalian ke hotel," ucapnya sopan.
Nicholas hanya mengangguk singkat, begitu pula Anna yang lebih memilih diam.
Perjalanan ke hotel memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Mobil melaju melewati deretan gedung tinggi yang diterangi lampu jalan, hingga akhirnya mereka tiba di lobi hotel yang megah.
Anna berdiri di samping koper, matanya mengikuti gerakan Nicholas yang baru saja menerima kunci kamar dari resepsionis. Namun, ia mengernyit heran ketika melihat pria itu hanya memegang satu kunci.
"Pak, bukankah Bapak memesan dua kamar? Kenapa hanya mengambil satu kunci saja? Punya saya mana?" tanyanya, langkahnya terhenti saat Nicholas menghampirinya.
"Pihak hotel terpaksa membatalkan satu kamar karena ada tamu yang sangat penting," jawab Nicholas santai. "Sebagai kompensasi, mereka memberi kamar paling besar dengan fasilitas lengkap dan dua tempat tidur."
Kening Anna berkerut. "Tidak profesional sekali. Sepenting apa pun tamu itu, seharusnya mereka nggak boleh seenaknya membatalkan. Biar saya protes ke mereka." Anna hendak melangkah menuju meja resepsionis.
"Tidak perlu," potong Nicho cepat. "Mereka sudah mengembalikan uang bahkan lebih, dan memberi fasilitas yang bagus."
Anna menarik napas panjang. "Kalau begitu, kita cari hotel lain saja, Pak."
"Tidak bisa. Aku sudah mengambil kunci. Mau ditaruh di mana muka aku kalau aku mengembalikan kunci ini?" jawab Nicho dingin.
"Kalau gitu, Pak Nicho masuk saja. Saya akan cari hotel di sekitar sini," ujar Anna, hendak berlalu.
"Jangan keras kepala, Anna. Ini sudah tengah malam. Apa kamu nggak lelah?" Nada suaranya terdengar mulai menurun.
"Pak, saya sangat lelah sekarang. Tapi saya nggak bisa tidur di satu ruangan dengan Anda," jawab Anna serius.
"Kamu takut aku macam-macam?" tanyanya, menatap Anna lurus.
"Tentu. Anda ini pria dewasa. Nggak menutup kemungkinan Anda akan berbuat macam-macam pada saya," balas Anna tajam.
Nicholas tersenyum miring. "Sekalipun aku macam-macam, aku akan bertanggung jawab."
Anna langsung melotot, menyilangkan tangan di dada.
"Aku sangat lelah, ayo. Aku nggak akan macam-macam," ucap Nicholas, kali ini suaranya lembut.
Anna menghela napas panjang. Raut wajah pria itu memang menunjukkan kelelahan yang nyata. Mau tak mau, ia pun mengikuti Nicholas menuju kamar yang akan mereka tempati.
Begitu pintu kamar terbuka, Anna tertegun. Ruangan itu begitu besar, dengan jendela lebar yang memperlihatkan pemandangan kota Vancouver di malam hari. Sofa empuk, meja makan kecil, dapur mini—semua ada. Rasanya lebih seperti apartemen mewah daripada kamar hotel.
Anna melirik ke arah Nicholas yang sudah membaringkan diri di atas tempat tidur. Dalam hitungan menit, napasnya teratur, menandakan ia sudah terlelap.
Pelan-pelan Anna mendekat, lalu berjongkok di sampingnya. Dengan hati-hati, ia melepas sepatu pria itu, kemudian menarik selimut hingga menutupi dada.
"Dasar bayi besar," gumamnya lirih. "Kapan kamu akan mandiri, Kak? Nggak mungkin kan selamanya bergantung sama aku?"
Anna menatap wajah tenang itu beberapa detik, lalu tersenyum kecil. "Kalau lagi tidur gini, gantengnya nambah," ucapnya sambil mengelus lembut rambut Nicholas.
"Have a nice dream," bisik Anna sebelum beranjak, meninggalkan pria itu dalam tidurnya yang damai.
*******
Esok paginya, Anna terbangun lebih dulu dari Nicho. Ia sempat tertegun sejenak, memandangi siluet bosnya yang masih tertidur lelap di ranjang hotel. Ada rasa heran, sekaligus sedikit lega, saat ia menyadari sesuatu—tidak seperti biasanya, pαyϋdάrάnya tidak terasa nyeri atau kencang. ASI-nya memang masih keluar, tapi hanya sedikit. Mungkin tubuhnya mulai merespons efek kelelahan setelah perjalanan panjang kemarin.
Menghela napas pelan, Anna bangkit dari tempat tidur. Ia meraih ponselnya lalu menghubungi pihak hotel, meminta agar sarapan diantar ke kamar. Sambil menunggu, ia mulai menyiapkan pakaian kerja Nicho untuk meeting hari ini—setelan jas hitam yang rapi, kemeja putih bersih, dan dasi biru tua yang menurutnya memberi kesan elegan.
Hari itu berjalan lancar. Rangkaian rapat, dokumen yang harus diperiksa, hingga obrolan formal dengan rekan bisnis, semua mereka jalani tanpa hambatan berarti. Malam pun tiba, dan kini mereka duduk menikmati makan malam di restoran hotel.
Awalnya, mereka makan berdua. Namun beberapa menit kemudian, Anna pamit sebentar ke kamar mandi. Nicho tak begitu memikirkan, sampai ia sadar sudah lima belas menit berlalu dan Anna belum juga kembali. Rasa khawatir mulai menyelinap.
Nicho menaruh sendoknya, lalu berdiri dan melangkah menuju pintu kamar mandi. Ia mengetuk perlahan, suaranya terdengar tenang namun jelas menyimpan nada cemas.
“Kenapa lama sekali? Kamu nggak apa-apa, kan?”
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Anna berdiri di sana, wajahnya sedikit pucat dengan raut gugup yang sulit disembunyikan.
“Saya nggak apa-apa, Pak. Cuma sakit perut biasa saja,” jawabnya singkat, menghindari tatapan mata Nicho, lalu buru-buru melangkah kembali ke meja makan.
Nicho memandang punggung Anna yang menjauh, perasaannya campur aduk. Ada rasa heran yang mengganjal, seolah ada sesuatu yang disembunyikan perempuan itu. Ia pun kembali duduk, mencoba melanjutkan makannya, tapi sesekali matanya melirik ke arah Anna yang tampak gelisah, jarinya memainkan sendok tanpa benar-benar fokus pada makanannya.
Hingga akhirnya Nicho menangkap sesuatu yang janggal. Tatapannya terhenti pada kemeja yang dikenakan Anna. Ada bercak basah di bagian depan, tepat di area dada Anna. Padahal, Nicho ingat betul—tadi kemeja itu kering sempurna.
Keningnya berkerut. Tatapan matanya semakin tajam, memerhatikan dengan seksama seolah mencoba membaca setiap gerak-gerik wanita itu. Dan ketika menyadari basahnya hanya di bagian dada, ekspresi Nicho berubah dingin.
Suasana meja makan mendadak kaku. Dengan nada datar yang justru terasa menusuk, ia bertanya, “Apa kamu pernah berhubungan iηtϊm dengan laki-laki?”
Pertanyaan itu membuat Anna sontak terkejut, jantungnya berdetak keras. “Apa maksud Anda bertanya seperti itu?” tanyanya, mencoba menahan nada emosinya, namun tatapannya balik menantang.
“Lalu kenapa ASI-mu keluar? Kamu bahkan belum menikah. Kecuali sudah berhubungan iηtϊm, itu mungkin saja terjadi,” ucap Nicho datar, tanpa sedikit pun nada bercanda.
Anna membeku. Tatapannya jatuh ke arah kemejanya sendiri, dan matanya membesar. "Astaga.. kenapa aku tidak menyadarinya sejak tadi?" batin Anna panik.
Dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan, Anna berkata, “Pak Nicho bisa saya minta tolong? Tolong bantu saya mencari pompa ASI. Sepertinya saya lupa membawanya dari rumah sebelum berangkat.”
Namun Nicholas tidak segera menjawab permintaan itu. Ia masih menatap Anna tajam, seperti ingin menembus semua lapisan kebohongan—jika memang ada. “Jawab, Anna. Saya bertanya.” Suaranya berat, namun mengandung nada amarah yang jelas ditahan.
"Saya tidak pernah berhubungan dengan pria mana pun, Pak. Bukannya Pak Nicho juga tahu tentang itu? ASI saya keluar akibat lonjakan hormon. Saya sudah ke dokter dan diberi obat untuk menghentikannya, tapi entah kenapa obat itu tidak bekerja. ASI saya masih saja keluar," jawab Anna lirih, suaranya lembut tapi tegas.
Nicho berdiri dan mendekati Anna. "Sulit mencari pumping ASI di sini. Mengingat Kanada adalah salah satu negara dengan angka kelahiran terendah, produk bayi dan ibu hamil jarang tersedia. Mungkin kita akan menemukannya di satu toko, tapi mencarinya pasti memakan waktu lama."
Anna menghela napas, rasa nyeri mulai terasa di dadanya. Nicho menatapnya datar tapi penuh perhatian. "Kalau ASI itu tidak segera dikeluarkan, pasti akan sakit. Aku bisa bantu mengurangi rasa sakit kamu."
Anna menatapnya dengan tatapan penasaran. "Caranya bagaimana, Pak?" tanyanya serius, namun sedikit lega karena Nicholas menawarkan bantuan dengan nada tenang, bukan ejekan atau sindiran.
"Aku akan meηyϋsύ, dengan begitu ράyύdάrά kamu nggak bakal nyeri lagi" Ucap Nicholas sembari melepάs kancing kemeja Anna membuat Anna menelan ludahnya kasar
"Aku bakal mέnyύsϋ tiap hari supaya pαyυdαrα kamu nggak sakit lagi" Ucap Nicholas sembari tersenyum smirk.
Pria tampan itu kini telah menemukan cara bagaimana memulai semuanya bersama Anna.