Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Di tengah ringannya obrolan pagi bersama Inayah, layar ponsel Nisa yang tergeletak di atas meja kayu tiba-tiba menyala. Benda pipih itu bergetar hebat, memecah keheningan kontrakan kecil tersebut.
Nisa menunduk. Tertera nama 'Mas Arga' di layarnya.
Satu tahun yang lalu, dering dari nama ini adalah sesuatu yang paling Nisa tunggu setiap hari. Namun pagi ini, melihat nama itu berkedip, Nisa hanya merasakan kehampaan yang luar biasa. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menggeser tombol hijau di layar.
"Halo," suara Nisa terdengar serak, parau, dan hampa.
"Nisa? Kamu di mana?" Suara bariton Arga menyambar dari seberang sana. Terdengar napas pria itu memburu, tidak sedingin dan seangkuh semalam. "Kita harus bicara. Sekarang. Tolong, temui aku di Kafe Senja. Aku tunggu kamu di sana."
Tidak ada nada perintah yang arogan, hanya ada kepanikan yang tersirat. Nisa terdiam sejenak, memejamkan matanya, lalu menjawab datar, "Ya. Aku ke sana sekarang."
Dentang lonceng kecil berbunyi nyaring ketika Nisa mendorong pintu kaca Kafe Senja. Aroma biji kopi yang baru digiling dan harum mentega dari pastry langsung menyapa indra penciumannya. Di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya, sosok Arga sudah duduk menanti.
Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna navy yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya terlihat kusut, kantung matanya menghitam, sama sekali tidak mencerminkan raut pria yang baru saja memenangkan kebebasan semalam.
Mata Arga menangkap sosok Nisa. Detik itu juga, ia melompat dari kursinya. Arga melangkah lebar-lebar menghampiri Nisa, dan tanpa memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk bersuara, Arga langsung menarik Nisa ke dalam dekapannya. Sangat erat.
Nisa tersentak hebat. Matanya membelalak kaget.
Hidungnya menabrak dada bidang Arga, menghirup aroma maskulin bercampur mint dari parfum pria itu. Dulu, Nisa akan dengan senang hati membalas pelukan ini. Dulu, ia selalu mencari-cari kehangatan ini, bertingkah manja, merengek meminta Arga memeluknya lebih lama walau sering kali berakhir dengan dorongan kasar dari suaminya.
Namun hari ini? Kedua tangan Nisa hanya menegang kaku di kedua sisi tubuhnya. Tidak ada debaran cinta. Tidak ada kupu-kupu beterbangan di perutnya. Yang ada hanyalah rasa sesak yang membuatnya ingin muntah.
Perlahan, Nisa mengangkat kedua tangannya, meletakkan telapak tangannya di dada Arga, lalu mendorong tubuh pria itu menjauh. Gerakannya pelan, namun sarat akan penolakan mutlak.
Arga terhuyung mundur selangkah. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja mendekap Nisa, lalu menatap wajah istrinya dengan kening berkerut dalam. Ia heran. Sangat heran.
Biasanya, Nisa akan menangis di dadanya, menenggelamkan wajahnya, atau membalas pelukannya dengan putus asa. Tapi Nisa yang berdiri di hadapannya sekarang menatapnya dengan pandangan kosong. Kosong dan mati.
"Kenapa, Nis?" tanya Arga dengan suara bergetar. Kepanikan di matanya semakin terlihat jelas. "Kenapa kamu nggak pernah cerita apa-apa sama aku? Kenapa kamu diam aja soal Papa dan Mama?"
Nisa mundur dua langkah, menciptakan jarak aman agar udara di sekitarnya tidak lagi terkontaminasi oleh keberadaan Arga. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah manik mata pria itu.
"Berapa kali lagi aku harus menceritakannya ke kamu, Mas?" Suara Nisa terdengar sangat lirih, nyaris seperti bisikan putus asa yang menyayat hati. "Berapa kali lagi aku harus memohon supaya kamu mau mendengarkan aku?"
"Apa maksud kamu?" Arga menggelengkan kepalanya cepat. "Kamu nggak pernah memberitahuku! Kalau aku tahu, aku pasti akan pulang, Nisa! Aku pasti—"
"Aku udah coba, Mas!" potong Nisa. Suaranya tidak meninggi, tapi ketegasan dan kepedihan di dalamnya membuat Arga terbungkam seketika.
Nisa mencengkeram tali tasnya kuat-kuat. Bibirnya bergetar hebat saat kepingan ingatan malam jahanam itu kembali merobek kewarasannya.
"Malam itu... saat polisi meneleponku dan mengatakan mobil Papa jatuh ke jurang, orang pertama yang aku hubungi adalah kamu. Aku butuh kamu, Mas. Aku takut. Aku sendirian."
Dada Nisa naik turun, air mata mulai menggenang, menolak untuk jatuh. "Aku meneleponmu puluhan kali, tapi kamu terus me-reject-nya karena kamu sedang sibuk menikmati liburan di Bali bersama Adelia. Lalu, aku mengirimkan puluhan pesan padamu. Aku bilang, 'Mas, tolong pulang. Papa dan Mama meninggal.' Kamu tahu apa balasanmu malam itu?"
Arga mematung. Udara di sekitarnya mendadak terasa membekukan paru-parunya.
Nisa tersenyum getir, senyuman yang lebih menyakitkan daripada isak tangis mana pun. "Kamu membalas pesanku, Mas. Kamu bilang... 'Jangan cengeng! Jangan menyumpahi orang tuamu sendiri cuma karena kamu mau cari perhatianku! Kalau mereka beneran mati, urus sendiri! Jangan libatkan aku, dan jangan berani-berani mengganggu liburanku dengan Adel!'."
Setiap kata yang diucapkan Nisa menghantam dada Arga seperti peluru tajam.
Ingatan itu menghantam kepala Arga dengan beringas. Tuhan, ya... dia ingat. Malam di kamar hotel di Bali itu. Adelia sedang bersandar di lengannya, dan ponselnya terus bergetar hebat. Ia kesal karena Nisa merusak suasana hatinya. Ia membaca pesan Nisa sekilas, mengira itu hanya akal-akalan murahan istrinya agar ia cepat pulang. Ia mengetik balasan kejam itu tanpa berpikir dua kali, lalu mematikan ponselnya hingga tiga hari lamanya.
"Nisa..." Suara Arga pecah. Mata pria itu seketika memerah. Genangan air mata penyesalan yang tak terbendung tumpah begitu saja membasahi pipinya. Tangannya terulur, mencoba meraih bahu Nisa, namun wanita itu kembali mundur. "Ya Tuhan... Nisa, maafkan aku. Sumpah, aku nggak tahu. Aku kira kamu bohong. Aku brengsek, Nis... Maafkan aku..."
Nisa menatap hancurnya pria di hadapannya tanpa sedikit pun rasa iba. Hatinya sudah terlanjur membatu.
"Semuanya sudah terjadi, Mas," ucap Nisa pelan, menyapu sisa air di sudut matanya sendiri.
"Permintaan maafmu tidak akan pernah bisa menghidupkan kembali Papa dan Mamaku. Permintaan maafmu tidak akan mengubah fakta bahwa aku memandikan jenazah mereka sendirian, sementara suamiku sedang memeluk wanita lain di pulau seberang."
Tubuh Arga luruh. Kakinya terasa tak bertulang. Pria arogan itu kini menunduk di hadapan Nisa, bahunya berguncang hebat menahan isak tangis yang memalukan di tengah kafe.
"Aku akan menebusnya, Nis," racau Arga putus asa, mendongak menatap istrinya dengan tatapan memohon. "Aku dengar dari beberapa rekan bisnis. Perusahaan ayahmu bangkrut, kan? Aku tahu ada sisa utang miliaran di beberapa pemasok yang sekarang memburu kamu. Biar aku yang bereskan semuanya. Aku akan bayar semua utang Papa! Berapa pun jumlahnya!"
Nisa menggeleng pelan. Matanya menatap Arga dengan pandangan dingin yang tak tertembus.
"Tidak perlu ikut campur, Mas," tolak Nisa datar. "Itu urusanku. Aku bisa menyelesaikan utang-utang keluargaku sendiri."
"Bagaimana caranya, Nisa?!" bantah Arga, suaranya naik setengah oktaf karena panik bercampur putus asa. "Kamu tidak punya apa-apa lagi! Rumahmu disita, hartamu habis! Tolong... turunkan egomu sebentar saja. Jangan menolak bantuanku. Biarkan aku melindungimu kali ini saja."
Nisa menatap pria yang masih berstatus suaminya itu untuk beberapa saat. Sebuah tawa hambar keluar dari sela bibirnya yang pucat. Ia merapatkan jaket rajutnya, bersiap untuk pergi dari sana. Pertemuan ini benar-benar membuang waktunya.
"Ego?" Nisa mengulangi kata itu dengan sinis. "Aku sudah membuang egoku sejak hari pertama kita menikah demi melayanimu, Mas. Dan soal perlindungan..."
Nisa menundukkan kepalanya sedikit, menatap tepat ke dasar manik mata Arga yang berair.
"Seharusnya, kamu tidak perlu menawarkan bantuan yang sudah terlambat. Kemarin, aku adalah istrimu, dan kamu mengusirku saat aku sedang sekarat. Hari ini... aku bukan siapa-siapamu lagi. Simpan uangmu untuk pernikahanmu dengan Adelia."
Tanpa menunggu balasan Arga yang kini ternganga kaku dengan air mata bercucuran, Nisa membalikkan badan. Ia melangkah keluar dari Kafe Senja, meninggalkan Arga yang hancur lebur sendirian, meratapi kepingan penyesalan yang tak akan pernah bisa disatukan kembali.
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga