Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Keberangkatan sang Jenderal dan Runtuhnya Perisai Jinyowon
"Beraninya kau melangkah sejauh ini, Jin Wu! Hwajo adalah pusaka sakral keturunan murni Jin. Tempatnya adalah di sini!"
Jin Wu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan taktis. "Jangan terburu-buru menolak, Nyonya Jin. Untuk lebih meyakinkan Anda, hamba perlu menuturkan bahwa permintaan pengambilan Hwajo ini sudah mendapatkan dukungan dan izin penuh secara tertulis dari Yang Mulia Raja di istana."
Mendengar klaim sepihak tersebut, kilatan amarah sekaligus ketakutan melintas di mata Jin Hwa Young. Sebagai seorang ibu pemimpin yang tahu betul konsekuensi mistis dari artefak tersebut—di mana jika Hwajo dikeluarkan maka benteng Jinyowon akan hancur lebur—ia dengan sangat tegas menolak mentah-mentah permintaan Jin Wu.
"Aku tidak peduli dengan kertas dari istana itu!" bentak Jin Hwa Young dengan suara yang bergetar menahan emosi.
"Kau tampaknya lupa, Jin Wu, bahwa sejak zaman leluhur pendiri, Jinyowon memiliki hak istimewa hukum berupa Perisai Pertemuan Umum! Sebuah perisai mistis kedudukan yang bisa digunakan untuk menolak segala bentuk perintah Raja sekalipun jika itu mengancam keselamatan relik. Dengan adanya perisai tersebut, Jinyowon tidak akan pernah bisa diatur-atur oleh siapa pun di negeri ini, bahkan oleh titah Raja sekalipun!"
Mendengar gertakan hukum adat dari Jin Hwa Young, Jin Wu tidak menunjukkan rasa terkejut sedikit pun. Sebaliknya, ia justru terkekeh rendah, melangkah maju dua langkah untuk memotong jarak di antara mereka.
"Nyonya Jin... hamba tentu tidak akan datang ke sini tanpa persiapan jika hanya untuk mendengar bualan tentang sejarah masa lalu," ucap Jin Wu dengan nada meremehkan.
"Aku tahu tentang Perisai Pertemuan Umum itu. Namun, ketahuilah... hak istimewa dan perisai tersebut akan segera dicabut secara resmi pada saat Pertemuan Umum sidang istana yang dijadwalkan berikutnya."
Wajah Jin Hwa Young seketika memucat. "Apa maksudmu?!"
Jin Wu condong ke depan, memberikan hantaman mental yang telak bagi sang ibu pemimpin. "Hal itu bisa terjadi disebabkan karena seluruh keluarga penyihir agung dari klan lain saat ini telah bersepakat dan menganggap bahwa Jinyowon yang sekarang sudah tidak memiliki satu pun penyihir kuat yang cakap untuk menjaga artefak dunia. Yang mana, argumen miring mereka di sidang nanti akan dibuktikan secara mutlak dengan dua fakta nyata yang sedang terjadi di dalam rumahmu sendiri... yaitu kondisi fisik Anda yang kian hari kian melemah, serta belum kembalinya kekuatan spiritual penuh dari putri sulungmu, Jin So Hwa."
Jin Wu menyilangkan tangannya di dada, menatap Jin Hwa Young yang kini mulai gemetar dengan tubuh yang lemas. "Jika sidang itu digelar besok, seluruh kelemahan Jinyowon akan dikuliti di depan publik. Jinyowon akan hancur dan dipermalukan seutuhnya."
Mendengar rentetan kalimat logis yang sarat akan ancaman kepunahan klannya tersebut, benteng pertahanan terakhir di batin Jin Hwa Young runtuh seutuhnya. Pikirannya buntu. Lantas, daripada ia harus menanggung aib yang teramat besar dan dipermalukan secara hina saat pertemuan umum di hadapan seluruh penyihir negeri nanti, Jin Hwa Young pun mengambil keputusan berat yang teramat getir.
Ia lebih memilih untuk mengalah dan menyerahkan hak Perisai Pertemuan Umum tersebut kepada Jin Wu malam itu juga, membiarkan pertahanan magis Jinyowon terbuka lebar bagi cakar-cakar keserakahan Cheonbugwan.
****
Beberapa saat kemudian, derap langkah kaki yang seragam memecah kesunyian malam di pelataran utama Cheonbugwan.
Pintu gerbang kayu besi digeser terbuka, menampilkan Jin So Hwa yang berjalan tegap di depan dengan kawalan beberapa pengawal wanita Jinyowon yang membawa kotak sutra tempat penyimpanan hak pusaka.
Namun, ada sesuatu yang teramat berbeda malam ini. Di sini, diperlihatkan dengan sangat jelas perubahan sikap dan pembawaan diri dari Jin So Hwa yang berbanding terbalik dari sebelum-sebelumnya.
Sosok So Hwa yang biasanya dikenal oleh para pelayan sebagai gadis yang penurut, lembut, lemah lembut, dan tidak banyak tingkah, kini telah bermutasi total. Ia mulai berubah, melangkah dengan dagu terangkat, tatapan mata yang tajam menusuk, dan bersikap dingin layaknya rupa asli Nara—sang pembunuh bayangan yang terkenal pemberani dan tak kenal rasa takut.
Sehingga, karena ingatan air sungainya kemarin telah menguak seluruh tabir masa lalu, So Hwa sudah tahu secara mutlak bahwa Jin Wu-lah yang menjadi dalang serta sebab utama dari segala kesengsaraan, penderitaan, dan manipulasi jiwanya di masa lalu.
Ia menolak untuk tinggal diam atau membiarkan Jin Hwa Young menyerahkan Perisai Pertemuan Umum begitu saja kepada musuh bebuyutannya.
Tepat saat kotak perisai itu hendak digeser ke meja Jin Wu, Jin So Hwa mengulurkan tangannya, menahan kotak tersebut dengan cengkeraman yang kuat.
"Jinyowon masih sangat pantas dan layak untuk tetap memiliki serta memegang Perisai Pertemuan Umum ini, Tuan Jin Wu," ucap Jin So Hwa, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan energi intimidasi yang dingin.
Ia melirik ibunya sekilas sebelum kembali menatap tajam mata licik Jin Wu. "Pasalnya... saat ini, kekuatan luar biasa yang selama ini hilang dari dalam diriku perlahan-lahan sudah mulai bangkit dan kembali seutuhnya."
Mendengar bait deklarasi yang teramat berani dari mulut So Hwa, Jin Wu menghentikan gerakannya. Sepasang matanya menyipit tajam, mencoba membaca riak energi di tubuh gadis itu. Seringai licik kembali tersungging di bibirnya.
"Oh? Kekuatanmu sudah kembali, Nona Sulung?" tutur Jin Wu dengan nada meremehkan yang sarat akan jebakan baru.
"Jika demikian, hamba tentu berniat untuk mengetes dan menguji secara langsung seberapa besar kekuatan spiritual agung yang kau banggakan itu sebelum istana mengesahkan hak kalian."
Tanpa menunggu persetujuan, Jin Wu membalikkan tubuhnya dan memberi isyarat agar Jin So Hwa mengikuti langkah pasukannya menuju ke bagian terdalam dari ruang bawah tanah Cheonbugwan yang terisolasi. Langkah kaki mereka akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pintu gerbang batu raksasa yang dililit oleh belasan rantai mantra kuno berwarna hitam pekat.
Pintu tersebut merupakan gerbang pembatas menuju sebuah dimensi penjara mistis yang teramat mengerikan bernama Gwido.
Sebuah penjara gaib yang sejak ratusan tahun lalu diciptakan khusus oleh para penyihir terdahulu untuk menghukum, mengurung, dan mengisolasi para pelaku sihir hitam terlarang serta para pemindah jiwa yang lepas kendali.
Kompleks Gwido terkenal sebagai gerbang satu arah; yang jika ada makhluk hidup atau penyihir yang sudah terlanjur melangkah masuk ke dalam pintu pusaran tersebut, maka dipastikan tidak akan ada seorang pun yang bisa kembali keluar dari sana hidup-hidup.
Belum lagi, adanya keberadaan belasan relik serta artefak kegelapan berbahaya yang tertimbun di dalamnya, sontak kian menambah kengerian dan aura mistis dari penjara hampa udara tersebut.
Akan tetapi, Jin Wu tampaknya melupakan satu fakta sejarah yang teramat sakral. Karena kompleks dimensi Gwido ini pada mulanya dibuat dan dirancang langsung oleh Jin Eun Ran—yang tak lain merupakan leluhur agung murni dari garis keturunan Jin So Hwa sendiri—maka secara logika hukum mistis, So Hwa seharusnya memiliki kunci darah yang bisa membuatnya keluar dengan mudah dari penjara dimensi tersebut jikalau kekuatannya benar-benar murni.
Alhasil, apakah Jinyowon pantas mempertahankan Perisai Pertemuan Umum atau tidak, malam ini akan ditentukan sepenuhnya oleh sebuah ujian maut yang akan diberikan secara sepihak oleh Jin Wu.
Jin Wu merebut kotak perisai emas dari tangan pengawal, lalu menimang-nimangnya di depan gerbang batu. "Aturannya sangat sederhana, Nona So Hwa. Aku akan melemparkan Perisai Pertemuan Umum milik keluargamu ini ke dalam pusaran dimensi Gwido. Yang mana, jika kau benar-benar memiliki kekuatan murni leluhurmu, kau harus melompat masuk, menemukannya di dalam kegelapan hampa sana, dan berhasil keluar kembali ke ruangan ini sebelum matahari terbenam esok hari."
Jin Wu memutar kunci rantainya, membiarkan gerbang batu itu berderit terbuka menampilkan pusaran hitam pekat yang menderu. "Jika kau berhasil lolos dari ujian ini, aku berjanji akan membiarkan Jinyowon untuk kembali membawa pulang perisai ini tanpa gangguan. Tak hanya itu... aku juga berjanji atas nama Cheonbugwan akan membatalkan seluruh agenda Sidang Pertemuan Umum istana yang bertujuan mencopot hak kalian. Bagaimana? Apakah kau berani?"