NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Rendy Mulai Terjebak

Perubahan sikap Alya yang mendadak tenang dan dingin dalam beberapa pekan terakhir mulai memicu riak kepanikan yang teramat asing di dalam dada Rendy.

Dahulu, Rendy begitu terbiasa menjadi pusat dari dunia Alya. Ia terbiasa disambut dengan pertanyaan penuh perhatian saat pulang, terbiasa melihat Alya berusaha keras menyenangkannya, dan terbiasa mendapati Alya yang selalu sigap mempersiapkan segala kebutuhan pribadinya. Bagi Rendy, perhatian Alya adalah sebuah kepastian yang tidak akan pernah sirnah.

Namun kini, kepastian itu menguap tanpa bekas.

Alya tidak lagi menanyakan ke mana ia pergi, tidak lagi menelpon untuk sekadar bertanya apakah ia sudah makan, dan tidak lagi memprotes ketika Rendy pulang terlambat dengan aroma parfum wanita lain yang samar-samar menempel di kerah kemejanya. Alya tetap bersikap sopan, anggun, dan profesional—tetapi di balik kesopanan itu, ada tembok es yang tebal dan tak tertembus.

Alya tidak sedang marah. Alya hanya berhenti peduli.

Dan sikap tidak peduli itulah yang justru menyiksa ego Rendy hingga ke liang terdalam.

Sore itu di ruang kerja Rendy, Siska melangkah masuk tanpa mengetuk pintu dengan gaya yang kian berani dan makin percaya diri. Ia mengenakan gaun ketat berwarna merah menyala, melangkah anggun mendekati meja kerja Rendy seraya membawa selembar dokumen rekapitulasi dana operasional yang telah ia ubah rinciannya.

"Rend..." panggil Siska dengan nada suara manja yang kini terkesan menuntut. "Lihat deh dokumen ini. Aku udah atur supaya alokasi bonus divisi kita naik dua kali lipat bulan ini. Kamu tinggal tanda tangan di sini, terus nanti kita bisa pakai sebagian cairannya buat liburan singkat ke Bali akhir pekan ini. Kita butuh waktu berdua, Rend."

Rendy yang sedang melamun menatap kosong ke arah jendela seketika tersentak. Ia menatap berkas yang disodorkan Siska, lalu menatap wajah Siska yang tersenyum penuh kemenangan.

Untuk pertama kalinya, Rendy merasa ada yang salah.

Senyuman Siska yang dahulu ia anggap manis dan menenangkan, kini tampak begitu agresif dan sarat akan dominasi. Cara Siska mengatur dan menuntutnya mulai terasa menghimpit.

"Siska, ini dokumen alokasi anggaran utama," kata Rendy dengan nada agak ketus seraya menggeser berkas itu menjauh. "Prosedurnya harus lewat persetujuan Alya dulu sebagai Direktur Utama. Aku nggak bisa main tanda tangan sembarangan."

Siska mendesis pelan, merotasikan matanya dengan nada cibir yang tak lagi disembunyikan.

"Kenapa harus tunggu Alya sih, Rend?" celetuk Siska seraya bersedekap dada, wajah cantiknya mendadak ditekuk kesal. "Alya itu cuma formalitas! Kamu itu kan suaminya, pemilik saham juga! Lagian Alya belakangan ini mana peduli sama kamu? Dia sibuk ke sana-sini sama kolega barunya dari Aditya Group itu. Kamu nggak sadar apa kalau Alya itu makin hari makin jalan sendiri tanpa anggap kamu ada?"

Kalimat Siska yang bermaksud memanipulasi justru menghantam saraf kepanikan Rendy dengan cara yang berbeda.

Alya makin jalan sendiri tanpa anggap kamu ada.

Kata-kata itu berulang bagaikan gema yang menakutkan di dalam kepala Rendy. Rendy mengepalkan tangannya di atas meja. Rasa takut kehilangan yang amat sangat mendadak menyergap dadanya. Ia tidak takut kehilangan Siska—Siska hanyalah tempat pelarian dan pemuas egonya. Tapi kehilangan Alya? Kehilangan Alya berarti kehilangan status, keberadaan, fondasi hidup, dan wanita yang selama ini menjadi pilar utama keberhasilannya.

"Cukup, Siska!" gertak Rendy tiba-tiba, suaranya meninggi. "Kamu jangan sembarangan bicara soal istriku!"

Siska melotot kaget, terperanjat oleh bentakan Rendy yang tak terduga. "Rend... kamu kok malah bentak aku?! Aku kan bicara fakta! Bukannya selama ini kamu yang bilang sama aku kalau Alya itu dingin dan kaku?!"

"Keluar dari ruanganku sekarang," potong Rendy dengan napas memburu, raut wajahnya tampak sangat kacau. "Aku butuh waktu sendiri."

Siska menghentakkan kakinya dengan gusar, menatap Rendy dengan tatapan benci sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar seraya membanting pintu ruangan dengan keras. Siska yang merasa kemenangan sudah di depan mata mulai kehilangan kesabarannya. Sisi aslinya yang impulsif, menuntut, dan serakah kini mulai muncul ke permukaan tanpa bisa ia tutupi lagi.

Malam harinya di kediaman mereka, suasana begitu sunyi.

Rendy pulang lebih awal dari biasanya. Ia mendapati Alya sedang duduk di area balkon lantai dua, membaca buku laporan keuangan seraya menikmati secangkir teh herbal hangat. Cahaya lampu taman membiaskan keanggunan Alya yang tampak begitu tenang dan tak tersentuh oleh badai apa pun.

Ironi yang sangat pahit terjadi malam itu: semakin Alya berhenti mengejar dan memperhatikan Rendy, Rendy justru semakin terdorong untuk mengejar dan memohon perhatian Alya.

Rendy melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat di samping kursi Alya.

"Al..." panggil Rendy pelan, suaranya terdengar cemas dan penuh kehati-hatian.

Alya perlahan menutup bukunya, mendongak menatap Rendy dengan tatapan mata yang jernih, tenang, dan benar-benar netral.

"Iya, Rendy? Ada apa?" jawab Alya halus, tanpa nada benci mau pun kehangatan.

Rendy menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokannya. Ia menarik kursi kayu di hadapan Alya dan duduk di sana, berusaha meraih jemari tangan Alya di atas meja. Namun dengan gerakan yang sangat halus dan terkesan alami, Alya menyilangkan kedua tangannya untuk mengambil cangkir teh, membuat jemari Rendy hanya meraih udara kosong.

Hati Rendy serasa diiris tipis.

"Al... kamu... kok beda banget belakangan ini?" tanya Rendy dengan suara yang gemetar, matanya menatap Alya dengan pandangan memohon. "Kamu jarang ngobrol sama aku. Kamu nggak pernah nanya lagi aku pulang jam berapa atau makan apa. Kamu marah ya sama aku? Soal Siska? Soal kantor? Cerita sama aku, Al... jujur sama aku."

Alya menatap Rendy yang kini tampak begitu menyedihkan. Pria yang dahulu begitu percaya diri dan selalu merasa memegang kendali atas dirinya, kini duduk bersimpuh secara emosional di hadapannya, panik ketakutan karena merasa mulai kehilangan pegangan.

Alya menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang teramat anggun namun sejatinya begitu dingin.

"Aku tidak marah, Rendy," tutur Alya dengan nada suara yang sangat teratur dan lembut. "Kenapa aku harus marah? Bukankah selama ini kamu yang menginginkan kebebasan? Bukankah kamu selalu merasa terkekang dan tertekan kalau aku terlalu banyak bertanya tentang hidupmu?"

"Tapi bukan kebebasan yang kayak gini yang aku mau, Al!" potong Rendy dengan suara yang hampir pecah oleh kepanikan. "Kamu kayak orang asing! Kamu memperlakukan aku cuma kayak rekan bisnis di kantor! Aku ini suami kamu, Al! Aku takut... aku takut kamu mau tinggalin aku..."

Alya memiringkan kepalanya sedikit, menatap Rendy dengan pandangan penuh ironi.

"Aku tidak pernah kemana-mana, Rendy," jawab Alya pelan. "Aku tetap berada di sini, menjalankan tugasku di perusahaan dan di rumah ini. Tapi kalau kamu merasa aku berubah... mungkin itu bukan karena aku menjauh. Tapi karena kamu sendiri yang memilih untuk berjalan menuju arah yang berbeda."

"Maksud kamu apa, Al?" tanya Rendy, napasnya berburu, matanya membelalak ketakutan.

"Kamu yang tahu jawabannya, Rendy," bisik Alya tenang. "Setiap tindakan dan pilihan yang kamu buat setiap hari—dengan siapa kamu menghabiskan waktu, siapa yang kamu dengarkan, dan siapa yang kamu bela—itulah yang menentukan siapa dirimu sebenarnya dan ke mana rumah tanggamu akan bergerak."

Alya berdiri dari kursinya, merapikan buku laporan di tangannya.

"Aku tidak akan pernah memaksamu untuk memilihku, Rendy," kata Alya, menatap lurus ke dalam manik mata Rendy yang kacau balau. "Aku memberikanmu kebebasan penuh untuk memilih jalan hidupmu sendiri. Tapi ingat satu hal... setiap pilihan selalu datang dengan konsekuensinya masing-masing."

Tanpa menunggu balasan dari Rendy yang membatu di kursinya, Alya melangkah pergi meninggalkan area balkon, masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu secara perlahan.

Sementara itu, di dalam sebuah mobil sedan hitam bernuansa privat yang terparkir beberapa ratus meter dari area perumahan Alya, Kai Aditya duduk seraya memandangi layar monitor tabletnya.

Di layar tersebut, laporan pergerakan transaksi ilegal Siska dan bukti-bukti manipulasi jabatan yang dilakukan Rendy sudah terkumpul hampir seratus persen lengkap. Tim hukum dan tim investigasi Aditya Group tinggal menunggu satu petunjuk terakhir dari Alya untuk melayangkan gugatan hukum serta pembatalan seluruh kerja sama investasi yang akan meruntuhkan posisi Rendy secara total.

Asisten pribadi Kai, sekretaris kepercayaan yang duduk di kursi kemudi, menoleh ke belakang.

"Pak Kai..." ujar sang asisten dengan nada bersiap. "Semua bukti pelanggaran prosedur dan pemalsuan dokumen yang dilakukan Siska atas persetujuan terselubung Pak Rendy sudah siap. Kita bisa mengeksekusi penangkapan dan pembekuan aset mereka besok pagi jika Anda memberi perintah."

Kai menatap layar tabletnya. Wajahnya yang tampan tampak begitu tenang, matanya berkilat oleh kecerdasan seorang penguasa yang memegang kendali penuh atas papan catur pertarungan ini.

Kai menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna.

"Tahan dulu," panggil Kai dengan suara rendah yang tegas. "Jangan terburu-buru."

"Kenapa, Pak? Bukankah Bu Alya sudah memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjatuhkan mereka?" tanya sang asisten agak bingung.

Kai mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap pendar lampu-lampu kota yang terang benderang.

"Alya tidak sedang sekadar mencari cara untuk membalas dendam atau menjatuhkan Rendy," tutur Kai, suaranya dipenuhi rasa hormat dan pemahaman yang mendalam terhadap wanita yang dicintainya. "Alya sedang memberikan Rendy tali untuk menggantung dirinya sendiri. Alya sedang membiarkan Rendy menunjukkan warna aslinya secara utuh—apakah Rendy seorang pria yang masih memiliki nurani, ataukah pria serakah yang rela mengorbankan segalanya demi godaan murah."

Kai mengepalkan tangannya di atas pangkuannya.

"Alya ingin Rendy membuat pilihannya sendiri tanpa ada paksaan dari siapa pun," sambung Kai. "Dan ketika pilihan Rendy yang busuk itu akhirnya terlihat jelas di depan mata semua orang... Alya akan memiliki alasan yang sempurna, sah secara hukum, moral, dan martabat, untuk meninggalkan pria itu dan seluruh masa lalunya tanpa pernah perlu menoleh ke belakang lagi."

Kai menyandarkan punggungnya di kursi kulit sedan mewah tersebut, memejamkan matanya sejenak seraya membayangkan senyuman Alya.

Ia tahu hari penentuan itu sudah sangat dekat. Dan saat gerbang kehidupan baru Alya terbuka lebar, Kai akan berada di sana—menjadi pria pertama yang mengulurkan tangan dan menyambut Alya ke dalam pelukannya untuk selamanya.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!