Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Waktu menunjukkan pukul dua siang, menandakan jam sibuk makan siang di restoran hotel perlahan mulai mereda.
Gelombang pesanan di dapur utama pun tak seramai sebelumnya.
Pintu kaca ruang pengawasan terbuka. Lucas melangkah keluar membawa beberapa kotak makan siang mewah berlogo restoran bintang lima dari area VIP.
Dengan langkah tenang namun penuh pesona, ia berjalan menghampiri Aira yang sedang mengelap station kerjanya.
"Chef Aira, mari kita makan siang sama-sama. Ada beberapa hal terkait evaluasi menu yang ingin saya bicarakan," ujar Lucas yang sengaja berbohong agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Rizal maupun staf dapur lainnya.
Aira yang paham betul dengan "modus" calon suaminya itu menahan senyum, lalu menunduk sopan.
"Baik, Pak Lucas. Terima kasih."
Melihat pemandangan itu, Rizal yang sedang mencuci alat masak langsung menghentikan kegiatannya.
Ia memegang dadanya dengan raut wajah pura-pura merana.
"Lho. Pak Lucas? Kita-kita yang sudah mandi keringat di depan kompor ini dilupakan nih, Pak?" ledek Rizal jenaka, memancing tawa kecil dari para koki lainnya.
Lucas menoleh ke arah Rizal, sudut bibirnya terangkat tipis.
Tanpa kehilangan wibawanya, ia melirik Arum yang berdiri tak jauh dari pintu dapur.
"Arum, tolong pesankan makan siang mewah untuk seluruh staf dapur hari ini. Biaya sepenuhnya dari saya," perintah Lucas mantap.
"Siap, Pak Lucas!" sahut Arum cepat dengan senyum lebar.
"Waaaaah! Terima kasih Pak Bos ganteng! Hidup Pak Lucas!" seru Rizal dan seluruh tim dapur bersorak kegirangan.
Aira menggelengkan kepala melihat tingkah Lucas yang begitu royal demi menutupi niat aslinya untuk menyendiri bersamanya.
Mereka berdua pun melangkah masuk ke dalam ruangan berkaca kedap suara untuk menikmati makan siang bersama.
Begitu pintu kaca ruang kerja pribadi Lucas tertutup rapat, pria itu langsung memutar kunci pengamannya.
Dengan sentuhan tombol di dinding, kaca transparan yang tadinya bening seketika berubah menjadi buram dan kedap pandangan, memastikan tidak ada satu pun pasang mata staf dapur di luar yang bisa melihat aktivitas di dalam ruangan.
Aira menghela napas panjang, melepaskan topeng profesionalnya sebagai Head Chef. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk di sudut ruangan, lalu melunjurkan kedua kakinya yang terasa pegal setelah berdiri berjam-jam di depan kompor panas.
"Huh... capek sekali..." keluh Aira pelan, memejamkan mata sejenak sembari memijat betisnya sendiri.
Melihat kekasihnya kelelahan, Lucas langsung melepaskan jas kerjanya dan melangkah mendekat. Tanpa ragu, pria berwibawa itu berlutut di lantai karpet tepat di hadapan Aira.
Aira terperanjat kecil, matanya terbuka lebar saat melihat Lucas meraih kedua kaki indahnya dan mulai memijat pergelangan serta telapak kakinya dengan lembut dan penuh kehati-hatian.
"Lucas, jangan, nanti kalau ada yang lihat." protes Aira setengah berbisik dengan pipi merona merah.
"Kaca sudah diganti buram dan pintu terkunci. Tidak ada yang bisa lihat," sanggah Lucas lembut, terus melanjutkan pijatannya untuk meredakan pegal-pegal di kaki Aira.
"Pulang saja ya? Istirahat di penthouse," ajak Lucas tulus, menatap wajah Aira dengan sorot penuh kekhawatiran.
Aira menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum manis sembari menarik dagu Lucas agar pria itu bangkit dan duduk di sampingnya.
"Tidak mau, Lucas. Masih ada sesi memasak untuk makan malam nanti. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dengan profesional," jawab Aira teguh.
"Keras kepala sekali," gumam Lucas gemas, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat.
Aira tertawa kecil mendengar omelan ringan itu. Ia segera membuka kotak makan mewah di hadapan mereka, mengambil satu suapan makanan, lalu mengarahkannya langsung ke bibir Lucas.
"Sudah, jangan ngomel. Mending kamu makan juga, nanti malah sakit," bujuk Aira lembut.
Lucas menatap suapan dari Aira dengan mata berbinar.
Tanpa menolak, ia membuka mulut dan menikmati makan siang yang terasa jauh lebih lezat karena disuapi langsung oleh wanita yang paling dicintainya itu.
Di tengah suapan kedua, raut wajah Aira mendadak berubah.
Ia menghentikan tangannya, menatap kosong ke depan seolah ada sesuatu yang tiba-tiba berputar di dalam kepalanya, memicu rasa ingin yang begitu kuat.
"Ada apa, sayang? Ada yang tidak enak?" tanya Lucas cemas melihat perubahan ekspresi Aira.
Aira menggeleng pelan, lalu menatap Lucas dengan mata berbinar penuh harap.
"Lucas, tiba-tiba aku ingin manisan ceri. Rasanya segar sekali." bisik Aira manja.
Mendengar kata-kata itu, otak tajam Lucas langsung menangkap sinyal khas seorang wanita hamil yang sedang ngidam.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, pria itu langsung merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pribadi, dan menelepon asisten kepercayaannya.
"Randy," ucap Lucas dengan nada tegas dan dingin tanpa bantahan begitu sambungan terhubung.
"Ya, Pak Lucas? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Randy
"Isi seluruh kulkas di penthouse dan ruang istirahat dapur dengan manisan ceri sekarang juga! Dan catat: rahasiakan dari siapa pun, kalau sampai ada yang tahu bahwa calon istriku sedang ngidam, posisimu taruhannya!" perintah Lucas mutlak.
Randy yang menelan ludah ketakutan di seberang sana langsung mengangguk cepat.
"Baik, Pak! Dalam waktu setengah jam semuanya sudah beres. Siap, Bos."
Lucas kembali meletakkan ponselnya, lalu menatap Aira dengan senyuman paling lembut yang hanya ia tunjukkan untuk wanita itu.
"Sudah dipesan, sayang. Sebentar lagi manisan cerinya pasti datang."
Aira tersenyum lebar, merasa sangat disayang dan dimanja oleh pria yang kini resmi menjadi pelindung hidupnya.
"Terima kasih, Lucas." bisik Aira penuh kehangatan, matanya berbinar menatap pria tegap di sampingnya.
"Sayang," panggil Lucas pelan.
Begitu Aira menoleh, Lucas langsung memajukan wajahnya dan menyapu lembut bibir Aira dengan ciuman yang amat manis dan dalam.
Ciuman hangat yang dipenuhi rasa cinta, rasa bersyukur, dan tekad untuk selalu memanjakan calon ibu dari anak-anaknya tersebut.
Aira membelalak pelan karena terkejut sebelum akhirnya perlahan memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam dekapan hangat Lucas.
Beberapa saat kemudian, Lucas melepaskan pagutannya pelan, menatap Aira dengan binar mata jahil yang jarang sekali diperlihatkannya pada orang lain.
"Dasar nakal!" ucap Aira dengan wajah memerah padam, menepuk pelan dada tegap Lucas sembari menahan senyum malunya.
"Nakal sama calon istri sendiri kan tidak apa-apa," sahut Lucas santai sembari terkekeh pelan, mengusap sudut bibir Aira dengan jempolnya yang hangat.
Aira tersenyum makin lebar, hatinya terasa meleleh.
Ia kembali melanjutkan makan siangnya dengan tenang hingga usai.
Tak lama kemudian ketukan pelan di pintu luar menandakan manisan ceri pesanan khusus dari Randy telah tiba dan ditaruh di kulkas khusus sesuai instruksi rahasia sang CEO.
Setelah memastikan staminanya pulih dan rasa ngidamnya terobati, Aira beranjak berdiri.
Ia merapikan pakaian kerjanya dan bersiap kembali ke medan perangnya di dapur utama.
"Aku kembali ke dapur dulu ya," pamit Aira manis.
"Iya, jangan terlalu lelah," pesan Lucas penuh perhatian.
Aira keluar lebih dulu menuju area dapur. Tak mau membuat para staf dan koki mencium hal yang mencurigakan, Lucas menunggu sekitar dua menit sebelum akhirnya membuka pintu ruang pengawasan dan melangkah keluar dengan raut wajah tegas seperti biasa, seolah-olah baru saja menyelesaikan rapat evaluasi operasional yang sangat serius.
"Baik semuanya, kembali fokus! Jam makan malam sebentar lagi tiba!" seru Aira bersemangat memberi komando pada seluruh jajaran timnya di dapur.
"SIAP, CHEF!" sahut Rizal dan kawan-kawan kompak.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu