NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Langit di atas Mansion Hendrick seolah menolak untuk menjatuhkan setetes pun air hujan selama tiga hari terakhir, namun di dalam dinding-dinding batu raksasa itu, badai duka dan air mata tak pernah berhenti mengguyur. Hawa dingin kematian merayap tanpa ampun, menggerogoti sisa-sisa kewarasan siapa pun yang bernapas di dalamnya.

Pagi itu, matahari bersinar terlalu terang, mengejek kegelapan yang menyelimuti altar persemayaman di aula utama.

Di tengah lautan mawar putih yang tak terhitung jumlahnya, terbaring sebuah peti mati berukuran kecil yang diukir dari kayu mahoni putih dan berlapis emas. Di dalamnya, Lily tertidur pulas. Gadis kecil itu mengenakan gaun tidur sutra favoritnya—pemberian sang kakek—dengan rambut pirang kecokelatan yang disisir rapi dan sebuah tiara kecil menghiasi kepalanya. Kulitnya sepucat lilin porselen, matanya terpejam damai seolah ia hanya sedang bermimpi indah, namun dada kecil itu tak lagi bergerak.

Keheningan yang mematikan dipecahkan oleh suara isakan lirih dan konstan yang mengiris hati.

Amanda duduk bersimpuh di lantai marmer, tepat di samping peti mati putrinya. Ia masih mengenakan gaun pengantin putih yang telah bernoda darah dan debu, menolak untuk melepaskannya, menolak untuk mandi, bahkan menolak untuk makan dan minum sejak malam kejadian terkutuk itu. Wajahnya yang dulu cantik kini terlihat seperti mayat hidup. Kantung matanya hitam dan bengkak, bibirnya pecah-pecah, dan pandangannya kosong melompong menembus kaca peti mati.

Tangan Amanda yang gemetar dan sedingin es terus mengelus permukaan kaca peti, seolah berharap panas tubuhnya bisa menembus kaca itu dan membangunkan Lily.

"Bangunlah, Nak..." bisik Amanda dengan suara parau yang nyaris tak terdengar, pita suaranya telah hancur akibat raungannya selama tiga hari tiga malam. "Ini sudah pagi. Kau bilang... kau bilang kau ingin sarapan pancake buatan Ayah... kau bilang kau ingin menerbangkan layang-layang dengan Nenek... bangun, Sayang. Bunda mohon... bunda tidak bisa bernapas tanpa Lily..."

Di sudut ruangan, Nyonya Besar duduk di kursi roda, tubuh rentanya hancur total. Matriark angkuh yang tak pernah menitikkan air mata itu kini menangis tanpa suara, mencengkeram dadanya yang terasa diremas hancur. Tuan Besar berdiri di belakang istrinya, menatap peti mati cucunya dengan mata merah menyala, meratapi kepingan kemanusiaan mereka yang baru saja dikembalikan, hanya untuk direnggut paksa kembali.

Namun, di antara semua duka itu, wujud keputusasaan paling mengerikan justru tidak bersuara sama sekali.

Aldebaran Hendrick berdiri menjulang beberapa meter di belakang Amanda. Sang Raja Iblis berdiri mematung layaknya gargoyle dari neraka. Kemeja putihnya kusut masai, jas tuxedo-nya entah ke mana. Rahangnya mengeras dengan urat-urat yang menonjol di lehernya. Matanya yang selalu memancarkan dominasi dan arogansi kini kosong, segelap malam tanpa dasar, menatap lurus ke arah tubuh mungil putrinya.

Aldebaran tidak menangis. Tidak ada satu pun air mata yang jatuh dari matanya setelah malam itu. Namun, aura kematian yang menguar dari pori-porinya begitu pekat hingga Flop dan Dante bahkan tak berani bernapas terlalu keras di dekatnya. Sang mafia telah berubah menjadi cangkang kosong yang hanya digerakkan oleh satu insting purba: pembantaian.

"Al..."

Suara serak Amanda memecah kebisuan Aldebaran. Wanita itu tidak menoleh, matanya masih menempel pada peti mati Lily.

"Al... janjimu..." Amanda tersedak isakannya sendiri, memeluk kakinya yang mati rasa. "Kau janji... tidak akan ada seorang pun yang berani menyakitinya. Kau janji akan melindunginya... ke mana kau saat dia tidak bisa bernapas? Ke mana kau saat dia menangis memanggilmu?!"

Pertanyaan putus asa itu menghantam Aldebaran layaknya hantaman godam tepat di jantungnya. Rahang sang mafia bergemeletuk hingga nyaris patah. Ia memejamkan mata, dan saat terbuka, kilat gila telah sepenuhnya mengambil alih.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Aldebaran berbalik. Langkah kaki besarnya yang berdentum membelah aula menyiratkan eksekusi mutlak.

Dante dan Flop langsung membungkuk hormat, tahu ke mana tuan mereka akan pergi.

"Flop," panggil Aldebaran saat melewati tangan kanannya. Suaranya terdengar tidak manusiawi. Kosong, sedingin gletser, dan membawa gemuruh murka alam semesta.

"Ya, Tuan?"

"Siapkan ruang bawah tanah nomor tujuh. Ruang penyiksaan terdalam yang kedap suara," perintah Aldebaran tanpa menghentikan langkahnya menuju lift rahasia. "Bawakan aku garam asam, pisau bedah tumpul, dan obor. Aku ingin kulit Anastasya dikelupas secara perlahan, inci demi inci, dan aku sendiri yang akan memastikan dia tetap terjaga saat jantungnya kurobek keluar dari dadanya."

"Dengan senang hati, Tuan." Flop menyeringai sadis, memutar pisau karambit-nya.

Di dalam aula yang perlahan mendingin, Amanda akhirnya menundukkan kepalanya ke atas kaca peti mati. Tangisannya pecah kembali, meronta dalam lautan duka yang tak bertepi. Darah Anastasya tidak akan pernah bisa mengembalikan tawa putrinya. Penyiksaan sekejam apa pun yang dilakukan Aldebaran tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan yang kini bersarang secara permanen di dada mereka.

Duka ini adalah duka yang abadi. Kutukan bagi klan The Iron Crown, dan bayaran termahal atas segala darah yang pernah mereka tumpahkan. Di atas singgasana berlumur darah itu, sang Raja dan Ratu kini duduk sendirian, meratapi mahkota mereka yang telah kehilangan permata paling berharganya untuk selama-lamanya.

1
kholifah Montes
happy Reading guys
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
kholifah Montes: kak sebenarnya aku juga nggak tega tapi gimana ya🤭
total 1 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!