"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbaring Disini
***
"Ibu, lepas dulu sandalnya di depan pintu," bisik Maya penuh kehati-hatian begitu melangkahkan kaki melewati pintu utama apartemen mewah tersebut.
Wanita paruh baya itu tampak ragu-ragu, matanya membelalak takjub mengedari interior penthouse yang begitu luas dan megah. Maya bahkan sampai melepas sandal selopnya dan berdiri tanpa alas kaki di atas marmer putih yang berkilau.
Mirza yang berjalan di sampingnya sambil membawa tas pakaian sang ibu tertawa pelan.
"Bu, sandalnya dipakai saja. Ini lantai dalam rumah, bersih kok."
"Aduh, Mirza ... lantainya dingin dan licin begini," bisik Maya ragu, tetap enggan memakai sandalnya.
"Apa tidak masuk angin kalau jalan enggak pakai alas begini terus? Rumahnya Alana kok besar sekali, Nak? Mirip gedung pejabat ...."
"Nanti biasa sendiri, Bu," sahut Mirza lembut.
Di ruang tengah, seorang wanita berseragam perawat dan seorang lagi bercelemek bersih sudah berdiri menyambut mereka dengan senyum ramah. Alana memang sudah memberitahu Mirza sebelumnya lewat pesan singkat bahwa dia menyewa seorang perawat khusus untuk memantau kesehatan Maya serta seorang ART untuk mengurus kebersihan apartemen.
Setelah menyapa singkat suster dan ART tersebut, Mirza menuntun ibunya masuk ke kamar khusus yang sudah disiapkan. Kamar itu amat luas, dilengkapi kasur empuk berukuran besar dan jendela kaca yang menyorot pemandangan kota.
"Nah, Ibu istirahat di sini ya," kata Mirza sambil membantu ibunya duduk di tepi ranjang.
Maya mengelus sprei sutra di atas kasur dengan raut tak percaya.
"Aduh, Nak ... Ibu mana bisa tidur kalau kamarnya se-nyaman dan sebagus ini? Ibu takut pas bangun nanti ini cuma mimpi."
Mirza tersenyum tipis, mengusap bahu ibunya.
"Ini beneran, Bu. Mulai sekarang Ibu tinggal di sini. Kalau butuh apa-apa, panggil saja Suster di luar, ya? Ibu jangan banyak gerak dulu sebelum benar-benar pulih."
Maya menatap putra tunggalnya itu dengan binar kebahagiaan dan rasa syukur yang amat dalam. Dia menggenggam tangan Mirza erat-erat.
"Ibu senang sekali melihat kamu sudah nikah sama Alana," ujar Maya lirih, lalu matanya memicing jahil.
"Tapi jujur sama Ibu ... kamu pakai pelet apa, Nak, sampai Alana mau nikah sama kamu? Padahal kamu cuma cleaning service, enggak punya uang, enggak punya rumah, mobil juga enggak punya ... Cuma punya motor butut yang sering mogok itu."
***
"Kenapa juga tangan kamu bisa bikin tidur nyenyak begini?"
Alana bergumam kesal di atas ranjang mewahnya, memandangi Mirza yang sudah tertidur lelap di sofa. Dia mengangkat tangan kanannya sendiri, mengingat betapa cepatnya rasa kantuk datang tadi malam hanya karena menggenggam tangan pria itu.
Alana mendengus keras lalu melempar tubuhnya berbaring secara kasar di atas kasur.
Dia menatap langit-langit kamar dengan napas memburu. Keinginan untuk membangunkan Mirza sangat kuat, tapi harga dirinya menolak mentah-mentah.
"Masa saya harus minta ditemani terus?" bisiknya frustrasi.
Dengan gusar, Alana bangkit dan berdiri di samping tempat tidur. Langkah kakinya mendekati sofa pelan-pelan. Tangannya sudah terulur, siap menepuk bahu Mirza. Namun tepat sebelum jemarinya menyentuh jas pria itu, Alana menariknya kembali.
"Enggak, enggak. Gengsi dong!" gerutunya.
Dia berbalik, berjalan cepat kembali ke tempat tidur, lalu duduk di tepiannya. Tak sampai sepuluh detik, Alana mendengus lagi, berdiri lagi, dan kembali melangkah mendekati sofa. Dia bolak-balik seperti orang bingung, diliputi rasa kesal karena matanya tetap enggan terpejam.
Akhirnya, Alana membungkukkan tubuhnya tepat di atas wajah Mirza yang tertidur pulas. Senyum jahil muncul sekilas. Tanpa berniat membangunkan secara langsung, Alana mencondongkan wajahnya makin dekat lalu meniup pelan wajah pria itu.
Mirza bergerak gelisah. Sekali lagi Alana meniup keningnya.
Kelopak mata Mirza perlahan terbuka. Tatapannya yang masih buram dan terkumpul setengah sadar langsung berbenturan dengan mata Alana yang berada tepat beberapa senti di depan wajahnya.
"Astaga!" Alana kaget setengah mati, refleks menegakkan tubuhnya dan mundur satu langkah dengan wajah memerah.
Mirza mengucek matanya pelan, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun.
"Kenapa, Alana? Ada apa?"
"Saya ... saya tidak bisa tidur lagi," sahut Alana cepat, berusaha memasang raut wajah semasuk akal mungkin.
Mirza menghela napas panjang sambil membetulkan posisi duduknya.
"Mimpi buruk lagi?"
"Belum sempat mimpi! Mata saya dari tadi enggak mau meram!" cetus Alana ketus.
Mirza menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Makanya, kalau mau tidur itu baca doa dulu. Biar pikirannya tenang, enggak dihinggapi mimpi buruk terus."
"Kamu malah menasihati saya?" Alana bersedekap, mendelik tajam.
Bukannya takut, Mirza justru mengulurkan tangannya dan langsung menarik pergelangan tangan Alana hingga wanita itu terdorong mendekat.
"Sini," potong Mirza singkat.
"Eh, mau apa?!" Alana terperanjat.
"Berbaring di sini, di sebelahku," suruh Mirza sambil menggeser tubuhnya ke sandaran sofa.
"Sofanya luas kok, muat buat berdua."
"Enak saja! Kamu pikir saya mau tidur di sofa sempit begitu?!" tolak Alana gengsi.
"Aku sudah capek banget hari ini, Alana. Nggak sanggup jalan ke tempat tidurmu," balas Mirza dengan suara makin melemah karena kantuk berat.
"Kalau kamu mau tidur nyenyak, tidur di sini saja. Daripada bolak-balik terus bikin pusing."
Sebelum Alana sempat membalas atau memprotes lagi, Mirza melingkarkan tangannya ke pinggang Alana, menariknya lembut hingga wanita itu terduduk lalu terbaring di sampingnya. Dengan sigap, tangan Mirza meraih ujung selimut tebal, membentangkannya menutupi tubuh Alana, lalu memeluk wanita itu dari balik selimut.
Mata Alana terbelalak sempurna. Tubuhnya mendadak kaku dalam dekapan hangat Mirza. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga dia khawatir Mirza bisa mendengarnya.
"Mirza ...." bisik Alana pelan, berniat menyemprot pria itu.
"Udah diam ... tidur, Alana ...." gumam Mirza pelan di balik ceruk leher Alana, suaranya makin tenggelam.
Alana mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi dekapan Mirza terasa sangat pas dan nyaman. Rasa hangat perlahan merayapi tubuhnya, mengusir udara dingin kamar yang menyengat. Anehnya, rasa gengsi dan amarah Alana luntur begitu saja. Dia tidak jadi memprotes.
Tak sampai satu menit, dengkuran halus mulai terdengar dari Mirza.
Alana menoleh sedikit, menatap wajah pulas Mirza yang berada begitu dekat darinya. Dia menghirup napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu memejamkan matanya rapat-rapat mengikuti irama napas sang suami.
***
"Aduh, Ibu ... maaf ya, Mirza baru turun. Harusnya Mirza yang bantu Ibu siapkan sarapan," ujar Mirza seraya menghampiri ibunya yang sedang sibuk menata piring di meja makan.
Maya tersenyum hangat sambil menyusun sendok.
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu justru senang bisa bergerak lagi. Lagipula cuma masak yang simpel-simpel kok."
Langkah kaki Alana terdengar mendekat. Dengan pakaian kantor yang sudah rapi dan elegan, dia menghampiri area dapur bersih itu. Matanya menatap deretan makanan yang tersaji hangat di atas meja.
"Ini ... Ibu yang masak semua sarapannya?" tanya Alana pelan.
Maya menoleh agak canggung.
"Iya, Nak Alana. Maaf ya kalau ada makanan yang tidak cocok di lidah kamu. Kalau kamu ada yang tidak suka, bilang saja ya, nanti tidak akan Ibu masak lagi."
Alana menggeleng pelan lalu duduk di sebelah Mirza.
"Enggak kok, Bu. Alana suka semuanya, kelihatannya enak."
Alana menuang air putih ke gelasnya sebelum kembali menatap ibu mertuanya.
"Tapi Ibu jangan banyak gerak dulu. Kan sudah ada ART yang kerja buat siapkan sarapan, Ibu istirahat saja. Jangan sampai sakit lagi, nanti Mirza sedih."
Maya terkekeh pelan.
"Ibu ini tidak biasa kalau cuma tidur-tiduran terus, Nak. Dari dulu sudah biasa bangun pagi dan buatkan sarapan buat Mirza."
Alana terdiam sejenak, ada rasa canggung yang menyengat dadanya.
"Alana yang minta maaf ya, Bu. Harusnya Alana yang ada di dapur siapkan sarapan buat Mirza dan Ibu."
"Eh, tidak apa-apa, Nak. Kamu kan sibuk kerja," potong Maya cepat dengan raut penuh pengertian.
"Oh iya, mau Ibu bawakan bekal untuk makan siang di kantor?"
"Boleh, Bu," sahut Alana tersenyum tipis.
Dengan sigap Maya memasukkan nasi dan lauk ke dalam wadah bekal lalu menyerahkannya pada Alana. Begitu bekal berpindah tangan, Alana melirik jam tangannya.
"Aduh, Alana pamit ke kantor dulu ya, Bu. Sudah terlambat ini," ucap Alana terburu-buru.
Dia meraih tangan Maya dan mencium punggung tangannya dengan hormat.
"Alana jalan dulu ya, Bu."
Tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah kata pun pada Mirza, Alana langsung memutar tubuhnya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan area dapur.
Maya menatap pintu keluar yang baru saja tertutup dengan kening berkerut heran. Dia menoleh ke arah putranya.
"Mirza ... kenapa Alana tidak pamit atau cium tangan kamu?"
Mirza menelan makanan di mulutnya, lalu tersenyum menenangkan ibunya.
"Belum terbiasa, Bu. Namanya juga masih pengantin baru. Kebiasaan jadi bos di kantor juga."
Maya mengangguk-angguk kecil meski masih terasa ganjil.
"Buatkan dia mengerti pelan-pelan, nanti lama-lama juga terbiasa. Yang penting dia tahu kewajiban dia sebagai istri."
"Iya, Bu," sahut Mirza lembut. Dia lalu menghabiskan susu hangatnya dan berdiri dari kursi.
"Kalau gitu, Mirza juga pamit harus berangkat ke kantor sekarang ya, Bu."
"Lho? Kenapa tidak berangkat sama-sama saja tadi sama Alana?" tanya Maya heran.
"Kan tujuan kalian sama, ke kantor yang sama."
Mirza merapikan kemejanya sambil menghela napas pendek.
"Mirza tidak mau bikin orang-orang di kantor menyudutkan Mirza, Bu. Nanti dikira Mirza cuma memanfaatkan keadaan karena sudah nikah sama bos dan bisa menikmati fasilitas dari bos. Mirza tidak enak."
Dia mencium tangan ibunya penuh kasih.
"Biar kayak biasa saja, Bu. Biar orang-orang kantor juga biasa lihatnya, tidak makin banyak gosip."