Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perang mental
Kucuran air dari pancuran shower perlahan mereda setelah Bayu memutar tuas penutupnya. Tubuh tegapnya yang basah menyisakan butiran air yang mengalir di atas kulitnya yang sedikit kecokelatan. Bayu pun langsung merasa segar karena diguyur dengan air hangat yang membasuh sisa-sisa lelahnya malam itu. Dia mengambil handuk kecil yang tersedia, mengeringkan rambut dan wajahnya dengan cepat.
Namun, suasana di dalam kamar mandi mewah itu sama sekali tidak mendingin. Di sudut lain, pandangan Mita masih tertuju pada sesuatu yang sudah lama naik di balik celana pendek kain yang dikenakan pelayan barunya. Mita menyadarinya dengan sangat jelas, namun tidak ada sedikit pun rasa risih di wajahnya.
"Gimana, Bay...?" tanya Mita dengan nada suara yang rendah dan serak, memecah keheningan di antara suara tetesan air.
Bayu berbalik, lalu tersenyum saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia mencoba bersikap sewajar mungkin untuk menutupi gejolak instingnya yang sedang diuji habis-habisan.
"Kembali kesini," perintah Mita, memberikan isyarat dengan jemarinya yang lentik.
Bayu tentu saja mengikuti perintah bosnya tanpa membantah. Sesuai perjanjian, dia melangkah mendekat dan kembali duduk di samping bak mandi besar tempat Mita berendang, menaruh kembali sisa kopi kalengnya yang mulai mendingin.
Namun, ketenangan yang coba dibangun Bayu kembali buyar. Lagi dan lagi, Mita menguji Bayu dengan tindakan yang sangat berani. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, dia pun mulai menggosok tubuhnya sendiri di dalam bak mandi itu, membiarkan busa sabun aromaterapi mengalir di atas kulit mulusnya. Akibat gerakan tersebut, area di balik bra hitam yang basah itu berguncang pelan. Tentu saja, siluet benda padat dan agak besar yang terekspos di balik jernihnya air hangat itu makin membuat pikiran Bayu tidak karuan.
"Kenapa, Bay...?" tanya Mita lagi, menyadari perubahan ekspresi di wajah pelayannya.
Bayu tidak langsung menjawab. Dia hanya meneguk ludahnya dengan susah payah. Terlihat jakun di lehernya bergerak naik turun, menahan desakan gairah yang kian memuncak di dalam dada.
"Bos... apa boleh aku tanya sesuatu?" kata Bayu, mencoba mengalihkan fokusnya yang mulai goyah.
"Silakan..." sahut Mita santai, menyandarkan punggungnya ke tepi bak mandi.
"Apa Anda sadar dengan tindakan Anda saat ini?" kata Bayu yang masih berusaha keras menjaga nada suaranya tetap formal dan profesional.
Mita menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum menantang. "Apa tadi aku minum alkohol?" tanya Mita balik.
Bayu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia tahu betul sejak masuk ke dalam mobil tadi, bosnya sama sekali tidak menyentuh minuman keras.
"Lalu...?" kata Mita memburu argumen Bayu.
Bayu menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke arah mata indah Mita dengan pandangan yang tajam. "Bos... apa Anda tidak sadar? Di sini cuma ada kita berdua di dalam kamar mandi yang tertutup ini."
"Lalu?" kata Mita lagi, menantang tanpa rasa takut sedikit pun.
"Apa Anda tak khawatir kalau aku khilaf dan kehilangan kendali?" ucap Bayu memperingatkan dengan nada yang sedikit merendah, memperlihatkan sisi kejantanan seorang pria normal yang sedang ditekan.
Mendengar gertakan halus itu, Mita justru tertawa kecil. Suara tawanya menggema merdu di ruangan berdinding marmer tersebut.
"Haha, Bayu... Bayu... Aku percaya sama kamu. Toh, jika saja kamu memang tipe pria yang gampang khilaf, sudah dari tadi aku kamu 'makan' di sini," kata Mita dengan penuh keyakinan. Insting wanitanya tahu bahwa Bayu adalah pria yang memiliki kehormatan tinggi, bukan pria mesum murahan.
"Yah, tapi jangan terlalu menguji aku juga, Bos..." kata Bayu yang mulai sedikit melemahkan kata-katanya, mengembuskan napas pasrah.
"Aku ini masih pria normal."
Mita membasuh lengannya yang berbusa, lalu menatap Bayu dengan pandangan meremehkan yang sengaja dibuat-buat. "Perkataan laki-laki tanpa bukti... itu hanya omong kosong," kata Mita yang terus menantang batasan kesabaran pelayan pribadinya.
Bayu memejamkan mata sejenak, mengontrol debaran jantungnya yang sudah di ambang batas. Dia tahu jika dia bertahan lebih lama di sini, dia bisa benar-benar melanggar batas profesionalitasnya.
"Sudahlah, Bos. Aku menyerah," kata Bayu yang mulai berdiri dari bangku kayunya dan melangkah cepat keluar dari kamar mandi, memilih untuk menyelamatkan harga dirinya dan menghindar dari permainan berbahaya sang bos baru.
Mita menatap punggung tegap Bayu yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan tawa yang kembali pecah. "Hahaha, Bayu... Bayu..." gumam Mita dengan gelengan kepala, merasa sangat puas karena telah berhasil memenangkan perang mental malam ini dengan pelayan barunya yang sangat menarik itu.