NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Tanpa Keraguan

Malam itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Hujan rintik-rintik baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menenangkan di luar jendela kamarku. Kami bertiga baru saja selesai menyusun rencana di ruang tengah — Dinda sudah pulang lebih dulu, dan kini hanya ada aku dan Orion di dalam kamar yang remang cahayanya.

Aku berdiri membelai kelopak bunga hitam di atas meja sambil menatap pantulanku di kaca jendela. Semua keraguan yang Valdris tanam masih ada sedikit di sana, tapi rasanya tidak lagi seberat tadi siang. Bukan karena aku tidak peduli dengan kebenarannya, tapi karena aku tahu — apa pun jawabannya, perasaan di antara kami itu nyata.

Orion berdiri di ambang pintu sejenak, seolah ragu untuk masuk lebih jauh. "Kau butuh waktu sendirian, Aruna. Aku bisa menunggu di luar kalau kau mau."

Aku berbalik, tersenyum lembut sambil menggeleng. "Jangan. Aku justru ingin kau di sini. Bersamaku. Malam ini... aku tidak ingin ada jarak di antara kita."

Dia melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya. Cahaya bulan yang masuk dari jendela menyinari separuh wajahnya, membuat matanya yang keemasan bersinar lembut. Dia berdiri di depanku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuhnya — aneh, karena dia berasal dari kegelapan, tapi bagiku dia adalah hal terhangat yang pernah kualami.

"Kau yakin?" suaranya rendah, penuh kehati-hatian, seolah takut salah menyentuhku. "Aku tidak ingin kau menyesal nanti. Sekalipun aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku, aku bukan manusia seutuhnya. Dan aku tidak selalu bisa menahan diriku sendiri saat bersamamu."

Aku mengangkat tanganku, menyentuh pipinya yang dingin namun halus. "Aku tidak takut, Orion. Dan aku tidak akan menyesal. Kau adalah rumahku. Ingat?"

Dia menutup matanya sejenak, menyentuh punggung tanganku di pipinya dengan lembut. Lalu dia membuka matanya lagi, menatapku dalam-dalam, seolah ingin membaca setiap inci perasaanku.

"Kalau begitu... biarkan aku menunjukkan betapa berartinya kau bagiku. Bukan karena kewajiban. Bukan karena perjanjian. Tapi karena kau adalah satu-satunya cahaya yang pernah aku temukan di ribuan tahun hidupku."

Dia memeluk pinggangku perlahan, menarikku mendekat hingga tubuh kami saling menyatu. Ciumannya kali ini berbeda — bukan terburu-buru, bukan sekadar rindu yang tertahan. Ini adalah pengakuan yang dalam, janji yang diucapkan tanpa kata-kata. Lembut di awal, semakin dalam seiring detak jantungku yang berpacu kencang, seolah kami berdua sedang mencoba menyampaikan bahwa tidak ada keraguan yang lebih kuat dari rasa ini.

Ketika kami berpisah, dia tidak menjauh. Dia menempelkan dahinya ke dahiku, napasnya hangat di wajahku. Tangannya menyisir rambutku perlahan, jemarinya menyentuh kulitku dengan kelembutan yang membuatku merinding — bukan karena takut, tapi karena aku merasa begitu berharga, begitu diinginkan dengan cara yang paling tulus.

"Kau tahu apa yang aku harapkan setiap hari?" bisiknya, mencium pelipisku dengan lembut. "Aku berharap aku bisa menjadi manusia. Bukan karena aku malu pada siapa aku, tapi karena aku ingin menua bersamamu. Aku ingin melihat garis halus muncul di sudut matamu seiring berjalannya waktu. Aku ingin memegang tanganmu saat kita berdua renta. Aku ingin... semua hal kecil yang terasa mustahil untukku."

Aku memeluknya erat, menyembunyikan wajahku di lehernya yang harum seperti hutan setelah hujan. "Kita tidak butuh waktu yang lama untuk membuktikannya, Orion. Cukup hari ini. Cukup sekarang. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Dia mengangkat wajahku perlahan dengan ujung jarinya, menatap mataku dalam-dalam. "Kau membuatku merasa layak dicintai. Sesuatu yang sudah lama kulupa rasanya."

Malam itu kami berbagi cerita hingga dini hari — tentang ketakutan kami, tentang harapan yang sederhana, tentang masa depan yang masih kabur tapi terasa lebih ringan karena kami menghadapinya berdua. Di sela-sela percakapan, dia menciumku lagi — kali ini lebih tenang, lebih dekat, seolah dia ingin menyimpan setiap momen ini di dalam ingatannya selamanya. Setiap sentuhannya penuh rasa hormat dan kehangatan, seolah aku adalah sesuatu yang rapuh namun berharga tak ternilai harganya.

Dia tidak pernah mendesakku. Dia selalu berhenti sesaat, menatapku dengan mata yang bertanya — apakah ini baik-baik saja? — dan hanya akan melanjutkan saat aku mengangguk, menariknya lebih dekat. Dan di pelukannya, aku merasa utuh. Seolah dua bagian yang terpisah akhirnya menemukan tempatnya.

Saat fajar mulai menyelinap di ujung langit, dia bangkit perlahan, mengenakan jubahnya kembali. Aku bangkit juga, memeluknya dari belakang. Dia berbalik, mencium keningku lama sekali.

"Aku harus pergi sebelum matahari terbit sepenuhnya. Tapi aku tidak akan pergi jauh. Aku selalu ada di dekatmu, Aruna. Selalu."

"Jaga dirimu, Orion. Dan jangan pernah ragu. Aku percaya padamu. Lebih dari apa pun."

Dia tersenyum — senyum yang paling tulus yang pernah kulihat darinya — lalu melangkah menuju jendela. Tapi sebelum menghilang ke dalam kabut pagi, dia berhenti dan menoleh.

"Terima kasih. Untuk malam ini. Untuk kepercayaanmu. Dan untuk mencintai seseorang seperti aku."

Lalu dia lenyap, meninggalkan ruangan yang terasa lebih hangat dari sebelumnya, dan satu keyakinan di hatiku — apa pun yang akan datang, kami bisa melewatinya. Selama kami saling memegang tangan, tidak ada kegelapan yang terlalu dalam untuk kami lewati bersama.

Namun di kejauhan, di tempat yang tak terlihat oleh siapa pun, Valdris tersenyum miring sambil melihat ke arah jendelaku. Dia tidak butuh memisahkan kami dengan kekuatan. Dia hanya butuh waktu. Dan suatu hari nanti... pengorbanan terbesar baru saja akan dimulai.

 Bersambung...

Lanjut ke Bab 34? 🖤

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!