Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 008 - Ruang Bawah Tanah Lembab
Gu Yuan menahan bobot tubuhnya di atas balok kayu jati, mengulurkan tangan kanan untuk memeriksa kisi-kisi lubang hawa di bawah atap genting gudang. Celah sempit itu cukup lebar untuk dilewati tubuh seorang pemuda, memperlihatkan hamparan birunya langit siang dan pucuk-pucuk pohon pinus di lereng bukit belakang yang bergoyang ditiup angin lembah.
Namun, saat ujung jemarinya baru saja menyentuh jeruji besi yang melintang di lubang tersebut, kulit jarinya merasakan getaran halus yang dingin dan berdengung pelan.
Sebuah jimat kertas kuning selebar dua jari tertempel rapi di sambungan besi dan dinding batu kapur. Pada permukaan kertasnya yang kusam tertera rajahan tinta merah bermotif lonceng terbalik—jimat peringatan getaran tingkat dasar. Jimat murah ini memang tidak memiliki daya hancur atau mantra pembunuh, namun jika kawat atau jeruji besi dipotong, ditarik, atau diguncang paksa, simpul tenaga spiritual di dalamnya akan pecah seketika. Ledakan kecil dari kertas jimat akan memicu bel lonceng peringatan di pos penjaga luar berdentang nyaring tanpa jeda.
Tetua Mo Cheng benar-benar menutup setiap celah di kompleks gudang ini dengan sangat teliti. Bagi pria tua itu, bejana-bejana darahnya tidak boleh memiliki jalan keluar sedikit pun ke dunia bebas.
Gu Yuan perlahan menurunkan kakinya kembali ke atas tumpukan peti kosong, lalu melompat turun ke lantai tanah liat tanpa menimbulkan suara debu. Rute melarikan diri lewat langit-langit atap sama sekali tidak bisa dipakai, kecuali jika ia berniat menghadapi sepuluh pengawal bersenjata tombak yang akan mengepung dinding belakang dalam hitungan sepuluh tarikan napas setelah lonceng berbunyi.
Gemerincing rantai besi dari arah lantai bawah kembali terdengar memecah keheningan. Kali ini, suara gesekan logam tersebut diikuti oleh suara erangan serak dan tarikan napas yang tersengal-sengal, merambat naik melalui celah-celah papan lantai.
Gu Yuan melangkah mendekati sudut timur gudang, tempat sebuah palka batu segi empat terpasang rata dengan lantai tanah. Palka itu sedikit terbuka, menyisakan celah selebar satu jengkal yang disangga oleh sepotong balok kayu arang basah. Dari celah sempit yang menganga itu, berhembus hawa dingin yang basah dan berbau anyir darah kering bercampur bau busuk lumut rawa yang memuakkan.
Tidak ada pilihan rute lain yang tersisa di permukaan. Jika seluruh pintu utama telah dikunci rapat dan lubang atap dipasangi jimat peringatan, satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah lorong pembuangan air limbah bawah tanah yang menghubungkan ruang tahanan sekte dengan parit jurang di luar pagar lembah.
Gu Yuan menarik napas dalam-dalam, mengencangkan simpul tali sabuk yang mengikat seikat kunci kuningan rampasannya, lalu menyelipkan belati kecilnya ke dalam genggaman tangan kanan. Tubuhnya merunduk rendah dan merayap masuk ke dalam celah palka batu yang gelap gulita.
Di balik palka, terbentang anak tangga batu kapur yang curam, sempit, dan licin oleh lumut hijau berlendir. Gu Yuan menuruni anak tangga satu demi satu dengan langkah lambat dan penuh perhitungan. Setiap kali telapak kakinya yang melepuh menjejak permukaan batu basah, rasa perih menyengat menjalar ke tumitnya, tetapi ia tidak membiarkan fokusnya goyah sedikit pun. Semakin dalam ia menuruni undakan batu, bau anyir darah terasa semakin pekat dan menyesakkan rongga dada, menempel di dinding kerongkongannya seperti lapisan kabut beracun yang lengket.
Di dasar tangga batu terdalam, terbentang sebuah lorong sempit berdinding batu cadas alami yang terus meneteskan air rembesan tanah. Cahaya di lorong ini sangat temaram dan suram, hanya berasal dari beberapa mangkuk tanah liat berisi minyak lemak ikan yang menyala kecil di ceruk dinding batu setiap lima depa. Udara di dalam lorong terasa pengap, dingin, dan lembap, menusuk kain jubah tipis yang melekat di tubuh Gu Yuan hingga ia merasakan gigilan halus di tengkuknya.
Di sepanjang sisi kiri lorong bawah tanah tersebut, berjajar sepuluh bilik tahanan sempit yang dipisahkan oleh jeruji kayu besi setebal paha manusia. Kayu besi adalah jenis kayu hutan liar yang telah direndam air garam tambang selama bertahun-tahun hingga seratnya sekeras baja biasa dan tahan terhadap pukulan tenaga raga fana. Pintu-pintu bilik tersebut terkunci rapat oleh rantai tembaga berat yang disatukan oleh gembok-gembok silinder berkarat.
Gu Yuan merunduk rendah, melangkah menyusuri lorong sembari mengamati bagian dalam bilik-bilik tahanan tersebut dengan pandangan mata yang awas.
Pemandangan di balik jeruji kayu besi itu sangat mengerikan. Di atas lantai bilik yang beralaskan jerami basah berjamur dan kotoran manusia, tergeletak beberapa pemuda berpakaian compang-camping khas murid luar sekte. Tubuh mereka kurus kering hingga tulang-tulang iga mereka menonjol jelas di balik kulit yang pucat pasi keabu-abuan. Mereka terbaring lemas tak berdaya seperti mayat hidup yang menunggu ajal.
Pada pergelangan tangan kiri masing-masing tahanan, terlihat beberapa bekas sayatan pisau yang menghitam dan mengering secara kasar. Itu adalah tanda bahwa darah mereka telah diambil secara berkala oleh para pengawas untuk menguji kemurnian dan kecocokannya dengan racun Dantian yang menggerogoti tubuh Mo Cheng.
Mereka semua adalah murid luar barak barat dan selatan yang dikabarkan menghilang selama beberapa pekan terakhir. Desas-desus di barak luar selalu menyebut bahwa mereka dipindahkan tugas ke tambang dalam karena membuat kesalahan disiplin. Namun kenyataan di depan matanya membuktikan bahwa mereka semua disekap di dalam kegelapan perut bumi ini, dijadikan bejana penampung racun yang menunggu saatnya dikuras habis di atas altar gua air terjun.
Gu Yuan menahan amarah yang membakar di dalam dadanya. Ia tahu persis bahwa nasibnya akan berakhir di lantai jerami basah ini jika cermin perunggu peninggalan ayah angkatnya tidak membangunkannya pagi tadi.
Saat Gu Yuan melangkah pelan melewati bilik tahanan ketujuh, sesosok tubuh kurus yang terbaring telungkup di atas jerami mendadak bergerak pelan.
Seorang pemuda berusia sekitar enam belas tahun dengan pipi cekung dan bibir pecah-pecah perlahan mengangkat kepalanya dari lantai tanah. Matanya yang merah dan cekung menatap bayangan langkah kaki Gu Yuan yang melintas di depan jeruji kayu besi.
Pupil mata pemuda itu seketika membelalak lebar saat cahaya lentera dinding menerangi separuh wajah Gu Yuan. Itu adalah Xiao Wu, salah satu murid luar dari barak timur yang selama setahun terakhir sering bekerja bersamanya memecah batu arang di tambang luar.
Harapan liar yang bercampur histeria meledak di wajah pemuda yang sekarat itu. Mulutnya yang kering dan bergetar membuka lebar-lebar, dadanya yang kurus membusung kuat hendak berteriak sekeras-kerasnya memanggil nama Gu Yuan dan memohon pertolongan di tengah kegelapan lorong maut tersebut.