NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — Wawancara di Menara Kaca

Gedung Arka Corporation menjulang tinggi di antara deretan gedung pencakar langit kawasan Sudirman, dengan fasad kaca yang memantulkan langit Jakarta yang pagi itu kebetulan cerah tanpa awan. Kirana berdiri di depan lobi megahnya, mendongak, merasa kecil—entah karena tingginya gedung, atau karena kesadaran bahwa inilah kali pertama ia benar-benar melangkah ke dunia kerja dengan kemampuannya sendiri, tanpa embel-embel nama keluarga yang biasa membuka semua pintu untuknya.

Ia menarik napas dalam-dalam, merapikan blazer usangnya yang sudah disetrika serapi mungkin semalam, dan melangkah masuk.

Lobi Arka Corporation jauh lebih megah dari yang ia bayangkan—lantai marmer mengilap yang memantulkan cahaya lampu gantung modern, dinding kaca yang menampilkan logo perusahaan berwarna emas metalik, dan resepsionis berseragam rapi yang tersenyum ramah meski tetap profesional. Beberapa orang berlalu-lalang dengan langkah cepat, membawa laptop dan dokumen, semuanya terlihat sibuk dan penting—dunia yang sepenuhnya berbeda dari kamar kos sempitnya, namun anehnya terasa familiar, mengingatkannya pada kantor ayahnya dulu.

Kirana menyebutkan namanya pada resepsionis, jantungnya berdegup kencang saat wanita itu mengecek daftar tamu di layar komputer. "Ah, iya, Kirana Wibowo, wawancara pukul sepuluh. Silakan naik ke lantai lima belas, nanti akan ada yang menyambut."

Di dalam lift, ia berdiri berdampingan dengan beberapa karyawan berpakaian formal, semuanya terlihat sibuk dengan ponsel atau dokumen masing-masing, tidak ada yang memperhatikannya sama sekali. Kirana menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap—gadis dengan blazer sederhana, sepatu pantofel yang sudah agak using, dan map berisi CV yang ia cetak di warnet dekat kosnya karena printer di kos tidak ada.

Jauh banget bedanya sama dulu, pikirnya, mengingat masa-masa ketika ia datang ke kantor ayahnya dengan pakaian branded dari ujung kepala sampai kaki, dikawal asisten pribadi yang membawakan tasnya, disambut satpam yang membungkuk hormat karena tahu ia putri sang pemilik perusahaan. Sekarang, ia hanya satu dari puluhan kandidat anonim yang berharap mendapat kesempatan.

Lift berhenti di lantai lima belas dengan bunyi ting pelan. Pintu terbuka, menampilkan ruang tunggu modern dengan sofa-sofa empuk berwarna abu-abu, dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian, dan beberapa tanaman hijau yang tertata rapi di sudut ruangan. Ruang tunggu itu sudah dipenuhi beberapa kandidat lain, semuanya terlihat gugup dengan caranya masing-masing—ada yang terus mengecek catatan kecil di tangan, ada yang menggerakkan kaki gelisah, ada pula yang tampak tenang berlebihan hingga terlihat dibuat-buat, mungkin untuk menutupi kegugupan yang sama.

Kirana duduk di kursi kosong, menggenggam map di pangkuannya erat-erat, mencoba mengatur napas agar tidak terlihat sepanik yang ia rasakan di dalam. Ia melirik kandidat-kandidat lain di sekitarnya—semuanya terlihat rapi, percaya diri, beberapa bahkan membawa portofolio tebal berisi pengalaman kerja yang mengesankan. Sejenak keraguan menyusup ke hatinya. Apa aku pantas ada di sini? Aku bahkan nggak punya pengalaman kerja beneran.

Ia menepis pikiran itu dengan cepat, mengingat kembali kata-kata yang ia ucapkan pada diri sendiri di depan cermin semalam. Kamu udah kehilangan segalanya. Nggak ada lagi yang bisa direbut dari kamu selain kesempatan ini.

"Aurelia Kirana Wibowo?" panggil seorang staf HRD beberapa saat kemudian, suaranya jernih memecah keheningan ruang tunggu.

Kirana berdiri, merapikan bleizernya sekali lagi, dan mengikuti staf itu menuju sebuah ruangan kecil dengan meja kaca dan dua kursi di hadapan seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi, rambutnya disanggul rapi dengan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya—Bu Marlina, meski saat itu Kirana belum tahu namanya.

"Silakan duduk," kata wanita itu, tersenyum ramah namun profesional, mempersilakan Kirana dengan gestur tangan yang sopan. "Saya lihat CV Anda cukup menarik. Lulusan Manajemen Bisnis, pernah bekerja di Wibowo Group?"

Deg. Kirana menahan napas sejenak mendengar nama itu disebut, jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Ia tahu momen ini akan datang cepat atau lambat, tapi tetap saja terasa berat setiap kali harus mengucapkannya. "Iya, benar, Bu. Tapi... posisi saya di sana lebih ke administratif, belum banyak pengalaman praktis di bidang marketing," jawabnya jujur, memilih untuk tidak menyembunyikan apa pun, meski ada bagian dalam dirinya yang ingin menghindari topik itu sepenuhnya, ingin berpura-pura menjadi orang lain yang tidak punya masa lalu semewah dan sekacau itu.

Bu Marlina mengangguk, mencatat sesuatu di kertasnya, matanya sesekali melirik ke arah Kirana dengan tatapan yang sulit dibaca—entah penasaran, entah menilai, entah kasihan. "Boleh tahu, kenapa Anda tertarik melamar posisi staf junior di sini? Dengan latar belakang keluarga Anda—maaf, saya cukup familiar dengan nama Wibowo Group—biasanya orang berharap posisi yang lebih tinggi, atau bahkan tidak perlu bekerja sama sekali."

Kirana terdiam sejenak, mengatur napas, tangannya yang berada di pangkuan mengepal pelan menahan gejolak emosi. Ia bisa saja berbohong, memberikan jawaban klise seperti "saya ingin belajar dari bawah" yang terdengar bagus di telinga pewawancara, jawaban yang aman dan tidak akan mengundang pertanyaan lebih lanjut. Tapi entah kenapa, di ruangan asing ini, di hadapan wanita yang baru pertama kali ia temui, Kirana memilih untuk jujur sepenuhnya.

"Bu, jujur saja... Wibowo Group sudah tidak ada lagi. Perusahaan itu bangkrut setelah orang tua saya meninggal beberapa bulan lalu, dan seluruh aset keluarga kami disita oleh pihak lain," kata Kirana, suaranya bergetar sedikit tapi ia berusaha tetap tegar, menatap langsung mata Bu Marlina tanpa mengalihkan pandangan. "Saya melamar posisi ini bukan karena ingin 'belajar dari bawah' sebagai formalitas atau pengalaman semata. Saya melamar karena saya benar-benar butuh pekerjaan ini untuk bertahan hidup. Saya tinggal di kamar kos sekarang, naik angkot ke mana-mana, dan sudah ditolak tujuh kali dalam dua minggu terakhir. Saya tahu saya belum punya pengalaman kerja yang banyak, tapi saya janji saya akan belajar secepat mungkin, dan saya akan kerja sekeras yang saya bisa, karena saya sudah tidak punya pilihan lain."

Ruangan itu hening sejenak. Bu Marlina menatap Kirana dengan ekspresi yang sulit ditebak, pena di tangannya berhenti bergerak di atas kertas. Beberapa detik berlalu yang terasa seperti waktu yang sangat panjang bagi Kirana, sebelum akhirnya wanita itu perlahan tersenyum kecil—senyum yang terlihat lebih tulus dari senyum formal sebelumnya, senyum yang menyiratkan sesuatu seperti rasa hormat.

"Saya menghargai kejujuran Anda," kata Bu Marlina akhirnya, meletakkan pena di atas meja. "Banyak kandidat yang datang ke sini dengan jawaban template, hafalan dari internet tentang cara menjawab wawancara kerja yang baik, tapi jarang ada yang seterus terang Anda. Kejujuran seperti ini, justru yang paling dihargai di perusahaan kami. Baiklah, mari kita lanjutkan wawancaranya."

Wawancara berlangsung sekitar empat puluh menit, mencakup berbagai pertanyaan seputar kemampuan analisis, cara Kirana menghadapi tekanan, hingga simulasi kasus sederhana tentang strategi pemasaran produk fiktif yang harus Kirana rancang dalam waktu singkat.

Beberapa kali Kirana tergagap, kesulitan mengingat teori-teori kuliah yang jarang benar-benar ia praktikkan, tapi ia terus berusaha, mengandalkan logika sederhana dan akal sehat, dicampur dengan kejujuran ketika ia memang tidak tahu jawabannya.

"Kalau Anda tidak tahu sesuatu, bagaimana cara Anda mengatasinya di dunia kerja nanti?" tanya Bu Marlina di salah satu bagian wawancara.

"Saya akan bertanya, Bu," jawab Kirana tanpa ragu. "Saya pikir, tidak tahu itu bukan hal memalukan, yang memalukan itu kalau kita berpura-pura tahu padahal nggak, terus akhirnya bikin kesalahan yang lebih besar. Saya lebih suka bertanya dan belajar, meski mungkin awalnya terlihat kurang percaya diri." Bu Marlina mengangguk-angguk, tampak puas dengan jawaban itu.

Di akhir wawancara, Bu Marlina menutup mapnya dan berkata, "Baik, Kirana. Kami akan mengabari hasilnya dalam tiga hari kerja. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang perlu saya sampaikan, supaya Anda bisa mempertimbangkan dengan matang."

"Iya, Bu?" Kirana duduk lebih tegak, penasaran dengan apa yang akan disampaikan.

"Kalau Anda diterima, Anda akan bekerja di bawah divisi marketing yang langsung berada di bawah pengawasan CEO kami. Beliau... orangnya cukup tegas dan memiliki standar yang sangat tinggi. Sangat detail, sangat perfeksionis, dan tidak segan menegur siapa pun yang bekerja ceroboh atau lambat, tidak peduli itu karyawan baru atau lama." Bu Marlina berhenti sejenak, seperti mempertimbangkan seberapa banyak yang boleh ia ungkapkan, matanya melirik ke arah pintu ruangan CEO yang terletak beberapa meter dari ruang wawancara itu. "Banyak karyawan baru yang kewalahan menghadapi caranya bekerja, bahkan ada beberapa yang mengundurkan diri dalam minggu pertama. Saya hanya ingin memastikan Anda siap menghadapi tantangan itu, mengingat latar belakang Anda yang... berbeda dari kebanyakan karyawan kami di sini."

Kirana mengangguk mantap, meski dalam hati ia sedikit penasaran—dan sedikit gentar—dengan sosok CEO yang digambarkan sedemikian rupa. Bayangan seorang pria tua berwajah galak dengan alis tebal yang selalu berkerut sempat melintas di benaknya, meski entah kenapa bayangan itu terasa terlalu klise untuk menjadi kenyataan.

"Saya siap, Bu. Saya sudah kehilangan banyak hal dalam hidup saya—rumah, mobil, orang tua, bahkan sebagian besar teman-teman yang dulu saya kira tulus. Saya rasa, menghadapi bos yang tegas bukan hal paling menakutkan lagi buat saya sekarang," jawab Kirana dengan nada yang lebih mantap dari yang ia kira bisa keluarkan.

Bu Marlina tersenyum, kali ini senyum yang lebih lebar, senyum yang tampak seperti ia menemukan sesuatu yang menarik pada gadis di hadapannya. "Jawaban yang bagus. Baiklah, kami akan segera menghubungi Anda. Terima kasih sudah datang, Kirana."

Kirana keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk—lega karena wawancara sudah selesai, cemas menunggu hasilnya, tapi juga ada rasa bangga kecil pada dirinya sendiri karena berhasil melewati wawancara dengan jujur tanpa berpura-pura menjadi orang lain.

Di lobi, sebelum keluar gedung, ia sempat berhenti sejenak, menatap ke atas menuju langit-langit tinggi lobi yang megah itu. Ada sebuah foto besar terpasang di dinding, menampilkan sosok pria muda berjas hitam dengan tatapan tajam dan ekspresi datar—foto resmi perusahaan yang biasa dipajang di lobi gedung-gedung korporat. Kirana tidak sempat membaca nama di bawah foto itu, hanya sekilas melihat sosoknya yang terlihat dingin dan berwibawa, sebelum ia melangkah keluar menuju siang Jakarta yang terik.

Tiga hari kemudian, telepon yang Kirana tunggu-tunggu akhirnya berdering, tepat saat ia sedang duduk di warung makan sederhana dekat kosnya, menghitung ulang sisa uangnya sambil memutuskan apakah ia mampu membeli lauk tambahan hari itu.

"Selamat, Kirana. Anda diterima sebagai Staf Junior Divisi Marketing di Arka Corporation. Kami harap Anda bisa mulai bekerja hari Senin depan."

Kirana hampir menjerit kegirangan di tengah warung makan itu, untung ia masih sempat menahan diri, hanya tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk pada suara di telepon, mengucapkan terima kasih berkali-kali sampai terdengar berlebihan. Ia menutup telepon, lalu duduk terdiam sejenak, membiarkan air mata bahagia mengalir bebas di tengah keramaian warung—air mata pertama dalam berbulan-bulan terakhir yang bukan berasal dari kesedihan, melainkan dari kelegaan dan kebanggaan pada dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya, ia mendapatkan sesuatu murni dari usahanya sendiri—bukan karena nama keluarga, bukan karena koneksi, bukan karena kekayaan yang kini sudah tak tersisa. Murni karena Aurelia Kirana Wibowo, dengan segala keterbatasannya, dengan blazer usang dan sepatu pantofel using, berhasil membuktikan diri di hadapan orang-orang yang tidak tahu—dan tidak peduli—siapa dirinya dulu.

Ia segera menelepon Dewi, memberitahukan kabar gembira itu, yang disambut jeritan bahagia dari sahabatnya di seberang telepon hingga Kirana harus menjauhkan ponsel dari telinganya. "Aduh Kir, akhirnya! Aku ikut seneng banget! Nanti kita rayain ya, aku traktir es teh manis di warung langganan!"

Kirana tertawa mendengar tawaran sederhana itu, tawaran yang dulu mungkin akan ia anggap remeh, tapi sekarang terasa begitu berarti. "Sip, Dew. Makasih ya, udah selalu ada buat aku."

Malam itu, sambil menatap langit-langit kamar kosnya yang catnya mengelupas, Kirana tersenyum untuk pertama kalinya dengan tulus sejak kepergian orang tuanya. Ia membayangkan hari Senin nanti, membayangkan meja kerjanya yang baru, rekan-rekan kerja yang akan ia temui, dan tentu saja, sosok CEO misterius yang digambarkan begitu menakutkan oleh Bu Marlina.

Ia tidak tahu tantangan apa yang menanti di depan—tidak tahu bahwa sosok CEO tegas yang akan menjadi atasannya itu ternyata adalah pria yang fotonya sempat ia lihat sekilas di lobi gedung. Tidak tahu bahwa hari pertama kerjanya akan berujung pada insiden memalukan yang melibatkan kopi dan laptop mahal sang bos. Dan tentu saja, tidak pernah menyangka bahwa pria dingin dan galak itu, pada akhirnya, akan menjadi orang yang mengubah seluruh arah hidupnya untuk kedua kalinya—kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena cinta.

Yang ia tahu hanyalah satu hal sederhana: mulai hari Senin depan, babak baru dalam hidupnya akan dimulai. Dan kali ini, ia bertekad untuk menghadapinya dengan kepala tegak, apa pun yang terjadi.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!