Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Edo kembali masuk ke kamar. Ia mengambil jaket yang tadi dilempar sembarangan, lalu mengenakannya dengan gerakan kasar. Setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu diambil, ia berjalan menuju pintu depan. Tangan Edo segera meraih gagang pintu dan membukanya. Matanya langsung melotot ketika mendapati Tarmi, Tarjo, dan Jamal sudah berdiri berjejer di depan teras kontrakan. "Ngapain kalian berbaris di sini?" ketus Edo.
Ia bahkan tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk menjawab. Edo langsung menarik pintu hingga menutup sebagian akses pandangan ke dalam kontrakan.
"Tadi-" Tarmi baru membuka mulut.
"Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!" potong Edo tajam. "Minggir!"
Tarmi, Tarjo, dan Jamal saling berpandangan. Ketiganya memilih menyingkir dari hadapan Edo.
Dengan wajah masih dipenuhi amarah, Edo berjalan melewati mereka. Ia menuruni teras, kemudian langsung menghampiri sepeda motornya yang terparkir di depan kontrakan.
Ia duduk di atas jok, memasukkan kunci, lalu menyalakan mesin. Gas motor itu sengaja Edo tarik keras-keras. Suaranya meraung memecah suasana menjelang isya. Tanpa menoleh sedikit pun, Edo langsung melesat meninggalkan halaman kontrakan.
"Gila tuh orang!" pekik Jamal, masih menatap ke arah Edo yang semakin menjauh.
"Dasar gendeng!" timpal Tarmi kesal.
Tarjo mengembuskan napas panjang. "Sudah, jangan pikirkan dia dulu. Kita lihat keadaan Mia."
Jamal mengangguk cepat. "Iya. Ayo, kita lihat Teh Mia."
Tarmi dan Tarjo langsung mengangguk. Ketiganya buru-buru kembali ke depan pintu kontrakan.
Tarmi meraih gagangnya. Pintu ternyata tidak terkunci. Begitu dibuka, ketiganya langsung membelalak. "Mia!" Astagfirullah!"
Perempuan itu masih meringkuk di lantai ruang depan. Tubuhnya gemetar. Kedua tangannya menahan bagian perut yang terasa sakit, sementara isak tangisnya terdengar tertahan.
Tarmi gegas menghampiri. "Ya Allah, Mia!" Ia berjongkok, kemudian membantu Mia bangkit perlahan. "Kamu kenapa bisa sampai seperti ini?"
Mia menggeleng lemah. Air matanya kembali mengalir. "S-sakit, Mbak."
Tarmi segera merangkul tubuh Mia dan membantunya bersandar kepadanya.
"Sudah, sudah… jangan dipaksakan berdiri dulu," ujar Tarmi lembut.
"Tenang, Teh. Kami di sini," timpal Jamal prihatin.
Mia akhirnya tak mampu menahan tangisnya. Ia menyembunyikan wajah di bahu Tarmi, sesenggukan.
Tarjo dan Jamal hanya bisa menatap nanar. Mata keduanya perlahan tertuju pada kondisi kontrakan yang berantakan. Pakaian Mia berserakan di lantai, laci terbuka, dan beberapa barang tergeletak tidak pada tempatnya.
Jamal menelan ludah. "Ini tadi Edo yang melakukan?" tanyanya pelan.
Mia tidak menjawab. Ia hanya semakin erat mencengkeram pakaian Tarmi.
Tarjo mengembuskan napas berat. "Mia… sebenarnya apa yang terjadi?"
Mia mengangkat wajah. Pipinya masih memerah, rambutnya berantakan, dan matanya sembap. Namun, ancaman Edo kembali terngiang jelas di kepalanya.
"Awas kalau lo berani bilang ke orang-orang tentang apa yang terjadi barusan! Gue nggak akan segan-segan buat mengakhiri pernikahan kita!"
Mia langsung menundukkan kepala. "Enggak apa-apa, Mas," jawabnya lirih.
Tarmi menatap wajah Mia dengan cemas. "Enggak apa-apa bagaimana, Mia? Kamu sampai begini."
Mia menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak. "Tadi... tadi kami bertengkar." Suaranya terpatah-patah karena sesenggukkan. "T-Terus..." Mia tak melanjutkan, sesenggukan terus keluar dan menyulitkan dirinya untuk berbicara.
"Ya sudah, Mia. Kalau kamu masih belum siap untuk cerita ke kami, tidak apa-apa." Tarjo mengambil jalan tengah, membiarkan Mia menenangkan dirinya dulu. "Kamu selesaikan dulu tangisanmu."
"Betul, Teh." Jamal menimpali. "Jika Teh Mia sudah siap bercerita, kami siap mendengarkan," lanjutnya.
Tarmi mengusap punggung Mia. "Iya, Mia. Kamu jangan takut untuk bercerita, kami bertiga siap membantumu. Kamu tidak sendirian, Mia." Akhirnya air mata Tarmi jatuh juga.
"Mbak..." Tangisan Mia mengencang lagi. Ia terharu karena ternyata, orang-orang di sekitarnya benar-benar peduli padanya.
________
Edo menepikan motornya di bawah pohon di tepi jalan. Amarahnya bergolak dan tak bisa dikendalikan. Kepalanya pening, dadanya panas. "Anjing! Setan! Babi!" Umpatan kasar keluar berkali-kali dari bibirnya. "Si Mia setan! Berani sekali dia melawanku! Dasar perempuan sinting! Awas kau, Mia!" Tinjunya menghantam tangki motor beberapa kali. "Gagal deh gue beliin cincin emas buat Bela! Dasar brengsek!" Emosi Edo benar-benar meledak.
Edo mengatur napas beberapa kali. Dadanya masih naik turun, tetapi perlahan ia berusaha meredakan emosinya. Tangannya merogoh saku celana, lalu mengambil ponsel. Ia mencari nama Ohang di daftar kontak dan langsung menekan tombol panggil. Tak lama kemudian, sambungan tersambung.
"Ada apa, Do?" Suara Ohang terdengar dari seberang.
"Hang, lo udah berangkat kencan belum?"
"Belum. Gue masih di rumah. Kenapa emang?"
"Gue mau ke tempat lo."
"Lah, bukannya malam ini lo mau menghabiskan waktu sama bini lo?" Ohang terkekeh. "Atau jangan-jangan bini lo lagi merah-"
Edo sontak menyahut ketus, "Najis gue tidur lagi sama cewek setan kayak si Mia!"
Kekehan Ohang seketika berhenti. Nada suaranya berubah serius. "Lo kenapa, Do? Berantem lo sama Mia?"
"Iya, Hang." Edo mengembuskan napas kasar. "Panjang ceritanya. Makanya gue mau ke tempat lo lagi."
"Ya udah, buruan ke sini." Ohang terdengar santai kembali. "Lagian gue masih lama pergi ke tempat si Salma."
"Oke. Gue ke sana sekarang."
"Ya. Hati-hati di jalan."
Edo langsung memutuskan sambungan.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku, kemudian menatap kosong ke depan. Beberapa detik kemudian, ia kembali menarik napas panjang. "Bikin emosi aja," gerutunya.
Edo menyalakan kembali mesin motor. Kali ini ia tidak langsung memacu kendaraan sekeras sebelumnya. Ia menarik gas secukupnya, kemudian melaju menuju rumah Ohang.
Di sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi kejadian di kontrakan. Wajah Mia yang menolak memberikan uang terus terbayang di kepalanya. "Cuma satu juta aja pelit banget," gumam Edo kesal. Tangannya semakin erat mencengkeram setang motor.
Namun, sesaat kemudian pikirannya beralih kepada Bela. Ia teringat permintaan selingkuhannya itu.
"Aku mau cincin emas, Aa. Yang ada matanya, terus bentuknya love, kayak hatiku ini."
Edo mengingat jelas bagaimana gerakan Bela malam kemarin. "Ah, sialan! Gara-gara si Mia banyak tingkah, rencana gue membahagiakan Bela jadi berantakan," gerutunya. Edo menggeleng kasar, kemudian kembali memusatkan pandangan ke jalan.
________
Setelah menguntai air mata begitu lama, tangisan Mia akhirnya perlahan mereda. Napasnya masih tersengal, tetapi tubuhnya tidak lagi gemetar separah sebelumnya. Ia mengusap pipi yang basah dengan punggung tangan, kemudian menatap Tarmi yang sejak tadi setia berada di sisinya. "Mbak... makasih." Suara Mia terdengar serak, bahkan nyaris menghilang.
Tarmi mengangguk. Tangannya kembali mengusap punggung Mia perlahan. "Iya, Mia." Tatapan wanita itu penuh perhatian. "Kamu mau cerita sekarang?"
Mia terdiam sejenak. "Memangnya Mbak punya waktu?"
Tarmi terkekeh kecil. "Waktuku banyak, Mia." Ia kemudian duduk lebih nyaman di samping Mia. "Cerita saja. Jangan dipendam sendirian."
Mia menarik napas panjang. Beberapa detik ia hanya menatap lantai sebelum akhirnya membuka suara. "Tadi Edo pulang setelah hampir empat hari nggak pulang..." Perlahan, Mia mulai menceritakan semuanya. Ia menceritakan bagaimana Edo langsung menanyakan gajinya. Tentang permintaan uang satu juta rupiah untuk kursus mengemudi. Tentang dirinya yang menolak karena uang yang tersisa hanya cukup untuk kebutuhan sebulan.
Mia juga menceritakan bagaimana Edo marah ketika dirinya mulai berani membantah. Suaranya beberapa kali bergetar saat mengisahkan tamparan yang mendarat di pipinya. Lalu, ketika sampai pada bagian Edo menjambak rambutnya dan mengobrak-abrik kamar demi mencari uang, Mia kembali menundukkan kepala. "Terus dia..." Mia menelan ludah. "Dia menendang aku sampai jatuh ke ruang depan."
Tarmi spontan bergidik. Matanya berkaca-kaca mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Mia. "Ya Allah... astagfirullah," bisiknya berkali-kali.
Jamal dan Tarjo yang masih berada tidak jauh dari mereka pun ikut terdiam. Keduanya sesekali saling berpandangan, tetapi tidak menyela cerita Mia.
Mia kemudian menceritakan ancaman Edo agar dirinya tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun. "Dia bilang kalau aku sampai cerita ke orang lain..." Suara Mia kembali bergetar. "Dia bakal mengakhiri pernikahan kami."
Tarmi menggeleng-gelengkan kepala. Air matanya akhirnya jatuh lagi. "Ya Allah, Mia..." Begitu seluruh cerita selesai, Tarmi langsung memeluk Mia erat. "Mia, suamimu jahat sekali! Dasar lelaki gendeng!" geramnya. Mia kembali terdiam dalam pelukan Tarmi. "Kamu jangan diam saja," lanjut Tarmi dengan suara bergetar. "Mending kalian berpisah saja. Dia juga bukan lelaki yang setia!"
Tubuh Mia seketika menegang. Ia perlahan menjauhkan wajah dari bahu Tarmi. "Maksud Mbak?"
Tarmi terdiam. Sejenak, ia tampak ragu. Matanya memandang Mia dengan sorot prihatin. Akhirnya, Tarmi merogoh saku bajunya dan mengeluarkan ponsel. "Mia..." katanya pelan. Ia membuka layar ponsel, kemudian masuk ke file penyimpanan. "Kamu yang sabar, ya."
Mia mengernyit. "A-ada apa, Mbak?" Hati Mia mendadak tak tenang.
Tarmi tidak langsung menjawab. Jarinya terus menggeser layar ponsel, mencari sesuatu yang sejak tadi ia simpan.
Jantung Mia mulai berdegup lebih cepat. Tatapan Tarmi membuat firasat buruk kembali memenuhi pikirannya. "Mbak Tarmi," panggil Mia pelan.
Tarmi akhirnya menemukan file yang dicari. Ia menarik napas panjang sebelum memiringkan layar ponselnya ke arah Mia. "Silakan kamu lihat sendiri."
Mia menatap layar tersebut. Dan dalam hitungan detik, wajahnya berubah pucat.
digsntung pula
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪