NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi Terbuka

Di titik aman—sebuah gudang kosong milik salah satu kontak dagang Zhou Feng di pinggiran wilayah barat—Zhou Chen berlutut di samping Zhao Kai, memeriksa luka gores dalam di lengan kirinya dengan tangan yang sedikit gemetar, entah karena kelelahan atau karena amarah yang masih ia tahan.

"Tahan sebentar," katanya, mengarahkan Mata Dewa ke luka itu sebelum membalutnya dengan kain yang tersedia seadanya.

Kondisi Zhao Kai Luka sayat dalam di lengan kiri, kehilangan darah cukup signifikan Memar berat pada tulang rusuk kanan, kemungkinan retak ringan Rekomendasi: Istirahat total minimal lima hari, hindari pertarungan atau aktivitas berat Peringatan: Memaksakan diri sebelum pulih dapat menyebabkan cedera permanen pada pergerakan lengan

Zhou Chen menahan napas membaca peringatan terakhir itu. "Lima hari," gumamnya. "Kau tidak akan bisa bertarung selama itu."

"Hamba baik-baik saja, Yang Mulia," bantah Zhao Kai, meski wajahnya pucat menahan sakit setiap kali ia mencoba menggerakkan lengannya. "Kita tidak punya waktu lima hari. Lin Feng—"

"Kalau kau memaksakan diri sekarang, kau bisa kehilangan lengan itu selamanya," potong Zhou Chen tegas, suaranya tidak menyisakan ruang untuk dibantah. "Aku sudah kehilangan satu orang malam ini. Aku tidak akan membiarkan diriku kehilangan orang lain karena keras kepala."

Zhao Kai terdiam, rahangnya mengeras menahan campuran rasa frustrasi dan pengertian. Ia mengangguk pelan, meski matanya masih menunjukkan beban berat yang belum sepenuhnya reda.

Xiao Hei, yang duduk di sudut lain dengan napas masih terengah dari pertarungan tadi, memandangi tangannya sendiri—tangan yang baru saja untuk pertama kalinya benar-benar digunakan untuk melukai orang lain. "Yang Mulia," katanya pelan, suaranya bergetar, "hamba... hamba tidak tahu apakah hamba benar-benar siap untuk hal semacam ini."

Zhou Chen menoleh, menyadari bahwa bukan hanya luka fisik yang perlu ia perhatikan malam ini. "Tidak ada yang benar-benar siap untuk pertarungan sesungguhnya di percobaan pertama," katanya lebih lembut. "Kau berhasil melindungi dirimu dan yang lain. Itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini."

Ketika fajar mulai menyingsing, kelompok kecil yang lelah dan terluka itu bersiap kembali ke ibu kota dengan langkah yang jauh lebih berat dibanding keberangkatan mereka beberapa hari lalu. Di tengah persiapan itu, seorang kurir tak dikenal tiba-tiba muncul di depan gudang, menyerahkan sebuah gulungan kecil kepada penjaga pintu sebelum menghilang secepat kedatangannya.

Isi gulungan itu, ketika dibuka Zhou Chen dengan tangan yang mendadak dingin, hanya berisi beberapa baris tulisan rapi.

"Sahabatmu masih bernapas—untuk sekarang. Aku penasaran, seberapa jauh Kakak Keempat bersedia bertaruh demi seorang mata-mata kecil. Kutunggu langkahmu berikutnya, dengan penuh minat."

Tidak ada tanda tangan, namun tidak dibutuhkan. Gaya bahasa yang tenang dan dingin itu sudah cukup untuk mengenali siapa pengirimnya.

Zhou Chen meremas gulungan itu dalam genggamannya, dadanya sesak oleh kemarahan yang sulit ia kendalikan. Dia sengaja membiarkan Lin Feng hidup—bukan karena belas kasihan, tapi sebagai umpan. Sebagai alat untuk mengujiku.

"Apa isinya?" tanya Yue Er, mendekat dengan wajah cemas melihat perubahan ekspresi Zhou Chen.

Zhou Chen menyerahkan gulungan itu tanpa berkata apa-apa, membiarkan mereka semua membaca sendiri betapa liciknya permainan yang baru saja dimulai.

Kembali di ibu kota dua hari kemudian, Zhou Chen segera menuju kediaman Zhou Ming, membawa gulungan itu bersama laporan lengkap tentang kegagalan misi penyelamatan. Namun sambutan yang ia terima kali ini jauh berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Zhou Ming tidak langsung mempersilakannya duduk. Ia berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap Zhou Chen, sikapnya jauh lebih kaku dibanding biasanya.

"Zhou Han mengirim pesan kepadaku juga," katanya akhirnya, suaranya datar namun penuh ketegangan yang tersembunyi. "Bukan ancaman langsung. Hanya... 'pengingat' bahwa kedekatanku dengan Kakak Keempat belakangan ini mulai menarik perhatian yang tidak diinginkan."

Zhou Chen merasakan firasat buruk mendengar nada suara itu. "Apa maksudmu?"

Zhou Ming akhirnya berbalik, wajahnya menunjukkan pergulatan batin yang jarang sekali ia perlihatkan. "Maksudku, Kakak, situasi kita sekarang jauh lebih berbahaya dari yang kuperkirakan. Aku sudah membangun jaringan informasiku selama bertahun-tahun dengan sangat hati-hati—tidak pernah cukup terlibat untuk dianggap ancaman oleh siapa pun. Sekarang, karena keterlibatanku denganmu, posisi itu mulai goyah."

"Kau menyesali keputusan kita bekerja sama?" tanya Zhou Chen langsung, tidak ingin berputar-putar di tengah situasi yang sudah cukup genting.

Hening sejenak sebelum Zhou Ming menjawab, matanya menatap lurus ke arah Zhou Chen dengan kejujuran yang menyakitkan. "Aku tidak menyesalinya. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak takut akan konsekuensinya. Zhou Han baru saja menunjukkan bahwa dia bersedia menahan, bahkan mungkin mengorbankan nyawa orang lain demi mempertahankan rahasianya. Aku punya jaringan yang luas, Kakak—tapi jaringan itu terdiri dari manusia, bukan sekadar alat. Aku tidak ingin lebih banyak orangku menjadi korban seperti Lin Feng."

Kata-kata itu menghantam Zhou Chen lebih keras dari yang ia perkirakan. Untuk pertama kalinya sejak kesepakatan mereka terjalin, ia menyadari betapa rapuhnya aliansi yang telah ia bangun—bukan karena kurangnya niat baik, melainkan karena beban risiko nyata yang kini harus ditanggung setiap orang yang terlibat.

"Aku tidak akan memaksamu untuk terus terlibat," kata Zhou Chen akhirnya, suaranya tenang meski hatinya bergejolak. "Kalau kau merasa ini terlalu berisiko, aku mengerti sepenuhnya."

Zhou Ming menatapnya lama, sebuah kelegaan aneh bercampur dengan rasa bersalah terlihat di wajahnya. "Itulah yang membuatku semakin yakin untuk tetap membantu," katanya akhirnya, senyum tipis kembali muncul meski masih diwarnai keraguan. "Orang yang bersedia melepaskanku tanpa paksaan, alih-alih menekanku untuk tetap setia karena kepentingannya sendiri—itulah orang yang pantas dipercaya untuk memimpin sesuatu yang lebih besar dari sekadar ambisi pribadi."

Namun di balik kata-kata itu, Zhou Chen bisa merasakan bahwa sesuatu telah berubah di antara mereka—kepercayaan yang dulu terbangun begitu cepat kini diuji oleh kenyataan pahit bahwa perjuangan ini menuntut pengorbanan nyata, bukan sekadar strategi cerdas di atas kertas.

"Bagaimana dengan Lin Feng?" tanya Zhou Chen, kembali ke persoalan mendesak yang masih menggantung. "Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja."

Zhou Ming menghela napas panjang, kembali menatap keluar jendela. "Untuk sekarang, kita tidak punya pilihan selain menunggu. Bergerak terburu-buru hanya akan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi aku janji, Kakak—kita akan mencari celah. Zhou Han terlalu percaya diri sekarang, dan kepercayaan diri berlebihan sering kali menjadi kelemahan terbesar seseorang."

Malam itu, dalam perjalanan pulang menuju kediamannya sendiri, Zhou Chen tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Lin Feng—seseorang yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung, namun kini nyawanya bergantung pada keputusan-keputusan yang ia ambil.

Aku membuat pilihan untuk terus melangkah, pikirnya, menatap gerbang istana yang menjulang di hadapannya, tempat di mana ancaman tersembunyi kini semakin sulit dibedakan dari kedamaian semu yang selama ini menyelimuti Kerajaan Zhou. Tapi setiap langkah yang kuambil sekarang punya harga yang harus dibayar seseorang. Dan aku belum tahu, sampai kapan aku sanggup terus membayarnya.

Di kejauhan, lampu-lampu istana masih menyala terang, menyembunyikan dengan sempurna ketegangan yang kini merayap diam-diam di baliknya—sebuah konfrontasi yang, cepat atau lambat, tidak akan lagi bisa disembunyikan dalam bayang-bayang.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!