Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjaga Sang Pelita
Keheningan di lorong rumah sakit mendadak terasa makin tegang saat dokter utama mengusap peluh di dahinya. Adrian dan Azka menatap dokter itu tanpa berkedip, menunggu kalimat yang akan menentukan arah hidup mereka.
"Syukurlah pasien bisa kami tangani, untung saja peluru itu tidak menembus organ dalam," ucap sang dokter dengan helaan napas lega.
Aura kelam dan mencekam yang menyelimuti tubuh Adrian seketika sirna, berganti dengan rasa syukur yang membuncah luar biasa. Beban berat yang selama beberapa jam ini menghimpit dadanya mendadak terangkat.
"Dokter... Ibu benar-benar selamat?" tanya Azka polos, menengadah dengan mata bulatnya yang sembap.
Dokter berlutut pelan seraya tersenyum hangat ke arah Azka. "Iya, Jagoan. Ibumu sangat kuat. Pelurunya sudah berhasil diangkat dan pendarahannya sudah dihentikan. Saat ini pasien sedang dipindahkan ke ruang pemulihan."
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak," tutur Adrian dengan suara bergetar tulus—sebuah ekspresi emosional yang sangat jarang keluar dari bibirnya.
Mendengar kabar baik tersebut, Papa Adrian menepuk bahu putranya erat-erat, merasa lega bahwa tragedi ini tidak merenggut nyawa Alea. Setelah memastikan kondisi Alea stabil, sang papa berbalik menatap Rian yang berdiri sigap di dekatnya.
Papa Adrian sudah pergi bersama Rian mengurus kekacauan yang dibuat istrinya. Beliau bertekad untuk menyelesaikan masalah hukum Sarah secara tegas dan memastikan tidak ada lagi ancaman yang menyentuh keluarga kecil Adrian di masa depan.
Tak lama kemudian, pintu ruang ganda terbuka pelan. Tandu dorong melintas membawa tubuh Alea yang masih terkulai lelap di bawah pengaruh obat bius. Wajahnya masih pucat, namun deru napasnya teratur lewat selang oksigen tipis.
Adrian melangkah rapat di samping tandu, menggenggam erat jemari dingin Alea yang tak ingin dilepaskannya lagi. Azka yang berada dalam dekapan Adrian mengusap lembut pipi sang ibu dengan jari-jari mungilnya.
"Ibu... Azka di sini sama Papa..." bisik bocah itu lembut.
Ruang perawatan VIP itu terasa begitu tenang dan hangat. Cahaya sore membias lembut melewati celah tirai, menimpa wajah Alea yang masih pucat pasca operasi besar. Deru halus alat pemantau detak jantung menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan ruangan.
Namun Alea masih tak sadarkan diri pasca operasi. Efek obat bius dan rasa lelah yang luar biasa setelah melewati masa kritis membuat wanita itu masih terlelap dalam tidur panjangnya.
Azka duduk di tepi ranjang dengan bantuan Adrian. Jemari kecilnya tak henti-hentinya mengusap lembut tangan sang ibu yang terbebas dari infus, menatap wajah Alea dengan mata bulatnya yang penuh kerinduan.
"Ibu... kok tidur terus? Azka kangen sama suara Ibu..." bisik Azka pelan, bibir kecilnya sedikit mengerucut menahan sedih.
Adrian yang berdiri tepat di samping ranjang mengulas senyum tipis yang sarat akan rasa hangat. Pria itu berlutut perlahan, merangkul pundak kecil putranya dan mengusap lembut rambutnya.
"Ibu masih tidur, Sayang. Nanti kalau Ibu sudah bangun, kita bisa mengobrol kembali dengan Ibu," ucap Adrian kepada putranya dengan suara bass yang amat lembut.
"Ibu cuma butuh istirahat karena Ibu sudah berjuang sangat keras untuk Azka. Sekarang giliran kita yang menjaga Ibu di sini, ya?" lanjut Adrian lagi.
Azka menoleh menatap sang ayah, lalu mengangguk mantap dengan kepolosan yang menggemaskan. "Iya, Papa! Azka mau jadi pahlawan kecil yang jaga Ibu!"
Adrian tertawa kecil—sebuah tawa tulus yang membebaskan dadanya dari segala sesak yang menumpuk selama beberapa hari terakhir. Ia mengusap kepala Azka lalu mencium kening Alea dengan penuh kelembutan dan penyesalan yang mendalam.
Tak lama kemudian, pintu kamar perawatan terketuk pelan. Rian melangkah masuk dengan setelan jas yang rapi, memberikan tanda hormat secara halus kepada Adrian.
"Tuan," bisik Rian dengan nada rendah agar tidak mengganggu istirahat Alea. "Tuan Besar sudah menyelesaikan seluruh berkas pemeriksaan awal di kepolisian bersama pihak hukum. Nyonya Besar telah resmi ditahan dan diproses sesuai hukum yang berlaku, tanpa ada pengurangan tuntutan."
Adrian menatap lurus ke arah jendela, matanya kembali menunjukkan wibawa seorang kepala keluarga yang tegas.
"Bagus," jawab Adrian singkat namun mantap. "Pastikan Jessica dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam lingkaran ini juga mendapatkan ganjaran yang setimpal. Tidak ada lagi toleransi untuk siapa pun yang mengusik keluargaku."