Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buruk Rupa
Udara pagi itu terasa begitu sejuk. Di dalam sebuah kamar bernuansa serba putih, Ella berdiri bergeming di depan cermin besar.
Hari ini, ia sudah mengenakan gaun pengantin putih yang sangat anggun. Kain renda halus dan potongan gaunnya jatuh dengan begitu indah di tubuhnya. Jika biasanya Ella selalu memakai pakaian sederhana dan hijab hitam, kini penampilannya benar-benar berbeda. Ia tampak begitu mempesona bagaikan bidadari yang turun dari langit. Bagaimanapun juga, gaun itu adalah pilihan khusus dari Nyonya Sienna sendiri, dan wanita tua itulah yang telaten merapikan tiap helai kainnya.
Ella memilin jemarinya yang terbalut sarung tangan kain putih halus. Dadanya bergemuruh hebat oleh rasa gugup yang tak tertahankan. Ia berbalik, menatap Nyonya Sienna yang tersenyum penuh kehangatan di sudut ruangan.
"Nyonya..." suara Ella terdengar ragu dan bergetar pelan. "Apa Nyonya benar-benar tidak keberatan saya menjadi istri cucu Nyonya?"
Sienna tertawa kecil, suara tawanya begitu lembut dan menenangkan. Ia mendekat lalu meraih kedua tangan Ella yang terbalut sarung tangan itu. Ia mengusapnya penuh kasih sayang.
"Kenapa harus keberatan?" ujar Sienna tulus.
"Sejak pertama kali mengenalmu, Nenek sudah sangat menyukaimu. Kamu anak yang rajin, pekerja keras, dan sangat pintar. Nenek justru merasa bersyukur kamu ada di sini."
Ella menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan rasa sesak yang mendadak menyeruak di dadanya.
"Tapi... saya buruk rupa, Nyonya. Saya tidak pantas bersanding dengan Tuan Raka yang begitu sempurna."
"Sempurna apanya?" potong Sienna ketus.
"Cucuku itu juga punya banyak kekurangan, Ella. Dia keras kepala, dingin, dan kaku seperti kanebo kering. Berhentilah merendahkan dirimu terus menerus. Sekarang, angkat kepalamu, dan jadilah istri yang baik untuk cucuku, ya?"
Mata Ella seketika berkaca-kaca mendengar tuturan tulus dari wanita tua di depannya. Rasa haru membuncah di dadanya. Ia mengangguk kemudian menyapu sudut matanya agar air mata tak merusak cadar cantiknya.
Dengan didampingi Nyonya Sienna, Ella melangkah keluar kamar menuju ruang tengah yang telah disulap menjadi tempat akad nikah yang intim dan elegan.
Di depan penghulu, Rakanza sudah duduk tegap. Pria tampan itu mengenakan setelan jas hitam elegan yang membuatnya tampak sangat gagah dan berwibawa. Mendengar derap langkah kaki, Rakanza mengepalkan tangannya di dalam saku dan menoleh sekilas.
Sontak, Rakanza tertegun sesaat. Tatapannya terkunci pada sosok gadis bercadar yang berjalan anggun di sebelah neneknya. Di balik gaun pengantin putih itu, aura Ella memancar begitu bersih bagaikan bidadari. Untuk beberapa detik, Rakanza sampai lupa cara bernapas.
Namun, hanya dalam hitungan detik, Rakanza cepat-cepat membuang mukanya ke arah lain. Ia berdehem pelan, membuang jauh-jauh rasa kagum yang sempat terlintas. "Ingat Raka, di balik cadar itu ada wajah yang rusak," batinnya mengingatkan diri sendiri agar dinding keangkuhannya tidak runtuh.
Acara inti pun dimulai. Ketika penghulu menjabat tangannya, Rakanza mengembuskan napas perlahan. Dengan suara baritonnya yang mantap, tegas, dan terdengar begitu hikmat serta tulus, ia mengucapkan kalimat ijab kabul dalam satu tarikan napas tanpa ragu sedikit pun.
"Sah!"
Suara para saksi membahana di ruangan itu. Nyonya Sienna menjadi orang yang paling berbinar dan penuh senyum bahagia. Mata wanita tua itu berkaca-kaca menatap cucu kesayangannya kini resmi berstatus sebagai suami.
Namun, tepat setelah sesi doa selesai dan Ella hendak melangkah mendekat membawa nampan kecil untuk menyematkan cincin pernikahan mereka, Rakanza tiba-tiba berdiri dari duduknya. Tanpa mengulurkan jari atau menatap istrinya, pria itu berbalik berniat pergi begitu saja.
Sienna yang melihat hal itu seketika melotot dan berteriak marah. "Rakanza! Mau ke mana kamu?!"
Rakanza menghentikan langkahnya sebentar, menoleh sedikit dengan raut wajah dingin tanpa bersalah. "Aku punya urusan yang lebih penting, Nenek."
Tanpa menunggu balasan sang nenek atau memperdulikan tatapan heran orang-orang di ruangan itu, Rakanza pergi meninggalkan area pernikahan.
Sienna mengelus dadanya, hendak memanggil cucunya lagi dengan nada marah, namun Kalendra dengan lembut menyentuh lengannya, menggeleng pelan agar istrinya itu tidak perlu memperpanjang masalah.
Ella menunduk, meremas dua cincin pernikahan emas dalam genggaman tangannya yang bersarung putih. Ada rasa nyut-nyutan tipis di hatinya, tetapi ia sama sekali tidak menangis atau terkejut. Sejak awal, ia sudah tahu hal seperti ini pasti akan terjadi.
Ia sangat sadar Rakanza menyetujui pernikahan ini semata-mata hanya demi menuruti kemauan Nyonya Sienna. Ella mengembuskan napas pelan di balik cadarnya, mencoba tersenyum menguatkan diri.
Tidak apa-apa, setidaknya... pria itu tidak mencaci wajahku di depan semua orang hari ini.
Batinnya berusaha melapangkan dada.
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡