NovelToon NovelToon
Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: jingrd24

"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.

Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!

Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Putri Hadiah Perang

“Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku,” ucap sang Jenderal yang membuat seluruh aula mendadak diserang keheningan.

“APAAAA??”

Ini awal mula dari semuanya:

Langit hari itu tampak biru dan segar, terompet kemenangan berbunyi dari menara yang tinggi-tinggi, menyebar ke seluruh penjuru ibu kota. Bendera berkibar megah, rakyat berhamburan ke jalanan untuk menyaksikan parade prajurit, bunga-bunga dilemparkan ke arah kuda gagah yang berjalan di depan membawa sang pahlawan besar.

Jenderal Salvatore Ardan.

Pria yang akhirnya menyelesaikan perang saudara yang terjadi dalam kurun seratus tahun. Dari generasi ke generasi, belum ada yang bisa menyelesaikan perang ini. Sampai saat masanya kerajaan dipegang oleh Raja Agung Heinry, akhir yang ditunggu-tunggu pun datang. Perang ini resmi dinyatakan selesai dengan kemenangan untuk rakyat mereka yang dibawakan oleh Jenderal besar Ardan dengan gagahnya.

Parade prajurit itu berhenti tepat di depan istana megah sang raja. Jenderal Salvatore Ardan turun dari kudanya. Langkahnya berat namun mantap menapaki pelataran menuju Balairung Kerajaan. Armor perangnya masih berlumur debu dan darah kering. Ia tak memakai jubah kehormatan, bahkan tak mencopot sarung tangannya. Tatapannya dingin, namun setiap langkahnya membuat lantai istana bergema.

Raja tua, duduk di singgasananya. Mengangkat tangan, memerintahkan semua orang—dari bangsawan yang duduk anggun sampai rakyat yang mengintip di celah jendela—untuk diam.

"Jenderal Salvatore Ardan," ujarnya, suaranya parau namun penuh wibawa, "kerajaan ini berhutang padamu lebih dari yang bisa dibalas. Hari ini, pilihlah. Harta, tanah, gelar apapun... bahkan wilayah kekuasaan. Mintalah, dan kami akan memberikannya."

Salvatore menatap lurus ke depan. Sesaat, ia tidak menjawab.

Semua mata menatapnya. Bahkan Duke Raventhal, gurunya sendiri—yang masih memiliki posisi tegak di umurnya yang tak lagi muda—berdiri tak jauh di sisi kanan singgasana, memperhatikan dengan kening berkerut. Bisik-bisik dari para nyonya dan nona bangsawan terdengar, masing-masing memperkirakan apa yang mungkin akan sang jenderal pilih untuk membalas budi atas kemenangannya.

Diantara banyaknya orang yang sedang menunggu itu, Salvatore menatap sang raja dengan lurus. Ia sama sekali tidak terusik dengan suara-suara yang tentunya diajukan kepadanya. Lalu, Salvatore berkata tenang: "Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku."

Hening.

Suasana Balairung yang awalnya ramai dengan sorak-sorakan mendadak sangat hening, tidak ada yang berbicara. Mereka diam seolah satu hembusan napas kecil yang terdengar dari mereka bisa membuat kepala mereka terbang secara tiba-tiba.

Senyapnya yang bahkan membuat napas terasa berdengung. Seorang bangsawan tua menjatuhkan gelas anggurnya, para wanita menahan diri untuk tidak menunjukkan keterkejutan mereka. Bahkan seorang dayang kecil menahan napas di balik tirai, seolah satu tarikan napas akan membuat orang-orang memperhatikannya.

Di tengah-tengah suasana yang sunyi itu, satu pekikan tajam dan keras terdengar dari satu-satunya orang yang merasa paling ditindas. “APAAAA??”

Itu dia sang Putri Raventhal yang dimaksud. Gadis yang memiliki mata tajam, suaranya nyaring, galak dan dirumorkan masih single karena tidak ada yang berani menghadapinya.

Putri Katherine yang akrab dipanggil Kate itu langsung bangun dari duduknya, dia bersedekap dada dengan dagu yang terangkat—gaya khasnya saat menyindir dan menjelekkan putri bangsawan lebay. “Cih,” katanya mendecih.

Suasana di balairung itu seketika ramai sekali. Ada banyak yang mempertanyakan: ‘Dari banyaknya putri yang anggun, kenapa sang jenderal malah memilih yang kastanya paling tinggi dan paling tidak mau disentuh itu?’. Bisik-bisik yang penasaran dengan alasan Jenderal Ardan memilih pasangan juga terdengar, dan jangan lupakan kalimat-kalimat iba yang ditujukan kepada jenderal itu. Seluruh kerajaan saja tahu betapa galaknya putri tunggal Raventhal.

“Hei, Kau!”

Putri Raventhal itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah sang Jenderal, berhasil membuat beberapa petinggi bagsawan menahan napas karena sifat berani sang Raventhal putri kepada pahlawan perang itu. “Kau yang tubuhnya seratus persen berisi dengan baja dan hatinya sekeras batu,” lanjutnya dengan cemoohan yang sangat khas.

“Kau pikir aku hadiah lotre? Atau piala kemenangan? Aku tidak semurah itu untuk dijadikan hadiah perang—”

Hup.

Belum menyelesaikan kalimatnya, seorang dayang gadis muda langsung membekap mulut sang nonanya agar tidak berbicara terlalu jauh. Kalau tidak, dia langsung jadi bahan omongan putri bangsawan lain (meski biasanya juga begitu) yang isinya cemoohan. Sudah cukup terkenal galak, jangan membuat keributan juga. Yang kena imbas dimarahi Duke Raventhal pasti dayang ini lagi.

“Nona, anda tidak boleh marah-marah di suasana penting seperti ini!” Ucap sang dayang sambil melotot.

Sang putri langsung melepaskan bekapannya dengan kasar. Tapi kali ini dia tidak mengeluarkan suara kencang, dia menatap dayangnya dengan tatapan tajam dan kalimat penuh penekanan. “Ya kau pikir saja. Jenderal gila itu mau meminangku menjadi hadiah perang!”

Aksi sang putri yang melayangkan kalimat jutek untuk sang pahlawan perang membuat aula kembali ricuh, beberapa bangsawan membicarakannya secara bisik-bisik. Sang raja langsung mengukir senyuman manis karena tahu akan ada drama yang lucu. Sementara Salvatore, sudut bibirnya sedikit terangkat sedikit menyaksikan bagaimana lucu calon istrinya itu marah-marah di tengah-tengah banyak orang.

Duke Raventhal—sang guru sekaligus ayah dari putri yang Sal sebutkan—itu menghela napas. Setelah melirik dayang pribadi agar membawa putrinya keluar dengan tenang, ia melangkah maju, mendekat ke arah Sal. “Apa kau bercanda, Jenderal?” Tanyanya dengan suara datar, tidak menunjukan emosi.

Salvatore hanya menjawab, “tidak.”

“Kenapa putriku?” Lanjut sang Duke menatap murid kebanggaannya sambil menahan gejolak. Entah rasa gemas atau rasa protective kepada anak tunggalnya.

Salvatore menatap lurus ke arah Kate yang sedang memelototinya di kejauhan. Tatapan pria itu tajam, seolah mengunci sang putri di tempatnya. "Karena sejak dulu, hanya dia yang aku lihat."

Lagi-lagi kalimat singkat dan jawaban yang tepat. Balasan yang dulu sering Duke Raventhal ajarkan kepada Sal saat berpapasan dengan musuh kini justru berbalik kepadanya. Ia tertahan, kalimat Sal sengaja membuatnya menghentikan menanyakan lebih jauh karena tidak bercela.

Sesaat setelah Salvatore membalas pertanyaan Duke Raventhal yang membuat bangsawan dengan kasta tertinggi itu bungkam sejenak, suara tawa terdengar dari singgasana. Sang raja agung terlihat benar-benar terhibur dengan apa yang baru saja dia lihat dan dengar.

“Ya ampun, baru sekarang ada kasus seseorang meminta hadiah perang yang cukup… unik,” katanya di sela-sela tawa.

Akibat tawa sang raja, beberapa bangsawan disana juga tak kuasa menahan tawa kecil mereka. Ini adalah sesuatu yang paling tidak bisa mereka prediksi. Siapa yang akan mengira Jenderal segagah Salvatore yang menyelesaikan perang yang sudah terjadi dalam kurun waktu seratus tahun itu malah meminta hadiah seorang putri menjadi istrinya? Ini lebih lucu dari cerita komedi yang biasanya dikirimkan lewat koran!

Duke Raventhal menatap muridnya itu dengan tatapan yang lurus—tampak menahan diri, namun Sal tidak bergeming. Meski begitu, bangsawan dengan gelar tertinggi di kerajaan ini tahu, hadiah perang untuk sang jenderal adalah keinginan mutlak. Tidak bisa dibantah kecuali oleh otoritas sang raja sendiri.

Suara raja akhirnya terdengar kembali, “semua keinginanmu memang akan dikabulkan seperti apa yang ada di peraturan kerajaan kita, Jenderal.”

Pasang mata yang tadinya fokus menatap sang guru dengan murid itu langsung bergeser ke orang dengan posisi tertinggi. “Aku akan mengusahakannya. Tapi… kau tetap harus mendapatkan izinnya, Jenderal,” lanjutnya sambil menatap ke arah sang Duke.

Duke Raventhal kembali menghela napas, “permintaan mu sedikit mencoreng nama baik ku sebagai ayahnya Katherine,” tuturnya pelan.

Pria paruh baya yang masih memiliki tubuh tegap itu menatap sang raja, lalu beralih menatap Salvatore. Tangannya bergerak mengundang Salvatore, matanya melirik ke pedang yang masih tersampir di pinggang bagian kiri sang jenderal.

“Ayo keluar. Kau harus mengalahkanku dulu dalam duel untuk mendapatkannya,” katanya sambil melangkah ke arena lebih dulu.

Satu kalimat yang diucapkan sang Duke berhasil membuat Balairung kembali ricuh. Kali ini, para ksatria yang awalnya tidak ikut campur pun rasanya ingin menimpali. Pertandingan antara Jenderal sebelumnya dengan murid pemegang posisi Jenderal baru yang berhasil membawa pasukan mengakhiri perang seratus tahun. Ini adalah pertarungan yang epik.

“Ini akan jadi pertarungan yang epik."

“Jenderal Ardan akan melawan gurunya sendiri, ini akan menyenangkan.”

“Wah.. aku tidak menyangka akan melihat dua Jenderal bertarung seperti ini di depan mata.”

Dan masih banyak celetukan dan bisik-bisik yang terdengar ke telinga mereka.

Hari itu, dua jenderal agung yang namanya sudah ada di berbagai penghargaan kemiliteran melakukan duel yang sangat epik untuk memperebutkan satu putri galak yang mungkin masih sedang melotot sambil bersedekap dada di sisi lain. Para ksatria jelas mendukung penuh Salvatore, berbeda dengan para putri yang diam-diam mendukung Duke Raventhal. Siapa tahu Salvatore gagal mendapatkan putri Katherine dan mereka masih bisa menggantikannya? Siapa tahu?

Dentang nyaring berbunyi saat dua bilah pedang baja itu saling berbenturan di udara. Sang Duke menatap muridnya lurus, tanpa guratan emosi. "Aku tidak akan mengalah hanya karena kau muridku, Jenderal."

Salvatore tersenyum tipis, matanya melirik singkat ke arah Kate yang berdiri gusar di balik pagar pembatas. "Saya juga tidak berniat mengalah, Yang Mulia Duke."

1
Iluvmacha
ga sabar Kate notice Sonia🤭
jinggaarundari: waduh bener lagi, tungguin bab selanjutnya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
btw, semangat kaka authorr💪💪 lanjut terus
jinggaarundari: 😍😍makasi banyak kaa, makin semangat disemangati kakakk
total 1 replies
otter_orange
Menunggu reaksi Kate kalau suaminya deket sama wanita lain🤣
jinggaarundari: sipp, tunggu update bab nya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
apaan sii, dia yg nunggu dia jg yg gengsi😭😭
jinggaarundari: emang kadang kidding🫣
total 1 replies
otter_orange
Akhirnya yg ditunggu-tunggu Kate kena karma kan, dibilang suaminya perfect gitu😭
La Vanya
waduhh, siapa tuh Sonia🤔
jinggaarundari: siapa ya🤔🤔, tunggu bab selanjutnya besok kaa😍😍
total 1 replies
La Vanya
katanya pemandangan merusak, tp kok ditungguin🤭
jinggaarundari: kalo ga gengsi bukan Kate namany🤭
total 1 replies
La Vanya
RHEA APRESIASI SETINGGI-TINGGINYA BUAT KMU WKWKWK😭😭😭
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jinggaarundari: hahaha, bener banget ka, emang orang kaya Kate butuh dayang kaya Rhea 😭😭
total 1 replies
Mommy Inci
plis Thor lngsung kebagian menyerah and falling in love ke jendral biar ga monoton...
jinggaarundari: siap kaa, pas banget besok bab 23 memang udh masuk Kate Denial suka suaminya, makasi kaa supportnya 😍😍
total 1 replies
lynn.flow
udah mampir nihh, ternyata seru juga, ga expect kalau si putri seberani itu😭😭
Vy
Seru ceritanya thorr😍
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗
jinggaarundari
baik kaa, cuma agak tsundere aja🫣
Putry Chan
nih prmepuan keras lumayan sulit sih di bikin Lulu semoga nanti bisa ya
Putry Chan
hmmm tapi jasa juga ke kejuaraan lumayan besar
Putry Chan
owh jadi nih putri trlalu tinggi derajatnya dan sulit di atur
Putry Chan
owh hadiahnya trlalu besar nya mknya sulit dia kan seorang putri
Putry Chan
beh 100 tahun coy
Putry Chan
apakah dia orang baik
La Vanya
kaa lanjuttt💪💪
otter_orange
SERU BANGET ANJIRRR!! 😭😭 Kakinya Kate ga bisa diem banget pas nyusun rencana kabur tapi malah bikin makin nempel aama suaminya wkwkw! Salvatore ganteng banget tapi lempengnya minta ampun 😭 Pokoknya wajib baca guyss, ceritanya seger, komedinya banyak, cocok buat dibac selepas kerja atau sekolah yang penat. Lanjut part 22 thorr fast update!!!💙💙💙
jinggaarundari: waa, senang kalau kakak sukaa. makasi suportnya kaa😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!