NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:35k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

Rania buru-buru berlari masuk ke dalam kamar mandi kamarnya, lalu mengunci pintunya rapat-rapat. Ia berdiri di depan wastafel, bertumpu pada pinggiran keramik yang dingin. Napasnya memburu pendek, dan tepat saat ia mendongak menatap cermin, cairan kental berwarna merah pekat mengalir deras dari kedua lubang hidungnya.

Darah segar itu menetes cepat, mengotori wastafel putih di depannya. Rania buru-buru menyalakan keran air dan menyeka darah itu dengan gemetar.

“Astaga...”

Rania memejamkan mata, merutuki kebodohannya sendiri. Rania lupa. Ia benar-benar lupa jika kemarin Jonathan mewanti-wanti dirinya dengan sangat keras agar tidak boleh terlalu banyak pikiran atau mengalami tekanan mental yang hebat. Stres ekstrem akan membuat kondisi sel darahnya drop seketika. Namun, karena tidak mampu menahan rasa muak, ia justru terpancing emosi dan meledak hebat setelah melihat kelakuan dua manusia hina di bawah tadi.

Tok! Tok! Tok!

Tepat saat Rania sedang menekan pangkal hidungnya untuk menghentikan pendarahan, pintu kamar mandi diketuk dengan kasar dari luar.

“Rania! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam! Kita harus bicara. Tolong dengarkan penjelasanku dulu!”

Rania tersentak. Ia buru-buru membersihkan sisa-sisa darah segar yang mengalir di sekitar bibir dan tangannya hingga bersih tanpa jejak. Setelah memastikan tidak ada setitik pun warna merah yang tersisa, ia membasuh seluruh wajahnya dengan air dingin berulang kali demi menghilangkan kesan pucat, lalu mengeringkannya dengan handuk kecil.

Setelah menata emosinya agar kembali datar, Rania memutar kunci dan membuka pintu. Ia berdiri di ambang pintu kamar mandi, menatap Harsa dengan pandangan mata yang benar-benar kosong.

Harsa langsung maju, memegang kedua pundak Rania dengan tatapan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus cemas.

“Rania, tolong dengarkan aku dulu. Demi Tuhan, apa yang kamu lihat di bawah tadi tidak seperti yang kamu pikirkan! Aku bersumpah!”

Rania tidak melepaskan tangan Harsa, ia hanya membiarkan pundaknya dipegang tanpa memberikan respons fisik sedikit pun.

“Lalu seperti apa?” tanyanya dengan suara yang teramat dingin.

“Semalam Wulan ketakutan karena kakinya sakit keras dan dia mengigau melihat bayangan di jendela!” jelas Harsa dengan terburu-buru, mencoba meyakinkan istrinya. “Ibu yang menyuruhku menemaninya di sana karena Gavin sudah tidur di kamar Ibu. Aku tertidur di kursi karena kelelahan, Rania. Aku sama sekali tidak sadar kalau dalam keadaan tidur, Wulan memegang tanganku. Aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya, tolong percayalah!”

Rania menatap wajah panik Harsa, lalu sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang teramat hambar. Rasa cemburu yang biasanya membakar dada kini telah menguap, digantikan oleh rasa mati rasa yang sempurna. Ia sudah benar-benar tidak mau lagi mendengar penjelasan atau pembenaran apa pun terkait suaminya dan Wulan.

Baginya, semua kata-kata Harsa hanyalah angin lalu yang tidak lagi memiliki makna.

“Sudah selesai bicaranya?” tanya Rania pelan, suaranya begitu tenang hingga membuat Harsa mendadak aneh.

“Rania, kenapa tanggapanmu seperti ini? Aku sedang menjelaskan kebenaran padamu. Kamu boleh marah, kamu boleh memaki aku, tapi tolong jangan menatapku dengan pandangan seolah aku orang asing!” Harsa mengguncang pelan pundak Rania, frustrasi karena tidak menemukan riak emosi apa pun di mata istrinya.

Rania menarik tubuhnya mundur secara perlahan, membuat tangan Harsa terlepas dari pundaknya. Ia berjalan menuju meja rias, mengambil tas tangannya yang sudah rapi sejak subuh tadi.

“Aku tidak marah. Aku juga tidak berniat memandang mu dengan pandangan salah atau benar. Penjelasanmu sama sekali tidak penting lagi bagiku. Mau kamu memegang tangannya semalaman, mau kamu tidur seranjang dengannya, atau bahkan jika kamu ingin meresmikan hubungan kalian sekarang juga... silakan. Aku sudah tidak peduli. Urusan kita sudah selesai,” ucap Rania sembari memoles bibirnya dengan lipstik merah.

“Rania! Aku ini masih suamimu! Dan sampai kapanpun kita tidak akan pernah bercerai!” bentak Harsa, egonya terluka hebat melihat bagaimana Rania memperlakukannya seperti orang asing yang tidak berharga.

“Suami?” Rania membalikkan tubuhnya, menatap Harsa untuk terakhir kalinya sebelum nanti benar-benar pergi dari rumah ini. “Posisimu sebagai suami sudah lama mati di hatiku. Tepatnya sejak kamu selalu memilih pergi ke arah perempuan itu setiap kali aku membutuhkanmu. Sekarang, tolong minggir. Aku ada urusan penting di luar.”

Harsa terpaku di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu saat Rania berjalan melewatinya begitu saja.

“Kamu mau ke mana pagi-pagi begini, Rania?!” tanya Harsa setengah berteriak, melangkah cepat membuntuti istrinya yang terus berjalan acuh.

Rania tidak menjawab sepatah kata pun. Dengan tenang ia menuju rak meja di sudut kamar, mengambil sebuah map berisikan berkas penting. Setelah map itu aman di dalam dekapannya, Rania langsung melenggang keluar, mengabaikan Harsa yang memanggil namanya berulang kali.

*

*

Sesampainya di lantai bawah, indra penciuman Rania menangkap aroma bumbu dapur yang menguar kuat. Langkah kakinya melambat saat melewati area ruang makan. Dari balik sekat, ia melihat seseorang sedang sibuk memasak di dapur dengan celemek yang terpasang rapi.

Ternyata itu Wulan. Perempuan itu nampak begitu lihai mengayunkan sodet, seolah dialah nyonya besar di rumah ini.

Mendengar suara langkah kaki, Wulan menoleh. Ia langsung mematikan kompor dan mengulas senyum manis.

“Mbak Rania? Mbak mau ke mana sudah rapi begini? Ini... aku sudah membuatkan nasi goreng. Ayo sarapan dulu sama-sama, Mbak.”

Rania hanya melirik Wulan dengan tatapan malas yang tak lagi bisa disembunyikan.

“Hebat sekali kamu. Baru tadi aku memberimu pelajaran keras, tapi sekarang kamu masih punya muka dan nekat bertingkah seolah tidak ada yang terjadi. Apa tamparanku tadi pagi masih belum cukup membuatmu sadar dan tahu diri, hm?"

Wulan seketika berubah tegang. Ia meremas ujung celemeknya.

“M–maksud mbak Rania apa? Aku cuma mau menyiapkan nasi goreng kesukaan mas Harsa. Hanya itu, Mbak.”

Kesukaan Harsa katanya? Luar biasa sekali, wanita ini sampai tahu kalau Harsa suka nasi goreng. Hubungan mereka benar-benar tak bisa diremehkan.

Rania terkekeh sumbang, melangkah maju dua langkah hingga membuat Wulan refleks mundur ke belakang. Tatapan mata Rania mengunci Wulan hingga perempuan itu mati kutu.

“Lihat dirimu sekarang. Kelakuanmu ini sudah persis sekali seperti istri sah Harsa. Datang menginap tanpa diundang, menguasai dapur, lalu menyiapkan sarapan untuk suamiku,” sindir Rania dengan kalimat pedas yang menghunus langsung ke harga diri Wulan.

Wulan menunduk dengan wajah yang memucat karena kehabisan kata-kata untuk bersandiwara di hadapan Rania pagi ini.

“Oh ya, satu lagi.” Rania berbisik di samping telinga Wulan. “Nikmati sendiri nasi goreng buatan mu. Aku tak sudi menyentuhnya sedikitpun. Jangan lupa, ambil dan pungut lah pria bekasan ku itu! Kamu menginginkannya, bukan?” lanjutnya telak, lalu berbalik pergi meninggalkan Wulan.

1
Mita Paramita
Thor cepet bongkar kebusukan Wulan jadi gemes liat tingkah gak tau diri Wulan 🤣🤣🤣
deeRa
Coba tolong jedotin kepala nya Harsa😌
Yessi Kalila
rasanya pengin banget nendang pelakor yg bernama Wulan.... 😄😄😄
vj'z tri
yang kaya itu Rania woi Rania 🤧🤧
tinie
mirip Gavin yaa
tinie
waah bisa jadi sampai disana malah ketemu sama wulan
ollyooliver
wahhhh....jeng..jeng..jengggggggg. harsa..harsa, kesalahanmu mmng gk fatal amat, gk selingkuh, gak adu kokop atas bawah. tapi bayaran satu tahun menyakiti rania..bener" dibayar fatal..ah mantap.🤤
tinie
dalam mimpi mu
mana ada menejer memecat seorang ceo🤣🤣🤣

gilaaa
ollyooliver
oalahhh..
tinie
wanita tak tau diri
ollyooliver
waduhhhh...gavin kaliii anaknya
ollyooliver
beruntung? ketiban sial itu rania😌
ollyooliver
tenang aja..dia begini bukan karna dia mau, atau karema rasa bersalahnya pd rania.. tapi karena mertuanya. tenang aj, nanti balik kesetelan awal. rania gk ada apa"nya dibandingkan dirimu..harsa aja ,mudah berpaling😌
ollyooliver
sikapnya berubaah karna ancaman pasti, kalau gk..mana mau dia beginiin wulan tersayangnya. ttp ya rania bukan prioritas. kalaupun nanti jadi prioritas...cuman dua jawabannya. satu...karena keluarga rania tau harsa perlakukan wulan bagaimama terutama aditya. kedua, kalau jadi mantan istri..baru deh ngejar" rania tapi ttp saja bukan karnaa cinta atau pun perasaannya. kasihan dan rasa bersalha, menyesal tentu. dan semuanya gk ada perbuatan yg tulis dri hati harsa..karena dia bertindak selalu karema alasan lain...bukan karena RANIANYA😌
ollyooliver
penasaran deh, apa yg dikatakan aditya
MamDeyh
Up lg Kak
Senja: kak nita sebelah ya tadi, typo😅
total 1 replies
Nice1808
jgn2 foto bayi itu gavin😀yg diambil wulan srbagai alasan biar di tanggung jawabi oleh harsa sebagai anak bima, seru nich rania bertemu harsa dan ular licik itu, semakin setuju ibu rima suruh rania cerai🤣🤣🤣
Nice1808
gak tau malu, dan kau harsa gak tau diri bukan rania gk mijit jikalau kau lrlah tapi kau lbh mementingkan ipar maut mu, siap siap kau kena kultum dr CEO🤣
Uthie
Wahhh.. jangan-jangan bayi itu si Gavin lagiii 😁
Uthie
Diiihhhhh.. siapa LO!!! 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!