NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Mikyail Ilham

Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
​Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
​Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
​"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Jejak Rahasia dan Pertemuan Pertama

​Kemenangan mutlak di Babak Eliminasi tidak cuma meruntuhkan kesombongan klan-klan papan atas, tapi juga mengubah total peta kekuatan di Akademi Kultus Iblis.

​Nama Ordo Roda Bintang kini menjadi perbincangan paling hangat di setiap sudut Pegunungan Shiwan. Ratusan murid kelas bawah dan menengah yang selama ini tertindas mulai berbondong-bondong mendatangi Lembah Bawah, berharap bisa bergabung di bawah panji hitam berlambang Roda Bintang.

​Di dalam markas rahasia Ordo, Tang Jin-Bao dan Gong Son-mi sibuk menyeleksi berkas pendaftaran para calon anggota baru.

​"Bos," panggil Jin-Bao sambil menyerahkan gulungan kertas tebal ke meja Ryeon. "Total ada lebih dari seratus lima puluh orang yang mau mendaftar minggu ini. Tapi sesuai instruksimu, kita cuma bakal terima mereka yang lulus ujian ketahanan fisik dan tes kejujuran dasar."

​"Bagus," sahut Ryeon tanpa mengalihkan pandangannya dari cetak biru tungku pemurnian tingkat tiga. "Kuantitas tanpa disiplin cuma bakal jadi beban. Kita butuh anggota yang paham cara kerja tim dan bisa mematuhi komando presisi."

​Son-mi yang baru selesai mengawasi latihan rutin di halaman menambahkan, "Anak-anak baru yang kita rekrut kemarin sudah mulai bisa menguasai gerakan tumpuan beban biomekanika, Ryeon. Dalam sebulan, kekuatan tempur barisan perisai kita bakal naik dua kali lipat."

​Ryeon mengangguk puas. Semuanya berjalan sesuai perhitungan strategisnya. Namun, di tengah kesibukan itu, ingatan Ryeon kembali pada sosok "pemuda" berbaju sutra perak yang dia lihat di lantai dua kedai teh beberapa hari lalu.

​Aura Ki yang bersih tanpa cela, gerakan jari dengan pola matematika teratur, dan tatapan mata yang menganalisis struktur pertahanan... batin Ryeon menilai. Dia bukan orang Kultus, dan dia jelas punya posisi sangat tinggi di faksi Ortodoks.

​Ryeon berdiri, menyapu jubah hitamnya. "Kalian berdua lanjutkan seleksi. Aku mau keluar sebentar memeriksa pasokan herbal di perbatasan."

​Sore harinya, matahari mulai meredup di balik tebing Lembah Bayangan Maut—wilayah netral yang membatasi Pegunungan Shiwan milik Kultus Iblis dan Central Plains milik Aliansi Ortodoks.

​Di balik reruntuhan pilar batu tua yang tertutup lumut, angin dingin berembus membawa aroma getah pinus.

​Ryeon berjalan pelan menyusuri reruntuhan batu, langkah kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara di atas tanah kering. Dia tidak datang ke sini tanpa alasan. Pengamatan mata analitisnya menangkap jejak-jejak pergerakan halus yang sengaja ditinggalkan di sepanjang jalan keluar pasar kemarin.

​"Kau melangkah terlalu santai untuk seseorang yang tahu sedang memancing mata-mata musuh," sebuah suara jernih, dingin, dan anggun bergema dari atas tebing batu di belakang Ryeon.

​Ryeon menghentikan langkahnya, berbalik dengan tenang tanpa menunjukkan keterkejutan sedikit pun.

​Di atas pilar batu setinggi lima meter, berdiri sosok yang dicarinya. Pemuda berpakaian sutra perak itu melompat turun dengan gerakan yang sangat halus bagaikan sehelai bulu burung. Begitu mendarat di tanah, dia membuka kipas lipatnya dengan bunyi TAK yang jernih.

​Di bawah cahaya rembulan yang mulai membias, penyamaran kasar gadis itu tidak lagi bisa menyembunyikan wajah anggunnya. Mata tajamnya bersinar bagaikan bintang malam, dan aura kecerdasan terpancar kuat dari cara berdirinya.

​"Atau mungkin... kau memang sengaja menungguku di sini, Ketua Ordo Roda Bintang?" tanya gadis itu dengan senyum tipis yang penuh makna.

​Ryeon menatap gadis di depannya dengan mata hitam yang tenang dan dalam.

​"Pengamatan sudut mendaratmu lumayan," ucap Ryeon datar. "Tapi menyamar jadi laki-laki dengan bahu sesempit itu dan bau parfum Bunga Sutra khas Central Plains... kau terlalu meremehkan ketajaman indra orang-orang Kultus Iblis."

​Gadis itu tertegun sejenak. Senyumnya bertambah lebar, memancarkan binar ketertarikan yang makin kuat.

​"Ketajaman indra... atau kalkulasi logis?" ralat gadis itu, melipat kembali kipasnya. "Penggunaan jari untuk memutus aliran saraf, manipulasi tumpuan berat badan saat menahan serangan Ma Cheon-Wo, dan taktik pembagian zona saat menghadapi belasan murid elit... Kau bertarung menggunakan logika dan geometri, bukan sekadar Ki mentah."

​Gadis itu melangkah dua tindak lebih dekat, mengulurkan tangannya yang halus di balik lengan baju sutranya.

​"Namaku Jaegal So-yeon. Putri Utama Keluarga Jaegal dari Aliansi Ortodoks."

​Ryeon tidak terkejut mendengar nama besar itu. Keluarga Jaegal adalah penguasa formasi, taktik, dan strategi nomor satu di seluruh Central Plains.

​"Cheon Ryeon," sahut Ryeon singkat tanpa menyambut uluran tangan itu. "Seorang Putri dari Keluarga Jaegal berkeliaran di perbatasan Kultus Iblis saat Turnamen Antar-Klan dibuka... Kalau murid-murid elit klan atas tahu ada 'ikan besar' di sini, mereka pasti bakal mengerahkan seluruh pasukan buat memburumu."

​So-yeon tertawa pelan, suara tawa yang halus dan percaya diri.

​"Ikan besar?" So-yeon menggelengkan kepalanya. "Tetua-tetua bodoh di Aliansi Ortodoks maupun Kultus Iblis cuma peduli soal slogan 'Keadilan' dan 'Kekuatan' buat memicu perang dan memperkaya diri mereka sendiri. Mereka tidak tahu kalau dunia Murim ini sedang menuju kehancuran dari dalam."

​Mata Ryeon sedikit menyempit. Dunia sedang menuju kehancuran dari dalam?

​"Maksudmu apa?" tanya Ryeon dingin.

​So-yeon merogoh sesuatu dari balik jubah sutranya, lalu melemparkan sebuah benda kecil ke arah Ryeon.

​Ryeon menangkap benda itu dengan mudah. Begitu melihatnya di telapak tangannya, mata analitis Ryeon terbelalak pelan untuk pertama kalinya sejak dia terlahir kembali di dunia ini.

​Benda itu bukan batu pusaka, bukan pula artefak kayu kuno. Benda itu adalah sebuah Kepingan Logam Paduan (Alloy) berwarna perak gelap dengan pola mikroskopis berpendar samar.

​Sebagai mantan Panglima Tertinggi dan Ilmuwan Biomekanika di Bumi, Ryeon mengenali struktur logam itu dalam sekali lirik.

​Ini... Baja Struktur Komposit Fusion! batin Ryeon bergejolak keras. Teknologi sains molekuler ini seharusnya cuma ada di Bumi! Bagaimana bisa ada di dunia Murim ini?!

​"Kau mengenali logam itu, kan?" bisik So-yeon, menatap reaksi di wajah Ryeon dengan sangat cermat. "Logam itu ditemukan di reruntuhan situs kuno yang disegel seribu tahun lalu. Dan belakangan ini, ada organisasi rahasia di balik layar yang mulai memburu seluruh Dantian master tingkat tinggi demi mengaktifkan kembali artefak-artefak dari logam tersebut."

​So-yeon melangkah mendekat, berdiri tepat dua langkah di hadapan Ryeon.

​"Tujuanku datang ke Kultus Iblis bukan buat memata-matai murid-murid bodoh dari Klan Ma atau Baek," lanjut So-yeon dengan suara serius. "Aku mencari seseorang yang punya otak cukup cerdas buat memahami bahwa musuh sebenarnya bukan faksi Ortodoks atau Kultus... melainkan kekuatan kuno yang mengendalikan benua ini dari balik bayangan."

​So-yeon menunjuk pin Roda Bintang di dada jubah Ryeon.

​"Dan melihat cara berpikirmu di panggung turnamen kemarin... kau adalah satu-satunya orang di seluruh benua Murim ini yang punya kapasitas intelektual yang setara denganku buat menghentikan mereka."

​Ryeon menggenggam kepingan logam paduan Bumi itu erat-erat di dalam tangannya. Kepingan ini adalah petunjuk pertama yang menghubungkan kematiannya akibat ledakan Reaktor Fusi di Bumi dengan keberadaannya di dunia Murim ini.

​Ryeon menatap Jaegal So-yeon lurus ke dalam matanya.

​"Kerja sama?" tanya Ryeon datar.

​"Aliansi taktis rahasia," ralat So-yeon sambil tersenyum manis. "Kau menguasai teknologi dan kekuatan dari dalam Kultus, dan aku bakal menyediakan jaringan intelijen serta akses informasi rahasia dari faksi Ortodoks."

​So-yeon melempar sebuah token batu giok berukir simbol Keluarga Jaegal kepada Ryeon.

​"Simpan token itu. Itu media komunikasi rahasia kita," kata So-yeon sambil berbalik, melompat naik ke atas tebing batu dengan gerakan yang anggun. "Sampai jumpa di laga puncak Turnamen, Cheon Ryeon. Jangan kecewakan kalkulasiku."

​Dalam sekejap, bayangan Jaegal So-yeon menghilang ditelan kegelapan malam Lembah Bayangan.

​Ryeon berdiri sendirian di tengah reruntuhan batu, menatap token giok dan kepingan logam paduan Bumi di tangannya secara bergantian.

​Misteri yang jauh lebih besar dari sekadar perebutan takhta Kultus Iblis kini resmi terbuka di hadapannya. Dan dengan terbentuknya aliansi rahasia bersama sang Bintang Catur Perak, langkah Cheon Ryeon untuk merebut dan menguasai seluruh dunia Murim... kini memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya.

1
Scorpy
mencoba baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!