NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratu Kampus yang Terlupakan, Lip Gloss Pink, dan Aroma Persaingan

Dunia bisnis di Beijing tidak pernah tidur, dan bagi sebuah *startup* yang sedang berlari menuju valuasi seri B seperti PT Campus Relay, setiap rapat adalah medan perang.

Pagi itu, cuaca di luar jendela ruang *boardroom* lantai 18 terlihat mendung, namun suhu di dalam ruangan terasa sedikit panas.

Lu Feng duduk di kursi utama dengan kemeja biru dongker dan jas yang disampirkan di sandaran kursi. Wajahnya serius menatap layar tablet di depannya. Di sebelah kanannya, Lin Xiao duduk dengan postur sempurna, mengenakan *blazer* abu-abu terang, kacamata anti-radiasi, dan iPad Pro yang menampilkan draf legal Non-Disclosure Agreement (NDA).

Hari ini mereka kedatangan calon mitra strategis—sebuah perusahaan *e-commerce* gaya hidup bernama 'Chic-U' yang ingin mengintegrasikan layanan pengiriman mereka dengan armada mahasiswa milik Lu Feng.

Tepat pukul sembilan, pintu ganda *boardroom* terbuka.

Seorang wanita melangkah masuk, dan seketika itu juga, aura ruangan yang kaku berubah menjadi sedikit lebih... manis.

Wanita itu mengenakan *dress* selutut berwarna putih tulang dengan potongan *A-line* yang sangat pas di tubuh mungilnya. Rambut cokelat terangnya dipotong sebahu dengan model *bob* yang sangat *chic*. Wajahnya luar biasa cantik, dengan sepasang mata bulat yang berbinar-binar, pipi yang sedikit merona, dan bibir yang dipoles *lip gloss pink* cerah. Ia terlihat sangat imut, seperti boneka porselen yang hidup, namun langkahnya memancarkan kepercayaan diri seorang miliarder muda.

"Maaf aku sedikit terlambat! Jalanan distrik Chaoyang benar-benar macet kalau sedang gerimis begini," sapa wanita itu dengan suara yang renyah dan bersemangat, melambaikan tangannya sedikit.

Lu Feng bangkit dari kursinya, memasang wajah profesional. "Tidak masalah. Silakan duduk, Presiden Song."

Wanita itu, Song Jia, tersenyum lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit. Ia menarik kursi tepat di seberang Lu Feng. Namun, alih-alih membuka dokumennya, Song Jia justru menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Lu Feng dengan pandangan menilai yang terang-terangan.

"Kau tahu, Kang Lu Feng... kita ini sebenarnya seumuran," ucap Song Jia tiba-tiba, senyum imutnya tidak luntur. "Kita satu angkatan di Universitas Beijing. Aku dari Fakultas Ilmu Komunikasi. Lucunya, dulu kita tidak pernah sadar eksistensi satu sama lain di kampus, ya? Padahal gedung fakultas kita bersebelahan."

Mendengar itu, kening Lu Feng sedikit berkerut. Ia berusaha memutar ingatannya, tapi jujur saja, saat kuliah dulu otaknya hanya berisi dua hal: Lin Xiao dan perusahaannya. Ia sama sekali tidak mengingat wajah cewek imut di depannya ini.

Di sebelah Lu Feng, jemari Lin Xiao yang sedang mengetik di atas layar iPad mendadak berhenti.

Lin Xiao mengangkat wajahnya, menatap Song Jia dengan tatapan datar yang sangat khas. Ingatan Lin Xiao, sebagai seorang lulusan hukum terbaik, jauh lebih tajam daripada Lu Feng.

Ia ingat siapa Song Jia.

Di tahun pertama dan kedua perkuliahan, Song Jia adalah pemegang takhta tak terbantahkan dalam *polling* 'Dewi Universitas Beijing' di forum kampus. Wajah imutnya, kekayaannya, dan gayanya yang selalu *fashionable* membuat ratusan mahasiswa pria memujanya.

Namun, gelar 'Ratu Kampus' itu bergeser di tahun ketiga. Tepatnya saat Lin Xiao memenangkan kompetisi Peradilan Semu tingkat nasional. Foto Lin Xiao yang sedang berpidato di podium dengan wajah dingin dan elegan tanpa *makeup* berlebihan mendadak viral. Pesona *ice queen* Lin Xiao menggeser tren cewek imut, membuat Song Jia perlahan terlupakan dari forum kampus, meski cewek itu kemudian sibuk merintis Chic-U dan menjadi pengusaha sukses di usia sangat muda.

"Saya jarang memperhatikan orang di luar urusan kuliah saat itu, Presiden Song," jawab Lu Feng sopan, nadanya netral. "Fokus saya hanya pada *Campus Relay*."

"Dan pacarmu, tentu saja," sambung Song Jia sambil terkekeh renyah. Mata bulatnya kini berpindah menatap Lin Xiao. Tatapan yang terlihat ramah, polos, namun entah mengapa Lin Xiao bisa merasakan ada pisau bedah yang tersembunyi di balik senyum manis itu.

"Halo, Lin Xiao. Pengacara top kita," sapa Song Jia ramah. "Kita belum pernah mengobrol langsung, tapi dulu namamu sering sekali muncul di forum kampus menggantikan namaku. Aku harus mengakui, pesona gadis hukum memang sulit dikalahkan."

Kalimat itu diucapkan dengan nada bercanda, tapi seisi ruangan tahu itu adalah sebuah proklamasi perang dingin.

Lin Xiao tidak terpancing. Ia membetulkan letak kacamatanya, menyandarkan punggungnya di kursi, dan tersenyum—sebuah senyum profesional yang tidak mencapai matanya.

"Masa lalu di kampus hanyalah permainan anak-anak, Presiden Song. Yang terpenting adalah siapa yang duduk di meja negosiasi hari ini," balas Lin Xiao dengan suara tenang namun mematikan. Ia lalu menggeser draf dokumen ke tengah meja. "Mari kita mulai. Terkait klausul bagi hasil di poin 4.2..."

Rapat berjalan dengan tensi yang aneh.

Song Jia ternyata bukan hanya sekadar wajah imut. Otak bisnisnya sangat brilian. Ia mengimbangi setiap argumen Lu Feng dengan taktik yang cerdik. Yang membuat darah Lin Xiao sedikit mendidih adalah *cara* Song Jia bernegosiasi. Wanita itu tidak kaku; ia sering tertawa, memiringkan kepalanya, dan menggunakan bahasa tubuh yang sangat santai dengan Lu Feng.

"Ah, Lu Feng, kalau kau memotong komisi di angka segitu, *margin* usahaku akan sangat tipis. Ayo dong, untuk teman seangkatan, masa kau sekejam ini?" rengek Song Jia setengah bercanda, memajukan bibir bawahnya sedikit.

Lu Feng yang sedang fokus pada kalkulator di tabletnya, menghela napas pelan. "Ini bukan soal teman seangkatan, Song Jia. Biaya operasional kurir di asrama timur sangat tinggi karena akses yang susah."

"Bagaimana kalau kita bahas ini sambil makan siang?" potong Song Jia cepat, matanya berbinar menatap Lu Feng. "Ada restoran *sushi* baru yang buka di lantai bawah. Aku yang traktir. Kita bisa bicara lebih santai tanpa dokumen-dokumen kaku ini."

Lu Feng baru saja akan membuka mulutnya untuk menolak, namun suara dehaman pelan dari arah kirinya menghentikannya.

Lin Xiao menutup iPad-nya dengan bunyi *klik* yang cukup keras.

"Maaf memotong, Presiden Song," ucap Lin Xiao, nada suaranya turun satu oktaf, sedingin lantai marmer. "Tapi Presiden Kang memiliki jadwal makan siang dengan klien dari Bank Investasi jam 12 tepat. Terkait negosiasi ini, jika Anda keberatan dengan angka komisi, saya sarankan Anda merevisi draf term *sheet*-nya dan mengirimkannya kembali pada tim legal kami paling lambat besok pagi."

Song Jia menatap Lin Xiao sejenak, lalu tersenyum manis, tidak terlihat tersinggung sama sekali.

"Wah, Presiden Kang. Kepala Legal-mu sangat protektif, ya?" goda Song Jia, bangkit berdiri sambil merapikan *dress*-nya. "Baiklah. Aku akan menyuruh timku mengirimkan revisinya. Tapi Lu Feng, serius, lain kali kita harus makan siang bersama. Sebagai sesama pengusaha muda dari kampus yang sama, kita punya banyak hal untuk dibicarakan."

Song Jia mengulurkan tangan kanannya yang lentik kepada Lu Feng.

Lu Feng berdiri, membalas jabatan tangan itu secara profesional. "Terima kasih atas waktunya, Song Jia."

Setelah Song Jia dan timnya keluar, ruangan itu mendadak hening.

Lu Feng mengendurkan dasinya yang terasa mencekik, lalu menoleh ke arah Lin Xiao yang masih duduk diam menatap layar iPad-nya yang gelap.

"Dia pinter banget nyari celah *margin*," gumam Lu Feng, kembali duduk dan meregangkan otot lehernya. "Kalau kita bisa *deal* sama Chic-U, volume transaksi *Campus Relay* bakal naik 30% bulan depan."

Lin Xiao tidak menjawab. Ia mulai membereskan kertas-kertas di mejanya dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari biasanya.

Lu Feng yang sangat peka terhadap perubahan *mood* pacarnya, langsung menghentikan gerakannya. Ia memutar kursinya menghadap Lin Xiao, menopang dagu, dan menyeringai tipis.

"Kenapa muka lo ditekuk gitu, Ibu Pengacara?" goda Lu Feng pelan.

"Aku tidak apa-apa," jawab Lin Xiao cepat, sama sekali tidak menatap Lu Feng.

"Bohong." Lu Feng mencondongkan tubuhnya, menahan tangan Lin Xiao yang sedang merapikan pulpen. "Lo cemburu sama Song Jia?"

Wajah Lin Xiao merona, tapi ia langsung menatap tajam Lu Feng. "Untuk apa aku cemburu? Karena dia cantik? Karena dia imut dan pandai merengek minta komisi diturunkan? Cih, strategi bisnis yang murahan."

Tawa Lu Feng akhirnya meledak. Ia sangat menyukai sisi Lin Xiao yang ini. Sang *Ice Queen* yang cemburu namun gengsi setengah mati.

Lu Feng berdiri dari kursinya, berjalan memutar, lalu menarik kursi Lin Xiao hingga cewek itu terpaksa menghadapnya. Tanpa mempedulikan CCTV di sudut ruangan, Lu Feng membungkuk, mengurung Lin Xiao dengan menempelkan kedua tangannya di sandaran kursi.

"Dia emang cantik, dia emang imut," bisik Lu Feng, sengaja memancing emosi cewek itu.

Mata Lin Xiao langsung membulat, bersiap mengeluarkan pasal-pasal kemarahan. Namun, sebelum satu kata pun keluar, Lu Feng menempelkan keningnya di kening Lin Xiao.

"Tapi dari zaman SMA sampai gue jadi CEO sekarang... selera gue nggak pernah berubah, Xiao," lanjut Lu Feng, suaranya kini berubah sangat dalam dan serak, membuat dada Lin Xiao berdesir. "Gue cuma tertarik sama cewek galak, yang suka ngomel kalau gue salah bikin keputusan, yang mukanya ditekuk kalau cemburu, dan yang pesonanya bikin seisi kampus lupa sama Ratu Kampus yang asli."

Wajah Lin Xiao yang tadi tegang, perlahan mengendur. Rona merah di pipinya kini bukan karena marah, melainkan karena salah tingkah.

"Kamu ini... mulutmu benar-benar licin seperti ular," gerutu Lin Xiao pelan, memalingkan wajahnya sedikit untuk menyembunyikan senyum yang mulai terbentuk di sudut bibirnya.

"Biarin, yang penting ular ini cuma lilit lo doang," kekeh Lu Feng, mengecup singkat bibir Lin Xiao sebelum mundur. "Udah, jangan mikirin Song Jia. Siapin tas lo. Makan siang sama klien Bank Investasi itu sebenarnya nggak ada, kan? Lo sengaja ngarang biar Song Jia pergi."

Lin Xiao mendengus pelan, merapikan rambutnya. "Itu taktik negosiasi, Lu Feng. Agar kita terlihat memegang kendali waktu."

"Ngeles aja lo," Lu Feng menyentil kening Lin Xiao pelan. "Ayo. Tadi lo nyelametin gue dari jebakan *sushi*, sekarang saatnya gue yang traktir lo bebek peking. Bos besar lagi pengen manjain Kepala Legal-nya."

Lin Xiao tersenyum, bangkit dari kursinya, dan berjalan bersisian dengan Lu Feng keluar dari *boardroom*.

Kehadiran Song Jia mungkin menjadi kerikil kecil baru di dunia bisnis mereka yang mulai meluas, mengingatkan Lin Xiao bahwa ia bukan satu-satunya wanita brilian di sekitar Lu Feng. Namun, mengingat cara Lu Feng menatapnya barusan, Lin Xiao tahu, gelar 'Ratu' di hati cowok berandal itu sudah dipatenkan secara permanen, dan tidak ada satu pun *lip gloss pink* yang bisa menghapusnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!