Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tatapan Mata Dewa dan Bongkahan Kayu Mati
Puncak musim dingin menyelimuti Kota Daun Gugur dengan selimut putih yang tebal. Jalanan tertutup salju setinggi mata kaki, dan napas setiap orang yang berjalan di luar menguap menjadi kabut putih.
Di dalam kliniknya yang hangat oleh tungku arang, Li Yun sedang menyeduh teh daun pinus ketika ia merasakannya.
Bukan suara langkah kaki, bukan pula ketukan di pintu. Itu adalah sebuah sensasi yang membuat bulu kuduk berdiri, seolah udara di dalam ruangan tiba-tiba menjadi dua kali lebih berat. Bagi warga kota fana yang berlalu-lalang di luar, mereka hanya merasa dada mereka tiba-tiba sesak dan udara menjadi sangat dingin, mengira itu hanyalah hembusan angin utara yang kejam.
Namun, dengan butiran Qi di Dantian-nya, Li Yun tahu persis apa itu. Itu adalah tekanan spiritual. Seseorang sengaja melepaskan auranya untuk menekan area ini.
Tanpa membuang waktu satu tarikan napas pun, Li Yun meletakkan cangkir tehnya. Ia memejamkan mata dan memutar Sutra Pernapasan Kayu Mati hingga ke batas maksimal yang bisa ia capai. Detak jantungnya yang normal perlahan menurun, dari enam puluh detak per menit menjadi hanya lima belas, lalu turun lagi hingga nyaris tak terdengar. Aliran darahnya melambat. Pusaran Qi sebesar butiran beras di Dantian-nya berhenti berputar sepenuhnya, mengeras dan membaur dengan jaringan otot di sekitarnya.
Dalam hitungan detik, aura kehidupan Li Yun memudar. Jika seseorang menutup mata, mereka tidak akan merasakan ada manusia di balik meja itu; yang ada hanyalah sebuah perabotan kayu tua yang menyatu dengan ruangan.
Kriet...
Pintu klinik terbuka tanpa didorong. Angin salju menderu masuk, membawa sesosok pemuda berpakaian sutra putih bersih dengan sulaman awan perak di kerahnya. Pemuda itu tidak melangkah di atas lantai kayu, melainkan mengambang setengah inci di udara. Tidak ada setetes salju pun yang menempel di jubahnya. Wajahnya tampan bak pahatan pualam, namun matanya memancarkan arogansi yang memandang segala hal di sekitarnya layaknya tumpukan kotoran.
Kultivator sungguhan. Dan menilai dari tekanan auranya yang membuat udara bergetar, ia setidaknya berada di tingkat akhir Pengumpulan Qi, selangkah lagi menuju Pembentukan Fondasi. Di mata Li Yun saat ini, pemuda itu adalah gunung berapi yang siap meletus.
Pemuda itu mengibaskan lengan bajunya, menyingkirkan bau obat herbal yang pekat dari hadapannya dengan ekspresi jijik. Ia menatap Li Yun, yang kini berdiri dengan postur sedikit membungkuk—menampilkan ketakutan dan rasa hormat yang sangat wajar bagi seorang manusia fana ketika berhadapan dengan fenomena gaib.
"Tabib fana," suara pemuda itu bergema, tidak keras namun menggetarkan cangkir teh di atas meja. "Tiga bulan lalu, di malam badai besar, seorang pria dengan luka tembus di dada melewati jalanan kotor ini. Ia membawa pedang perak yang patah. Apakah ia mati di gubukmu ini?"
Li Yun menelan ludah, menundukkan pandangannya tepat ke arah ujung sepatu pemuda itu. Ia tahu, satu kebohongan yang salah akan membuat kepalanya terpisah dari leher.
"M-Menjawab Yang Mulia Dewa," ucap Li Yun dengan suara bergetar yang dikontrol sempurna. "Malam badai itu sangat menakutkan, hamba menutup klinik lebih awal. Tidak ada siapa pun yang datang kemari. Namun... keesokan paginya, hamba mendengar dari para pemburu bahwa ada jejak darah yang mengarah ke rawa Hutan Tulang Berduri di pinggiran kota."
Pemuda bersutra putih itu menyipitkan mata. Ia jelas tidak menelan mentah-mentah ucapan seekor semut fana.
"Rawa beracun, ya?" gumamnya pelan. "Masuk akal jika anjing tua itu lari ke sana untuk menyembunyikan jejak spiritualnya. Tapi... aku tidak suka menyisakan keraguan."
Seketika itu juga, pemuda tersebut memejamkan mata dan melepaskan Kesadaran Spiritualnya (Divine Sense).
Bagi manusia biasa, Kesadaran Spiritual tidak terasa sama sekali. Namun bagi Li Yun, gelombang energi itu terasa seperti ribuan jarum es yang menembus kulitnya, merayapi lantai, menyapu dinding, menembus ruang bawah tanah, dan menguliti setiap inci tubuhnya. Gelombang itu mencari sisa-sisa energi spiritual dari mayat pria berbaju biru, atau sisa artefak magis, atau... fluktuasi Qi sekecil apa pun dari tabib di depannya.
Keringat dingin membasahi punggung Li Yun. Jika Bubuk Pelarut Teratai Hitam yang ia gunakan tiga bulan lalu menyisakan cacat, ia mati. Jika Sutra Pernapasan Kayu Mati gagal menutupi butiran Qi di perutnya, ia akan diinterogasi dan kemudian mati.
Ia menahan napas sepenuhnya. Tubuhnya benar-benar diam. Di bawah pindaian Kesadaran Spiritual kultivator jenius itu, Li Yun membuat dirinya setransparan mungkin. Ia adalah sebatang pohon mati di musim dingin. Tidak mengancam. Tidak memiliki energi. Kosong.
Detik-detik berlalu terasa seperti ditarik menjadi ratusan tahun.
Akhirnya, gelombang es itu surut. Pemuda berpakaian putih itu membuka matanya. Tidak ada kecurigaan di wajahnya, hanya kekecewaan dan rasa muak yang semakin menebal. Pindaiannya tidak menemukan apa pun. Tidak ada jejak darah berenergi, tidak ada artefak, dan tabib di depannya hanyalah manusia fana biasa dengan tubuh yang lemah dan bau obat yang menyengat.
"Tempat yang menjijikkan," cibir pemuda itu. Ia bahkan tidak repot-repot mengucapkan ancaman atau perpisahan. Baginya, berbicara lebih lama dengan manusia fana adalah sebuah penghinaan terhadap statusnya.
Dengan satu jentikan jari, sebuah pedang terbang seputih salju meluncur dari balik punggungnya. Pemuda itu melangkah ke atas pedang tersebut, dan dalam sekejap mata, ia melesat menembus badai salju menuju arah Hutan Tulang Berduri, meninggalkan klinik itu dalam keheningan yang mencekam.
Li Yun tidak segera bergerak. Ia mempertahankan teknik pernapasannya selama lima belas menit penuh, berjaga-jaga jika kultivator licik itu memutar balik Kesadaran Spiritualnya secara tiba-tiba.
Baru setelah ia benar-benar yakin tekanan spiritual itu telah lenyap di kejauhan, Li Yun menghembuskan napas panjang. Kakinya sedikit gemetar saat ia duduk kembali di kursinya. Jantungnya berangsur-angsur kembali berdetak normal.
Ia menuangkan teh yang sudah dingin ke tenggorokannya. Sensasi pahit dan dingin itu menyadarkannya bahwa ia masih hidup.
Pertemuan singkat ini meruntuhkan segala ilusi yang mungkin ia miliki tentang dunia kultivasi. Pemuda tadi begitu arogan, memandang nyawa manusia tak lebih dari rumput liar. Jika Li Yun ketahuan menyembunyikan batu giok warisan itu, atau ketahuan memegang pecahan pedang perak, pemuda itu tidak akan bertanya dua kali sebelum membantainya beserta seluruh penduduk Jalan Lentera Merah.
Namun, di balik rasa gentar itu, sebuah kepuasan dingin merayap di dada Li Yun.
Sutra Pernapasan Kayu Mati benar-benar bekerja. Teknik yang dianggap lambat dan tidak berguna oleh para jenius pencari kekuatan tempur ini baru saja menyelamatkan nyawanya dari pindaian kultivator tingkat akhir Pengumpulan Qi.
Li Yun menatap tangannya yang masih mengenakan sarung tangan kulit tipis. Jalannya memang akan sangat lambat, mungkin butuh sepuluh tahun untuk mencapai apa yang pemuda arogan itu capai dalam setahun. Tetapi kayu yang tumbuh lambat memiliki serat yang paling padat dan tak tertembus.
Mulai hari ini, ia bukan hanya akan bersembunyi. Ia harus mulai merencanakan langkah selanjutnya. Menetap selamanya di dunia fana tidak akan memberinya sumber daya untuk menembus Pembentukan Fondasi.