Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata yang Mengawasi
Andrian tidak langsung menoleh.
Pesan itu masih terpampang di layar ponselnya.
Sekarang lihat ke belakangmu.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Bukan karena takut. Melainkan karena ia tahu satu hal.
Orang yang mengirim pesan itu ingin melihat reaksinya. Kalau ia langsung menoleh, mungkin pengirimnya sedang menunggu sesuatu.
Andrian memasukkan ponsel ke saku.
"Len."
Elena menatapnya. "Ada apa?"
"Jangan bergerak dulu."
Maya yang berdiri di sebelah Elena langsung memahami. "Pesannya?"
Andrian mengangguk. "Dia menyuruhku melihat ke belakang."
Maya melirik kamera CCTV di atas mereka. "Jadi menurutmu kamera itu sedang diawasi?"
"Entah." Andrian menarik napas. "Tapi kalau iya, kita jangan memberikan apa yang dia inginkan."
Elena mengangguk. "Terus?"
Andrian mengambil satu langkah ke samping. Ia tidak menoleh. Namun dari pantulan kaca lemari arsip di depannya, ia bisa melihat sebagian ruangan di belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Rak. Meja. Kotak arsip. Pintu keluar.
Semuanya tampak normal.
Sampai matanya menangkap sesuatu.
Pantulan sebuah cahaya kecil. Bukan dari lampu ruangan. Cahaya itu berasal dari celah di bawah rak.
Andrian memperhatikan lebih saksama.
"Len."
"Apa?"
"Matikan lampu senter."
Maya dan Elena saling memandang, namun Maya segera mengikuti. Satu per satu cahaya senter dimatikan.
Basement 2 kembali remang.
Cahaya kecil di bawah rak itu menjadi lebih jelas. Berkedip.
Sekali. Dua kali.
Andrian berjalan mendekat. Ia berjongkok.
Di bawah rak terdapat benda kecil berwarna hitam.
Sebuah kamera.
Bukan kamera CCTV milik NSM. Ukurannya jauh lebih kecil, disembunyikan dengan rapi di balik debu dan kotak arsip.
Maya terdiam. "Ya Tuhan..."
Elena mendekat. "Sejak kapan benda itu ada?"
Andrian tidak menyentuhnya. "Entah."
Maya mengambil sarung tangan dari tas. Ia memeriksa kamera dari jarak dekat. "Ini bukan perangkat standar keamanan."
Elena menatap benda itu. "Berarti ada orang yang memasangnya."
Andrian mengangguk. "Dan orang itu bisa melihat kita."
Maya memeriksa bagian belakang kamera. "Ada kartu memori."
Andrian menatapnya. "Ambil."
Maya ragu. "Kalau ada sistem keamanan tersembunyi?"
"Kita dokumentasikan dulu."
Maya memotret posisi kamera dari beberapa sudut. Setelah itu barulah ia mengambilnya.
Namun sebelum kartu memori itu sempat dimasukkan ke kantong bukti—
Ponsel Andrian kembali bergetar. Pesan baru.
Bagus. Kalian menemukannya.
Elena membaca pesan itu dari samping. Wajahnya berubah.
"Dia tahu."
Andrian mengangguk. "Berarti kameranya masih aktif."
Maya langsung memeriksa perangkat. "Kalau begitu kita harus cari sumber koneksinya."
Andrian melihat kabel tipis yang keluar dari kamera. Kabel itu mengarah ke belakang rak. Mereka mengikuti jalurnya.
Beberapa meter kemudian kabel tersebut menghilang di balik beton dinding.
Maya mengernyit. "Ini bukan sekadar kamera."
"Kenapa?"
"Dia tersambung ke jaringan."
Elena menatap Andrian. "Kalau begitu seseorang bisa mengaksesnya dari luar."
Andrian mengangguk. "Dan mungkin bukan cuma melihat."
Di ruang keamanan, seorang petugas sedang menatap monitor.
Tiba-tiba salah satu layar berkedip. Gambar Basement 2 muncul.
Namun bukan dari kamera resmi. Gambar yang muncul berasal dari kamera kecil yang tersembunyi di balik rak. Wajah Elena, Andrian, dan Maya terlihat jelas mengelilingi perangkat.
Petugas keamanan mengerutkan dahi. "Aneh..."
Ia mencoba mengganti saluran. Tidak berhasil.
Kemudian layar berubah hitam. Sebuah tulisan muncul.
CONNECTION LOST
Petugas langsung berdiri. Ia menghubungi atasannya.
"Pak, ada masalah dengan sistem CCTV Basement 2."
Suara di telepon menjawab, "Apa masalahnya?"
"Ada perangkat asing masuk ke jaringan."
"Sejak kapan?"
Petugas melihat log. Wajahnya berubah pucat.
"Sejak tiga bulan lalu."
Di Basement 2, Maya menatap kabel yang menghilang ke balik dinding.
"Tiga bulan."
Andrian menoleh. "Kamu yakin?"
"Aku baru dapat akses log dari keamanan." Maya menunjukkan layar ponselnya. "Perangkat ini sudah terhubung ke jaringan NSM sejak tiga bulan lalu."
Elena terdiam. "Tiga bulan..."
Andrian mengingat sesuatu.
Tiga bulan lalu. Saat itu belum ada masalah dengan vendor. Belum ada temuan audit. Belum ada pertikaian terbuka dengan Arman.
Namun seseorang sudah memasang mata di Basement 2.
Berarti semua ini bukan dimulai karena mereka menemukan laporan audit. Laporan itu mungkin hanya membuka borok dari sesuatu yang sudah lama ada.
"Kenapa Basement 2?" tanya Elena.
Tidak ada jawaban.
Andrian menatap rak-rak tua di sekelilingnya. "Karena mungkin ada sesuatu di sini."
Maya mengangguk. "Kotak 17-B."
Elena menatap kotak itu. "Kita harus membukanya."
Andrian langsung menggeleng. "Jangan di sini."
Elena menoleh. "Kenapa?"
"Karena sekarang kita tahu dia mengawasi ruangan ini." Andrian menunjuk ke arah sisa kabel kamera. "Kalau kita buka kotak itu di sini, dia akan langsung tahu apa yang kita dapatkan."
Maya berpikir sejenak. "Kalau begitu kita pindahkan."
Andrian mengangguk perlahan. "Ya, tapi kita manfaatkan kepindahannya untuk memancing siapa yang sedang mengawasi kita."
Satu jam kemudian.
Informasi tentang pemeriksaan kotak 17-B sengaja disebarkan secara terbatas. Tidak melalui email resmi. Tidak melalui pengumuman. Hanya disisipkan sebagai "bocoran" di antara staf keamanan dan operasional.
Rencananya sederhana.
Kotak 17-B yang asli dibawa ke ruang rapat di lantai lima belas dengan pengawalan ketat Elena dan Andrian. Namun, informasi palsu yang disebar menyebutkan bahwa dokumen tersebut akan dipindahkan ke luar gedung NSM.
Sebagai umpan, sebuah mobil keamanan dengan kaca gelap diparkir di dekat pintu belakang gedung dan perlahan melaju keluar.
Semuanya siap.
Andrian berdiri di dekat jendela koridor lantai lima belas.
"Kalau dia benar-benar panik dokumen itu dibawa keluar, dia akan mengejar mobil itu."
Elena berdiri di sampingnya. "Dan kalau dia tidak bergerak?"
"Berarti kita salah."
Elena menatapnya. "Kamu tidak takut salah?"
Andrian menggeleng. "Aku lebih takut kita merasa sudah tahu semuanya, padahal belum."
Elena terdiam. Kemudian berkata, "Kamu berubah."
Andrian menoleh. "Berubah bagaimana?"
"Dulu kamu lebih banyak bercanda."
Andrian tertawa kecil. "Situasinya juga dulu lebih normal."
Elena menghela napas. "Aku merindukan situasi normal."
Andrian menatapnya beberapa detik. "Aku juga."
Untuk sesaat, suasana di antara mereka menjadi lebih tenang.
Namun kemudian Maya datang tergesa-gesa.
"Len."
Elena menoleh. "Ada apa?"
"Umpannya berhasil."
Di jalanan kota, mobil hitam keamanan NSM melaju dengan kecepatan sedang. Dan tanpa disadari siapa pun di sekitarnya, dua kendaraan tak dikenal diam-diam terus membuntuti dari jarak aman.
Di lantai lima belas, tim audit sudah menunggu.
Kotak 17-B diletakkan di atas meja.
Namun ketika penutupnya dibuka—
Andrian menyadari sesuatu.
"Tunggu."
Ia mengangkat kotak arsip itu dengan kedua tangannya. Keningnya berkerut.
"Kenapa, Ndri?" Maya bertanya.
"Beratnya aneh."
Elena menatapnya. "Maksudmu?"
"Tadi waktu di bawah, kotak ini terasa lebih berat. Sekarang rasanya terlalu ringan."
Maya langsung membuka catatan dokumentasi awal. "Segelnya utuh sepanjang jalan ke sini."
Andrian menyentuh bagian dalam dasar kotak. Ia mengetuknya pelan.
Tuk. Tuk.
Suaranya berongga.
Andrian menekan ujungnya keras-keras.
Krek.
Salah satu bagian dasar kotak bergeser.
Maya menahan napas. "Lapisan palsu..."
Andrian membuka lapisan dasar tersebut.
Kosong. Tidak ada tumpukan dokumen. Hanya ada satu benda kecil yang direkatkan dengan selotip hitam.
Sebuah kunci logam tua.
Dan secarik kertas kecil.
Elena mengambil kertas tersebut. Tulisan tangannya berantakan, hanya terdiri dari satu kalimat.
Cari ruang 03.
Maya langsung teringat goresan di belakang rak Basement 2. "NSM 03..."
Andrian menatap kunci logam itu. Di kepalanya, potongan-potongan informasi mulai berbenturan mencari bentuk.
Pintu rahasia. Kode 17-B. Kamera tersembunyi. Ruang 03.
Seseorang sudah merancang teka-teki ini jauh sebelum mereka turun ke basemen.
Tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka.
Seorang petugas keamanan masuk dengan wajah tegang.
"Bu Elena!"
"Ada apa?"
"Mobil umpan yang keluar dari pintu belakang tadi... dicegat."
Andrian langsung berdiri. "Dicegat siapa?"
"Orang tak dikenal, Bu. Mereka memaksa memeriksa bagasi mobil keamanan."
Elena langsung mengambil ponselnya.
Namun sebelum ia sempat menelepon—
Ponsel Andrian bergetar hebat.
Pesan anonim.
Kalian sudah menemukan kuncinya.
Andrian menatap layar dengan napas tertahan. Pesan berikutnya masuk.
Sekarang, jangan pernah mencari Ruang 03.
Ia membaca kalimat terakhir yang membuat darahnya berdesir dingin.
Karena Ruang 03 yang sedang mencari kalian.
Tepat saat ia mengangkat kepala—
BIP!
Lampu koridor di luar ruang rapat tiba-tiba padam.
Satu demi satu. Kegelapan menjalar dari ujung lorong, merayap cepat menuju pintu mereka.
Maya mundur tanpa sadar. Elena langsung berdiri di sisi Andrian.
Lalu, terdengar suara langkah.
Bukan dari dalam ruangan. Dari luar.
Langkah itu berat dan pelan. Seseorang berhenti tepat di depan pintu kaca buram ruang rapat mereka.
Tidak mengetuk. Tidak mencoba memaksa masuk. Hanya berdiri diam.
Kemudian sebuah suara terdengar dari celah pintu. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sangat jelas.
"Kalau kalian ingin tahu siapa yang menyimpan semua rahasia ini..."
Hening sesaat yang mencekam.
"...datanglah ke Ruang 03."
Langkah kaki itu kemudian berbalik dan menjauh, ditelan kegelapan koridor.
Andrian merangsek maju dan membuka pintu dengan kasar.
Koridor kosong melompong.
Namun di lantai karpet, tepat di depan pintu mereka, terdapat sebuah kartu akses.
Bukan kartu karyawan biasa. Kartu itu berwarna hitam legam.
Dan di bagian bawahnya, tercetak satu kode tebal dengan tinta emas:
03
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨