Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
"Non Dara, ada yang mau ketemu." Satpam yang menjaga gerbang menelepon Dara.
"Siapa?" Dara yang sedang nonton drakor mengernyit.
"Namanya Luth."
Mata Dara seketika membulat sempurna. Luth datang kesini, untuk apa?
"Katanya atasan Non Dara di kantor," lanjut satpam.
Dara turun dari ranjang, berjalan ke arah jendela, mengintip dari sana. Terlihat mobil Luth di depan gerbang rumahnya. Untuk apa laki-laki itu siang-siang datang? Apa gak kerja?
"Bagaimana, Non? Diizinin masuk atau enggak?"
Dara masih diam, memikirkan. Sampai akhirnya,
"Ya udah, izinin masuk."
Dara memutus sambungan telepon. Ia mengganti pakaian rumahannya yang dirasa terlalu pendek dengan yang lebih sopan. Merapikan rambut, lalu keluar. Ia melihat Luth sudah menunggunya di ruang tamu.
"Dara." Luth berdiri melihat kedatangan Dara. Ada sebuah rasa yang tidak bisa ia sanggah, ia senang bisa melihat Dara lagi.
Dara berjalan ke arah sofa ruang tamu, lalu duduk di sofa single.
"Apa kabar?" Luth bertanya sambil tersenyum dan kembali duduk.
"Baik." Sahut Dara datar. Kakinya menyilang di lutut, sementara kedua lengannya dilipat di dada.
"Gak kangen sama aku?"
Dara langsung nyengir. Siapa lo? batinnya.
"Mau apa kesini?" tanya Dara sinis.
"Aku haus, bisa gak bikinin minum dulu." Luth mengusap tenggorokannya.
Dara membuang nafas kasar, lalu bangkit dari duduknya.
"Bercanda." Luth terkekeh. "Udah, duduk aja. Tadi ART kamu udah kesini, nawarin minuman."
Yang diomongin tiba-tiba datang. Bi Ani membawa nampan berisi satu gelas sirup coco pandan dengan es. Warna pink nya sangat menggugah selera.
"Makasih, Bi." Luth tersenyum pada wanita paruh baya yang meletakkan minuman di hadapannya.
"Non Dara mau dibikinin juga?" tawar Bibi.
"Gak usah, Bi."
"Dia gak butuh yang seger-seger kalau udah lihat saya," celetuk Luth, menahan tawa.
Dara berdecak pelan, geli melihat gaya Luth yang sekarang tiba-tiba jadi jago gombal.
Bi Ani tertawa pelan. "Jadi ini pacarnya Non Dara?"
"Bukan!" Dara buru-buru menggeleng. Ia melirik Luth tajam. "Jangan ngomong kayak gitu, Bi, bahaya. Pacarnya galak, kukunya tajam kayak macan minta kawin."
Luth menutup mulut dengan telapak tangan, menahan tawa.
Bi Ani pamit kebelakang, tak mau mengganggu obrolan majikannya.
"Kamu ngapain kesini?" Dara menatap Luth. "Kalau mau minta aku kerja lagi, sorry, aku gak mau."
"Itu salah satunya, tapi ada hal lain lagi yang membuat aku kesini." Luth merogoh saku celananya, mengeluarkan sesuatu dari sana. "Mau ngasih ini."
Mata Dara membulat melihat gelangnya ada di tangan Luth. Ia langsung berdiri, mendekati Luth dan mengambil gelang tersebut. Bibirnya menyunggingkan senyum menatap gelangnya.
"Aku suruh orang nguras kolam ikan, jadi ketemu."
"Kok gak putus?" Dara gak mungkin lupa jika hari itu ditarik Valerie sampai putus.
"Sudah aku perbaiki."
"Oh..."
Luth memperhatikan Dara yang masih sibuk memperhatikan gelangnya.
"Makasih ya. Tahu gini, aku gak perlu repot-repot hari itu nyebur ke kolam." Dara tersenyum saat ingat hari itu.
"Tapi kalau kamu gak nyebur, aku gak bakalan tahu kalau kamu pakai nomor 36."
What! Mata Dara langsung membulat sempurna. Wajahnya memerah, menahan malu.
Luth tak bisa menahan tawa melihat ekspresi Dara.
"Ra..."
"Hem." Dara menoleh.
"Gelangnya udah gak putus lagi, udah diperbaiki. Gimana kalau hubungan kita, juga diperbaiki. Kita balikan."
dia gak pernah amnesia...