NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debu dan Mesin Pembunuh

Mesin uap raksasa itu mengaum parau, membelah kesunyian padang gurun yang membentang tanpa batas. Kendaraan itu dulunya adalah pengangkut bijih besi raksasa dari tambang Sektor Empat, namun mekanik Rexor telah merombaknya dalam waktu semalam. Lambungnya kini dilapisi pelat baja setebal tiga inci, jendelanya diganti dengan celah pandang berlapis kaca anti-peluru, dan cerobongnya terus memuntahkan asap hitam pekat yang langsung tersapu oleh angin kering padang belantara.

Mereka telah meninggalkan perbatasan wilayah Klan Adiwangsa sejak tiga hari yang lalu, melaju terus ke arah barat menjauhi peradaban.

Di dalam kabin yang pengap dan berbau oli terbakar, Lyra mengemudikan monster besi itu dengan kedua tangan mencengkeram kemudi yang berat. Peluh membasahi dahi gadis itu. Mengemudi melintasi Gurun Abu, zona transisi menuju Kawah Hitam, bukanlah tugas untuk mereka yang bermental lemah. Tidak ada jalan setapak. Hanya lautan pasir kelabu, bongkahan batu obsidian sebesar rumah, dan badai pasir yang sesekali membawa kilatan petir magis liar.

Di kursi navigasi sebelah kiri, Dokter Silas terus mengusap kacamata pelindungnya yang berdebu, matanya tak lepas dari peta kulit tua yang digelar di atas pangkunya. Alat pengukur mana portabel miliknya berdengung pelan, jarumnya berkedut tak beraturan setiap kali mereka melewati sisa-sisa kawah ledakan sihir dari perang ribuan tahun lalu.

Namun, yang paling mengganggu Lyra dan Silas bukanlah suhu kabin yang mendidih atau ancaman badai magis di luar sana. Melainkan penumpang yang duduk mematung di kursi belakang.

Kaelen tidak tidur, tapi matanya terpejam. Pemuda itu duduk bersila dengan punggung tegak lurus, menolak bersandar meski guncangan kendaraan kerap melempar tubuhnya. Kemeja linen hitamnya yang setengah terbuka memperlihatkan Inti Leviathan yang berdenyut lambat cahayanya kini bukan lagi biru pucat, melainkan gradasi ungu kelam yang memancarkan hawa dingin tak wajar. Udara di sekitar Kaelen terasa seperti berada di dalam lemari es, menciptakan kontras yang mengerikan dengan suhu gurun di luar.

"Detak jantungnya turun lagi," bisik Silas pada Lyra, melirik ke arah monitor kecil yang terhubung dengan kabel ke pelipis Kaelen. "Tiga puluh lima detak per menit. Tubuh manusia normal akan koma dengan ritme serendah itu. Tapi dia... dia memutar fungsi biologisnya agar selaras dengan artefak itu. Dia tidak lagi memompa darah dengan otot jantung, melainkan dengan ritme putaran mana netral dari mesin itu."

Lyra melirik dari kaca spion kabin, menatap wajah Kaelen yang tampak seperti pahatan pualam. Tidak ada kerutan, tidak ada ketegangan. Hanya kekosongan absolut.

"Apakah dia masih Kaelen yang sama yang kita temui di klinikmu, Dok?" tanya Lyra, suaranya sedikit bergetar. Gadis pembunuh bayaran yang biasanya tak kenal takut itu kini merasa terintimidasi oleh sekutunya sendiri. "Sejak dia membantai kapal terbang Klan Angin itu, dia belum bicara lebih dari sepuluh kata. Kemarin, saat roda kita melindas seekor ular pasir beracun yang nyaris masuk ke jendela, dia bahkan tidak berkedip. Tidak ada adrenalin. Tidak ada reaksi."

Silas menghela napas panjang, melipat petanya. "Benda itu diciptakan untuk wadah kekuatan setingkat dewa. Kaelen menggunakannya untuk menelan Kristal Badai murni dan energi purba Akar Magma secara beruntun. Beban pemrosesan mana sebesar itu membutuhkan pengorbanan. Artefak itu meredam emosinya untuk mencegah otaknya hancur akibat rasa sakit dan trauma. Ia mencabut rasa takutnya, empatinya, dan pada akhirnya... ia akan mencabut hasratnya untuk hidup sebagai manusia."

"Dan apa yang terjadi jika ia menemukan bagian kedua di Kawah Hitam?"

"Entahlah," Silas menelan ludah. "Bisa jadi artefak itu akan stabil karena bebannya terbagi. Atau bisa jadi, Kaelen akan berevolusi menjadi sesuatu yang murni mekanis. Senjata absolut yang hanya mengerti cara menghancurkan."

Tiba-tiba, mata Kaelen terbuka. Pendar ungu menyala di kedalaman pupilnya, membuat suasana kabin yang redup menjadi semakin menyeramkan.

"Sesuatu sedang mendekat," ucap Kaelen, suaranya datar, tanpa emosi, dan berat seperti gesekan besi.

Lyra langsung menginjak pedal rem, membuat kendaraan lapis baja itu berderit keras hingga berhenti di tengah lautan abu obsidian. "Mendekat dari mana? Radarku tidak menunjukkan apa-apa!"

"Bukan dari atas. Dari bawah."

Tanah bergetar hebat. Sebelum Lyra sempat memasukkan gigi mundur, permukaan pasir kelabu di sekeliling kendaraan meledak. Enam bayangan raksasa melompat keluar dari dalam tanah, menghantam lambung baja truk itu dengan kekuatan yang memekakkan telinga.

Silas terjerembap dari kursinya. Melalui jendela kaca berlapis, ia melihat bentuk penyerang mereka. Itu bukan binatang biasa. Mereka adalah Penjelajah Abu monster mutasi berukuran sebesar beruang, dengan tubuh yang terbuat dari lelehan batu, tulang bersendi terbalik, dan rahang yang dipenuhi taring setajam silet. Mereka adalah makhluk yang memakan sisa-sisa mana purba di gurun ini. Dan Kaelen, dengan Inti Leviathan di dadanya, adalah mercusuar prasmanan terbesar bagi mereka.

Salah satu monster itu mulai merobek pelat baja di dekat jendela Lyra dengan cakar obsidiannya, menimbulkan suara lengkingan logam yang menyayat telinga.

"Peluru mesiu biasa tidak akan menembus kulit batu mereka!" teriak Silas, mencoba merakit senapan modifikasinya dengan tangan gemetar.

Tanpa berkata-kata, Kaelen menendang pintu belakang kendaraan hingga engsel baja yang tebal itu bengkok dan terlepas sepenuhnya. Ia melangkah keluar menembus badai abu gurun.

Angin berhembus kencang, menampar jubah kulitnya, namun langkah Kaelen tidak melambat sedikit pun. Saat melihat sumber energi buruan mereka keluar, keenam monster itu meninggalkan kendaraan dan serentak menerjang Kaelen dari segala arah. Rahang-rahang raksasa yang meneteskan air liur asam terbuka lebar, siap mencabik-cabik pemuda itu menjadi potongan daging.

Di dalam kabin, Lyra dan Silas menahan napas, bersiap melihat Kaelen melepaskan Domain Null atau ledakan energi skala besar seperti yang ia lakukan di kastil.

Namun, Kaelen tidak melakukan hal itu. Ia sama sekali tidak melepaskan pusaran hitamnya.

Dengan wajah sedatar danau beku, Kaelen memutar tubuhnya untuk menghindari terkaman monster pertama. Gerakannya tidak dipenuhi amarah atau dorongan adrenalin; itu adalah presisi matematis yang sempurna. Saat monster batu itu meleset, tangan kiri Kaelen melesat ke atas, mencengkeram rahang bawah makhluk itu. Dengan satu putaran pergelangan tangan yang murni mengandalkan tenaga kinetik raksasa dari Inti Leviathan, Kaelen mematahkan tulang leher monster itu dengan bunyi derak yang lebih keras dari tembakan meriam.

Monster kedua menerjang dari belakang. Kaelen bahkan tidak menoleh. Ia menendang tumit belakangnya menembus tempurung lutut monster itu, membuatnya tersungkur, lalu Kaelen menginjak tengkorak batu makhluk itu hingga hancur berkeping-keping menjadi debu kelabu.

Monster ketiga dan keempat menerjang bersamaan. Kaelen bergerak menyusup ke tengah-tengah mereka. Ia tidak menangkis. Ia membiarkan cakar salah satu monster menggores punggungnya merobek jubahnya tanpa ia pedulikan sementara kedua tangannya menembus dada kedua monster itu secara serentak. Kaelen mencengkeram inti kehidupan mereka yang berupa gumpalan mana kotor yang mengeras, lalu meremukkannya di dalam telapak tangannya sendiri.

Dalam waktu kurang dari dua menit, keenam monster buas yang menjadi mimpi buruk para petualang gurun itu kini hanyalah tumpukan kerikil tanpa nyawa.

Kaelen berdiri di tengah-tengah puing-puing tubuh mereka. Darah hitam dan asam menetes dari sarung tangannya. Napasnya stabil. Tidak ada keringat di pelipisnya. Detak jantungnya bahkan tidak naik melewati empat puluh detak per menit. Ia membunuh mereka seolah ia sedang membersihkan debu dari meja—sebuah tugas rutin yang tidak membutuhkan perasaan.

Lyra, yang sedari tadi menatap dari balik kaca yang retak, merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia bukan manusia, batin gadis itu ngeri. Dia adalah malaikat maut yang terjebak dalam daging.

Kaelen menoleh ke arah kabin, tatapan matanya mengisyaratkan mereka untuk maju.

Setengah jam kemudian, tanpa ada lagi gangguan yang berani mendekat, kendaraan berat itu akhirnya tiba di tepi sebuah jurang raksasa. Asap di udara menipis, memperlihatkan tujuan akhir mereka.

Kawah Hitam.

Kawah itu begitu besar hingga ujung seberangnya tertutup oleh kabut. Dindingnya curam dan berwarna sehitam arang, dengan sisa-sisa reruntuhan kuil kuno yang menggantung rapuh di tepian jurang. Udara di tempat itu terasa hampa, seolah dunia itu sendiri menolak untuk bernapas.

Namun, bukan kemegahan kawah itu yang membuat Silas menjatuhkan radarnya ke lantai kabin.

Jauh di bawah sana, di dasar kawah yang berpusar dengan kabut hitam, Kaelen melihat sesuatu yang membuat pendar ungu di matanya sedikit bergetar. Ribuan lampu tenda berwarna putih dan emas tertata rapi membentuk sebuah kota militer di dalam kawah. Puluhan kapal udara dengan desain yang jauh melebihi milik Klan Angin bersandar di tebing.

Dan di tengah-tengah kamp militer raksasa itu, berkibar panji-panji raksasa berlambang Matahari Emas.

"Kita terlambat," bisik Silas, bibirnya bergetar hebat. Pria tua itu jatuh terduduk di kursinya, wajahnya kehilangan seluruh warnanya. "Kekaisaran Pusat... Mereka tidak hanya mengetahui keberadaanmu, Kaelen. Mereka sudah berada di sini untuk menggali senjata itu."

Kaelen berdiri di tepi jurang kawah, angin menerpa rambut hitamnya. Ia menatap ke bawah sana, ke lautan pasukan elit berseragam emas dan putih yang jumlahnya mencapai puluhan ribu. Namun, alih-alih merasakan keputusasaan yang melumpuhkan, sudut bibir Kaelen perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman asimetris yang sama sekali tidak memancarkan kebahagiaan, melainkan kehausan akan kehancuran mutlak.

"Sempurna," bisik Kaelen ke arah angin. "Mereka yang akan menggalinya untukku."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!