Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL11. Insiden Kampus
Keesokan paginya, suasana kampus berubah sejak sebuah kabar menyebar di antara mahasiswa. Dosen yang sebelumnya dilaporkan atas dugaan pelecehan telah ditetapkan sebagai tersangka, dan polisi dijadwalkan datang untuk melakukan penangkapan sesuai proses hukum yang berlaku.
Informasi itu menyebar cepat. Beberapa mahasiswa berkumpul di sekitar gedung fakultas, sebagian ingin mengetahui perkembangan kasus yang selama berminggu-minggu menjadi pembicaraan, sementara yang lain hanya penasaran melihat langsung proses penangkapan. Pihak kampus dan petugas keamanan berusaha menjaga agar akses menuju gedung tetap tertib dan tidak mengganggu kegiatan perkuliahan.
Qiera baru saja tiba di area fakultas ketika melihat kerumunan tersebut. Ia menghampiri salah satu anggota BEM yang berdiri di dekat pintu masuk.
“Ada apa? Kenapa ramai sekali?”
“Polisi sudah datang, Kak. Pak dosen itu katanya akan dibawa hari ini.”
Qiera terdiam sejenak. Ia tahu proses hukum harus berjalan, tetapi melihat semuanya berlangsung di kampus tempat ia belajar membuat perasaannya campur aduk. Di balik kerumunan itu ada mahasiswa yang sudah lama berusaha mendapatkan keadilan, dan ia berharap proses ini bisa memberi mereka ruang untuk kembali merasa aman.
Arga muncul dari sisi lain gedung, lalu menghampirinya. “Qiera, kita pastikan mahasiswa tidak menghalangi petugas, ya. Jangan sampai ada yang merekam atau menyebarkan informasi pribadi korban.”
Qiera mengangguk. “Aku akan minta anak-anak BEM membantu mengarahkan mereka menjauh dari pintu.”
Mereka bergerak ke arah kerumunan, mengingatkan mahasiswa agar memberi ruang kepada petugas. Sebagian besar mematuhi arahan itu, meskipun suasana tetap riuh. Beberapa orang berbisik, beberapa lainnya mengangkat ponsel dari kejauhan, dan petugas keamanan berulang kali meminta mereka mundur.
Di tengah situasi itu, Ravi baru selesai mengajar di gedung sebelah. Ia mendengar keributan dari arah fakultas hukum dan segera berjalan menuju sumber suara. Begitu melihat Qiera berada di dekat kerumunan, ia mengernyit.
“Syaqiera!” panggilnya dari kejauhan.
Perempuan itu menoleh sekilas, menyadari Ravi baru datang. Namun, sebelum ia sempat menghampiri, perhatian seluruh orang di sekitar mereka tertuju pada pintu gedung.
Dua petugas polisi mengawal dosen tersebut keluar. Wajah pria itu tegang, langkahnya tidak teratur, dan ia terus melontarkan protes bahwa dirinya tidak bersalah. Salah seorang petugas menjelaskan bahwa ia harus mengikuti prosedur dan diberi kesempatan untuk menyampaikan keberatan melalui jalur hukum.
“Lepaskan saya! Kalian tidak berhak memperlakukan saya seperti ini!”
“Pak, mohon tenang. Bapak akan dibawa untuk menjalani proses lebih lanjut,” jawab salah satu petugas.
Namun, pria itu semakin gelisah ketika melihat mahasiswa yang berkumpul. Tatapannya bergerak liar di antara wajah-wajah yang menonton, seolah ia mencari seseorang untuk disalahkan. Ketika pandangannya berhenti pada Qiera, ekspresinya berubah tajam.
“Kamu!” bentaknya.
Qiera membeku.
Arga yang berdiri tak jauh darinya segera menoleh. “Pak, jangan mendekat! Ikuti arahan petugas!”
Namun, semuanya terjadi terlalu cepat.
Dalam gerakan mendadak, dosen itu meronta dari pegangan petugas dan mengeluarkan sebilah pisau yang entah bagaimana berhasil ia bawa. Kerumunan langsung pecah. Teriakan bersahutan ketika petugas berusaha menahannya, sementara mahasiswa di barisan depan berhamburan menjauh.
“Qiera, mundur!” teriak Arga.
Qiera berusaha bergerak, tetapi tubuhnya seolah terlambat merespons. Ia hanya sempat melihat kilatan benda tajam yang terangkat ke arahnya. Jarak mereka terlalu dekat, dan dalam sepersekian detik itu, pikirannya kosong. Ia bahkan belum sempat mengangkat tangan untuk melindungi diri.
Lalu seseorang bergerak lebih cepat darinya.
Ravi.
Pria itu menerobos dari samping dan menarik Qiera menjauh dengan satu tangan, sementara tubuhnya berputar untuk menghalangi serangan yang mengarah kepada perempuan itu. Semuanya berlangsung begitu cepat hingga Qiera hanya merasakan dorongan kuat yang membuatnya kehilangan keseimbangan.
Disusul suara teriakan.
Ravi tersentak. Pisau itu menancap di punggung bagian atasnya, dekat bahu.
Untuk sesaat, suasana seakan berhenti riuh. Ravi menahan napas, tubuhnya menegang sebelum ia berusaha tetap berdiri. Pelaku langsung dijatuhkan dan dilumpuhkan oleh petugas polisi, sementara petugas keamanan kampus segera membantu mengamankan area.
Namun, tak seorang pun lagi memperhatikan penangkapan itu.
Semua mata tertuju kepada Ravi.
Darah mulai merembes melalui kemeja putih yang dikenakannya, membentuk noda merah yang semakin jelas di bagian punggung dekat bahu. Kontrasnya begitu mencolok hingga beberapa mahasiswa yang melihat langsung menjerit. Kerumunan yang sebelumnya riuh berubah menjadi kepanikan, dengan suara orang-orang yang memanggil petugas medis dan meminta jalan dibuka.
“Panggil ambulans!”
“Ya Tuhan, beliau terluka!”
“Pak Ravi!”
Qiera berdiri kaku selama satu detik, seolah otaknya menolak memahami apa yang baru saja terjadi. Lalu ia melihat darah itu lagi.
Darah yang merembes di kemeja Ravi.
Darah yang ada di sana karena pria itu berdiri di hadapannya.
“Mas...?”
Suaranya begitu kecil hingga nyaris tenggelam di antara teriakan orang-orang. Ia melangkah mendekat, tangannya gemetar ketika meraih lengan Ravi.
Ravi menoleh sedikit. Wajahnya pucat, tetapi ia masih berusaha memastikan Qiera baik-baik saja.
“Lily...” Suaranya terdengar tertahan. “Kamu tidak terluka, kan?”
Pertanyaan itu justru menghancurkan sisa ketenangan Qiera. “Mas, darahnya...” Ia menatap punggung Ravi, lalu wajahnya, tidak tahu harus melakukan apa. “Mas, kenapa? Kenapa Mas malah—”
Kalimatnya terputus. Napasnya memburu, matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingin menahan Ravi agar tidak bergerak, ingin memanggil seseorang, ingin melakukan sesuatu yang bisa menghentikan darah itu, tetapi seluruh tubuhnya terasa gemetar.
“Jangan banyak bergerak, Pak!” seru seseorang dari dekat mereka.
Arga tiba di sisi Qiera, wajahnya tegang. “Qiera, mundur sedikit. Petugas medis sedang datang.”
Namun, Qiera tidak melepaskan lengan Ravi. Ia bahkan tidak menyadari bahwa jemarinya telah mencengkeram kain kemeja pria itu, seolah jika ia melepaskannya, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.
“Mas, lihat aku.” Suaranya pecah. “Tolong lihat aku, Mas.”
Ravi mencoba menoleh lebih jauh, tetapi rasa sakit membuat gerakannya terhenti. Ia tetap berusaha menatap Qiera, seolah hal terpenting baginya saat itu bukanlah luka di tubuhnya sendiri, melainkan memastikan perempuan yang dilindunginya tidak mengalami apa-apa.
“Tidak apa-apa, Lily,” katanya lirih.
Qiera menggeleng cepat. Air matanya mulai jatuh.
“Jangan bilang tidak apa-apa! Mas berdarah!”
Arga cukup membeku untuk yang kedua kalinya. Awalnya ia kira rasa panik dan bersalah membuat Qiera salah memanggil Ravi 'Mas'. Namun panggilan itu kembali terucap dari bibir Qiera untuk yang kedua, ketiga, bahkan selanjutnya.
Teriakan mahasiswa masih terdengar di sekitar mereka. Petugas berusaha membuka jalan, seseorang berlari mencari perlengkapan pertolongan pertama, dan sirene ambulans mulai terdengar dari kejauhan.
Ravi kembali memandang Qiera. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi rasa sakit membuatnya kesulitan menyusun kata-kata. Ia hanya sempat menggenggam tangan Qiera sebentar, mencoba menenangkannya.
Lalu lututnya melemah.
“Mas Ravi!”
Qiera menangkap lengannya dengan panik, tetapi tubuh Ravi terlalu berat untuk ditahan seorang diri. Arga segera membantu menyangga tubuh Ravi agar ia tidak jatuh, sementara petugas medis yang baru tiba bergegas mengambil alih.
Qiera mundur setengah langkah, tangannya berlumuran darah dari kemeja Ravi. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan wajah pucat, kemudian kembali menatap suaminya yang kini dibaringkan dengan hati-hati untuk mendapatkan pertolongan.
Di tengah kerumunan yang masih panik, satu pikiran terus berulang di kepalanya.
Ravi terluka karena dirinya.
Dan ketika petugas medis mulai membawa Ravi menuju ambulans, Qiera berlari mengikuti mereka. Ia bahkan tak peduli pada panggilan Arga ataupun orang-orang yang berusaha menenangkannya.
“Mas! Mas Ravi!” racau Qiera dalam kepanikan menyusul masuk ke dalam ambulans.
Untuk pertama kalinya, Qiera tidak peduli siapa yang mendengar panggilannya. Ia tidak peduli apakah rahasia terkait pernikahan mereka akan terbongkar setelah ini.
Yang ia pedulikan saat ini hanya satu, pria yang selama ini selalu membuatnya kesal itu baru saja mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkannya. Dan kini, Qiera bahkan tidak tahu apakah ia akan merasa baik-baik saja.
.
.
To be continued
See you 🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊