NovelToon NovelToon
EMBER

EMBER

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.

Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.

Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.

Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.

Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Hari demi hari berlalu di Universitas California, namun ritme kehidupan Draxler Lutolf Ashford telah berubah total menjadi sebuah siksaan batin yang senyap.

Sudah dua bulan berlalu sejak hari di mana Cinderella—dalam raga Marcella Ember Vitiello—berjalan melewati Draxler di parkiran bawah tanah dan meninggalkannya dalam kebisuan.

Dua bulan yang terasa seperti neraka bagi seorang pemuda yang terbiasa hidup dalam kendali penuh.

Di dalam kelas, di perpustakaan, hingga di area kafetaria utama, Ember tidak pernah lagi menoleh ke arahnya.

Tidak ada sapaan centil, tidak ada panggilan heboh, tidak ada ajakan berkencan yang dilontarkan tanpa malu-malu, dan yang paling menyiksa Draxler: gadis itu tidak pernah lagi menatap matanya barang sedetik pun.

Ember memperlakukannya seolah-olah Draxler adalah bagian dari dinding beton yang tak bernyawa—asing, transparan, dan sama sekali tidak penting.

Bagi Draxler, perubahan itu terasa seperti pukulan telak yang menghantam harga dirinya sebagai pria dari kasta tertinggi kampus.

Di sudut kafetaria siang itu, Draxler duduk termenung dengan pandangan kosong menatap cangkir kopi hitamnya yang mulai mendingin.

Di seberangnya, Kal El dan Brave sedang asyik melahap makanan mereka sambil sesekali mencuri pandang ke arah meja di seberang ruangan—tempat di mana Ember sedang duduk tenang, fokus membaca buku catatan bisnis sambil menyesap teh hijaunya tanpa memedulikan sekeliling.

"Dia benar-benar mengabaikanmu secara total, kawan," komentar Kal El pelan, menyenggol lengan Brave sembari menunjuk ke arah Ember.

"Sudah dua bulan, dan rekor 'gadis paling berisik di kampus' itu resmi beralih menjadi 'gadis paling dingin di muka bumi'."

Draxler mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia tidak menjawab, namun kepalan tangannya di atas meja mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.

Brave meletakkan garpunya, lalu menatap Draxler dengan tatapan menyelidik yang tajam.

"Hei, Drax... jangan bilang kalau kau merasa kehilangan?"

Draxler mendongak seketika, menatap Brave dengan sorot mata defensif. "Kehilangan apa maksudmu? Jangan bicara omong kosong."

"Omong kosong?" Kal El tertawa kecil, bernada mengejek namun penuh kebenaran. "Selama enam bulan pertama kita kuliah, kau mengeluh setiap hari karena diganggu olehnya. Kau bilang dia berisik, Pengganggu, dan menguras energi. Tapi sekarang? Setiap kali dia lewat tanpa melirikmu, raut wajahmu berubah seperti orang yang kehilangan separuh nyawa."

Kal El mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya. "Jangan bilang kau sebenarnya sudah merasa nyaman dan rindu karena terbiasa diganggunya? Atau... jangan-jangan selama ini kau memang menyukai versi berisik gadis itu, tapi gengsimu terlalu tinggi karena menolak latar belakang keluarganya yang miskin?"

Deg.

Kata-kata Kal El menghantam dada Draxler bagaikan sambaran petir di siang bolong.

Menyukai versi berisik gadis itu?

Pertanyaan itu berputar liar di dalam kepala Draxler, memicu gelombang introspeksi diri yang amat menyakitkan.

Selama dua bulan ini, laporan lengkap dari detektif swasta sewaan keluarga Ashford telah mendarat di meja kerjanya.

Berkas itu berisi rekam jejak kehidupan Marcella Ember Vitiello yang sesungguhnya: keluarga yang hancur karena perceraian, orang tua toksik yang meninggalkannya seorang diri, perjuangan gadis itu membanting tulang bekerja hingga larut malam di bar eksklusif demi membayar sewa rumah dan biaya kuliah, serta desas-desus keji kampus yang menjatuhkan martabatnya tanpa dasar yang kuat.

Draxler membaca setiap lembarnya dengan dada yang sesak.

Tidak ada kebohongan.

Tidak ada kelicikan.

Yang ada hanyalah seorang gadis 18 tahun yang berjuang sendirian di tengah dinginnya dunia, menutupi kerapuhannya di balik topeng gadis barbar yang agresif.

Dan kini, setelah jiwa asli gadis itu digantikan oleh ketenangan dingin yang mematikan, Draxler menyadari satu kebenaran pahit yang selama ini ia tepis jauh-jauh:

Ia tidak membenci Ember.

Ia tidak pernah terganggu oleh kehadiran gadis itu.

Sebaliknya, ia telah terbiasa dikelilingi oleh perhatian tanpa syarat yang diberikan Ember padanya. Dan bodohnya, ia baru menyadari hal itu setelah gadis tersebut merenggut seluruh perhatiannya dan pergi begitu saja.

Lelacon terbesarnya adalah ucapan Ember di parkiran malam itu—bahwa gadis berisik itu telah mati bersama Cinderella Huntington.

Draxler sama sekali tidak mempercayai teori gila tentang perpindahan jiwa atau reinkarnasi semacam itu; bagi otaknya yang rasional, itu hanyalah metafora puitis dari trauma emosional mendalam yang dialami Ember setelah insiden bunuh diri di penthouse-nya.

Namun, terlepas dari apa pun alasannya, fakta bahwa Ember telah berubah menjadi sosok asing yang dingin adalah kenyataan mutlak yang menyiksanya setiap hari.

"Sialan..." gumam Draxler parau, mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan.

Brave dan Kal El terdiam, menyadari bahwa tebakan mereka tepat sasaran.

Draxler menghela napas panjang, menelan ego dan gengsi setinggi langit yang selama ini diagung-agungkannya. Ia mengangkat kepalanya, kembali menatap sosok Ember di seberang kafetaria.

Di bawah pantulan cahaya siang, gadis itu tampak begitu anggun, mandiri, dan tidak membutuhkan siapa pun untuk melengkapi hidupnya.

Justru ketidaktergantungan itulah yang membuat Draxler merasa begitu kecil.

Selama ini, Ember selalu menjadi pihak yang mengejar, merendahkan diri, dan memohon perhatian.

Kini, giliran dirinya yang sekarat karena kehausan akan tatapan mata bundar itu.

Keesokan paginya, suasana pelataran kampus sedikit lebih sejuk diselimuti angin pagi musim gugur.

Cinderella berjalan seorang diri menyusuri koridor utama menuju ruang kuliah ekonomi lanjutan. Ia membawa beberapa berkas analisis keuangan di dalam tas kerjanya—hasil kerja kerasnya selama dua bulan terakhir yang mulai membuahkan hasil.

Melalui investasi cerdas dan pengelolaan aset rahasia yang diambilnya dari brankas Mansion Huntington, ia perlahan mulai membangun fondasi finansial mandiri di bawah bayang-bayang identitas Marcella Ember Vitiello.

Namun, baru saja ia hendak menaiki anak tangga gedung fakultas, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba berdiri menghalangi jalurnya.

Cinderella menghentikan langkahnya. Ia mendongak perlahan, mendapati Draxler Lutolf Ashford berdiri tepat di hadapannya.

Pria itu tampak berbeda dari biasanya.

Tidak ada raut angkuh atau dingin yang melekat di wajahnya.

Sebaliknya, ada kelelahan yang nyata di balik manik mata tajam itu, sorot mata seorang pria yang menyerah pada perangnya sendiri.

Mereka berdua terdiam selama beberapa detik di tengah kerumunan mahasiswa yang lalu-lalang.

"Ada apa lagi, Mr. Ashford?" tanya Cinderella dengan suara datar, tanpa sedikit pun emosi. Ia mencoba melangkah ke sisi kanan untuk melewati pemuda itu, namun Draxler dengan cepat menggeser tubuhnya, kembali menghalangi jalan.

"Jangan panggil aku Mr. Ashford," suara Draxler terdengar parau, sarat akan ketegangan yang tertahan.

Cinderella mendesah pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Draxler dengan tatapan bosan. "Katakan apa yang kau inginkan, Draxler. Aku punya jadwal kuliah sepuluh menit lagi, dan aku tidak punya waktu untuk meladeni permainan anak-anakmu."

Draxler menelan ludahnya susah payah. Ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, menatap wanita di depannya dengan kepasrahan yang telanjang.

Dua bulan menahan diri, dua bulan dihantam rasa rindu dan penyesalan, hari ini pertahanannya runtuh sepenuhnya.

"Kau mau bagaimana?" tanya Draxler tiba-tiba. Suaranya melunak, nyaris seperti bisikan putus asa di tengah keramaian koridor.

Cinderella mengernyitkan alisnya tipis. "Apa maksudmu?"

Draxler mengambil satu langkah maju, mengikis jarak hingga aroma maskulin yang khas kembali menguar di sekitar Cinderella.

"Selama enam bulan, kau mengejarku... kau melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatianku," ucap Draxler dengan napas yang sedikit memburu, matanya menatap intens ke dalam mata bundar Ember.

"Dan sekarang... ketika aku akhirnya menyadari betapa bodohnya aku karena mengabaikanmu... kenapa kau justru berbalik meninggalkanku?"

Cinderella tertegun sejenak. Ia menatap ekspresi di wajah Draxler, membaca setiap goresan kejujuran dan rasa sakit yang terpancar di sana. Namun, sudut bibirnya justru terangkat membentuk ukiran senyum sinis yang dingin.

"Kau merasa kehilangan, Draxler?" tanya Cinderella tajam. "Kau merasa terganggu karena mainan lamamu tiba-tiba rusak dan berhenti berputar sesuai keinginanmu?"

"Bukan begitu!" sangkal Draxler cepat, nada suaranya sedikit meninggi sebelum ia kembali merendahkannya. "Bukan mainan... Sialan, Ember. Aku menyadarinya terlambat. Aku merindukanmu... aku merindukan suara berisikmu, kehadiranmu, tatapanmu..."

Pernyataan jujur itu sontak mencuri perhatian beberapa mahasiswa di sekitar tangga koridor.

Bisik-bisik heboh mulai berhembus kencang. Seorang Draxler Lutolf Ashford... mengaku merindukan Ember Vitiello di depan umum?!

Cinderella tidak tersipu.

Tidak ada semburat merah di pipinya, tidak ada debaran jantung penuh suka cita seperti yang mungkin dirasakan Ember yang asli di masa lalu. Yang ada hanyalah rasa hampa yang dingin.

"Kau terlambat, Draxler," jawab Cinderella tenang namun telak. "Gadis bodoh yang mengharapkan cintamu sudah mati. Dia lelah berlari di belakang pria yang hanya memandangnya dengan sebelah mata."

Draxler menatap wajah dingin itu dengan dada yang terasa dirobek-robek. Ia tahu ia pantas mendapatkan penolakan ini. Ia pantas dihukum atas keangkuhannya di masa lalu.

Namun, Draxler adalah seorang Ashford. Ia tidak akan menyerah semudah itu setelah berhasil menemukan apa yang selama ini hilang dari hidupnya.

Draxler menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, lalu menatap Cinderella dengan tatapan penuh tekad mutlak yang tidak terbantahkan.

"Baiklah," ucap Draxler pelan, suaranya terdengar begitu mantap di tengah kesunyian yang tiba-tiba meliputi mereka berdua.

"Jika dulu kau yang selalu mengejarku... maka kali ini, biarkan aku yang mengejarmu, Ember."

Cinderella terkesiap tipis.

Manik matanya melebar sepersekian detik, menatap ketulusan yang membara di balik manik mata pemuda di hadapannya.

"Kau gila," bisik Cinderella dingin.

"Ya, aku memang gila," balas Draxler tanpa ragu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mempesona. "Dan aku tidak akan berhenti sampai tatapan mata itu kembali seperti dulu."

Tanpa menunggu balasan atau bantahan dari Cinderella, Draxler membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan koridor, membiarkan keterkejutan menyelimuti seluruh mahasiswa yang menyaksikan drama siang itu.

Cinderella berdiri terpaku di anak tangga.

Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello, benteng pertahanan dingin yang ia bangun rapat-rapat mendadak bergetar hebat oleh kehadiran seorang Draxler Lutolf Ashford.

1
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
mkasih uda up Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
hu.... menegangkan thor...
Asriani Rini
Bagus banget ceritan aku suka sekali
Yusry Ajay
lanjut Thor kurang up nya...
Asriani Rini
Lanjut Thor
Heni Utami
sangat best
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Anonim
kereen abis
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Si penny end,, ember nya crazy up please,, 🤭
Rosdianah 🌷: besok mulai double bab kak🙏🏻
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita keluarga ashford emang gak pernahh gagal,di tunggu cerita nya Dominic thor🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
masih nyimak Thor 🤔🤔🤔
Yusry Ajay
pkoknya semangat selalu Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: sehat selalu ya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Yusry Ajay
kyknya ada yg mulai jatuh cinta nih🤗🤗
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat menata hidup kembali ember💪💪
Debu Nakal
typo kah thor
Debu Nakal
typo kah thor
Rosdianah 🌷: tidak kak.. First time Author buat novel Transmigrasi 🙏🏻
Cinderella Dan Ember itu satu🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
Nita Nita
lanjut kak 💪
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
kyknya bnyk teka teki nih Thor 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!