Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 Tahun Kemudian: Alesha Masuk TK &Satpam Baru
Lima tahun berlalu begitu cepat, seperti kedipan mata.
Jika seseorang bertanya kepadaku lima tahun lalu, apakah aku akan seberbahagia ini, aku pasti akan tertawa dan bilang itu mustahil. Tapi hari ini, aku berdiri di depan cermin besar di walk-in closet mansion kami, memakai blazer putih dan rok span yang elegan, siap mengantar putri kecilku ke hari pertama sekolah TK.
Mansion ini sudah banyak berubah dalam lima tahun. Tidak lagi dingin dan sepi seperti saat pertama kali aku masuk sebagai seorang wanita yang kehujanan. Sekarang, di setiap sudutnya ada tawa. Ada mainan Alesha yang berserakan di ruang tamu. Ada lukisan-lukisan abstrak karya Alesha yang ditempel Revan dengan bangga di dinding ruang kerjanya yang mahal. Ada foto keluarga kami yang besar di atas perapian.
Dan ada aku, Arini Aditya Pratama. Bukan lagi Arini Saputri yang ceng. Kini aku adalah Wakil Presiden Aditya Group, wanita karier yang disegani, istri dari CEO paling tampan di Jakarta, dan ibu dari Alesha.
"Mama! Mama! Alesha nggak mau pakai sepatu ini! Sepatunya sakit!" teriak sebuah suara kecil yang super cerewet dari bawah.
Aku tersenyum dan berlari turun. Di bawah, di ruang tamu, Alesha Aditya Saputri, putri kami yang kini berusia 5 tahun, sedang duduk di lantai dengan seragam TK internasionalnya yang lucu, rok kotak-kotak merah dan kemeja putih, rambutnya dikuncir dua oleh Bi Ijah, tapi sepatu Mary Jane merahnya dilepas dan dilempar ke sudut.
Alesha adalah miniatur Revan yang versi perempuan dan cerewet. Matanya tajam seperti Revan, alisnya tebal, tapi bibirnya manyun seperti aku saat ngambek. Dia sangat pintar, sangat aktif, dan sangat manja, terutama pada Papanya.
"Alesha sayang, kalau tidak pakai sepatu, nanti kakinya kotor dan bisa di gigit semut, loh," bujukku sambil duduk di lantai bersamanya, tidak peduli blazer putihku yang mahal akan kotor.
"Nggak mau! Pokoknya nggak mau! Sepatunya gigit kaki Alesha!" Alesha merajuk dengan bibir manyun 5 senti.
Tepat saat itu, Revan turun dari lantai atas dengan jas hitamnya yang rapi, dasi yang sudah terpasang sempurna, dan aroma parfum mahalnya yang khas. Tapi di tangannya, dia membawa dua kotak bekal yang dihias stiker karakter kartun kesukaan Alesha.
"Pagi, dua putri kesayangan Papa," sapa Revan dengan suara beratnya yang lembut.
"Papa!" Alesha langsung berlari dan memeluk kaki Revan. "Papa, Mama galak! Alesha nggak mau pakai sepatu!"
Revan mengedipkan mata padaku, lalu menggendong Alesha ke atas pangkuannya di sofa.
"Oh, jadi putri Papa tidak mau pakai sepatu? Kalau begitu, Papa juga tidak mau pakai sepatu ke kantor. Kita sama-sama nyeker saja ya? Bagaimana?" kata Revan dengan wajah serius, lalu pura-pura melepas sepatu pantofel mahalnya.
Alesha tertawa ngakak. "Papa lucu! Nanti kaki Papa bau!"
"Kalau begitu, supaya kaki kita tidak bau, kita harus pakai sepatu, kan? Coba Papa lihat, sepatu mana yang gigit kaki Alesha? Biar Papa gigit balik sepatunya," kata Revan sambil mengambil sepatu Mary Jane merah itu dan pura-pura menggigitnya, membuat Alesha tertawa semakin kencang.
Dengan trik sulap ayah yang selalu berhasil, dalam dua menit, Alesha sudah memakai sepatunya dengan patuh sambil terus tertawa.
Aku menatap Revan dengan tatapan penuh cinta. Lima tahun menikah, dan dia masih saja menjadi ayah terbaik dan suami terbaik yang pernah ada. Dia yang mengajarkan ku bahwa menjadi orang tua bukanlah tentang memarahi, tapi tentang memahami dunia anak.
"Kamu memang pawang Alesha," bisikku saat Revan berjalan mendekatiku dan mengecup keningku.
"Dan kamu adalah pawang Papa," balas Revan dengan bisikan mesra, membuat pipiku memerah.
Kami berangkat ke sekolah TK Alesha dengan mobil Bentley hitam Revan. TK Internasional Mentari Bangsa, TK paling elit di Jakarta Selatan, tempat anak-anak konglomerat dan pejabat bersekolah. Revan sengaja menyekolahkan Alesha di sana bukan karena gengsi, tapi karena sistem keamanannya yang paling ketat dan kurikulumnya yang paling bagus untuk tumbuh kembang Alesha.
Sepanjang perjalanan, Alesha terus bercerita dengan semangat di kursi belakang, tentang dia akan punya banyak teman, akan punya banyak crayon, dan akan jadi anak pintar seperti Mama dan Papa.
Aku dan Revan saling menggenggam tangan di kursi depan, mendengarkan celotehan putri kami dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajah kami.
Sampai di sekolah, suasana sangat ramai. Banyak orang tua yang mengantar anaknya di hari pertama. Mobil-mobil mewah berjejer di parkiran. Ada Mercedes, ada Porsche, ada Lamborghini.
Revan menggandengku dan aku menggendong Alesha masuk ke gerbang sekolah.
Dan di gerbang sekolah itulah, aku melihatnya.
Seorang satpam sekolah dengan seragam satpam biru dongker yang sudah agak pudar, topi satpam yang menutupi sebagian wajahnya, sedang mengatur lalu lintas mobil orang tua yang datang dan membantu membukakan gerbang untuk anak-anak kecil yang berlarian masuk.
Postur tubuhnya... cara berjalannya yang sedikit pincang karena dulu pernah berkelahi di penjara... cara dia menunduk sopan pada setiap orang tua...
Jantungku berhenti berdetak sesaat.
Alesha yang ada di gendonganku, tiba-tiba menunjuk ke arah satpam itu dengan jari mungilnya.
"Mama, Om satpam nya baik, dia tadi senyum sama Alesha!" kata Alesha polos.
Satpam itu mendongak karena mendengar suara Alesha.
Dan matanya bertemu dengan mataku.
Topi satpam itu sedikit terangkat karena angin, memperlihatkan wajah di baliknya dengan jelas.
Wajah yang lima tahun lalu pernah sangat kucintai, lalu sangat kubenci, dan kini... hanya tinggal kenangan.
Bara Mahendra.
Ya, itu Bara.
Bara yang kini bekerja sebagai satpam di TK anakku.
Dunia seolah berhenti berputar di gerbang TK itu. Suara riuh anak-anak dan orang tua mendadak hilang dari telingaku. Yang ada hanyalah tatapan antara aku dan Bara, yang terpisah jarak sepuluh meter, dengan lima tahun penyesalan dan karma di antaranya.
Bara membeku. Wajahnya pucat pasi di balik seragam satpamnya. Tangannya yang memegang peluit satpam bergetar hebat. Dia menatapku, lalu menatap Alesha di gendonganku, lalu menatap Revan yang berdiri gagah di sampingku dengan jas mahalnya.
Revan juga melihat Bara. Rahang Revan mengeras. Tangannya yang menggandengku, meremas lebih erat, sebagai tanda dia siap melindungiku jika Bara melakukan sesuatu yang aneh.
Alesha, yang tidak mengerti apa-apa, masih melambaikan tangan mungilnya pada Bara dengan polos.
"Halo, Om Satpam!" sapa Alesha dengan suara cemprengnya yang lucu.
Bara yang masih membeku, dengan air mata yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya, mencoba tersenyum pada Alesha, tapi senyumnya lebih mirip tangisan.
"Halo... Non... Nona kecil..." jawab Bara dengan suara serak yang hampir tidak terdengar.
Aku menarik napas panjang dan mencoba bersikap profesional. Aku tidak ingin membuat keributan di hari pertama sekolah anakku. Aku tidak ingin Alesha melihat drama orang dewasa yang kotor.
Aku menatap Bara dengan tatapan tenang, mengangguk kecil sebagai sapaan formal, seolah dia hanyalah satpam biasa yang tidak kukenal, lalu aku berjalan melewatinya masuk ke dalam sekolah, bersama Revan dan Alesha.
Saat kami melewati Bara, aku bisa mendengar isakan kecil tertahan dari mulutnya.
Di dalam kelas, saat guru menyambut Alesha dan teman-teman barunya, aku masih gemetar. Revan memelukku dari belakang dan berbisik, "Kamu tidak apa-apa, Sayang? Mau Papa pindahkan Alesha ke sekolah lain? Atau Papa pecat dia?"
Aku menggeleng dengan cepat. "Jangan, Mas. Jangan pecat dia. Dia... dia butuh pekerjaan itu. Biarkan saja. Anggap saja dia tidak ada. Aku sudah tidak peduli lagi padanya. Yang penting Alesha bahagia di sini."
Revan mengangguk dan mengecup keningku. "Baik, kalau itu maumu. Tapi jika dia mengganggumu lagi, bilang Papa."
Aku mengangguk.
Di luar jendela kelas, aku bisa melihat Bara dari kejauhan, masih berdiri di gerbang, menatap ke arah kelas Alesha, dengan tatapan kosong dan penuh penyesalan.
Lima tahun lalu, dia adalah seorang manajer yang membuang istrinya di tengah hujan karena istrinya dibilang mandul. Lima tahun kemudian, dia menjadi satpam di sekolah anak mantan istrinya, yang ternyata tidak mandul dan kini menjadi putri dari CEO terkaya.
Karma memang tidak pernah salah alamat. Karma hanya butuh waktu untuk datang, dan saat dia datang, dia akan menagih semuanya dengan lunas.
Alesha menarik ujung rokku.
"Mama, lihat! Alesha dapat stiker bintang! Dari Bu Guru!"
Aku berjongkok dan memeluk Alesha.
"Wah, pintar sekali putri Mama! Mama bangga sama Alesha!"
Alesha memelukku balik dengan erat.
Dan di pelukan putri kecilku itu, aku tahu, aku tidak perlu lagi menoleh ke belakang melihat Bara di gerbang. Karena masa depanku, ada di dalam pelukan kecil ini, dan di dalam genggaman tangan Revan yang tak pernah lepas dari tanganku.
Masa lalu biarlah menjadi satpam yang menjaga gerbang. Agar kami tidak pernah lupa, dari mana kami berasal, dan betapa berharganya kebahagiaan yang kami miliki hari ini.