Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-18
... "Jelaskan pada saya, Hazelia..." suara Mahrup mengalun rendah dan mencekam, mengangkat amplop itu di udara. "Kenapa dokumen rahasia rekam medis internal milik Clarissa bisa ada di atas mejamu?"
Hazel mematung di tempatnya. Suara Mahrup yang sedingin es menusuk ulu hatinya, menyatu dengan sisa-sisa rasa perih akibat cercaan Luna di kantin tadi.
Lidah Hazel mendadak kelu. Ia ingin menjelaskan bahwa seseorang sengaja meletakkan amplop misterius itu di mejanya, namun tuduhan tersirat dari pria yang baru saja ia percayai itu membuat dadanya terlalu sesak untuk bersuara.
"S-saya nggak tahu, Tuan..." bisik Hazel parau, suaranya nyaris tenggelam oleh isak tangis yang ditahannya. "Ada yang menaruhnya di meja saya saat saya turun..."
Mahrup menatap Hazel lama, iris matanya berkilat rumit antara prasangka dan keraguan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, sang CEO berbalik dan membawa amplop itu masuk ke ruangannya, membanting pintu kaca hingga bergetar pelan.
Rasa lelah yang amat sangat menghimpit jiwa Hazel. Dengan langkah gontai, ia memilih melarikan diri sejenak menuju toilet wanita di lantai eksekutif yang sepi demi membasuh wajahnya yang sembap dan menata kembali bongkahan hatinya yang hancur.
Namun, begitu Hazel melangkah masuk ke balik bilik toilet paling ujung, suara pintu utama toilet yang didorong kasar menghentikan gerakannya.
Langkah sepatu hak tinggi dan riuh obrolan dua orang karyawan wanita terdengar bergema di atas lantai marmer.
"Gila ya, si Hazelia itu!" seru salah satu suara karyawan dengan nada jijik yang tak ditutupi. "Baru juga kemarin pegang sapu, sekarang sok anggun jadi PA Bos. Kamu denger kan kata Luna tadi? Ternyata dia emang cewek murahan yang rela dipake Tuan Mahrup demi naik jabatan!"
"Sumpah, geli banget!" timpal suara karyawan kedua sembari memoles gincu di depan cermin. "Muka aja polos, tapi kelakuan kayak gitu. Palingan bentar lagi juga ditendang kalau Bos udah bosan. Cewek modal ngangkang kek gitu ga bakal bertahan lama bel!"
Jlebb!
Setiap kata yang terlontar di luar bilik bagaikan sembilu yang mengoyak dada Hazel tanpa ampun. Hazel menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, menyandarkan punggungnya pada dinding bilik dingin.
Air matanya menetes makin deras, membasahi jemarinya. Hina, murah, dan menjijikkan Sebutan itu kini melekat sempurna pada dirinya hanya karena sebuah kebaikan yang tak pernah ia minta.
Suara langkah sepatu kets yang khas mendadak memotong gelak tawa kedua karyawan tersebut.
"Kalian berdua nggak punya pekerjaan lain selain ngurusin selangkangan dan hidup orang lain?"
Suara tegas dan ceplas-ceplos itu milik Vita. Keheningan canggung seketika melingkupi toilet. Kedua karyawan itu terbatuk canggung sebelum akhirnya bergegas keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hazel perlahan mendorong pintu bilik, melangkah keluar dengan mata sembap dan wajah pucat pasi.
Vita yang sedang mencuci tangan di wastafel menoleh melalui pantulan cermin, menatap Hazel lurus tanpa keraguan.
"Mbak Vita..." bisik Hazel parau, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Vita mematikan keran air, mengambil tisu, lalu membalikkan badan menghadap Hazel. Wajah Vita memang kaku, namun tak ada lagi tatapan benci di matanya,hanya ada ketegasan keras seorang kakak yang ingin menyadarkan adiknya.
"Dengerin aku baik-baik, Hazelia," ujar Vita dengan suara rendah namun menekan kuat. "Kalau kamu cuma bisa nangis di balik pintu toilet kayak gini, itu artinya kamu membenarkan semua omongan sampah mereka!"
Hazel mendongak kaget, menatap Vita dengan bibir gemetar. "Tapi Mbak... Hazel enggak pernah lakukan hal menjijikkan itu..."
"Kalau gitu buktikan!" potong Vita tajam, melangkah satu tapak lebih dekat. "Dunia di atas sini itu kejam, Zel. Mereka nggak peduli kamu Siapa atau seberapa meratanya hidupmu.
Kalau kamu mau diakui dan berhenti diinjak-injak, tunjukkan kemampuanmu! Pelajari semua berkas itu, kuasai tugas PA-mu, dan bungkam mulut Luna sama semua orang pakai Hasil Usahamu!"
Kata-kata keras Vita menghantam kesadaran Hazel bagaikan tamparan keras yang membangunkannya dari mimpi buruk. Rasa kasihan pada diri sendiri yang sejak tadi menguasai hatinya mendadak terkikis, berganti dengan percikan keberanian yang membakar dadanya.
"Mbak Vita..." gumam Hazel, jemarinya terkepal kuat di samping tubuh.
"Gausah Cengeng zel," tegas Vita, menyodorkan selembar tisu ke tangan Hazel. "Berdiri tegap, perbaiki riasanmu, dan kembali ke mejamu. Buktikan kalau Tuan Mahrup pilih kamu bukan karena kasihan atau hal kotor lainnya!"
Hazel menerima tisu itu, mengusap air matanya dengan gerakan mantap. Ia mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis.
Namun, saat Hazel baru saja melangkah keluar dari toilet menuju meja kerjanya dengan semangat baru, seluruh lampu di lantai dua belas mendadak padam total.
Sistem pencahayaan darurat berkedip merah, dan suara sirine peringatan keamanan gedung berbunyi nyaring.
Di balik kegelapan lorong yang mencekam, pintu ruang CEO terbuka kasar, memperlihatkan Mahrup yang melangkah keluar dengan raut wajah panik yang tak pernah Hazel lihat sebelumnya.
"Hazelia! iPad operasional dan berkas keuangan utama hilang dari ruangan saya!"